
Hari ini Jason sudah diperbolehkan untuk pulang. Jennie, Lala dan triplet mereka kompak sedang berada di rumah sakit untuk menjemput Jason pulang.
Triplet tidak sekolah karena mereka ingin ikut menjemput papa mereka. Lala sudah memperingati triplet untuk lebih mementingkan sekolah namun triplet sukses membujuk Lala dengan rengekan mereka.
" Mama, pokoknya kita mau ikut jemput papa di rumah sakit. Bolos satu hari tidak akan membuat kita bodoh mama," ucap Oliver. Seperti itulah kira-kira Lala tidak bisa menolak keinginan triplet.
" Kak Jason, pulang ke rumah kan? Lagian di apartemen Kak Jason nanti kan enggak ada yang ngurus," ucap Jennie sambil membantu Lala menata semua barang-barang Jason. Sebenarnya Jason sudah menyuruh seseorang untuk membereskan barang-barang miliknya. Namun Lala bersikeras untuk mengerjakan itu. Jennie pun turut mengikuti tingkah Lala yang sangat jarang ia kerjakan.
Saat asyik-asyiknya menata barang Jason, Jennie teringat sesuatu. Jennie meminta ijin kepada Jason dan Lala untuk tidak ikut mengantar Jason pulang ke rumah. Jason menyetujui keinginan adiknya, toh anak buahnya juga sudah sigap membantu dirinya yang akan meninggalkan rumah sakit.
Semua barang-barang dibawakan oleh anak buah Jason. Lala menggandeng tangan Jason sembari berjalan. Jason menolak memakai kursi roda, alhasil Lala harus menjaga Jason sepanjang perjalanan menuju ke parkiran.
Triplet berjalan rapi di depan Lala dan Jason. Mereka berjalan sambil bergaya seolah menjadi pengawal papa mereka yang berjalan di belakang bersama Lala.
Sekilas mereka seperti keluarga yang bahagia. Tiga anak yang tampan dan menggemaskan ditambah kedua orang tua mereka yang juga tak kalah mempesona. Di tengah perjalanan mereka banyak yang berbisik-bisik tentang identitas triplet yang merupakan anak-anak Jason. Ada sebagian dari mereka yang suka dan merasa gemas dengan triplet namun tidak sedikit juga ada yang merasa tidak suka. Entahlah Jason dan Lala mengabaikan itu. Selagi mereka tidak menyakiti keluarganya, Jason tidak akan bertindak lebih.
Mereka berlima masuk ke dalam mobil. Mobil yang mereka tumpangi cukup besar sehingga cukup untuk menampung lima orang yang memilih duduk berdesakan di kursi belakang. Oliver duduk di pangkuan Jason, Max duduk di pangkuan Lala sedangkan Matt duduk mandiri berada di tengah-tengah Lala dan Jason. Sopir yang berada di depan merasa ikut senang melihat gambaran keluarga yang ditunjukkan majikannya.
Setelah merasa nyaman dengan tempat duduk masing-masing, Jason menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju rumah mewah keluarga Davies.
...****************...
Di tempat lain ada Jennie yang masih berada di rumah sakit. Setelah berpamitan dengan kakaknya, Jennie datang menemui salah satu pasien yang juga di rawat di rumah sakit itu.
'' Biar aku bantu,'' ucap Jennie kini meraih tangan seseorang yang hendak menggantikan baju miliknya.
__ADS_1
'' Tidak perlu,'' jawab orang itu sembari menepis tangan Jennie.
'' Fernando pliss, jangan keras kepala!! Biarkan aku membantu mu. Salah kamu sendiri tidak meminta bantuan petugas rumah sakit, jadi biarkan aku yang membantu mu,'' ucap Jennie kini meraih baju yang hendak Fernando pasang.
Sewaktu Jennie datang ke ruangan Fernando, tampak laki-laki itu sedang kesusahan untuk mengganti baju yang ia pakai. Jennie menghela nafas, pasti Fernando tidak ingin meminta bantuan petugas rumah sakit karena privasi yang ingin Fernando jaga. Jennie memaklumi jika Fernando begitu introvert sampai-sampai hal sekecil apapun orang lain tidak boleh tahu. Makanya sampai sekarang Jennie belum bisa mengenal lebih dalam Fernando yang sudah ia anggap sebagai kakak laki-lakinya selain Jason.
Jennie selesai menggantikan baju Fernando. Jennie kemudian memandang wajah Fernando yang sedari tadi menatap dirinya. Jennie tersenyum kala Fernando memandangnya lama, sesuatu hal yang tidak pernah Fernando lakukan terhadap Jennie. Fernando memutuskan kontak mata terlebih dahulu. Fernando berdehem mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'' Aku yang akan membantumu berkemas pulang,'' ucap Jennie.
'' Tidak perlu. Akan ada seseorang yang akan membantu ku nantinya,'' jawab Fernando tidak ingin Jennie membantunya.
'' Aku orangnya pemaksa,'' jawab Jennie setelah itu mengambil tas untuk memasukkan barang-barang Fernando.
'' Apa kamu disuruh Tuan Jason untuk membantu ku?" tanya Fernando. Fernando heran, tidak biasanya dia suka berbasa-basi terlebih dahulu sebelum dirinya memulai obrolan.
'' Aku yang berinisiatif. Bagaimana pun juga kamu sudah menolong kakak ku, jadi dengan hati yang tulus aku ingin bergantian untuk menolong kamu,'' balas Jennie.
'' Terima kasih,'' jawab Fernando singkat. Setelah itu diantara mereka tidak ada kata yang bersuara lagi. Jennie yang sibuk merapikan barang-barang Fernando dan laki-laki itu yang tampak bergelung dengan pikirannya sendiri.
'' Sudah siap. Ayo kita pulang!'' ajak Jennie kepada Fernando.
Fernando bersama Jennie keluar dari ruangan yang selama beberapa hari ini sempat ditinggali oleh Fernando. Jennie membawakan barang-barang Fernando yang ternyata hanya sedikit.
'' Kita akan pulang naik apa?'' tanya Jennie kepada Fernando.
__ADS_1
'' Tuan Jason sudah menyiapkan sopir untuk ku,'' jawab Fernando.
Jennie mengangguk kemudian mengikuti langkah Fernando yang menuju parkiran. Tampak Fernando menuju salah satu mobil bermerek Rolls-Royce yang terparkir sempurna di parkiran paling ujung.
Jennie meletakkan barang Fernando di bagasi kemudian menyusul Fernando yang lebih dulu masuk ke dalam mobil. Jennie sedikit heran dengan dirinya, tidak biasanya Jennie bersikap perhatian terhadap seseorang. Bahkan dengan kakaknya sekalipun itu sangat jarang. Dan sekarang Jennie rela membantu Fernando layaknya pembantu dan seorang majikannya.
'' Fernando apa kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih karena aku sudah membantu kamu banyak hari ini? Seharusnya kamu bersyukur karena masih ada yang mau menjemput kamu di rumah sakit,'' ucap Jennie kini sudah duduk di samping Fernando.
Fernando hanya mengabaikan ocehan Jennie. Gadis aneh begitulah pikir Fernando. Mengapa juga Jennie harus repot-repot mau membantunya? Bukankah itu sesuatu hal yang sangat jarang Jennie kerjakan? Akhir-akhir ini Fernando kurang paham dengan perubahan sikap Jennie.
Jennie memajukan bibirnya karena sikap acuh dari Fernando. Percuma juga Jennie mengajaknya berbicara jika hanya ditanggapi dengan wajah datar bak kulkas sepuluh pintu.
'' Huh, untung aku menganggap kamu sebagai kakak ku. Kalau tidak aku pasti sudah membiarkan mu begitu saja,'' ucap Jennie setelah itu enggan memandang wajah Fernando yang berada tepat di sampingnya.
Sopir fokus mengemudikan mobil mereka menuju apartemen Fernando. Ketika di lampu merah Fernando mendapatkan panggilan. Jennie tidak tahu apa yang dikatakan oleh si penelepon namun setelah mengakhiri panggilan tersebut, Fernando menyuruh sopir untuk putar balik.
'' Balik ke rumah Tuan Jason,'' perintah Fernando terhadap sopir yang berada di depannya.
'' Mengapa malah ke rumah ku? Bukankah hari ini kakak ku meliburkan mu?'' tanya Jennie.
'' Hei Fernando, jangan diam saja! Ayo jawab pertanyaan ku barusan!!'' ucap Jennie sembari menggoncang lengan Fernando pelan. Pasalnya laki-laki itu malah sibuk fokus terhadap layar ponselnya. Karena merasa terganggu dengan tingkah Jennie, akhirnya Fernando menjawab pertanyaan tersebut.
'' Nyonya Sonia kembali,'' jawab Fernando.
'' Apa?'' Jennie terkejut mendengarnya.
__ADS_1