
Ririn maupun Dival terkejut ketika mendengar bel masuk.
"Bah! Main bel aja dia! Baru juga mau ke kantin, sialan!" sungut Dival.
Haaaah ... Sari terkejut dengan suara bel tersebut, selain itu ia terselamatkan oleh bunyi bel barusan. Napas yang sedari tadi tegang karena di tahannya kini perlahan mulai tenang kembali. Beruntung, karena sejak tadi jantungnya tidak mau diam dengan tenang barang sebentar saja. Ririn terselamatkan tapi juga sedikit merasa kecewa. Apa, Dival mendengar ucapannya? Pikir Ririn.
"Ah iya, udah bel aja ...." sahut Ririn lega.
"Eh Rin, elo tadi bilang apaan ya? Sori, gue enggak terlalu dengerin tadi," Dival meringis malu, minta maaf.
'Eh? Jadi, Dival enggak denger ya?' batin Ririn.
"Rin?" panggilnya.
'Lah, terus dari tadi gue ngapain dong, bicara kek orang bodoh, pake acara gugup segala!'
"Ririn?" panggil Dival lagi.
'Ternyata nih cowok enggak dengerin gue sama sekali?!' Ririn masih membatin.
"Ririn!" Dival memanggil Ririn untuk yang ketiga ketiga kalinya. Kini suaranya lebih keras.
"Eh, i,iya ... enggak, enggak apa-apa kok ... enggak jadi aja," jawabnya gugup.
"Lha?"
Sementara Dival bertaut alis tidak mengerti, ia juga heran karena sejak tadi Ririn melamun terus.
Di sekolah Jamal ....
"Jamal!" panggil seseorang.
__ADS_1
Jamal yang saat itu ingin masuk kelas pun berhenti, di lihatnya Razy tengah berlari ke arahnya. Razy adalah teman Jamal, tapi mereka tidak satu kelas.
"Razy?"
"Elo ... baru dateng?" tanya Razy dengan napas ngos-ngosan karena berlari.
"Kenapa elo ngos-ngosan gitu?" Jamal berkerut kening melihat temannya itu.
"Dari tadi gue nyariin elo di mana-mana, taunya malah baru dateng ....!" jawabnya sembari mengatur napasnya. "Ada yang mau gue omongin sama elo, bentar ... gue napas dulu!"
"Iya, iya, santai aja, Zy."
"Jadi gini ..." Razy memulai setelah napasnya teratur. "Elo masih main musik sama anak-anak band elo, 'kan?"
Jamal mengangguk, "Iya, kenapa?"
"Gue ada info nih buat elo dan temen-temen elo. Kalian mau tampil enggak?"
"Yap! Tepat sekali! Jadi, gue dapet info ini dari salah satu temen gue yang juga jadi management artis-artis, katanya bakal ada even peluncuran produk baru mereka. Nah, temen gue yang dari management itu lagi nyari band-band yang mau ikut meriahkan acara tersebut. Gue ngajak elo, karena elo punya band yang unik tuh. Makanya gue kasih tau info ini ke elo, siapa tau elo minat. Selain itu karena gue tau elo pasti bakalan mau ikut serta. Jadi, kalo elo minat entar gue bilangin ke temen gue, kalo band elo bakal ikut tampil di sana. Gimana?" jelas Razy dari awal dengan semangat.
"Seriusan?" Jamal masih belum bisa percaya.
"Jamal, elo enggak liat muka gue sampai keringetan gini nyariin elo cuma buat ngasih tau info ini, jelaslah gue serius! Triplerius malah! Iya kali gue bercanda, tapi enggak kelewatan gini juga kali kalo mau bercanda!"
Jamal tertawa sembari menepuk-nepuk pundak Razy. "Iya, iya, gue percaya kok! Thanks ya, karena elo udah bela-belain cari gue buat ini, sampai ngos-ngosan kayak tadi. Jadi, kapan acara itu di adakan?"
"Bentar, kalo enggak salah hari Minggu depan deh, mulainya dari hari Sabtu pagi sampai Minggu malem. Dua hari sih, hari Sabtu khusus untuk acara peluncuran produk tersebut, dan untuk band-band seperti elo itu hari Minggunya. Kata temen gue sih udah banyak band yang bakal ikut tampil di sana, makanya gue buru-buru ngabarin elo," jelasnya lagi.
"Wah, baiklah kalo begitu, entar biar gue sampaiin kabar ini ke temen-temen gue. Gue ikut dan gue pastikan kalo kami bakal tampil di sana."
"Siiip lah kalo begitu! Gue tunggu Minggu depan! Pastinya bakalan seru kalo elo juga ikutan tampil. Oke, kalo gitu sekarang gue cabut dulu ya, urusan gue di sini udah selesai," kata Razy seraya memberikan dua jempolnya.
__ADS_1
"Ya. Thanks ya, Zy!"
"Yoi! Sama-sama!"
Jamal tersenyum setelah Razy berlalu. Ia girang bukan main. Bagaimana pun ini adalah kabar gembira untuknya dan untuk anak-anak bandnya. Ini benar-benar akan sangat menyenangkan. Akhirnya mereka akan tampil lagi di depan umum. Sebelumnya band Jamal pernah ikut di acara even seperti itu. Lalu sekarang mereka kembali tampil. Wow! Benar-benar luar biasa! Tidak bisa di ukur lagi bagaimana rasa senangnya Jamal saat ini. Akhirnya! Jamal harap penampilan mereka besok akan sangat memuaskan. Jamal sudah tidak sabar lagi ingin segera memberitahu kabar ini pada yang lainnya. Jamal juga berharap dengan adanya kabar ini, bisa membuat hubungan Jamal dan Dico semakin erat, begitu juga dengan yang lainnya. Jamal akan mengajak anak-anak untuk latihan bersama, supaya mereka menjadi lebih kompak lagi. Termasuk Dico, Jamal sangat ingin segera menyelesaikan konflik yang tengah terjadi di antara dirinya dan Dico. Itu yang Jamal inginkan saat ini.
*****
"Rival, elo enggak bareng Sari?" tanya Dival.
"Hmm?" Rival hanya bergumam.
"Muka elo kenapa di tekuk gitu?" imbuh Jamal.
Sekarang mereka bertiga tengah berkumpul di tempat biasa. Tapi, suasananya mendadak berubah saat Dival yang tiba-tiba bertanya pada Rival mengenai Sari. Itu karena Dival tidak tahu apa-apa dan tidak tahu apa yang telah terjadi pada Rival, itu juga karena Rival tidak menceritakan masalahnya pada Dival maupun Jamal. Hari ini setelah usai sekolah mereka janjian ketemu di tempat biasa, selain itu Jamal juga ingin menyampaikan sesuatu pada mereka berdua tentang bandnya yang akan tampil di even Minggu depan. Siapa tahu mereka berdua tertarik untuk datang ke acara tersebut.
"Eh, kalian berdua hari Minggu depan ada waktu enggak, senggangkah?" tanya Jamal.
"Minggu?" tanya Dival.
"Iya. Hari Minggu kalo kalian ada waktu, dateng aja ke acara even peluncuran sebuah produk di mall X. Gue sama temen-temen band gue bakalan tampil di acara itu. Siapa tau kalian suka. Kalian belum pernah liat gue dan band gue tampil, 'kan. Yeah, itu juga kalo kalian mau dateng."
"Elo mau tampil sama band elo di acara itu?" Rival membuka mulut. "Ah iya, elo 'kan punya band ya. Seru tuh kayaknya."
"Yap! Pastinya bakalan seru! Gue bakal tampil live di depan kalian, gimana? Kalian dateng ya, ajak juga si Sari. Sepertinya dia juga suka sama acara kayak beginian. Rival, elo ajak Sari ya!" pinta Jamal pada Rival.
"Kenapa harus gue yang ngajak tuh cewek batu! Ogah gue!" tolak Rival mentah-mentah.
"Kan elo yang satu sekolah dan satu kelas sama dia, jadi wajar dong kalo elo yang ngajak si Sari," sahut Dival.
"Haaah! Kenapa juga gue yang kudu ngajak dia! Mau kita satu sekolah kek, satu kelas kek, bukan berarti dia itu temen gue! Gue enggak mau asal ngajak tuh cewek! Males!" sepertinya Rival benar-benar jengkel. Entahlah.
__ADS_1
Dival dan Jamal saling berpandangan, heran, bingung dengan sikap Rival. Tidak biasanya Rival sekesal itu. Perasaan dari tadi Rival masih tenang-tenang saja, tapi kenapa sekarang mendadak jadi emosian seperti itu.