Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
37. Dikerjai Jason


__ADS_3

" Lala," suara bariton memanggil Lala yang baru turun dari mobil.


" Marvel," balas Lala ketika melihat Marvel.


Lala turun dari mobil yang ia kendarai sendiri. Sudah menjadi rutinitas ketika Lala mengantarkan makan siang di perusahaan Davies.


" Kamu disini?" tanya Lala begitu sudah menghampiri Marvel.


" Akan ada meeting dengan perusahaan Jason dan aku kebetulan yang menanganinya," jawab Marvel.


" Kamu sangat sulit ditemui, selalu saja bertemunya ketika kita tidak sengaja berpapasan," ucap Marvel kemudian.


" Maaf, lain kali kita bisa pergi bersama jika aku ada waktu luang," balas Lala dan membuat Marvel merasa senang.


" Akan aku tagih janji kamu,"


Di balik mereka yang tengah mengobrol ada sepasang mata yang menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Orang itu terlihat merencanakan sesuatu untuk memperjuangkan cintanya.


Ponsel Marvel bergetar, ia lalu mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Setelah mengetahui nama siapa yang menghubunginya, Marvel menggeser ikon hijau untuk mengetahui maksud si penelepon.


" Halo, kenapa Jas?"


" Meeting akan segera dimulai. Lo datang enggak? " balas Jason yang berada di ruangannya.


Marvel menutup telepon setelah mengatakan dirinya akan segera datang. Marvel berpamitan kepada Lala untuk melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Lala juga harus membantu OB membawa makanan- makanan yang masih berada di dalam mobil.


Marvel telah sampai di ruangan meeting. Ia masuk ke dalam ruangan meeting dengan tergesa-gesa karena Jason mengatakan meeting kali ini tidak boleh ada yang telat. Jika ada yang melanggar maka tender yang ditawarkan akan diberikan kepada orang lain. Berhubung Marvel sangat menginginkan tender dari perusahaan Davies maka ia tidak boleh keduluan perusahaan lain.


Marvel melihat sekeliling ruangan. Di ruangan itu ada manager utama, beberapa karyawan divisi, sekertaris perusahaan dan juga Fernando yang sudah duduk manis di kursinya.


" Mengapa Jason belum datang? " tanya Marvel kepada peserta meeting karena menyadari Jason yang belum hadir.


" Tuan Jason, melimpahkan meeting ini untuk saya tangani. Mari duduk Tuan Marvel supaya meeting segera bisa dilaksanakan," jelas Fernando.

__ADS_1


" Sial. Jadi Jason mengerjaiku," batin Marvel. Setelah itu Marvel mengambil tempat duduk untuk membahas tender dan penjelasan tentang harga yang ditentukan.


...****************...


'' Tidak usah dekat-dekat dengan dia,'' ucap Jason kepada Lala yang kini berada di ruangan Jason.


'' Kamu ini kenapa? Menyuruh ku segera kesini padahal belum jam makan siang. Bukankah kamu memiliki meeting?'' balas Lala dengan pertanyaan balik.


'' Meeting ku sudah ditangani Fernando,''


'' Ishh. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab,'' jawab Lala mencibir Jason.


'' Jangan membahas pekerjaan ku. Kamu melupakan perkataan ku yang tadi?''


'' Perkataan yang mana?''


'' Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain karena aku tidak suka,''


Lala memandang Jason yang masih duduk di kursi kerjanya. Sedari tadi Lala hanya disuruh menunggu duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Jason yang menyuruhnya untuk segera menemui dirinya di ruangan. Namun ketika sampai dirinya disuruh duduk sembari mendengarkan ocehannya.


'' Bukan maksud ku seperti itu sayang,'' balas Jason geram kemudian bangkit menuju Lala yang duduk di sofa.


'' Jauhi semua laki-laki yang mencoba mendekati kamu,'' ucap Jason dengan tatapan menghunus. Saat ini posisi Jason sedang membungkuk mengurung Lala yang badannya condong ke belakang menghindari agar tidak terlalu dekat. Lala memang duduk di sofa single sehingga kedua tangan Jason bertumpu pada pegangan sofa.


Lala menatap mata Jason yang sangat dekat dengan wajahnya. Badan Lala semakin condong ke belakang dan sudah bersandar pada punggung sofa. Jason semakin mencondongkan tubuhnya membuat tubuh Lala semakin terhimpit.


'' Itu bukan urusan kamu. Kamu hanya bos ku bukan Tuhan yang seenaknya mengatur hidup ku,'' ucap Lala mendorong dada Jason untuk menjauh. Lala membenarkan duduknya setelah Jason menyingkir.


'' Baiklah, lupakan saja'' balas Jason kemudian dirinya berjalan menuju lemari pendingin yang berisi banyak jenis minuman. Jason butuh minuman untuk menyegarkan tenggorokannya setelah mendengar jawaban Lala.


Di ruangan Jason memang memiliki beberapa fasilitas penunjang seperti lemari pendingin yang berada di sudut ruangan. Jason mengambil dua kaleng minuman, kemudian ia bawa menuju Lala.


Jason menyerahkan sekaleng minuman kepada Lala. Lala yang melihat itu pun langsung meraihnya. Lala mengucapkan terima kasih kemudian ia sempatkan membaca merk minuman kaleng itu.

__ADS_1


'' Bir?'' tanya Lala sembari mengernyitkan dahi karena melihat kandungan bahan minuman itu.


'' Alkoholnya rendah,'' jawab Jason yang melihat Lala berpikir tentang minuman itu.


'' Aku tidak bisa minum alkohol,'' tolak Lala mengembalikan minuman itu. Jason menaikkan alisnya seolah bertanya kenapa.


'' Aku trauma. Kamu pikir aku bisa salah masuk kamar kamu karena apa? Ya karena alkohol ini. Cuma gara-gara minum ini aku mabuk sampai berakhir di ranjang sama kamu,'' ungkap Lala menjelaskan.


Jason menyemburkan tawa mendengar penjelasan Lala. Ia tidak habis pikir jaman sekarang masih ada wanita yang berpikiran seperti itu. Minuman yang diberikan Jason adalah minuman dengan kandungan alkohol yang rendah dan tidak akan membuat orang itu mabuk.


'' Minuman ini mana mungkin bisa mabuk? Alkohol nya tidak banyak,''


'' Berapa pun itu aku tidak mau,''


Jason mengangguk mengiyakan perkataan wanita di depannya ini. Ternyata ia baru tahu kalau Lala juga bisa cerewet. Sifat yang Jason yakini menurun kepada Oliver anaknya.


'' Baiklah, besok aku akan menyuruh Fernando untuk menyediakan susu kaleng atau minuman botol lainnya,''


'' Aku pulang,'' ucap Lala bangkit ingin melangkah pergi.


Jason mencekal tangan Lala yang ingin pergi. Jason belum selesai bicara dengan Lala tapi wanita ini malah mau pulang. Jason meletakkan minuman yang sudah ia teguk. Ia mendekat mensejajarkan dirinya dengan Lala.


'' Aku belum menyuruhmu pulang,'' tukas Jason masih mencekal tangan Lala.


'' Kamu tidak menyuruh ku melakukan apa-apa, jadi biarkan aku pulang'' balas Lala.


'' Yasudah sana rapikan kamar ku seperti biasa. Gaji kamu, aku tambah bulan ini,'' perintah Jason agar Lala tidak pulang. Butuh banyak ide agar Jason bisa menahan Lala lebih lama bersama dirinya.


Lala menghembuskan nafas berat. Ingin rasanya dia mengeluh tapi mendengar ada embel-embel uang, ia jadi tidak bisa mengabaikannya. Dirinya bukan materialistis, hanya saja berpikir realistis tentang uang yang ia butuhkan.


Tanpa pikir panjang Lala berjalan menuju ruangan yang biasa ia bersihkan. Ruangan ini bersih dari debu hanya saja selalu ada barang yang berantakan. Seperti sekarang sprei ranjang yang acak adul, buku-buku berserakan dan jangan lupakan lampu tidur yang tergeletak di lantai.


'' Apa kamar ini habis terserang badai?'' batin Lala melihat kondisi kamar ini. Lala tidak ingin ambil pusing, entahlah Lala hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia mulai mengambil sprei yang tercecer di lantai lalu ia gulung untuk diganti dengan yang baru.

__ADS_1


Dari luar kamar itu, Jason menyeringai. Tidak sia-sia usahanya membuat kamar itu jadi berantakan tadi sebelum Lala datang.


__ADS_2