Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
59. Bilik toilet


__ADS_3

Sesampainya di restoran, Marvel mengambil tempat duduk di bagian paling pojok dari restoran itu. Marvel memilih meja untuk dua orang khusus buat dirinya dan juga Lala. Lala dan Marvel kompak mengambil tempat duduk masing-masing. Mereka membuka buku menu untuk menentukan pilihan makanan siang yang sesuai dengan keinginan mereka.


" Kali ini biarkan aku yang membayarnya," ucap Lala setelah menyebutkan menu makan yang ia pesan kepada pelayan.


" Aku yang mengajak mu jadi biar aku saja," bantah Marvel tidak ingin Lala mentraktirnya.


" Tidak boleh menolak. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih ku," balas Lala.


" Baiklah," ucap Marvel akhirnya.


Tak lama pesanan mereka datang. Lala berbinar melihat makan siang pilihannya yang tampak lezat. Segera saja Lala menyendokkan makanan itu ke mulutnya.


" Jadi kamu mau cerita mulai darimana?" tanya Lala sembari mengunyah makanan miliknya.


" Aku diminta pulang ke rumah orang tuaku, sementara aku masih suka disini. Disini ada banyak pekerjaan yang harus aku urus dan juga beberapa bisnis yang masih ingin aku kembangkan. Tapi aku juga tidak bisa menolak keinginan kedua orang tua ku,'' jelas Marvel.


" Jadi kamu mau berhenti dari pekerjaan kamu?" tanya Lala.


" Entahlah. Sebenernya dulu tujuan awal aku kesini karena aku ingin kabur dari rumah," ungkap Marvel.


" Hah? Maksudnya? " tanya Lala ingin tahu lebih jelas.


" Iya begitulah. Aku sama orang tuaku beda pendapat seperti kebanyakan anak pada umumnya. Kita sering berdebat karena mereka selalu saja mengatur hidupku. Akhirnya karena aku tidak tahan aku memilih kabur kesini. Aku kabur bukan serta merta karena aku marah atau yang lain, tapi aku hanya ingin membuktikan kepada kedua orang tua ku kalau aku bisa berhasil tanpa campur tangan dari mereka," jelas Marvel lagi.


" Oh ternyata kamu termasuk anak yang keras kepala juga ya?" ledek Lala.

__ADS_1


Dan berlanjut lah cerita Marvel. Lala sesekali memberikan nasehatnya sebagai teman. Marvel tidak salah memilih teman bercerita, ternyata Lala sangat asyik jika diajak curhat.


Hingga beberapa saat makanan yang mereka makan habis. Lala meminta ijin kepada Marvel untuk ke toilet sebentar. Perempuan memang tidak bisa jauh-jauh dari cermin. Tujuan Lala ke toilet adalah untuk cuci tangan sekaligus bercermin memastikan jika penampilannya sehabis makan tidak berubah. Bukannya apa, Lala hanya tidak ingin jika ada salah satu sisa makanan yang ia makan tertinggal di giginya. Hal yang sangat memalukan bagi Lala dan selalu berusaha ia hindari.


Di toilet, Lala ditemani para pengunjung yang juga sama menggunakan fasilitas toilet. Kemudian Lala memilih salah satu bilik kamar mandi yang kosong. Tidak tahu mengapa setelah ia sampai di toilet, hasrat buang air kecil tiba-tiba saja muncul. Memang naluri alamiah jika kita sebelum masuk toilet tidak merasa kebelet namun jika sudah sampai di toilet jadi kebelet.


Setelah selesai dengan buang air kecilnya, Lala keluar dari bilik toilet yang ia gunakan. Awalnya Lala merasa biasa namun yang menjadi anehnya, toilet itu menjadi sepi. Ada beberapa bilik toilet yang disediakan namun semuanya kosong. Lala tidak tahu ini hanya kebetulan saja atau memang ada sesuatu yang lain Lala tidak ingin memikirkannya.


Kemudian Lala memutuskan untuk bercermin. Selama bercermin Lala asyik membenahi rambutnya yang sedikit berantakan, hingga tanpa Lala sadari ada sesosok manusia yang mengamatinya sejak tadi. Lala terkejut bagaimana bisa Jason menemui dirinya terlebih sekarang ia sedang berada di toilet perempuan.


" Bagaimana bisa kamu berada disini?" tanya Lala begitu membalikkan badannya menghadap Jason.


" Bagaimana bisa kamu berada disini?" ucap Jason menirukan kata -kata dan gaya bicara Lala.


" Seharusnya aku bertanya mengapa kamu bisa ada disini? Makan siang dengan laki-laki lain ha? Cihh seperti tidak ada stok laki-laki lain saja, mengapa kamu mendekati Marvel? Kamu tahu aku dan Marvel sudah bersahabat sejak lama. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika laki-laki incaran kamu si Marvel itu tahu jika kamu memiliki anak dengan sahabatnya sendiri," ucap Jason lagi.


" Tidak bisa. Kamu menghalangi ku untuk bertemu dengan anak-anak, jadi kita masih memiliki urusan. Asal kamu tahu selama ada triplet, kamu tidak akan bisa lepas dari aku," ucap Jason kini mencekal lengan Lala tidak ingin membiarkan wanita itu pergi.


" Mereka yang tidak ingin menemui kamu. Lagian ini jelas bukan salah aku. Kamu sendiri yang membuat mereka marah sama kamu," ucap Lala tidak mau kalah. Setelah melontarkan kata-kata itu, Lala menatap Jason tajam. Ia mengisyaratkan Jason agar melepaskan dirinya.


Namun Jason yang ditatap seperti itu sama sekali tidak berpengaruh untuk dirinya. Jason malah semakin mendekat melangkah kepada Lala. Kemudian secara tiba-tiba Jason mengunci tubuh Lala dengan kedua tangannya.


Jason mendorong kemudian memojokkan Lala ke sudut dinding toilet. Jason menahan tubuh Lala agar tetap bertahan dalam posisi kungkungan kedua tangan Jason. Jason menatap Lala kemudian memiringkan kepalanya sembari tersenyum smirk. Jason tahu jika Lala mulai ketakutan.


" Kita lihat apa kamu masih bisa bersikap seperti ini lagi padaku atau tidak? " ucap Jason.

__ADS_1


Usai Jason mengatakan itu, ponsel Lala berdering. Lala kemudian menepis tubuh Jason yang mengungkungnya. Jason pun melonggarkan tubuhnya memberi akses Lala untuk menerima panggilan. Lala pun segera mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas.


Tertera nama Marvel yang menjadi nama si penelepon. Lala yakin Marvel menelepon karena menunggu dirinya yang terlalu lama di toilet. Tidak ingin membuang waktu, kemudian Lala mengangkat teleponnya.


" Halo Marvel, maaf aku agak lama di toilet. Aku tadi sempat sakit perut," ucap Lala berbohong tidak ingin memberitahu jika ia bersama Jason. Sedangkan Jason tersenyum ketika melihat Lala berbohong.


" Apa kamu masih lama? Aku mendapat kabar jika tiba-tiba perusahaan ku di akuisisi oleh perusahaan lain. Aku harus segera ke kantor karena ingin menyelamatkan perusahaan ku. Aku tidak tahu mengapa ini bisa terjadi yang pasti aku tidak ingin perusahaan kecil ku diakuisisi perusahaan lain," jelas Marvel.


" Marvel sepertinya kamu pergi duluan saja. Perutku masih sakit, aku belum selesai di toilet. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku, aku bisa pulang sendiri nanti. Kamu tenang aja aku bisa jaga diri ku sendiri nanti waktu pulang. Oh ya satu lagi jangan lupa untuk terus semangat semoga kamu bisa mencegah perusahaan lain itu untuk mengakuisisi perusahaan milik mu," balas Lala.


" Apa tidak apa-apa? Aku benar-benar minta maaf, La. Lain kali kamu harus memprotes tindakan ku kali ini," ucap Marvel merasa tidak enak.


" Sudahlah, cepat kamu pergi sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada perusahaan mu," ucap Lala lagi.


Marvel mengiyakan ucapan Lala kemudian panggilan itu berakhir. Grepp... Jason memeluk tubuh Lala dari belakang usai Lala menutup ponselnya. Kedua tangan kekar Jason melingkar sempurna di perut ramping milik Lala. Sedangkan Lala dengan setengah mati berusaha menggeliatkan tubuhnya, tidak ingin membiarkan Jason berlaku seenaknya.


" Kamu sudah mendengarnya?" ucap Jason menahan tubuh Lala yang mencoba melepaskan diri.


" Apa terjadi masalah dengan Marvel hm? Hahahaha itu akibat karena kamu telah mengacuhkan ku selama beberapa hari," jelas Jason.


Lala menghempas kasar tubuh Jason sehingga pelukan itu terlepas. Lala bernafas lega karena berkat usahanya pelukan itu terlepas. Lala berbalik badan menatap Jason untuk meminta penjelasan lebih.


" Apa maksud kamu? Kamu yang mengakuisisi perusahaan Marvel? " tanya Lala memastikan.


" Kalau iya memang kenapa?" balas Jason dengan wajah angkuh. Lala tidak menyangka mendengar pengakuan Jason. Lebih tepatnya juga Lala merasa tidak habis pikir. Sifat seperti apa yang Jason miliki? Lala rasa sifat bastard nya lah yang lebih mendominasi.

__ADS_1


" Apa-apaan kamu Jason? Apa salah Marvel? Bukankah dia sahabat kamu? Mengapa kamu malah ingin menjatuhkannya? " tanya Lala tidak mengerti dengan sikap Jason.


__ADS_2