Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
62. Rival semakin di depan


__ADS_3

" Kurang ajar," desis Marvel setelah membaca kertas yang berisi sebuah fakta. Kertas itu mengatakan jika perusahaan milik Marvel kini telah resmi berpindah tangan ke perusahaan Davies. Selama beberapa hari ini Marvel berusaha mempertahankan nama perusahaannya namun ia harus merasakan gagal karena perusahaan Davies sudah memiliki hampir sepertiga saham milik perusahaan Marvel.


Marvel sudah mendatangi banyak investor lain agar mau berinvestasi di perusahaannya namun semua itu sia-sia karena Marvel yakin dibalik semua ini ada campur tangan Jason di dalamnya. Marvel tahu mungkin sahabatnya itu marah karena ia sudah mendekati wanita incarannya. Namun apakah semua itu salah Marvel? Bukankah selama ini Marvel hanya berteman dengan Lala? Terlebih Jason juga belum memberikan status yang resmi akan hubungannya dengan Lala.


" Aku akan menuntut perhitungan kepada Jason," ucap Marvel setelah itu pergi meninggalkan perusahaan miliknya.


Sekarang disini lah Marvel berdiri. Ia sedang berbincang-bincang dengan sekretaris Jason untuk bertemu dengan tuannya. Untung saja di depan perusahaan ia tadi tidak di hadang karena memang beberapa bawahan Jason sudah tahu jika Marvel adalah sahabat pemilik perusahaan.


Untuk mematuhi prosedur yang berlaku, Marvel bertanya terlebih dahulu kepada Niki agar memberi tahu Jason jika ia ingin menemuinya.


Niki mengangguk kemudian berpamitan untuk masuk ke ruangan Jason. Marvel mempersilahkan Niki untuk menemui Jason terlebih dahulu. Sementara dirinya menunggu di luar sampai instruksi Jason mengijinkannya untuk masuk.


Tak lama setelah itu Marvel melihat Fernando keluar dari ruangan Jason. Fernando menunduk hormat sebagai salam sapa kepada Marvel. Marvel tersenyum membalas sapaan pria serba bisa seperti Fernando. Marvel membatin betapa beruntungnya Jason karena memiliki asisten pribadi yang sangat setia seperti Fernando.


Kurang dari sepuluh menit Marvel diijinkan bertemu Jason di ruangannya. Marvel pun masuk ke ruangan Jason. Terlihat manusia satu itu sedang sibuk seperti biasanya.


" Aku yakin kamu sudah tahu untuk apa tujuan aku kesini menemui kamu," ucap Marvel mengawali pembicaraan mereka.


" Itu akibat karena kamu tidak mendengarkan peringatan ku," balas Jason acuh. Kini pembicaraan diantara mereka yang seperti dulu sudah tidak berlaku lagi. Perbedaan pendapat diantara sahabat sering kali mengacaukan sebuah hubungan.


" Kamu belum memiliki dia seutuhnya, jadi apa aku salah jika aku mendekatinya begitu saja? Dia single dan aku single, apa tidak boleh sesama single saling berdekatan? Asal kamu tahu Jas, bukan hanya ibunya yang berhasil aku dekati melainkan juga anak-anaknya. Seharusnya kamu tahu jika itu bukanlah urusan kamu mengingat kamu sudah memiliki tunangan,"


" Tentu itu menjadi urusan ku. Mereka adalah anak-anak ku. Apa kamu tahu itu?"

__ADS_1


" Tentu saja aku tahu karena aku tidak bodoh. Wajah mereka sangat mirip dengan mu. Sebagai seseorang yang sudah lama mengenal kamu tentu aku langsung mengenali jika kamu memiliki anak-anak lain di luar pernikahan. Mengingat aku sangat menghafal sifat-sifat brengsek mu jadi aku langsung tahu sejak pertama kali aku melihat mereka,''


'' Jason ingat, walaupun aku dan kamu sama-sama brengsek tapi aku jauh lebih di depan darimu. Setidaknya benih yang pernah aku tabur tidak sampai kebobolan seperti kamu," ucap Marvel dan berhasil membuat Jason menatap sahabatnya.


" Kamu sudah membuat dia menjadi wanita tidak terhormat karena memberikan sebuah aib pada keluarganya. Seharusnya kamu malu untuk mendekati dia. Dia sudah cukup menderita akibat dari ulah kamu," ucap Marvel menggebu.


" Kamu jangan sok tahu Marvel. Kamu itu bodoh Marvel, mempertahankan satu nama perusahaan kecil saja kamu tidak bisa dan sekarang kamu mengomentari hidup ku. Cihh kamu memang manusia tidak berguna," ucap Jason.


" Hahahahaha. Terserah kamu mau ngomong apa. Yang pasti sekarang aku ikhlas kamu mengambil perusahaan milik ku. Tapi jika kamu menggunakan ini untuk mengancam ku, akan aku pastikan ini tidak akan mempan," ucap Marvel kini menatap Jason lekat. Pandangan bersahabat mereka yang seperti dulu kini sudah tidak ada. Yang tersisa hanya pancaran persaingan di mata mereka masing-masing.


" Sepertinya aku menyukai ibu dari anak-anak mu. Lala,,,,benar itu namanya. Lebih tepatnya aku ingin menegaskan sama kamu bahwa aku Marvel menyukai wanita yang bernama Vanilla Jasmine," ucap Marvel menyeringai.


Jason mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangan miliknya menjadi kemerahan. Jason kemudian mencekal kerah kemeja Marvel. Jason menatap tajam Marvel. Ditariknya kerah kemeja itu hingga tubuh Marvel sedikit tertarik ke depan.


" Pergi dari sini, atau aku akan menghabisi mu dengan tangan ku sendiri," ucap Jason mengancam. Ia sudah larut dalam amarahnya hingga persahabatan yang pernah terjalin raib begitu saja.


Marvel tertawa mengejek. Apa Jason yang sekarang sudah berubah? Belum pernah sebelumnya Marvel melihat Jason sangat menginginkan seorang wanita hingga seperti ini.


" Sekarang kita bersaing,dude" ucap Marvel selepas itu menghempas tangan Marvel yang mencengkram kerah kemejanya.


...****************...


Hari yang cukup melelahkan tetapi Lala sangat merasa senang. Kesan pertama kerja di bakery ia langsung mendapat respon yang positif. Banyak komentar dari pembeli yang menyukai kue buatannya. Jujur ini pengalaman baru untuk Lala, pasalnya ia dulu sering iseng membuat kue sebagai cemilan triplet tetapi tidak tahunya ilmu itu berguna untuk sekarang.

__ADS_1


Sekarang Lala sudah selesai mandi sehabis ia pulang dari tempat kerja. Tujuannya saat ini adalah menemui triplet yang berada di kamar mereka. Bryant bilang hari ini mereka jalan-jalan hingga sore. Lala tidak mempermasalahkan hal itu justru ia senang karena triplet tidak merasa bosan karena harus ia tinggal pergi bekerja.


'' Triplet, kalian sedang apa?'' ucap Lala membuka pintu kamar anak-anaknya.


'' Kita sedang belajar ma'' sahut mereka serempak.


Triplet kompak berlari mendekat ke arah Lala. Mereka memeluk Lala secara bersamaan. Walaupun mereka bertemu setiap hari rasanya waktu yang Lala gunakan untuk bekerja cukup membuat mereka merindukan mamanya.


'' Mama, apa hari ini mama sangat lelah?'' tanya Oliver dengan menggemaskan.


" Mama, jangan terlalu capek bekerja. Nanti mama sakit siapa yang sedih? Kan kita juga yang sedih,'' timpal Max mendongak sembari menatap Lala.


'' Kalian ini. Mama kan bekerja juga untuk kalian,'' ucap Lala sembari mengelus kepala triplet satu persatu.


Lala mendudukkan triplet di ranjang tempat tidur mereka. Ditatapnya satu persatu wajah triplet yang sangat persis dengan papa mereka yang sangat menyebalkan itu bagi Lala. Terkadang Lala kesal, mengapa wajah triplet tidak mirip dengannya sama sekali. Padahal sudah jelas-jelas dia yang mengandung dan menjaga mereka. Tapi setitik kemiripan pun tidak ada. Lala khawatir suatu saat dengan kemiripan wajah triplet yang sama persis dengan Jason akan mempermudah orang lain mengenali mereka. Ia takut jika nanti status triplet yang sebagai anak-anak Jason akan memperburuk keadaan mereka di masa mendatang.


Apalagi nanti suatu saat jika Jason sudah memiliki keluarga yang lain, pasti triplet akan menjadi beban di keluarga Jason nanti. Sebisa mungkin mulai sekarang Lala akan mencegah hal itu. Ia akan menyembunyikan status triplet agar tidak diketahui oleh orang banyak.


'' Sudahlah mama kalian ini kan mama yang kuat, pasti mama bisa jaga diri mama sendiri,'' ucap Lala memberi pengertian kepada triplet.


'' Mari lupakan masalah ini karena mama membawakan kalian kue enak buatan mama di bakery tadi. Apa kalian mau coba? Ini kue buatan terbaru mama sangat berbeda dari yang sebelumnya. Jadi siapa yang mau mencoba duluan?''


'' Aku ma,'' seru triplet serempak. Lala mengajak triplet ke ruang makan untuk menikmati lebihan kue di bakery yang tadi sempat ia bawa.

__ADS_1


__ADS_2