Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
41. Jennie lagi


__ADS_3

" Jennie," teriak Jason yang sudah masuk ke dalam rumah yang ia datangi.


Ternyata Jason membawa Lala ke rumahnya yang ditinggali oleh adiknya Jennie. Semua pekerja berdatangan menghampiri Jason yang bersama seorang wanita. Mereka semua menunduk takut kala mendengar teriakkan Jason. Tidak ada yang berani bertanya mereka hanya diam menunggu Jason mengeluarkan suara selanjutnya.


" Dimana Jennie?" tanya Jason dengan suara keras.


" Aku disini kak," sahut Jennie yang sedang menuruni tangga.


Semua yang dibawah kompak melihat Jennie yang sedang menuruni tangga. Lala tidak mengerti mengapa Jason membawanya kesini dan jangan lupakan aksi Jason yang marah-marah kepada adiknya.


" Yang lain boleh pergi," ucap Jason kembali normal. Para pekerja rumah itu pergi meninggalkan majikannya yang ingin memiliki privasi.


" Sudah tahu apa kesalahan kamu?" suara Jason mengalun begitu tegas.


Jason sudah tahu jika pelaku yang sebenarnya adalah Jennie. Fernando mengatakan jika Jennie menyuruh seseorang untuk mencampurkan obat ke dalam makanan siang milik karyawan. Jennie juga menyuruh salah satu karyawan untuk melaporkan Lala sebagai pelaku.


" Dia pantas mendapatkannya. Status dia tidak sederajat dengan kita. Seharusnya kakak membiarkan wanita itu di penjara," balas Jennie sinis.


Jennie sudah tahu jika kakaknya telah mengetahui perbuatannya. Jennie hafal betul, kurang dari dua puluh empat jam pasti kakaknya bisa menemukan titik masalah yang terjadi di kantor perusahaan. Jennie tidak mengelak toh Jason mana mungkin bisa dikelabui.


Jennie sengaja melakukan ini untuk mengerjai Lala seperti biasa layaknya jaman SMA dulu. Entah tidak habis pikir mengapa perbuatan bully membully masih saja dilakukan oleh Jennie.


" Jadi kamu yang melakukan semua ini Jen? " sahut Lala yang mengerti maksud Jason .


" Kalau iya? Lo mau apa? Mau marah, silahkan. Pergi dari kehidupan kakak gue malah bagus," jawab Jennie ketus.

__ADS_1


Lala tidak menyangka kebencian Jennie masih terus berlanjut hingga sekarang. Lala menatap Jason yang terlihat juga ikut marah atas kelakuan adiknya.


'' Jennie tingkah kamu sungguh kekanakan-kanakan. Gara-gara kamu perusahaan kehilangan banyak uang dan resiko nama perusahaan jadi taruhannya,'' ucap Jason memarahi Jennie.


'' Kakak sendiri ngapain bela-belain dia? Buang-buang waktu aja. Jennie malas menanggapi kalian. Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini,'' ucap Jennie mengusir halus Jason dan Lala.


'' Bagaimana bisa kamu kehilangan sopan santun mu kepada kakak mu Jen? Apa yang ada di dalam pikiran kamu ini ha?'' ucap Jason meninggi.


Jennie sungguh malas berdebat dengan kakaknya. Bukan maksud dirinya yang tidak sopan. Tetapi entahlah saat kakaknya lebih membela Lala, Jennie merasa iri. Kakaknya berhasil direbut oleh wanita yang ia benci.


'' Lala. Kamu bisa mengatakan padaku hukuman apa yang pantas untuk Jennie?'' ucap Jason kini beralih kepada Lala. Jennie melotot mendengar pernyataan kakaknya. Seenaknya saja dia dihukum apalagi atas persetujuan pendapat dari Lala. Cihhh Jennie tidak sudi.


Lala mengangguk. Mendapat kesempatan emas tidak mungkin ia lewatkan. Lala berjalan melewati Jason kemudian berhenti tepat di depan Jennie yang berdiri dengan angkuh. Lala menatap Jennie yang juga menatapnya tajam. Jennie menunggu apa yang akan dilakukan Lala selanjutnya.


Plakk, tamparan mendarat di pipi Jennie. Begitu kena tampar, Jennie langsung memegang pipinya yang sangat terasa panas. Jennie menatap Lala tajam. Tangannya mengayun ingin membalas perbuatan Lala. Namun dengan cekatan tangan Lala mencegah itu.


'' Satu tamparan dari ku karena kamu telah membuat citra ku buruk. Satu lagi tamparan dari Jason dan aku yang mewakilinya. Jason tidak akan pernah tega menampar adik kesayangannya. Jadi aku sendiri yang melakukannya '' ucap Lala tepat di depan wajah Jennie.


'' Lo berani sama gue?'' balas Jennie sengit.


'' Aku bisa saja melaporkan kamu kembali namun sayang kamu adalah calon adik ipar ku. Jadi sebagai kakak ipar yang baik aku harus menjaga calon adik ipar kesayangan ku,'' ucap Lala setengah mengejek.


Lala berbalik badan menuju Jason yang diam saja melihat kedua perempuan berharganya saling tampar. Jason membiarkan Lala melampiaskan kekesalannya kepada Jennie yang memang nakal.


'' Jason, bisakah aku pulang sekarang? Aku benar-benar lelah saat ini,'' ucap Lala setelah mendekat kepada Jason.

__ADS_1


Jason mengangguk mengajak Lala pergi meninggalkan Jennie sendiri. Jennie benar-benar kesal karena ia kalah telak dengan Lala. Setelah kakaknya dan wanita itu pergi Jennie masuk kembali ke kamarnya. Sekarang yang ia lakukan saat ini hanyalah berdiam diri di rumah. Dia sudah tidak bekerja dan untuk bermain pun dirinya tidak bisa. Semua jatah uang dan akses kartu kredit sudah diambil oleh kakaknya. Kini Jennie hanya bertahan menggunakan sisa uang tabungan yang tidak seberapa. Masih untung kakaknya mau menggaji pekerja rumah kalau tidak entah apa yang akan Jennie lakukan.


Jason sudah sampai mengantar Lala di depan rumah. Hari sudah cukup larut mungkin anak-anak juga sudah tidur. Sebelum Lala turun dari mobil Lala mengucapkan terima kasih sekaligus maaf karena telah membuat Jason bertengkar dengan Jennie.


'' Terima kasih hari ini kamu sudah menolong ku. Dan juga maaf karena telah menampar adik kamu,'' ucap Lala menunduk karena merasa tidak enak.


'' Shusst,'' Jason mendesis menempelkan satu jari di ujung bibirnya.


'' Bukankah aku tadi yang menyuruh mu untuk memberikan Jennie hukuman? Jadi aku tidak merasa marah karena kamu telah menampar Jennie. Justru aku lah yang bersalah karena tidak bisa menjaga perbuatan adik ku,'' balas Jason menggenggam tangan Lala.


Lala mendongak melihat mata Jason yang kini sangat dekat dengannya. Posisi mereka masih di dalam mobil. Sabuk pengaman mereka juga belum mereka lepas. Sepertinya akan ada waktu banyak untuk mereka mengobrol.


'' Terima kasih karena tidak menuntut Jennie balik. Bagaimana pun aku tidak akan pernah tega melihat dia dipenjara nanti. Maaf karena telah egois dan membiarkan kamu yang menanggung,'' ujar Jason lagi kepada Lala.


'' Tidak masalah. Aku sudah terbiasa dengan sikap Jennie. Oh ya satu lagi yang harus kamu tahu. Aku tidak selemah dulu ketika ditindas oleh Jennie. Entahlah dari mana aku mendapat keberanian itu. Yang pasti aku sekarang sangat berbeda dengan Lala yang dulu,'' ucap Lala antusias.


'' Benarkah? Kamu dulu memang sangat polos apalagi waktu pertama kali kita bertemu di kamar hotel malam itu. Bahkan berkat kepolosan kamu itu yang berhasil membuat ku tergoda,'' ucap Jason dan membuat pipi Lala merona.


'' Blushing hm, calon istriku,''


'' Siapa juga yang jadi calon istri mu?'' ucap Lala memukul lengan Jason.


'' Dasar pelupa. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika Jennie adalah calon adik ipar kamu. Sedangkan kakak laki-laki satu-satunya Jennie adalah aku. So, apa itu sebuah kode supaya aku cepat melangsungkan pernikahan kita?''


'' Tidak,, tidak. Aku tadi hanya bercanda. Jennie sangat kesal padaku karena aku dekat dengan kamu. Jadi aku membalasnya dengan mengatakan itu. Kamu jangan salah paham,'' ucap Lala menjelaskan.

__ADS_1


Jason menaikkan alisnya. Lala merasa canggung karena telah mengatakan itu. Lala berniat membuka sabuk pengaman miliknya untuk keluar. Tapi sebelum Lala melakukan itu, tubuhnya ditarik oleh Jason agar tubuh mereka saling menempel. Lala terkejut, karena di detik berikutnya ada sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Bibir Jason lah yang melakukan itu. Lala tidak siap akan hal ini, dirinya hanya diam tidak menolak juga tidak merespon.


Jason menggeram karena telah memancing gairah akibat perbuatannya sendiri. Sekarang yang ada di pikirannya hanya ingin melanjutkan kegiatan ini. Tidak perduli jika nanti Lala marah atau gimana yang terpenting dirinya puas. Jason tersenyum smirk ternyata darah bastard nya masih ada.


__ADS_2