Triplet Dan CEO

Triplet Dan CEO
81. Semoga baik-baik saja


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit swasta tepatnya di salah satu ruang rawat inap terdapat seorang laki-laki sedang terbaring dengan mata yang terpejam. Banyak peralatan medis yang tertempel di tubuhnya.


Jason dia laki-laki itu. Usai mendapat tembakan di punggungnya, Jason kehilangan kesadaran. Pasca kejadian yang membuat Jason tertembak, Lala dengan bantuan Dion dan Ranti membantu mereka semua yang terluka untuk dibawa ke rumah sakit.


'' La, semua sudah diurus oleh polisi. Aku sendiri yang memastikan jika Niki dan yang lain sedang mendapat perawatan sebelum mereka dijatuhi hukuman,'' ucap Jennie. Jennie yang mendapat kabar jika kakaknya terluka langsung berlari untuk melihat kakaknya.


Jason berhasil mendapat pertolongan dan sekarang dirinya sudah berada di ruang rawat inap. Sempat berada di ICU beberapa jam, namun setelah itu Jason dipindahkan oleh dokter karena kondisinya yang sudah stabil. Tinggal menunggu Jason siuman dan hasil dari serangakaian pemeriksaan , Lala berharap semoga Jason baik-baik saja.


'' Apa kamu tidak ingin pulang? Setidaknya beristirahat lah, biarkan aku yang menunggu Kak Jason disini,'' ucap Jennie lagi karena sedari tadi Lala hanya merespon dirinya dengan anggukan. Jennie turut mengkhawatirkan Lala, melihat kondisi perempuan itu yang sedang tidak baik-baik saja.


'' Aku akan menunggu Jason sampai sadar,'' balas Lala akhirnya setelah lama tidak membuka suara.


'' Jangan keras kepala! Lihat kondisi mu, sudah seperti gembel. Kak Jason bakal marah sama aku kalau biarin kamu dalam kondisi seperti ini. Pulanglah, setidaknya kamu juga harus melihat triplet di rumah. Tadi mereka sengaja aku tinggal ke sini supaya mereka tetap aman. Aku yakin triplet pasti sedang mengkhawatirkan orang tuanya. Jadi lebih baik kamu pulang,'' ucap Jennie panjang lebar.


Lala termenung, benar apa yang dikatakan oleh Jennie. Ia memang mengkhawatirkan Jason namun dirinya juga tidak boleh egois. Sudah dua hari ini ia meninggalkan triplet. Lala tidak tahu bagaimana khawatirnya triplet kepadanya. Sepertinya ide untuk pulang sebentar adalah yang terbaik.


'' Baiklah, aku akan pulang sebentar. Nanti kalau Jason sudah siuman tolong kabari aku,'' ucap Lala beranjak dari kursi tempat ia duduk. Kursi itu berada tepat di samping Jason. Memang yang Lala lakukan sedari tadi adalah duduk sembari menggenggam tangan Jason yang tidak terpasang selang infus.


'' Supir akan mengantar kamu,'' ucap Jennie.

__ADS_1


'' Terima kasih,'' balas Lala. Jennie yang melihat Lala murung berinisiatif untuk memeluk Lala. Jennie ingin memberikan Lala kekuatan setidaknya agar Lala lebih tenang.


'' Kamu harus yakin, Kak Jason itu kuat. Cuma kena tembak enggak bakal ngaruh buat dia. Buktinya sekali buat dia bisa bikin kamu hamil, sampai tiga malah'' ucap Jennie. Lala yang mendengar pernyataan Jennie dengan seketika langsung menepuk bahu gadis itu pelan. Bisa-bisanya di saat seperti ini Jennie malah membahas masalah seperti itu.


Langkah Lala terasa berat seperti ada beban yang ingin menahan Lala untuk tetap menemani Jason hingga sadar. Namun disini Lala juga harus memikirkan triplet yang ada di rumah. Sebelum benar-benar menghilang dari ruangan Jason, Lala berbalik untuk mengecup kening laki-laki itu sekilas.


'' Plis, La!! Kak Jason itu cuma belum sadar karena pengaruh bius, dia bukan sedang sekarat. Jangan terlalu lebay lah!! Kemarin waktu kamu hilang Kak Jason nangis, sesuatu hal yang tidak pernah Kak Jason lakukan kecuali waktu papa meninggal. Dan sekarang kamu mau pulang aja pakai acara drama kayak gitu! Kalau lihat kalian kayak gini tuh, aku berasa kayak nonton sinetron cinta yang lebay tau enggak,'' gerutu Jennie yang melihat Lala mencium kening Jason lama. Adegan Lala dan Jason sudah seperti tayangan sinetron live yang ditonton oleh Jennie.


'' Cerewet,'' tukas Lala melihat adik dari ayah triplet yang mengomeli dirinya. Jennie mungkin sudah berubah tidak arogan lagi seperti dulu, namun kalau untuk kecerewetannya Lala rasa sifat itu memang sudah mendarah daging pada Jennie.


Selepas Lala pergi, Jennie mengambil tempat duduk yang tadi sempat dijadikan tempat duduk oleh Lala. Jennie memandang wajah kakak laki-lakinya, sudah banyak yang Jason korbankan untuk orang-orang terdekatnya. Jennie jadi merasa bersalah. Dulu ia selalu saja bersikap tidak dewasa sehingga membuat Jason sering berlaku tegas kepadanya.


Jennie yang dulu memang tidak terkendali. Jennie juga tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Semenjak papa nya meninggal, Jason dan mamanya menjadi sibuk. Waktu yang diluangkan Jason dan mamanya sangat jarang. Jennie bahkan hanya bertemu setahun sekali dengan mamanya.


Tentu Jennie merasa kecewa, namun belakangan Jennie sadar jika yang dilakukan mama dan kakaknya itu semua demi kebaikan Jennie sendiri. Benar yang dikatakan orang-orang jika kasih sayang tidak harus ditunjukkan dengan kata-kata. Setidaknya dengan perlakuan sederhana pun sudah bisa mewakili perasaan itu.


'' Mulai sekarang Jennie janji, Jennie bakal berubah. Jennie enggak akan menyusahkan mama dan kakak lagi,''


'' Pokoknya sekarang aku Jennie Michelle Davies adik dari Jason Mraz Davies bukanlah beban keluarga,'' monolog Jennie menatap Jason dalam.

__ADS_1


Tak lama pintu ruangan Jason diketuk oleh seseorang. Jennie pikir itu adalah dokter atau perawat yang sedang visit untuk memantau kondisi Jason, namun ternyata yang datang adalah Fernando. Laki-laki yang berusia satu tahun diatas kakaknya ini datang dengan pakaian pasien rumah sakit.


Jennie memang sudah mengurus Niki dan gerombolannya namun ia melupakan keadaan pria yang berada di depannya ini. Fernando laki-laki berusia 31 tahun yang sudah lama hidup bersama keluarga Davies. Jennie masih ingat awal pertemuannya dengan Fernando. Hal itu diawali ketika dulu ia dan keluarganya datang berkunjung ke sebuah panti asuhan.


Jennie melihat Fernando muda yang waktu itu berusia hampir sama dengan kakaknya. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya, yang Jennie tahu jika Fernando akan dirawat oleh keluarga Davies. Tumbuh bertiga bersama Fernando tidak membuat Jennie mengenal Fernando lebih dalam. Fernando sangat dekat dengan kakaknya namun tidak dengannya. Fernando yang cuek dan Jennie yang malas melihat wajah datar Fernando membuat gadis itu sangat jarang berinteraksi yang tidak lebih dari sekedar sapaan ketika mereka tidak sengaja bertemu.


'' Apa kondisi Tuan Jason tidak apa-apa?'' tanya Fernando begitu melihat kakak beradik yang berada di ruangan yang sama dengannya.


'' Kakak ku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu? Mengapa kamu selalu mengkhawatirkan kakak ku sih? Lihat kamu juga memakai baju pasien yang sama dengan kakak ku, apa kamu juga terluka?'' tanya Jennie melihat beberapa bagian tubuh Fernando yang diperban.


Pertanyaan bodoh yang Jennie lontarkan hanya dijawab anggukan oleh Fernando. Sudah jelas kondisi tubuh Fernando yang diperban, masih juga ditanya apa dia terluka.


'' Kembali lah ke ruangan mu. Kamu tidak dibiarkan bekerja dalam kondisi sakit,'' ucap Jennie tahu jika Fernando akan mengurus Jason. Jennie paham jika kinerja Fernando memang sudah tidak diragukan lagi. Fernando akan tetap bekerja sekalipun dia sedang sekarat, begitulah Jennie mengibaratkan Fernando yang workaholic.


Jennie lalu menarik tangan Fernando yang tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan menuruti perintahnya. Jennie pun membawa Fernando untuk masuk ke dalam ruang rawat inap milik Fernando sendiri. Ternyata ruangan itu juga tidak jauh dari ruangan kakaknya.


'' Tetap berbaring dan tidurlah. Kali ini kamu harus menurut dan tidak boleh membantah,'' ucap Jennie memastikan Fernando merebahkan tubuhnya di atas brankar.


Jennie kemudian menarik selimut agar menutupi sebagian tubuh Fernando. Jennie juga mendekatkan bel panggilan rumah sakit agar Fernando tidak kesusahan jika sedang membutuhkan sesuatu.

__ADS_1


'' Pokoknya kamu harus menurut dan jangan membantah ku. Kamu sedang sakit jadi biarkan aku yang memerintah sekarang. Sudah cukup kamu selalu memerintah ku untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang sulit, dan sekarang kita gantian,'' ucap Jennie masih menceramahi Fernando. Fernando hanya menyimak semua yang dikatakan oleh Jennie. Tidak ada balasan seperti biasa jika meladeni Jennie yang pembicaraannya selalu dianggap tidak penting oleh Fernando.


'' Selalu diacuhkan. Ini nih efek kamu yang dimanjakan oleh kakak ku. Kadang aku heran disini siapa yang menjadi adik Kak Jason, aku iri sama kamu. Kamu selalu bebas berdekatan dengan Kak Jason sedangkan aku yang adik kandungnya saja sangat jarang,'' gerutu Jennie melihat ekspresi datar dari Fernando.


__ADS_2