
Lala berlari masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa berdebar akibat adegan di mobil yang ia lakukan bersama Jason. Lala menyentuh bibirnya yang terasa sedikit bengkak dan jejak bibir Jason masih terasa hingga sekarang. Lala menggeleng mengenyahkan pikiran akibat kejadian mendadak tadi. Dirinya belum pernah melakukan itu dalam keadaan sadar. Dan sekarang ia melakukannya bersama papa kandung triplet. Apa ini bisa dikatakan first kiss? Lala menggeleng lagi. Ia harus menetralkan pikirannya dari kejadian tadi. Tidak mungkin dirinya berbunga-bunga hanya karena melakukan aktivitas itu.
" Tidak...tidak.. lupain La. Jangan diingat-ingat lagi! Astaga tadi aku berciuman," jerit Lala dalam hati.
Lala benar-benar merasa malu sekaligus bahagia. Tunggu bahagia, apa iya Lala bahagia?
" Perasaan apa ini? Mengapa sangat mendebarkan? Aku senang? Oh tentu tidak," batin Lala menolak pikiran bahagianya.
Lala menormalkan lagi hati dan pikirannya. Ia tidak boleh berteriak senang hanya karena mendapat ciuman dari Jason. Lala memutuskan melihat triplet yang ada di kamar. Setidaknya ia harus memastikan triplet baik-baik saja sehabis ia tinggal seharian.
" Tunggu...tapi dia marah tidak ya? Kan aku tadi sempat nampar dia," gumam Lala yang masih memikirkan adegannya bersama Jason.
" Bodoh amat. Salah sendiri dia main nyosor aja. Awas aja berani macam-macam sama aku bakal aku beri pelajaran lebih dari sekedar tamparan," ucap Lala mendirikan sebuah semboyan.
" Mendadak sekarang aku jadi penampar yang hebat," ucap Lala melihat telapak tangannya yang sudah ia gunakan untuk menampar Jason dan adiknya.
Lala memasuki kamar triplet. Terlihat mereka bertiga tidur nyenyak di dalam satu ranjang kecil yang berbeda. Ah Lala lupa kapan dirinya tidur menemani triplet. Semenjak triplet pindah ke rumah baru yang berada di kota, triplet ingin tidur di kamar berbeda dengan Lala. Katanya mereka sudah dewasa tidak ingin tidur lagi dengan mama mereka. Lala tidak bisa menolak karena Lala juga merasa jika triplet sudah semakin dewasa di usianya yang masih kecil.
Lala melihat sekeliling. Di meja yang atasnya terdapat komputer ia melihat ada beberapa mainan yang berserakan. Lala menuju meja itu untuk merapikannya sebentar. Triplet sudah bisa merapikan barang sendiri hanya saja Lala masih sering melihat kebiasaan mereka yang suka meletakkan barang sembarangan.
Usai menata meja anaknya Lala keluar dari kamar triplet. Sebelum keluar kamar Lala menyempatkan mencium triplet satu persatu. Lala akan membersihkan dirinya agar lelahnya hari ini berakhir dan besok ia bisa mengawali hari lagi untuk melupakan masalah hari ini.
Lala merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Lampu utama ia matikan kemudian Lala menyalakan lampu tidur sebagai penerangan. Lampu tidur yang tidak terang membuat tidur Lala selalu nyenyak. Lala memang suka tidur dengan pencahayaan minim.
'' Hari yang melelahkan,'' gumam Lala setelah itu matanya terpejam menuju alam mimpi.
__ADS_1
...****************...
Usai dari rumah Lala, Jason pergi ke sebuah club untuk melepaskan penat. Sudah lama dirinya tidak menginjak tempat yang semasa mudanya selalu ia kunjungi. Hampir setiap hari club selalu menjadi tempat wajib bagi Jason untuk bersenang-senang. Namun semenjak kejadian malam tidurnya dengan Lala, Jason menjadi malas untuk mengunjungi tempat yang selalu ramai ketika hari semakin malam.
Hiruk-pikuk suasana club selalu ramai dikunjungi ketika menjelang tengah malam. Seperti sekarang ini Jason dapat melihat banyak pasangan yang sedang minum, bercumbu, berjoget dan ada juga yang sedang mengobrol.
Jason masuk kemudian ia mendaratkan pantat di kursi yang berhadapan dengan meja bartender. Jason memesan satu sloki tequila sebagai bentuk pembukanya. Jason meneguk tequila itu kemudian menengadahkan satu sloki lagi kepada bartender laki-laki yang juga melayani orang di sampingnya.
Rasa tequila yang sudah lama tidak ia rasakan terasa begitu memenuhi tenggorokannya. Lagi Jason meneguk satu sloki tequila dengan sekali tegukan. Entahlah hari ini Jason hanya ingin minum tanpa memikirkan pekerjaan atau pun yang lain.
'' Bro,'' panggil Marvel yang baru saja sampai.
'' Sendiri?'' tanya Marvel lagi.
'' Menurut lo? '' balas Jason.
Sudah gelas ketiga untuk Jason namun dirinya belum terlihat ada tanda-tanda akan mabuk. Jason adalah peminum yang handal. Sejak masa remaja ketika duduk di bangku Junior High School Jason sudah mencoba berbagai jenis minuman seperti ini.
Jason kecil memang sudah terbiasa hidup bebas. Namun ketika ayahnya meninggal kehidupannya sedikit dibatasi karena harus belajar mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Sejak saat itu Jason selalu melampiaskan rasa lelahnya dengan minuman-minuman alkohol dari harga biasa hingga yang harganya fantastis.
'' Tumben lo kesini, Jas?'' tanya Marvel setelah meminum gelas keduanya lagi.
'' Suntuk,'' jawab Jason dan Marvel mengangguk.
Keheningan beberapa saat terjadi namun percakapan kembali dimulai oleh Jason. Jason berbicara sembari melihat Marvel yang Jason tahu selalu kesini setiap malam.
__ADS_1
'' Jauhi dia atau gue buat hancur perusahaan lo yang mau berkembang,'' ucap Jason dan Marvel tertawa mendengarnya.
'' Gue bukan kacung lo kayak Fernando yang setiap perintah lo harus gue turuti,'' balas Marvel tersenyum remeh.
Jason menyesap vodka yang baru ia pesan. Satu botol sama seperti Marvel. Dirinya mengikuti Marvel yang tampak enak ketika meminum minuman itu.
'' Gue enggak main-main,'' ucap Jason menatap Marvel.
'' Enggak ada yang ngajak lo main-main. Mungkin lo gak tahu, semenjak lo suruh gue buat menemui Lala waktu itu gue udah suka dia. Dia baik, cantik, ramah dan berbeda dengan para wanita yang pernah gue kenal,'' jelas Marvel mengingat masa dimana dirinya awal bertemu dengan Lala.
Waktu itu sebenarnya Marvel disuruh oleh Jason untuk mendekati Lala. Jason menyuruh Marvel untuk membuat Lala bekerja di perusahaan Davies miliknya. Marvel berhasil membuat Lala bersedia menerima tawaran itu.
'' Dia milik gue,'' balas Jason mengeratkan giginya.
'' Enggak ada larangan buat ambil milik orang yang belum diikat. Lala belum terikat sama lo, sedangkan lo sudah terikat dengan tunangan lo. Jadi lo mau menjadikan Lala sebagai orang ketiga?'' ucapan terakhir Marvel berhasil membuat Jason diam.
Awal mula hubungan Jason dengan Karen adalah ulah Karen yang menyebarkan gosip palsu. Karen selalu berusaha mendekati Jason tidak perduli sekalipun Jason tidak melihatnya. Karena sering menyebarkan gosip-gosip murahan yang menjuruskan Jason sehingga banyak publik yang menyimpulkan jika Jason dan Karen memiliki hubungan. Tadinya Jason tidak perduli namun lambat laun Jason membutuhkan itu untuk menutupi desakan menikah yang sering dilontarkan oleh orang-orang.
Jason membiarkan Karen berbuat semaunya. Menyetujui setiap usulan Karen tentang hubungan mereka termasuk mengadakan pertunangan. Jason tidak pernah menganggap Karen ada. Jason hanya membutuhkan wanita itu untuk menjauhkannya dari wanita ular.
Walaupun Karen juga termasuk wanita ular, Jason tidak merasa masalah. Karen cukup berguna untuk kemajuan perusahaannya. Citra baik Karen di dunia hiburan mampu membuat perusahaan Jason semakin meningkat pesat. Banyak nilai positif yang dilihat orang lain atas hubungannya dengan Karen.
Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana Jason memutuskan Karen tanpa merusak citra baik dirinya di depan publik. Inilah yang menjadi PR Jason agar dirinya bisa bebas berhubungan dengan Lala tanpa membuat status wanita itu seperti orang ketiga.
'' Baiklah sekarang kita bersaing,'' ucap Jason menepuk pundak Marvel. Setelah itu Jason pergi meninggalkan tagihan minumannya kepada Marvel yang masih duduk di depan meja bartender.
__ADS_1
'' Katanya kaya, minuman aja dibayarin'' gerutu Marvel setelah Jason pergi.