Triple L

Triple L
Eps 32. Telepon dari Zahra


__ADS_3

Melihat Ririn masih berdiri di sana membuat Dival kembali lagi menghampiri Ririn. Di lihat teman ceweknya itu, heran.


"Rin? Ririn? Elo masih ada di sini 'kan? Haloooo? Ririn cantik?" Dival mengibaskan tangannya di depan wajah Ririn. Terlintas ia ingin usil. "Atau, mau gue cium lagi?"


Tapi siapa sangka kalau Ririn justru tersadar dan langsung menjitak ubun-ubun Dival sekali lagi, dan kali ini lebih keras. Sepertinya Ririn mengeluarkan seluruh tenaganya. Semua energi negatifnya terkumpul di tangannya.


"Jangan tiba-tiba seperti itu dong! Gue kaget tau! Gue belum siap! Lain kali kalo elo gitu lagi, awas aja lo. Gue bakal ... gue bakal B-U-N-U-H elo!" geramnya kaku dengan sangat jelas.


"Waaaaw! Takuuuut!" Dival malah tertawa mendengar ancam Ririn. Sementara Ririn masih ngedumel sendiri sembari berjalan meninggalkan Dival.


Di tempat Jamal ....


Saat ini ia tengah bersama dengan anak-anak yang lainnya.


"Oke. Latihan hari ini cukup sampe sini aja, besok kita lanjutin lagi. Sekarang kalian pulang dan istirahat, supaya saat kita tampil, kita bisa menampilkan yang ter-baik!" kata Jamal.


"Bukan hanya terbaik, tapi kita bakal memberikan sebuah pertunjukkan yang ter-keren!" sahut Arik yang tidak kalah senangnya.


"Yap! Betul itu! Kita berikan pertunjukkan terkeren kita di sana! Udah enggak sabar gue!" imbuh Ares.


"Gue jadi ikutan semangat gara-gara kalian. Kira-kira bakal gimana ya besok," ujar Erik.


"Semoga aja banyak yang dateng," kata Ares lagi.


"Pak ketua! Handphone elo bunyi tuh!" kata Dico memberitahu.


"Eh, masa? Bentar ya, gue angkat dulu," pamitnya. Lalu, Jamal keluar untuk menerima telepon.

__ADS_1


Setelah menerima telepon tersebut, Jamal terlihat panik ketika masuk kembali ke dalam ruangan. Anak-anak yang melihat kepanikan di wajah Jamal pun terheran.


"Jamal, elo kenapa?" tanya Ares heran.


"Kenapa elo panik gitu?" sambung Erik.


"Sori guys ... tapi, gue harus pulang sekarang," kata Jamal panik.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Ares lagi. Sementara yang lain masih melihat Jamal dengan tatapan heran saling berpandangan.


"Abah ... Abah enggak sadarkan diri. Abah pingsan ...." ujar Jamal lesu. "Gue minta maaf, gue harus pulang sekarang ...."


"Apa? Abah lo pingsan? Kok bisa?" kini Ares ikutan panik. Ia melihat Jamal dan yang lainnya bergantian. "Terus, sekarang Abah gimana?"


"Gue belum tau pastinya, makanya gue di suruh pulang sekarang. Gue minta maaf sama kalian. Kalian enggak apa-apa 'kan gue tinggal?" di sisi lain Jamal tidak enak dengan anak-anak jika harus meninggalkannya. Tapi, saat ini yang lebih penting adalah keadaan Abah.


"Ya udah, kalo bisa elo jangan panik. Elo tenang. Mending sekarang elo pulang dan liat keadaan Abah. Elo hati-hati ya di jalan. Kita bantu doa dari sini," kata Arik berusaha memberi kesempatan.


Tidak mau menunggu lagi Jamal pun meninggalkan tempat itu beserta yang lain. Sepanjang perjalanan Jamal merasa tidak tenang dan terus menerus merasa cemas. Pikirannya berkecamuk tidak karuan. Jamal sudah tidak bisa berpikir lagi begitu mendengar kondisi Abah.


"Mas Jamal, Abah pingsan! Mas Jamal di mana? Mas pulang sekarang ya, Zahra takut kalo terjadi apa-apa sama Abah!"


Ternyata yang menelpon Jamal adalah Zahra, ia memberitahu kalau Abah tidak sadarkan diri, karena itu Zahra menyuruh Jamal untuk segera pulang. Saat mendengar kalau Abah tidak sadarkan diri, tiba-tiba Jamal merasakan sesuatu yang kosong di relung hatinya, dan membuat Jamal begitu terpukul. Selama di perjalanan pikiran Jamal sudah tidak bisa di ajak kompromi, semuanya hanya tertuju pada kondisi Abah saat ini. Ia terlalu panik, tapi mencoba menahannya. Seluruh jaringan otaknya blank. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Dengan tidak sabar langkah kakinya ia percepat supaya cepat sampai rumah. Napasnya mulai ngos-ngosan.


Jamal masuk ke rumah begitu saja tanpa mengucapkan salam. Ia langsung menuju kamar Abahnya. Begitu masuk ia melihat Umi dan Zahra tengah duduk di samping Abah. Pandangannya lurus menatap Abah.


"Abah ...." panggilnya lirih.

__ADS_1


"Jamal ... kamu sudah pulang ....?" tanya Abah dengan suara paraunya.


"Abah kenapa? Abah ada yang sakit? Di mana? Bilang sama Jamal," ujar Jamal tidak sabar. Ia terlalu mengkhawatirkan keadaan Abah.


"Abah sudah tidak apa-apa, kamu tidak perlu cemas ...." kata Abah lagi.


"Tadi Abah tiba-tiba pingsan setelah sholat Maghrib. Makanya Zahra langsung telepon Mas Jamal untuk segera pulang. Zahra takut kalau terjadi apa-apa sama Abah," jelas Zahra serak. Mungkin ia baru saja menangis.


"Iya. Sekarang Mas sudah pulang," ucapnya, lalu Jamal menyentuh punggung tangan Abah. "Abah, Jamal minta maaf. Jamal tidak ada di saat Abah membutuhkan Jamal. Jamal sering kali membuat Abah kecewa."


"Sudah ... tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Abah cuma kelelahan saja, ini karena faktor usia. Sekarang, Abah sudah tidak apa-apa lagi, istirahat sebentar juga sembuh," jelas Abah mencoba membuat Jamal mengerti.


Kini Jamal beralih menatap Umi, "Umi, maafin Jamal ya ... Jamal sudah bikin Umi dan Zahra repot. Padahal Jamal laki-laki di sini, tapi Jamal tidak bisa membantu apapun. Maafin Jamal, Umi, Zahra. Maafin Mas, ya."


Zahra menggeleng cepat, "Enggak, Mas Jamal enggak salah apa-apa kok. Tadi Zahra cuma panik saja, makanya langsung telepon Mas Jamal."


Umi tersenyum lembut, "Sudah, kamu tidak perlu bicara seperti itu. Denger sendiri 'kan, tadi Abah bilang apa? Abah sudah tidak apa-apa, Abah justru khawatir karena kamu belum juga pulang," sahut Umi.


"Maaf, tadi Jamal lagi latihan sama temen-temen."


"Ya sudah, sekarang mandi, bersih-bersih terus sholat. Masih ada waktu kok," ujar Umi mengingatkan.


"Iya, Umi, terimakasih," jawabnya, lalu Jamal beralih menatap Zahra. "Zahra ... terimakasih karena kamu sudah menjaga Abah untuk Mas. Dan, terimakasih juga karena Zahra sudah ngabarin Mas."


"Iya, Mas, sama-sama," jawab Zahra sambil mengangguk.


Jamal pergi dari kamar Abah setelah menoleh sekilas pada Abah. Di luar kamar Abah, Jamal menahan rasa sakit dan rasa sakit itu semakin menjadi besar di lubuk hatinya. Padahal tidak ada yang terluka, tapi entah kenapa rasanya begitu menyakitkan. Sangat sakit. Tanpa di duga dari ujung matanya sebutir air bening turun ke pipinya. Namun dengan cepat Jamal menghapusnya begitu tersadar. Kini ia beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


*****


Sepertinya keseharian Rival dan Sari sudah kembali normal seperti sedia kala. Meski terkadang Rival menjadi cowok yang menjengkelkan dan berulah. Intinya Rival kembali menjadi cowok seperti yang biasa mereka kenal. Pernah satu kali Sari mengomeli Rival yang ingin tidur di atap. Tapi, Rival tidak mau menggubris ocehan Sari. Ia justru dengan cuek naik ke atas dan tidur di sana.


__ADS_2