
'' Apa!!!'' pekik Niki terkejut.
'' Jadi, Tuan Jason ayah kandung anak-anak kamu?'' tanya Niki memastikan. Lala mengangguk mengiyakan pertanyaan Niki.
'' Wah, aku benar-benar tidak menyangka La. Benar-benar kurang ajar itu si Tuan Jason. Apa dia bertanggung jawab? Maksud ku berniat menikahi mu mungkin? Eh tapi kan dia udah punya tunangan. Oh my God, apa selama ini kamu dijadikan orang ketiga, La?'' ucap Niki mencerocos.
'' Tidak begitu juga, Nik. Aku sama Jason cuma berteman dan tidak lebih,'' jawab Lala.
'' Teman tapi punya anak?'' balas Niki.
'' Terserah kamu lah, mau mendeskripsikan hubungan ku seperti apa. Yang jelas aku tidak memiliki hubungan khusus selain dia sebagai ayah kandung anak-anak ku,'' jawab Lala.
Niki menepuk-nepuk punggung tangan Lala. Ia bisa merasakan perasaan yang dirasakan sahabatnya. Dijadikan orang spesial namun tidak diberi kepastian itu rasanya samar. Antara bahagia namun tidak sepenuhnya. Mungkin itulah definisi dari perasaan yang digantungkan oleh pasangan.
'' Iya iya aku mengerti. Mulai sekarang aku akan berada di pihak kamu, La. Aku janji bakal terus menemani kamu dalam kondisi apapun. Aku akan selalu ada untuk kamu sebagai sosok teman, sahabat, kakak dan sebagai ibu juga boleh," ucap Niki diselingi candaan.
Lala tersenyum kemudian memeluk Niki. Niki memang tidak pernah berubah. Ia masih sama seperti Niki yang dulu. Niki yang selalu perhatian, memahami segala isi hati Lala dan selalu bisa membuat mood Lala menjadi baik. Mereka selalu bertukar pikiran satu sama lain, mengingat mereka yang sama-sama tidak memiliki ibu, jadi sering kali mereka menjadikan persahabatan mereka seperti hubungan seorang anak dengan ibu.
" Anak-anak ku sebentar lagi pulang. Kamu harus berkenalan dengan mereka satu persatu," ucap Lala sesudahnya.
" Wah, aku harus memangil mereka siapa nih? Pasti mereka sangat menggemaskan. Mereka kembar identik atau bukan, La?" tanya Niki sangat berantusias.
" Mereka kembar identik," jawab Lala.
" Yah aku pasti kebingungan membedakan mereka nanti. Secara wajah mereka kan sama,"
" Nanti juga terbiasa. Awalnya aku juga sempat bingung membedakan mereka satu persatu jadi aku memberikan mereka julukan yang sama. Aku biasa memanggil mereka dengan sebutan triplet," ucap Lala.
" Ih lucu sekali. Sekali panggil nanti tiga anak langsung datang. Ide kamu pintar juga, La" ucap Niki.
" Tentu saja. Sahabat mu ini kan memang pintar," balas Lala membanggakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Niki dan Lala larut dalam obrolan masing-masing. Banyak yang Lala ceritakan mulai dari awal ia sampai di kota hingga mengenal Jason. Niki juga menceritakan banyak hal tentang kehidupannya selama berkuliah di Jepang.
Niki tidak kembali ke kantor karena ia sudah ijin pulang lebih awal sekalian dari pada harus bolak-balik ke kantor. Toh pekerjaannya juga sudah Niki kerjakan tadi sebelum ia menemui Lala.
...****************...
Hari ini merupakan hari kepindahan Lala ke kontrakan baru miliknya. Selama beberapa hari ini setelah Lala mengantarkan triplet, ia berkeliling mencari kontrakan kosong yang pasti sesuai dengan harga dan fasilitas yang ditawarkan.
Dengan dibantu Niki dan juga Bryant, Lala kini sudah berhasil menempati kontrakannya. Kontrakan ini tidak jauh dari sekolah triplet, hitung-hitung irit ongkos begitulah pikir Lala.
" Bryant, Niki terima kasih sudah mau membantu ku," ucap Lala kepada Bryant dan Niki. Kebetulan hari ini hari libur jadi Bryant dan Niki menyempatkan diri untuk membantu Lala pindahan. Mereka membantu Lala membawakan beberapa perabotan rumah tangga milik Lala.
" Bukankah kita teman? Kamu tidak perlu sungkan seperti itu, La. Aku sama Niki tidak keberatan sama sekali. Iya kan sayang?" tanya Bryant kepada Niki.
" Benar banget. Aku sama Bryant bakal bantuin kamu dalam kondisi apapun. Sahabat harus selalu ada. Iya kan?" ucap Niki.
Lala, Niki dan Bryant bercanda ria sepanjang waktu mereka menata barang-barang milik Lala. Sedangkan triplet mereka juga ikut berkerja sama memindahkan barang-barang kecil dari mobil bak terbuka ke dalam kontrakan.
" Saatnya makan siang," ucap Lala membawa makan siang.
Hari ini Lala tidak bisa memasak karena dapur kontrakannya belum sepenuhnya jadi. Ia memesan makanan pesan antar sebagai menu makan siang kali ini. Dengan dibantu Niki, Lala membantu menyiapkan makan siang di ruang makan minimalis kontrakannya.
" Triplet, lihat mama kalian sudah membawa makan. Ayo kita serbu makanannya," ucap Bryant yang sudah sangat akrab dengan triplet. Sosok Bryant yang humoris begitu mudah mendekati triplet yang tidak takut dengan orang asing.
" Tante Niki, Oliver mau buah semangka yang tante bawa," ucap Oliver kepada Niki yang membawa buah semangka hasil kupasan Lala.
" Tentu tampan. Ayo ambilah," ucap Niki senang. Sejak pertama kali bertemu dengan triplet, Niki sudah menyukai anak-anak itu. Mereka begitu lucu dan menggemaskan. Bukan hanya itu, Niki juga mengakui kalau triplet itu sudah tampan sejak dini.
" Lala. Bisa-bisanya kamu melahirkan pangeran- pangeran tampan seperti ini. Coba aja aku seumuran sama mereka pasti aku bakal ngelamar buat jadi menantu kamu, La" ucap Niki heboh. Sedari kemarin Niki selalu memuji ketampanan triplet.
" Aku juga tidak kalah tampan. Sebelas dua belas lah sama triplet," sahut Bryant menimpali.
__ADS_1
" Kamu udah terlalu tua. Ketampanan kamu juga jauh di bawah rata-rata. Tampanan triplet kemana-mana lah," balas Niki menggoda kekasihnya.
" Ckck, kekasih yang ternistakan. Padahal dulu waktu SMA kamu sangat mengidolakan aku loh yang. Masa iya most wanted kayak aku turun tingkat ketampanannya," celetuk Bryant dan yang lain menjadi tertawa. Pasalnya Bryant berekspresi seolah-olah dia benar-benar dinistakan.
" Sudah, ayo makan! Nanti keburu dingin lagi," ucap Lala kemudian menyendokkan makanan ke mulutnya sendiri.
" Sumpah La. Nanti kalau aku sama Bryant sudah nikah terus kita punya anak perempuan. Aku enggak mau tahu pokoknya aku minta anak kamu buat jadi salah satu menantu ku," ucap Niki excited.
" Bryant, kode tuh. Buruan nikah sana. Niki udah pengen punya anak," celetuk Lala.
" Ishhh. Justru itu La, aku udah pernah melamar teman kamu yang satu ini nih, tapi dia bilang nunggu kita sukses dulu baru married," balas Bryant.
" Kan aku baru diangkat jadi sekretaris sayang. Nanggung banget kalau mau nikah, aku masih mau nyari pengalaman yang lebih banyak. Kamu kan tahu?" jawab Niki.
" Iya iya sayang. Aku tahu itu kok," jawab Bryant.
Triplet hanya menyimak obrolan tiga orang dewasa di depan mereka. Triplet terlalu larut dalam acara mereka yang menyantap makan siang. Lala yang melihat triplet makan dengan lahap ikut merasa senang. Sesekali Lala memberikan lauk tambahan agar makan mereka lebih banyak.
Mengingat begitu mudahnya Lala pindah rumah tidak ada gangguan dari Jason, ini semua karena ide berlian dari triplet. Dengan menggunakan keahlian mereka yang bisa meretas, mereka menganggu sistem operasi komputer perusahaan milik Jason. Selama dua hari seluruh sistem kantor perusahaan Davis berhasil dilumpuhkan oleh triplet. Mereka membekukan sementara progam-program komputer yang biasa digunakan oleh perusahaan tersebut.
Tentu saja Jason pasti sangat sibuk menangani hal ini. Selama dua hari pula Jason tidak menganggu Lala dan triplet. Biarkan saja kali ini triplet tega kepada Jason, salah sendiri kemarin Jason menyakiti Lala. Triplet tidak akan terima jika Lala disakiti meskipun itu papa mereka sendiri.
" La, kamu tahu selama dua hari ini aku tidak bisa bekerja," ucap Niki memulai topik cerita yang baru.
" Kenapa? Kamu sakit?" tanya Lala.
" Tidak, bukan karena itu. Jadi tuh di kantor perusahaan sedang ada masalah. Selama dua hari seluruh komputer perusahaan tidak bisa digunakan. Semua akses dan program mati tidak bisa dibuka. Jadi semua karyawan diberhentikan tugas sementara deh, termasuk aku," jelas Niki.
" Kok bisa begitu? " tanya Lala ingin tahu. Pantas Jason tidak menemuinya, ternyata perusahaan lelaki itu sedang ada masalah.
" Mana aku tahu. Yang pasti perusahaan lagi berusaha memperbaikinya," jawab Niki.
__ADS_1
Lala mengangguk mendengarkan cerita Niki. Sedangkan Bryant hanya menyimak obrolan kedua wanita yang sudah lama ia kenal ini. Disaat para orang dewasa larut dalam cerita, triplet saling memandang satu sama lain. Sesaat setelah mereka saling pandang, mereka tersenyum bersama. Ternyata tidak sia-sia usaha mereka setiap malam begadang.