Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
43. Triplet kesiangan


__ADS_3

Lala bangun pagi seperti biasa. Ia akan memasak untuk menyiapkan triplet sarapan. Menjadi ibu membuat Lala merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Lala yang sebelumnya belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sebisa mungkin dirinya menjadi ibu yang baik bagi triplet.


Hari ini Lala akan memasak nasi goreng dengan telur ceplok sebagai pelengkapnya. Berhubung bahan-bahan yang tersedia di kulkas habis jadi Lala hanya membuat itu. Segelas susu sebagai pelengkap di meja makan sudah ia hidangkan. Tinggal membangunkan triplet yang sangat sulit bangun pagi.


'' Triplet ayo bangun nak!'' suara Lala sudah menggema di kamar triplet.


Ketiga putra Lala kompak masih memejamkan mata. Lala berkacak pinggang melihat triplet yang selalu sulit bangun. Kapankah kebiasaan mereka akan berubah? Melihat triplet yang susah bangun Lala jadi teringat bagaimana anak buah Jason menjaga triplet kemarin-kemarin selama ia tinggal pergi. Butuh kesabaran ekstra agar membuat mereka mau menurut.


Lala mengguncang pelan tubuh Matt. Tampak anak itu mulai menggeliat kecil. Perlahan-lahan mata Matt membuka berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk karena gorden sudah dibuka.


Matt dan Max sudah berhasil dibangunkan oleh Lala, kini hanya tinggal si bungsu Oliver. Lala berjalan menuju ranjang Oliver yang berada di sebelah Max.


" Oliver, bangun sayang" ucap Lala membangunkan Oliver.


" Lima menit lagi, ma" jawab Oliver dengan suara malasnya.


" Tidak sayang. Ini sudah siang. Ayo bangun! Matt dan Max sudah bangun tuh, ayo giliran kamu," ucap Lala lagi.


" Tidak ma, sebentar lagi" bantah Oliver malah bersembunyi di balik selimutnya.


Lala menghela nafas panjang memikirkan titisan siapa triplet itu. Lala berniat meminta bantuan kepada Matt dan Max untuk membangunkan Oliver. Ketika melihat Matt dan Max wajah Lala tercengang kemudian dirinya hanya bisa pasrah. Matt dan Max tertidur kembali. Mereka bertiga kompak tidur dengan selimut yang menutupi tubuh mereka.


...****************...


" Kenapa kalian sangat susah bangun? Sekarang lihat ini jam berapa? Apa kalian mau telat? Hampir setiap pagi kalian selalu sulit dibangunkan. Dan hari ini yang terparah. Kalian berniat membolos? Atau tidak usah sekolah sekalian. Percuma mama banting tulang bekerja untuk menyekolahkan kalian, tapi kalian saja malas jika disuruh pergi ke sekolah," ucap Lala kepada triplet yang sudah berhasil Lala buat rapi dengan seragam sekolah.


Mereka berempat sedang berada di meja makan. Tadi Lala berhasil membangunkan triplet dengan mengguyur mereka satu persatu menggunakan air. Lala sangat kesal dengan triplet. Masa iya dirinya harus menyiapkan air setiap pagi hanya untuk membangunkan triplet.


" Maaf ma. Kita bukannya malas pergi ke sekolah hanya saja mengapa sekolah itu harus diadakan di pagi hari. Tidak bisakah sekolah kita diganti siang atau kalau tidak malam juga tidak apa-apa," ucap Oliver menjawab omelan Lala.


" Kalian pikir bisa seenaknya saja mengatur jadwal sekolah. Kalau begitu caranya, buat sekolah sendiri saja. Sekolah yang bisa buat kalian bebas masuk jam berapa pun," jawab Lala setengah jengkel.

__ADS_1


" Kami minta maaf ma," ucap Matt yang menyadari suara Lala mulai meninggi.


" Kalian pikir sekolah itu milik kalian? Jangan berbuat seenaknya nak, itu tidak baik" ucap Lala melunak setelah mendengar Matt mengucapkan kata maaf.


" Sekolah itu memang milik kalian. Kalian bisa bebas berangkat sekolah jam berapa pun," sahut Jason yang sudah masuk ke dalam rumah Lala. Kini Jason berdiri tepat di samping Lala. Jason sudah terbiasa keluar masuk rumah Lala seperti rumahnya sendiri.


Triplet tertawa melihat sang mama yang menjadi diam ketika papa mereka datang. Triplet tidak tahu saja jika sekarang Lala tengah merasa canggung karena mengingat semalam.


'' Sebaiknya kalian berangkat sekarang. Ayo mama antar nanti kalian telat lagi sampai sekolah,'' ucap Lala mengalihkan pembicaraan.


Triplet berdiri kemudian menumpuk piring mereka menjadi satu. Lala mengumpulkan piring itu menjadi satu dengan miliknya. Triplet bergegas masuk ke kamar untuk mengambil tas. Sedangkan Jason masih berdiri di belakang Lala yang sibuk membereskan sisa makanan.


'' Kamu tidak menawari ku sarapan?'' tanya Jason.


'' Tidak. Triplet sudah kesiangan karena mereka telat bangun. Jadi kalau mau sarapan kamu bisa pergi ke restoran terdekat,'' jawab Lala.


'' Mana ada restoran pagi-pagi jam segini buka. Kamu tega membiarkan aku kelaparan?''


Jason mengekori Lala yang berbicara dengannya namun sibuk melakukan kegiatan lain. Jason tidak suka jika ia diacuhkan apalagi ketika berbicara. Menurutnya itu terkesan sangat tidak sopan.


Jason menahan Lala yang sudah mengambil busa cuci piring. Lala menatap Jason tajam karena telah mengganggu aktivitasnya.


'' Kenapa lagi? Aku harus buru-buru. Sebentar lagi triplet berangkat ke sekolah,'' ucap Lala dengan posisi bersedekap dada.


'' Kamu kenapa?'' tanya Jason yang juga ikut bersedekap dada.


Lala berbalik badan ingin melanjutkan aktivitas cuci piring namun tangan Jason meraih tubuh Lala hingga menabrak dada bidang milik Jason. Jason mencengkeram kuat pinggang Lala agar tidak melepaskan diri. Sesuai ekspektasi Jason, Lala tidak bisa melepaskan diri karena Jason menahannya begitu kuat.


'' Kamu malu karena kejadian semalam? Atau kamu marah karena aku sudah mencium mu?'' tanya Jason menyelidik.


'' Lupakan saja. Aku harus buru-buru, bisakah kamu melepaskan ini? Jangan sampai triplet melihat kita,'' ucap Lala memperingati Jason.

__ADS_1


Jason hendak melayangkan ucapan namun suara triplet menghentikan aksi Jason yang sudah membuka mulut. Lala menatap tajam Jason mengisyaratkan agar melepaskan dirinya. Tetapi Jason mengabaikan itu seolah tidak melihat kode dari Lala. Jason semakin memperat Lala dalam rengkuhannya.


Triplet datang kemudian melihat aksi Lala dan Jason yang sedang berpelukan. Ralat lebih tepatnya Jason yang memaksa Lala untuk ia peluk.


'' Mama sama papa lagi ngapain?'' tanya Oliver yang sudah menenteng tas sekolahnya.


'' Ada yang mau adik?'' jawab Jason yang melenceng dari pertanyaan Oliver.


Sontak Lala membelalakkan mata kemudian dirinya refleks menginjak kaki Jason. Jason mengaduh kesakitan sedangkan triplet yang melihat itu jelas tertawa. Lala mengabaikan Jason yang sedang memegangi kakinya akibat bekas Lala injak.


Lala kemudian menggiring triplet untuk keluar rumah dan memasuki mobil untuk berangkat ke sekolah. Jason menyusul anak-anak dan wanitanya karena ia yang akan mengantar mereka. Lala tidak bisa menolak karena triplet setuju akan hal itu.


Sepanjang perjalanan triplet menceritakan banyak hal. Jason senang mendengar ocehan putra-putranya. Lala mendiamkan Jason karena masih kesal dengan tingkah laku orang itu.


'' Belajar yang rajin ya nak,'' ucap Jason sebelum triplet masuk ke kelas.


'' Kalian jangan nakal di sekolah,'' imbuh Lala kepada triplet.


Triplet mengangguk kemudian mereka berpamitan untuk masuk ke kelas. Lala dan Jason hanya mengantar mereka sampai halaman parkir sekolah. Jason dan Lala mengabaikan banyak pasang mata yang melihat ke arah keluarga kecil bahagia itu. Begitulah kira-kira persepsi orang jika melihat kebersamaan Jason, Lala dan triplet.


Jason tidak cukup terkenal di area sekolah. Karena dirinya sangat jarang berkunjung ke sekolah. Jason hanya akan mewakilkan orang suruhannya untuk menangani kegiatan sekolah jika menyangkut pihak yayasan.


'' Ayo kita pulang!'' ajak Jason kemudian membukakan Lala pintu mobil.


'' Bukankah kamu harus pergi bekerja?'' tanya Lala balik.


'' Nanti setelah mengantar kamu,'' jawab Jason.


'' Aku akan pergi ke kedai,'' ucap Lala masih belum mau masuk ke dalam mobil.


'' Jangan keras kepala! Lagian baru kemarin usaha kamu tersandung kasus. Sebaiknya hentikan dulu aktivitas mu di kedai agar suasana juga lebih tenang. Memang semua tahu jika kamu tidak bersalah tetapi ada baiknya kamu menggunakan waktu ini untuk memberikan jatah libur gratis kepada karyawan mu,'' balas Jason kemudian tangannya memaksa Lala masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2