
Hampir menjelang terik Lala berdiri di depan kedai miliknya yang masih sedikit mengeluarkan asap. Beberapa bagian sudah menjadi abu. Tidak ada yang tersisa kecuali kerugian yang Lala alami.
Lala menghela nafas. Sesulit inikah hidup? Baru kemarin-kemarin usaha yang ia rintis maju tetapi sekarang seolah semuanya redup. Tidak ada yang bisa Lala selamatkan dari kejadian ini kecuali korban jiwa yang memang tidak ada sama sekali. Sangat mengenaskan bangunan yang menjadi harapan Lala menunjang hidup hanya semalam berubah menjadi puing-puing hitam tak berbentuk.
Kronologi kejadian dimulai ketika Lala mendapat telepon dari seseorang yang mengaku polisi. Polisi mengatakan jika bangunan yang beralamatkan kedai Lala telah terjadi kebakaran. Awalnya Lala ragu namun detik berikutnya satpam penjaga kawasan daerah kedai Lala mengatakan kebenarannya. Lala yang masih memakai piyama tidur pun langsung bergegas menuju ke tempat kedainya.
Sesampainya di sana Lala melihat banyak petugas pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api. Satpam penjaga kawasan daerah tempat kedai Lala memanggilnya kemudian menjelaskan kejadian yang lebih rinci. Tidak hanya satpam yang berbicara melainkan juga kepala kepolisian yang sudah hadir begitu mendapat laporan dari satpam.
Sejak mendapat kabar tadi malam, Lala belum pulang ke rumah. Triplet ia tinggal seperti biasa, namun tadi pagi Lala sudah meminta tolong tetangganya untuk menjaga triplet.
" Mbak Lala," panggil seseorang.
Lala membalikkan badan melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata ada lima orang yang merupakan pegawai Lala kompak menghampiri Lala. Tampilan Lala sangat tidak bersahabat. Sedari semalam Lala datang, ia belum menyentuh air sama sekali. Jangankan untuk mandi mencuci muka pun ia tidak sempat. Bahkan sedikit kantung mata tercetak samar di wajah Lala. Piyama tidur yang Lala gunakan juga sedikit kotor karena tidak sengaja mengenai abu bekas kebakaran waktu Lala meninjau keadaan kedainya tadi.
" Kalian kesini?" tanya Lala.
" Semalam kami melihat berita yang menayangkan kebakaran. Dan kami tersadar jika yang kebakaran adalah kedai Mbak Lala. Maaf mbak kita datangnya telat," ucap pegawai Lala yang bernama Dewi.
" Tidak masalah. Aku yang seharusnya minta maaf karena setelah kejadian ini dengan sangat terpaksa aku harus memberhentikan kalian semua," ucap Lala merasa tidak enak.
Para pegawai yang melihat bos mereka bersedih sebisa mungkin mereka memberi kekuatan kepada Lala.
" Aku akan memberikan kalian pesangon sesuai ketentuan. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Aku minta maaf jika selama kalian bekerja dengan ku, kalian merasa tidak nyaman atau kurang menyukai sikap ku. Semoga kita masih bisa berteman seperti biasanya," ucap Lala lagi.
Para pegawai Lala berhamburan memeluk Lala secara bersamaan. Di tengah bangunan yang hanya tersisa reruntuhan hitam gosong, mereka mencoba menguatkan Lala. Mereka tahu Lala tidak setegar yang dilihat. Lala hanya tidak ingin kemalangan nya menyusahkan orang lain.
" Sudah,,sudah. Jangan berpelukan disini. Malu dilihat orang," ucap Lala menyudahi sesi pelukan mereka.
__ADS_1
" Terima kasih Mbak Lala sudah menjadi bos kami yang paling baik. Kami tidak akan melupakan semua jasa Mbak Lala. Nanti semisal Mbak Lala membutuhkan bantuan, Mbak Lala bisa menghubungi siapapun diantara kami. Dengan senang hati kami akan membantu Mbak Lala," ucap pegawai Lala yang laki-laki.
Lala tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia bersyukur karena masih memiliki orang-orang baik seperti para pegawainya.
Di tengah mereka yang masih mengobrol datang triplet bersama mama Alfi yang merupakan teman triplet.
" Mama," teriak triplet.
" Kalian menyusul mama?" ucap Lala setelah mendengar suara teriakan triplet.
" Apa yang terjadi ma?" tanya Matt kepada Lala.
" Kedai kita kebakaran semalam. Maaf mama meninggalkan kalian sendirian di rumah. Pasti kalian ketakutan," jawab Lala.
" Ibu Lala, triplet tidak takut sama sekali. Mereka malahan khawatir sama Ibu Lala karena belum memberikan kabar. Akhirnya saya memutuskan menyusul Ibu Lala setelah triplet merengek ingin bertemu mamanya," jelas Mama Alfi.
" Terima kasih Mama Alfi karena sudah menjaga triplet. Maafkan saya karena selalu merepotkan keluarga anda," ucap Lala kepada Mama Alfi.
" Oh ya Bu Lala saya ikut sedih atas kejadian yang menimpa Bu Lala. Semalam saya dengar berita kedai Bu Lala kebakaran. Yang tabah ya Bu," ucap Mama Alfi lagi.
Lala mengangguk berterima kasih atas perhatian orang-orang di sekitarnya. Mama Alfi tidak hanya bersimpati tetapi Mama Alfi juga ikut membantu Lala.
Untuk sementara waktu triplet akan Lala titipkan di rumah Mama Alfi. Selain merasa aman triplet juga tidak akan bersedih karena disana ada Alfi yang senantiasa menghibur triplet. Setelah ini Lala masih akan menyelesaikan beberapa urusannya. Mulai dari ganti rugi bangunan kedai yang ia sewa, pesangon pegawainya, dan memberikan keterangan di kantor kepolisian.
Kebakaran semalam cukup besar. Ada beberapa bangunan yang tidak berpenghuni di dekat kedai Lala yang ikut terbakar. Jadi Lala akan melakukan negosiasi untuk mengganti kerusakan atas musibah kebakaran yang terjadi.
" Mama, apa papa tidak kesini? " tanya Oliver yang menempel memeluk pinggang Lala. Oliver sama khawatirnya dengan Matt dan Max yang melihat keadaan Lala.
__ADS_1
Lala terdiam bingung ingin menjawab apa. Dini hari tadi Lala sempat melihat Jason datang. Lala melihat Jason berbicara singkat dengan polisi namun tak lama setelah itu Jason pergi lagi. Lala tidak memanggilnya karena memang ia tidak menginginkan kedatangan Jason. Itu hanya akan memperburuk suasana hatinya. Jason pasti akan mengatur-atur Lala seolah Lala tidak mampu menghadapi kesulitannya sendiri.
" Mama tidak tahu," jawab Lala singkat.
Triplet masih memeluk Lala tidak ingin melepas pinggang Lala yang mereka peluk. Tinggi triplet memang hanya sebatas pinggang Lala. Lala mengusap-usap sayang kepada triplet yang nyaman memeluknya. Lala juga merapatkan diri kepada triplet. Kehadiran triplet cukup membuat Lala merasa tenang.
" Lala," panggil Jason yang berdiri depan Lala dan triplet.
Orang-orang yang bersama Lala kompak melihat pria tampan yang memanggil Lala. Pegawai Lala sedikit tahu tentang Jason. Namun mereka belum paham dan mengerti jika Jason adalah papa kandung triplet.
" Aku sudah mengurus semua. Kamu jangan khawatir setelah ini kamu dan anak-anak bisa ikut dengan ku nanti," ucap Jason.
Lala memandang Jason datar. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru beberapa saat Jason dibicarakan tidak lama setelah itu orangnya datang. Kedatangan Jason seperti biasa disertai dengan segala perilakunya yang mengatur-atur hidup Lala.
Mendengar perkataan Jason, setelah itu Lala meminta ijin kepada yang lain untuk berbicara berdua dengan Jason. Jason mengikuti Lala yang mengajaknya menjauh dari gerombolan orang yang mengelilingi Lala tadi.
Kini mereka sudah berada di tempat yang sepi. Tampak penampilan Jason juga sama kacau seperti Lala. Jason menyesal seharusnya sejak semalam ia menemui Lala lebih dulu dan memberikannya perhatian. Namun Jason malah tergesa-gesa menemui Karen karena menganggap jika wanita itu yang menjadi dalang dari kejadian ini. Jason yakin pasti sedari semalam Lala sudah berada di sini. Betapa bodohnya Jason karena ia tidak melihat Lala tadi malam.
" Aku minta maaf karena baru datang menemui kamu. Semalam aku juga datang hanya saja aku tidak melihat kamu lalu aku memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke,,," ucapan Jason terpotong karena Lala menamparnya.
" Aku justru senang jika kamu tidak datang. Aku juga bakal berterima kasih jika mulai sekarang kamu berhenti menganggu kehidupan ku. Sudah cukup kesialan yang aku terima semenjak aku memutuskan kamu hadir di kehidupan ku dan anak-anak," ucap Lala menyorot mata Jason tajam.
" Aku minta maaf. Aku janji setelah ini aku akan membawa kamu dan anak-anak bersama ku. Tidak akan aku biarkan kalian hidup kesusahan sendiri tanpa aku," ucap Jason mencoba menggenggam tangan Lala.
Lala menepis kasar tangan Jason yang mencoba menggenggamnya. Lala benar-benar merasa marah kepada Jason.
" Asal kamu tahu semua ini terjadi juga gara-gara kamu. Seandainya saja waktu itu kamu tidak melarang ku pergi ke kedai, kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Kedai tidak akan terbakar, karena aku mengontrol dan memastikan keamanannya. Sementara kamu? Kamu malah melarang ku pergi ke sini dan berakhir kedai yang terbakar,''
__ADS_1
'' Kamu hanya orang lain,tetapi kamu selalu seenaknya menentukan pilihan. Aku bukan wanita bodoh yang bisa kamu bodohi. Mulai sekarang jauhi aku dan anak-anak, aku juga akan berhenti dari pekerjaan ku. Denda akan aku bayar agar aku segera terlepas dari kontrak sialan yang kamu buat," ucap Lala menatap Jason tajam.
Jason memandang Lala yang begitu rapuh. Ingin ia memeluknya namun Jason sadar dirinya tidak cukup berarti di kehidupan Lala. Beban masalah itu adalah julukan yang tepat untuknya.