
Memiliki kontrakan baru otomatis lingkungan yang baru juga melingkupi kehidupan Lala saat ini. Beberapa hari tinggal di kontrakan baru yang ia sewa, Lala sudah cukup terbiasa dengan kebiasaan warga di sekitar kontrakannya. Mereka cukup bersahabat dengan pendatang baru seperti Lala saat ini.
Setiap pagi Lala akan berbelanja di tukang sayur keliling yang biasa melewati kontrakannya. Tidak hanya ada Lala saja yang membeli melainkan juga ada beberapa ibu-ibu yang ikut berkumpul. Mereka tidak hanya sekedar berbelanja melainkan ada juga yang bergosip. Kegiatan wajar ibu-ibu jika ingin melepas penat.
Usai berbelanja, Lala sibuk menyiapkan sarapan untuk triplet. Akhir-akhir ini Lala sedikit merasa senang, pasalnya triplet bisa bangun sendiri tanpa Lala yang membangunkannya. Seperti sekarang mereka telah rapi dengan stelan seragam baju sekolah mereka. Triplet pun mulai mengambil sarapan yang sudah Lala siapkan. Mereka sarapan dengan lahap seperti biasa.
Kegiatan rutin setiap pagi Lala bersama triplet berhasil mereka lalui dengan lancar. Kini triplet sudah berangkat ke sekolah diantar oleh Lala. Mereka berpamitan kepada mama mereka kemudian masuk ke dalam kelas siap menerima pembelajaran hari ini.
Sedangkan Lala, usai dirinya mengantar triplet ia akan pergi mencari pekerjaan. Sejak kemarin Lala masih belum menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Ia harus mencari pekerjaan yang tidak menyita waktu Lala sepenuhnya. Lala sengaja mencari pekerjaan yang seperti itu karena ia harus memikirkan triplet. Ia tidak ingin selalu meninggalkan triplet untuk waktu yang lama. Berhubung Lala mengurus mereka sendiri jadi sebisa mungkin Lala harus pandai-pandai mengatur waktu antara berkerja dan anak-anaknya.
Ketika Lala hendak menaiki sebuah bus, dering ponselnya berbunyi. Lala kemudian merogoh saku miliknya untuk mengambil ponsel. Tertera nama Marvel yang menjadi si penelepon. Dengan segera Lala mengangkat telepon dari Marvel tersebut.
" Halo," ucap Lala mengawali pembicaraan.
" Kamu lagi dimana?" tanya Marvel begitu mendengar suara Lala.
" Aku baru selesai mengantar triplet. Kenapa Marvel?" tanya Lala.
" Apakah hari ini kamu bisa menemani ku?" tanya Marvel balik.
" Hari ini aku sedang ada keperluan, Marvel" jawab Lala mengingat dirinya harus mencari pekerjaan.
" Ayolah, kamu sudah pindahan dan tidak memberitahu ku dan sekarang aku hanya ingin mengetahui dimana tempat tinggal mu yang baru," ucap Marvel. Marvel baru mengetahui jika Lala pindahan saat ia berkunjung ke rumah Lala namun rumah itu sudah sepi tak berpenghuni. Akhirnya Marvel menanyakan kepada tetangga Lala, dan tetangga Lala mengatakan jika Lala sudah pindah namun masih di kota yang sama.
" Kamu tahu aku pindah? " tanya Lala.
" Tentu saja aku tahu. Bahkan aku juga tahu jika sekarang kamu memakai baju berwarna biru muda. Tampak pas dan cantik jika kamu yang memakai," ucap Marvel.
" Hah, maksud kamu? Kamu cenayang? Bagaimana kamu bisa tahu aku pakai baju biru?" tanya Lala bingung setelah melihat baju yang ia pakai memang berwarna biru.
__ADS_1
Marvel yang diseberang sana tertawa melihat respon Lala yang berlebihan.
" Ada-ada aja kamu, La. Coba putar tubuh kamu tiga puluh derajat ke kanan," ucap Marvel. Lala yang mendengar perkataan Marvel ia pun menurutinya. Lala memutar tubuhnya sesuai instruksi dari Marvel. Setelah Lala memutar tubuhnya tiga puluh derajat, Marvel kembali menyuruh Lala untuk memandang ke arah pohon mangga yang tidak jauh dari tempat Lala berdiri.
Terlihat di seberang halte tepat di bawah pohon mangga ada Marvel yang berdiri di sana. Lala tersenyum ternyata Marvel sudah melihatnya sedari tadi. Lalu fungsinya Marvel menelepon Lala itu apa? Bukankah lebih baik Marvel langsung menghampiri Lala saja.
" Dasar aneh," ucap Lala setelah Marvel berdiri di samping Lala.
" Biarin," jawab Marvel. Marvel yang tadinya berdiri di bawah pohon mangga kini sudah berada di dekat Lala. Marvel menyebrang jalan kemudian menjangkau Lala yang berada di halte.
" Ayo!" ajak Marvel.
" Maaf Marvel, hari ini aku benar-benar ada urusan," tolak Lala secara halus.
" Mau kemana? Oh ayolah hanya sebentar saja," pinta Marvel.
" Apa jangan-jangan kamu ingin menemui Jason?" selidik Marvel.
" Baiklah, berarti aku bisa ikut kamu," ucap Marvel benar-benar ingin pergi bersama Lala.
" Tidak bisa Marvel. Aku akan mencari pekerjaan. Masa iya kamu mau ikut?" jelas Lala.
" Kenapa tidak bilang dari tadi? Kamu juga tidak meminta bantuan ku, padahal aku bisa membantu mu mencarikannya," balas Marvel.
" Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain,"
" Aku bukan orang lain, aku ini sahabat kamu. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan ku, karena suatu saat aku pasti juga akan merepotkan kamu," ucap Marvel.
" Benarkah? Aku ini bukan orang berada. Bagaimana bisa kamu merepotkan aku? Yang ada malah aku terus yang merepotkan kamu," ucap Lala menanggapi Marvel.
__ADS_1
" Pasti ada. Misal kayak nanti suatu saat aku merepotkan kamu untuk mengandung anakku. Itu kan bisa terjadi," ucap Marvel menaikkan alisnya.
Lala memicingkan mata mendengar perkataan Marvel. Marvel tidak dalam serius kan ketika mengatakan kata-kata itu.
" Bercanda," ucap Marvel tertawa. Marvel tidak tega melihat ekspresi Lala yang langsung menegang mendengar jokes murahan darinya.
...****************...
Akhirnya hari ini Lala menerima bantuan Marvel untuk mencarikannya pekerjaan. Marvel mengantarkan Lala di sebuah bakery milik temannya. Kata Marvel, temannya itu sedang membutuhkan pegawai baru. Karena tidak ingin dianggap spesial, Lala mengikuti prosedur penerimaan karyawan. Lala mengikuti interview seperti prosedur melamar kerja pada umumnya.
Dan beruntungnya Lala berhasil lolos interview. Lala mengucapkan terima kasih kepada owner bakery tempat ia akan bekerja. Lala menyukai pekerjaan ini. Selain pekerjaannya yang mudah ia juga bisa meluangkan banyak waktu untuk triplet. Jam kerja di bakery itu hanya sekitar lima belas jam per hari dimulai dari pukul delapan pagi. Setidaknya lebihan hari Lala bisa gunakan untuk mengurus triplet.
" Bagaimana?" tanya Marvel yang menunggu Lala di luar bakery sedangkan Lala selesai keluar dari ruangan pada saat ia interview beberapa menit yang lalu.
" Diterima," jawab Lala senang. Karen saking senangnya, senyuman manis tak pernah luntur dari wajah Lala.
" Tapi tunggu, ini bukan karena ada koneksi dari kamu kan?" tanya Lala memicingkan mata menyelidiki Marvel.
" Tentu tidak. Mana ada aku kan dari tadi menunggu kamu disini. Lagian temen aku juga tidak tahu kalau aku yang merekomendasikan kamu disini," jelas Marvel tentunya berbohong. Marvel yang menghubungi temannya untuk menerima Lala sekalipun bakery ini tidak memerlukan karyawan. Teman Marvel menyetujui saja karena mengingat Marvel adalah sahabatnya.
Marvel tersenyum dalam hati, untuk membantu Lala saja ia harus berbohong. Lala memang wanita mandiri begitulah pikir Marvel.
" Baiklah, karena aku sudah mencarikan kamu pekerjaan hari ini, kamu harus mau menemani ku makan siang," ucap Marvel.
" Apa kamu tidak bekerja?" tanya Lala.
" Justru itu, ada yang ingin aku ceritakan mengenai perkejaan ku sama kamu. Kalau istilah jaman sekarang aku mau curhat sama kamu tentang masalah pekerjaan ku," jelas Marvel.
" Tapi aku kan tidak tahu mengenai pekerjaan mu," ucap Lala.
__ADS_1
" Tidak perlu berpikir jauh. Cukup nanti kamu menjadi pendengar yang baik, apa kamu keberatan? Aku hanya ingin curhat sama orang yang buat aku nyaman saja. Kamu kan teman ku, jadi bisakah kamu tidak menolak tawaran makan siang ku kali ini? " ucap Marvel diakhiri pertanyaan.
Lala yang mendengarnya pun akhirnya ia mengangguk. Akan terlihat tidak sopan jika Lala menolak permintaan orang yang telah banyak membantunya. Kemudian setelah pergi dari bakery itu, Lala dan Marvel menuju ke restoran tempat pilihan Marvel. Lala yang diajak pun menurut saja.