
Keesokan paginya Lala masih berada di posisi yang sama. Semalaman Lala terjaga karena ia terus berusaha melepaskan ikatan yang mengikat kedua alat geraknya. Beberapa saat kemudian, tak lama Lala merasa seperti ada orang yang datang menghampiri dirinya. Hal itu terbukti dengan Lala mendengar suara pintu yang terbuka.
Lala mendengar suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Lala yakin jika seseorang sedang menuju dirinya. Lala tidak bergeming ketika orang itu terus berjalan untuk menjangkau dirinya yang terikat.
Benar apa yang ada di pikiran Lala jika langkah sepatu seseorang itu berhenti tepat di depan Lala. Lala merasakan pergerakan orang itu yang kini menyentuh rambutnya. Lala menahan nafas ketika tangan orang itu menyusuri rambut kemudian turun untuk membelai lembut kedua pipi Lala.
" Siapa kamu?" tanya Lala berusaha tenang tidak ingin terlihat panik.
Orang yang Lala ajak bicara masih belum membuka suara. Orang itu terus membelai wajah dan rambut Lala secara bergantian. Lala berusaha mengalihkan kepala ketika tangan orang itu tak henti-hentinya membelai lembut rambut dan wajah Lala.
" Tolong lepaskan aku," ucap Lala memohon.
" Mine," ucap orang itu kemudian membuka penutup mata Lala.
Lala merasa lega ketika penutup mata yang semalaman bertengger di matanya kini terlepas. Akhirnya Lala bisa bebas melihat kondisi dimana keberadaan dirinya sekarang berada. Belum sepenuhnya Lala berhasil menyesuaikan pencahayaan, orang itu pergi ke arah meja yang berada di belakangnya.
Lala mengamati semua isi ruangan. Semua titik sudut ruangan yang lebih tepat disebut kamar ini tampak remang-remang dan sedikit pengap. Mungkin karena tidak adanya fentilasi jadi kamar itu terasa begitu sesak. Lala masih mengamati punggung orang yang berjalan ke arah meja. Tampak dari penampilan dan perawakannya orang itu berjenis kelamin laki-laki. Lala masih belum bisa mengenali orang itu karena cahaya yang minim.
Lala terus menyaksikan laki-laki yang ternyata sedang mengambil sepiring makanan yang berada di atas meja. Dengan kamar yang tidak terlalu besar, meja itu terletak tepat di pinggiran tembok berseberangan dengan Lala.
" Bryant," pekik Lala terkejut begitu melihat dengan jelas wajah laki-laki yang sedari tadi ia amati.
" Apa masih pusing?" tanya Bryant lembut.
" Apa maksud dari semua ini Bryant?" tanya Lala belum mengenyahkan pandangannya dari Bryant.
" Sekarang kita resmi bersama La," ucap Bryant kini duduk di ranjang. Posisi Bryant berhadapan dengan Lala yang terikat, Bryant memandang Lala dengan pandangan penuh arti.
" Bryant, jangan bilang ini semua perbuatan kamu," ucap Lala was-was ketika posisinya berdekatan dengan Bryant.
" Aku sangat ingin menjelaskan ini kepada mu sekarang, tapi sepertinya mengisi perut mu jauh lebih penting" balas Bryant.
" Katakan dulu Bryant. Apa tujuan kamu melakukan ini semua? " ucap Lala kekeh.
" Karena aku menyukai mu sejak dulu," jawab Bryant akhirnya.
" Tidak mungkin Bryant. Kamu kekasih Niki, mana bisa kamu menyukai aku,"ucap Lala tidak mengerti dengan jalan pikiran Bryant. Jelas-jelas Lala adalah sahabat dari kekasihnya, bagaimana bisa Bryant menyukai Lala.
" Ckck. Sebenarnya aku tidak memiliki hubungan dengan wanita itu dan juga aku tidak pernah suka kepadanya. Aku hanya menyukai mu dari dulu, sejak jaman SMA"
__ADS_1
" Kamu mengkhianati Niki?"
" Aku tidak mengkhianatinya. Ada sesuatu hal yang mengharuskan aku berpura-pura menjalin hubungan dengan Niki,''
" Hal apa yang mengharuskan kamu berbohong tentang hubungan kalian? Bryant kamu tidak bisa seperti ini. Kita ini adalah sahabat," ucap Lala.
" Sahabat?" ucap Bryant tertawa sumbang.
" Ckck seharusnya enam tahun lalu kita sudah bersama, La. Seandainya saja Niki becus membawa kamu ke kamar ku pasti kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Bryant.
" Maksud kamu?" tanya Lala.
Flashback...
Enam tahun lalu usai Lala mabuk karena meminum alkohol yang diberikan oleh Jennie, Lala berisitirahat di sebuah ruangan yang telah disediakan oleh Bryant. Lala sudah sadar sepenuhnya karena minuman yang diberikan oleh Jennie mengandung rendah alkohol. Mungkin karena Lala belum pernah minum alkohol sebelumnya jadi dia sempat merasakan mabuk ketika di pesta. Lala kemudian memejamkan matanya di sofa menikmati sedikit rasa pusing akibat minuman tadi.
Sedangkan Niki menghampiri Bryant yang berada tak jauh dari Lala. Bryant membawa segelas air putih yang ia pegang saat ini.
" Bryant, Lala sudah sadar'' ucap Niki memberitahu.
'' Aku juga sudah tahu. Jennie hanya memberikan Lala minuman dengan alkohol yang rendah,'' balas Bryant.
'' Apa kamu jadi menjalankan rencana yang kemarin?'' tanya Niki.
'' Air putih? Apa ada obat perangsang nya? '' tanya Niki dan Bryant mengangguk. Bryant memang sudah mencampurkan segelas air putih itu dengan obat perangsang untuk ia berikan kepada Lala.
'' Aku akan memberikannya kepada Lala. Tetapi setelah ini kamu jangan menggunakan kamar ini, gunakan kamar yang lain saja'' ucap Niki.
'' Kenapa memang nya?'' tanya Bryant.
'' Kamar ini begitu mewah. Aku juga ingin menggunakannya bersama papa mu. Papa mu sendiri yang bilang jika kamar ini sudah ia pesan untuk menghabiskan malam dengan ku,'' ucap Niki dengan gaya centil.
'' Terserah apa katamu. Yang terpenting berikan minuman itu kepada Lala karena aku sudah tidak sabar ingin memilikinya malam ini,'' ucap Bryant setelah itu pergi. Ia akan kembali ke pesta untuk memberikan sambutan penutup.
Niki kembali ke sofa dimana tempat Lala bersandar. Niki melihat Lala dengan mata yang terpejam. Niki mengguncang tubuh Lala agar gadis itu mau bangun.
Setelah Lala bangun, Niki memberikan segelas air putih pemberian dari Bryant tadi. Setelah habis tandas Lala meminumnya, Niki membohongi Lala untuk mengajak mereka berdua pulang. Lala mengangguk menyetujui ucapan Niki.
Setelah keluar dari kamar yang Lala singgahi barusan, Niki membawa Lala untuk memasuki lift. Selama di lift, Niki mengontak salah satu temannya untuk membantu membawa Lala. Di lantai paling atas hotel itu, Niki membawa Lala keluar dari lift.
__ADS_1
Ada salah satu teman Niki yang stand by disana menunggu Niki. Niki dan temannya berbicara sebentar. Saat berbincang-bincang, tiba-tiba Niki mendapat telepon.
'' Bawa masuk Lala ke kamar 120! Aku akan menjawab panggilan sebentar,'' ucap Niki menyuruh temannya untuk membawa Lala masuk ke kamar yang baru saja diberitahukan oleh Bryant melalui pesan.
Sementara teman Niki membawa Lala masuk ke dalam kamar, Niki mengangkat panggilan dari ayah Bryant. Niki berbincang-bincang cukup lama hingga gangguan telepon dari Bryant memutus panggilan itu.
'' Halo, kenapa sih Bryant? Ganggu saja! Aku sedang bertelepon dengan ayah kamu tadi,'' ucap Niki setelah memutuskan panggilan dengan ayah Bryant kemudian mengangkat panggilan dari anaknya.
'' Dimana Lala? Mengapa dia belum sampai ke kamar ku? '' tanya Bryant.
'' Tunggu, seharusnya Lala sudah berada di kamar mu sejak tadi. Tetapi mengapa Lala belum sampai?'' balas Niki.
'' Aku tidak mau tahu bawa Lala kesini sekarang juga,'' ucap Bryant.
Niki mendengus mendengar perintah Bryant seenaknya saja. Sudah bagus Niki mau membantu untuk menjebak Lala malam ini.
'' Dia pikir aku babunya apa?'' gerutu Niki kesal.
Niki berlalu meninggalkan tempat ia bertelepon tadi. Setelah berpikir sebentar Niki kembali mengecek pesan yang Bryant berikan. Tertulis di pesan itu jika Bryant ingin Niki membawa Lala ke kamar nomor 102 bukan kamar 120.
'' Astaga aku salah melihat angka,'' pekik Niki karena ia baru saja salah membaca pesan dari Bryant.
'' Kemana tuh Si Ranti membawa Lala pergi?'' gumam Niki berusaha mencari temannya yang membawa Lala.
'' Pantas tadi aku merasa aneh ketika membawa Lala di lantai ini. Ini lantai kelas kakap mana mungkin Bryant sanggup menyewanya,'' gerutu Niki sepanjang jalan.
Niki memang salah membaca nomor kamar yang dikirimkan oleh Bryant. Niki pikir kamar yang dimaksud Bryant adalah kamar yang terletak di lantai 12 namun ternyata Niki salah. Kamar yang diminta Bryant berada di lantai 10, sungguh saat jauh dengan kamar yang dimaksud.
Niki baru tahu jika lantai 12 hanya memiliki satu kamar. Ia terus memutari lantai VIP itu untuk mencari Lala dan Ranti. Tepat di depan pintu lift, Niki melihat Ranti.
'' Ranti, dimana Lala? Cepat bawa dia kemari! Kita salah lantai. Seharusnya kita berada di lantai 10 bukan di lantai yang ini,'' ucap Niki.
'' Lah kok bisa? Saat di bawah tadi kamu bilang lantai 12, bagaimana bisa salah?'' balas Ranti.
'' Iya tadi aku salah baca. Ya sudahlah soal begituan saja diperpanjang. Sekarang dimana Lala?''
'' Ya Lala sudah masuk ke kamar nomor 120 lah,'' jawab Ranti.
'' Bego!! Cepat kita bawa balik dia lagi,'' ucap Niki kemudian menuju kamar yang dimaksud.
__ADS_1
Sesampainya di kamar itu, Niki melihat ada dua penjaga yang berdiri di depannya. Niki tidak bisa menerobos ke sana karena itu sama saja dengan ia membunuh nyawanya sendiri.
'' Kita pergi! Lala sudah terlanjur masuk ke dalam kamar itu,'' ucap Niki setelah itu pergi.