Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
53. Sekilas Karen


__ADS_3

'' Om,'' panggil Karen kepada pria paruh baya yang menjadi paman kandungnya.


Damino itulah nama paman kandung Karen. Dia adalah adik kandung dari ibu Karen. Saat ini satu-satunya keluarga yang Karen punya hanyalah pamannya. Pria paruh baya yang berusia setengah abad ini tidak menikah juga tidak memiliki anak. Jadi Damino dan Karen hanya tinggal berdua karena sama-sama sebatang kara.


Pernah suatu ketika Karen digosipkan memiliki hubungan dengan pamannya. Mereka yang tidak tahu jika Karen adalah keponakan Damino mengira mereka menjalin hubungan kasih karena interaksi Karen dan Damino yang terlihat romantis. Dengan perawakan wajah bule dari Damino membuat laki-laki paruh baya itu tampak seperti kekasih Karen.


'' Karen terima kasih kamu sudah menolong om,'' ucap Damino ketika di baru sampai rumah dan mendapati Karen duduk di sofa dengan keadaan tidak dalam kondisi biasa.


Wajah wanita itu tampak sembab seperti habis menangis atau memang itu kenyataannya. Damino kurang memahami masalah wanita. Selama ini hidupnya hanya tentang judi dan uang. Damino tidak menikah karena wanita manapun tidak menyukai pria pemalas seperti Damino. Bahkan sekarang saja ia menumpang hidup pada keponakannya Karen.


" Kamu menangis?" tanya Damino kepada keponakannya.


" Bukan urusan om," balas Karen ketus.


" Ini nih yang bikin om malas nikah. Wanita itu ribet," jawab Damino.


" Dasar bujang karatan," ketus Karen lagi.


Damino sangat yakin jika keponakannya sedang sedih. Karen tidak pernah menangis sekalipun seluruh orang di dunia ini membencinya. Damino sudah hafal betul sifat dan perangai tingkah laku Karen.


" Apa ini gara-gara si bedebah Jason? Sudah berapa kali om bilang, lupakan dia. Sekarang gini kan jadinya?" ucap Damino.


" Om ini bagaimana sih? Dulu siapa yang getol banget suruh Karen buat deketin Jason? Om lupa? Om sendiri yang suruh Karen buat mendekati Jason. Sekarang apa? Karen nangis, om malah ceramah kayak gitu. Dasar bujang pikun," omel Karen.


" Ya enggak begitu juga. Dulu kan awal om nyuruh kamu deketin Jason supaya kita bisa menikmati hartanya. Om mana tahu kalau kamu jadi suka beneran sama si bedebah itu," elak Damino.


" Sudahlah, Karen capek mau ke club aja," ucap Karen melangkah pergi.


" Heh, ponakan aneh. Kalau capek ya tidur bukannya malah dugem," ucap Damino meneriaki Karen yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


Damino merasa kasihan melihat keponakannya. Sedari kecil ia harus kehilangan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Kakak Damino yang merupakan ibu kandung Karen adalah wanita blasteran Indonesia-Belanda. Kakak Damino menikah dengan orang keturunan asli Jawa yang merupakan ayah kandung Karen. Kedua orang tua Karen meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu Karen mulai ia asuh. Tidak ada keluarga lain yang mau menampung Karen. Jadi dengan sukarela Damino membesarkan Karen walaupun pria itu tidak sepenuhnya bertanggung jawab.


...****************...


Mendung menghiasi perjalanan Lala pulang menuju rumahnya. Saat ini Lala baru saja selesai mengurusi urusannya terkait masalah kebakaran di kantor kepolisian. Bersama polisi Lala didampingi untuk membahas masalah ganti rugi bangunan yang telah hancur. Untung saja pemilik bangunan kedai dan bangunan lain yang ikut terbakar sangat baik. Mereka mempermudah proses perundingan negoisasi pembayaran ganti rugi.


Cukup banyak uang yang Lala keluarkan untuk menyelesaikan masalah ini. Kini semua tabungan Lala termasuk uang yang sudah Lala siapkan untuk masa depan triplet sudah habis. Lala menghela nafas mungkin harta yang pernah Tuhan titipkan kepadanya harus berakhir sampai disini. Lala sudah tidak memiliki apapun kecuali triplet yang ia tinggal di rumah tetangganya.


Lala tidak ingin menghubungi ayahnya yang berada di desa. Karena itu hanya akan memperburuk suasana. Sudah cukup banyak beban pikiran ayah Lala selama ini, sejak Lala kecil beliau selalu berjuang demi kebahagiaan Lala. Hingga di mana waktu Lala membuat aib, ayah Lala tidak membencinya. Beliau hanya kecewa kepada putrinya yang tidak bisa menjaga diri.


Usai pulang dari kantor kepolisian, Lala pulang berjalan kaki. Sekarang Lala sudah tidak memiliki uang lebih untuk dirinya memboroskan uang. Setidaknya ongkos Lala naik taksi bisa berguna untuk ia dan anak-anaknya makan nanti.


Lala memang pernah memiliki mobil untuk mengantar makanan namun mobil itu masih kredit. Jadi mau tidak mau Lala harus ikhlas ketika mobil itu harus disita karena uang jatuh tempo yang tidak bisa Lala bayar.


Awan yang tadinya mendung kini semakin gelap. Lala mempercepat langkahnya untuk mencari tempat berteduh. Banyak pengendara roda dua lalu lalang yang berhenti untuk sekedar memasang jas hujan. Di depan Lala melihat ada halte bis. Ia mempercepat langkahnya agar rintik hujan yang mulai menetes tidak membuat baju nya basah.


Udara yang cukup dingin ditambah lalu lalang kendaraan yang sedikit membuat suasana halte menjadi mencekam. Kondisi halte mulai sepi karena orang-orang banyak yang sudah meninggalkan halte. Lala ingin pergi dari tempat ini namun Lala tidak mungkin berjalan menerobos hujan yang sudah mengguyur jalanan beberapa menit yang lalu. Menunggu pertolongan adalah harapan terakhir Lala.


Tak berselang lama setelah itu ada sebuah mobil yang sangat Lala kenali berhenti di depan halte. Mata Lala memicing memastikan apakah pemilik mobil itu milik seseorang yang ia kenal. Tepat sekali dugaan Lala ternyata yang datang adalah Marvel. Marvel keluar dari mobil menggunakan payung agar hujan tidak membasahi bajunya.


Lala terkesiap ketika Marvel sudah berada tepat di depannya. Ia bersyukur karena bisa bertemu dengan Marvel saat dalam kondisi seperti ini. Lala tersenyum, harapan memang bisa terwujud.


'' Marvel, syukurlah kita bertemu disini. Bisakah aku meminta bantuan mu untuk mengantar ku pulang. Aku tidak bisa meninggalkan anak-anak lebih lama di rumah,'' ucap Lala kepada Marvel.


Marvel tentu mengiyakan permintaan Lala. Marvel memberikan jas miliknya agar bisa Lala pakai. Kemudian setelah itu Marvel dan Lala merapatkan diri dalam satu payung untuk menuju mobil Marvel.


'' Apa baju kamu basah? '' tanya Marvel yang kini sudah berada di dalam mobil.


'' Hanya sedikit, tidak masalah nanti juga kering,'' jawab Lala.

__ADS_1


'' Kita pulang ke rumah kamu sekarang ya?'' ucap Marvel kemudian menjalankan kemudinya.


Diam-diam Marvel mengamati Lala yang berada di sampingnya. Satu kata yang Marvel pikirkan, Lala begitu cantik ketika kedinginan tadi. Dalam hati Marvel tersenyum begitu mengangumi sosok wanita yang memiliki tiga anak ini.


Mobil Marvel terus melaju hingga sampai di depan rumah Lala. Ternyata di rumah Lala belum hujan, hanya sekedar mendung tetapi tidak begitu gelap. Lala mengucapkan terima kasih kepada Marvel. Ia akan turun dari mobil setelah itu dirinya akan ke rumah Mama Alfi untuk menjemput triplet.


Marvel menemani Lala turun dari mobilnya. Mereka berbincang-bincang sebentar. Marvel juga sempat menanyakan kepada Lala tentang kebakaran itu. Marvel tahu karena dirinya sempat melihat tayangan dari televisi rumahnya.


'' Apa kamu yakin kondisi kamu sekarang tidak apa-apa? Aku mengkhawatirkan kamu begitu mendengar berita itu. Aku berniat menemui mu tadi pagi hanya saja pekerjaan kantor sangat banyak,'' ucap Marvel kepada Lala.


'' Tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas perhatian yang kamu berikan. Maaf telah banyak merepotkan mu,'' ucap Lala merasa tidak enak.


'' Tidak apa-apa,'' jawab Marvel kepada Lala.


Sesaat mereka saling bertatapan sebelum sebuah suara menghentikan itu. Marvel dan Lala kompak melihat ke arah orang yang bersuara dengan memanggil nama Lala begitu keras.


'' Vanilla,'' suara bariton milik Jason yang ternyata memangil Lala. Sebenernya sejak tadi Jason sudah melihat interaksi antara Lala dan Marvel. Jason mengikuti hatinya yang marah karena melihat kebersamaan Lala dan Marvel melupakan logikanya yang belum bisa mengatakan cinta kepada Lala.


Selama ini Jason hanya mengklaim Lala sebagai miliknya karena Lala adalah ibu dari triplet. Bertanya tentang rasa cinta, Jason masih takut memutuskannya.


Lala hanya memutar bola matanya malas melihat Jason. Lala mengabaikan Jason yang datang menghampiri ia dan Marvel.


'' Kamu habis darimana?'' tanya Jason tidak mengindahkan Marvel yang berada di sampingnya.


Lala diam saja ketika Jason melontarkan pertanyaan kepadanya. Marvel yang melihat itu memilih berpamitan pulang. Lala tersenyum ramah kala Marvel mengucapkan selamat tinggal. Setelah Marvel pergi raut wajah Lala kembali datar lagi.


Jason yang merasa dibedakan sikap dengan Marvel menjadi geram sendiri. Tangan Jason mencekal jas yang tersampir di pundak Lala. Jason mengambilnya kemudian melemparkannya begitu saja ke tanah. Lala yang tidak terima langsung meneriaki Jason yang selalu bertindak semaunya.


'' Jason, apa-apaan kamu? Membuang jas Marvel lagi? Yang kemarin saja belum kamu ganti,'' ucap Lala berteriak melupakan dirinya yang sedang berada di luar rumah.

__ADS_1


__ADS_2