Triple L

Triple L
Eps 7. Dival dan Ruli


__ADS_3

"Apa yang musti gue lakuin, sementara kerjaan mereka di rumah seperti itu. Gue juga udah capek, tiap hari denger mereka berteriak dan saling menyalahkan, bahkan enggak tau apa yang mereka debatkan! Elo pikir gue enggak capek, enggak eneg, tiap hari liat mereka terus berdebat kayak pejabat politik yang enggak tau apa yang sedang di perebutkan! Mereka hanya bisa saling melempar kesalahan mereka sendiri, sedangkan masalah yang sedang mereka ributkan tidak seberapa! Mereka hanya membela diri dan ego saja, Vikal! Gue udah cukup kenyang hanya dengan melihat mereka berdua seperti itu!"


Vikal terlihat takut melihat Rival seperti itu. "Maaf, Kak ... gue enggak bermaksud bikin Kak Rival berada di posisi ini, gue cuma pengen bilang, gimana caranya, supaya mereka enggak seperti itu terus. Maafin gue, Kak ... maaf kalo gue udah salah bicara dan bikin Kakak marah ...."


"Gue tau kok, Vikal ... elo enggak ada maksud bikin gue marah, gue juga tau tujuan elo itu bener. Hanya saja, Vikal, gue udah terbiasa dengan semua ini. Sejak dulu sampai sekarang, gue udah kebal kalo mereka seperti itu. Gue udah mutusin, kalo gue bakalan enggak mau dengerin apapun yang mereka katakan. Sejak saat itu, gue enggak mau dan enggak pernah mau dengerin apapun dari mereka. Sampai sekarang gue masih terus bisa berpura-pura tidak melihat mereka, dan ternyata gue berhasil!" kata Rival panjang lebar.


Meski sebenarnya dalam hati ia merasa sakit, namun ia tidak ingin hal itu di lihat oleh Adiknya. Ia berusaha tegar.


"Apa ... Kak Rival bisa, selama ini terus berpura-pura?"


Rival tersenyum sambil menatap Vikal mantab, "Elo udah liat buktinya 'kan, dan gue juga udah ngebuktiin omongan gue, kalo gue udah enggak bakalan peduli!"


"Tapi ... bukankah itu malah bikin Kak Rival menjadi orang yang tidak peduli?"


Rival terkesiap mendengar kalimat Vikal. Seketika Rival terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Kini Rival menunduk beberapa saat.


"Pada dasarnya mereka yang udah enggak peduli sama kita. Asal elo tau, Vikal, semua yang ada di rumah ini udah mendarah daging di dalam tubuh gue, mereka yang udah bikin gue jadi seperti sekarang ini!" kata Rival dingin.


Di rumah Dival ....


Saat Dival melangkah masuk ke dalam, ia bisa melihat Adiknya tengah tiduran di kasur melalui pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Dival pun jadi penasaran. Sepintas ia ingin berniat usil, lantas Dival masuk ke dalam kamar Adiknya dengan mengendap-endap. Dalam hati Dival terkikik geli. Perlahan Dival mencoba melihat sedang apa Adiknya itu, hingga membuat Adiknya tersenyum-senyum sendiri, ternyata Adiknya tengah asik main ponsel. Seperti yang Dival duga, kalau Adiknya sedang asik online di facebook.

__ADS_1


"Dasar anak SMP jaman sekarang, main handphone aja sampai ketawa-ketiwi kayak orang kurang satu ons! Woy, inget umur lo masih seumur jagung baru nongol!" protes Dival gemas.


Seketika, saat mendengar suara Dival yang cempreng membuat Ruli langsung beringsut bangun, kaget dan juga kesal karena tiba-tiba Dival muncul di belakangnya.


"Aaah ... apaan sih lo! Bikin gue jantungan aja deh! Kepo banget sih!" ujarnya dongkol. "Lagian bukan urusan elo, mau gue senyum-senyum sendiri kek, mau gila kek, itu gue, bukan elo!"


"Yeee ... nih anak, bicara sama Kakaknya pake gue elo, enggak sopan tau! Gue ini lebih tua dari elo, harusnya elo bisa jaga bahasa lo itu!"


"Emang penting banget ya buat Kak Dival?" tantangnya.


"Hiiih ... anak bau kencur aja sombong! Nantangin nih ceritanya, oke!" sontak Dival naik ke kasur Ruli dan langsung menyambar handphone milik Adiknya secara paksa.


"Aaaargh! Tempat tidur gue! Kotor! Kakak rusuh! Kakak payaaaaah! Kak Dival enggak punya etika!" teriak Ruli emosi. Ia geregetan juga kesal. Selain Dival yang naik ke kasurnya, ia juga merebut ponsel miliknya. "Kembaliin handphone gue! Siniin!" pekiknya sambil menggapai ponsel yang Dival angkat tinggi-tinggi.


"Iiiiih, Kakak ... kembaliin handphone punya gue! Kak Dival punya handphone sendiri 'kan!" ia masih berusaha merebut kembali ponselnya.


"Apaan nih? Cowok bernama Farel bilang 'kalo seandainya elo enggak bales perasaan gue, gue bakal dateng ke rumah elo dan bilang sama orang tua elo dan Kakak elo' ... wuidiiiiiih ... muke gile! Bukan main drama percintaan anak jaman sekarang!" seru Dival sambil membaca chat milik Ruli yang sedang chat dengan anak yang bernama Farel.


"Hiiiih! Kakak enggak sopan ya baca chat orang lain! Kakak emang enggak punya perasaan, kembalikan handphone gue sekarang juga! Gue mau bales chat dari Farel! Kakak!" teriak Ruli, ia semakin kesal dengan ulah Kakaknya.


"Ecieee cie ... Adek gue udah berani main cinta-cintaan nih ye! Gue bilangin ke Mama sama Papa lho kalo Ruli, anak kecil mereka udah main pacar-pacaran!" ancam Dival usil sembari terkekeh.

__ADS_1


"Sana bilangin ke Mama, gue enggak takut! Yang penting gue jujur! Dari pada Kak Dival, udah kelas tiga tapi masih aja jomblo! Enggak punya pacar! Jomblo abadi nih yee!" kini gantian Ruli yang menyerang balik Dival.


Dival seperti baru saja di gebuk pakai bambu. Jomblo! Kata-kata barusan berhasil membuat Dival terhenti dan diam seketika. Lantas, ketika melihat peluang untuk mengambil ponsel miliknya, membuat Ruli dengan bebas merebut kembali ponselnya yang masih di pegang Dival. Saat itu Dival masih terdiam.


"Jomblo," ujarnya pelan.


"Iya! Kakak 'kan udah kelas tiga tapi masiiiiiih aja jomblo! Emang enggak capek Kak, jomblo mulu, enggak ada yang ngasih perhatian. Kasihan nih yeee ....!" Ruli kembali ke posisi awal setelah berhasil merebut kembali ponselnya.


"Itulah alasan mengapa gue pengen jadi Presiden!"


"Nga?" Ruli melongo mendengar kalimat Dival.


Mendadak Dival kembali mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan dengan yakin. Serta tangannya ia kepalkan lalu di angkatnya tinggi-tinggi.


"Kalo nanti gue jadi presiden, gue bakal menghapus yang namanya kehidupan jomblo abadi di mana-mana! Gue keren 'kan?!" seru Dival penuh kebanggaan dan matanya berbinar.


"Heleh ... dia bilang mau menghapus jomblo abadi di mana-mana, sedangkan sendirinya aja masih jomblo, sendiri gitu! Keren apanya! Kalo Kak Dival mau keren, pertama Kakak cari dulu tuh yang namanya pacar, P-A-C-A-R, tau artinya 'kan? Kak Dival enggak bodoh 'kan? Nah ... cari dulu tuh pacar buat Kak Dival, baru bisa di bilang keren, setelah itu baru Kakak bisa jadi presiden. Kalo presidennya jomblo, apa kata mereka yang jomblo!?"


Dival beralih menatap Ruli dengan gemas dan takjub.


"Wuuiiiih ... kata-kata elo barusan keren, Ruli. Bisa dong entar elo jadi wakil presidennya hihihi ....!" Dival terkikik geli. "Sok yes tuh ucapan elo barusan, keren mah enggak harus punya pacar kali. Keren itu, menurut gue, simpel aja. Apapun yang elo punya saat ini, itu keren. Keren dalam arti enggak harus punya pacar kek yang elo bilang barusan, keren itu enggak harus barang atau sesuatu yang mewah, itu udah termasuk keren! Apa yang ada pada diri kita sendiri, dan apa adanya, itu keren!"

__ADS_1


Ruli semakin tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran kakaknya ini.


__ADS_2