
Seorang wanita cantik tengah menghabiskan malamnya di sebuah club. Sudah gelas ke empat yang ia tenggak namun wanita itu masih menginginkan lagi. Tidak perduli dengan kepalanya yang mulai pusing ia tetap menenggak minuman itu hingga tandas.
Seorang pria paruh baya datang berjalan menghampiri wanita yang sedang mabuk itu. Mereka berdua sudah lama mengenal. Tentu hubungan mereka sudah tidak asing lagi.
" Mau sampai gelas ke berapa kamu meminumnya? Lihatlah kamu bahkan sudah mabuk," ucap pria paruh baya itu.
" Aku belum mabuk," jawab si wanita yang mengatakan tidak namun berlainan dengan keadaannya yang mulai meracau.
" Kenapa lagi sama si Jason? Apa dia masih mengabaikan kamu? Bukankah kemarin kamu berhasil mengumumkan tentang pernikahan kalian? Lalu sekarang kenapa lagi? " tanya pria paruh baya itu.
" Dia kepincut wanita catering di kantornya," jawab wanita yang bernama Karen dan membuat pria paruh baya itu tergelak.
" Sebaiknya mulai sekarang kamu harus mengehentikan obsesi kamu sama Jason. Dia tidak pernah mencintai kamu. Sudah cukup kamu buang-buang waktu selama ini," ucap pria paruh baya.
Karen berdecak tidak mungkin dirinya melepaskan berlian mahal seperti Jason. Selain karena Jason kaya, Karen juga tulus mencintai Jason. Karen sudah lama mengejar Jason. Mulai dari jaman Jason masih sering bergonta-ganti wanita hingga sekarang yang katanya rumor itu sudah tidak berlaku lagi. Karen ingat Jason sudah menjauhi kebiasaannya sejak kurang lebih enam tahun yang lalu.
Karen tidak terima jika dirinya yang lebih dulu mengenal Jason harus direbut oleh wanita catering yang baru Jason kenal. Sudah dua tahun Karen bertahan dengan Jason, ia tidak akan membiarkan waktu dua tahun itu terbuang sia-sia.
" Daripada menasehati ku, sebaiknya kamu membantuku,"
" Tidak masalah asal bayarannya pas," balas pria paruh baya dan tersenyum smirk.
__ADS_1
Karen sudah paham dengan maksud pria paruh baya di depannya ini. Ia akan memberikan bayaran setimpal asal wanita catering itu menjauhi Jason.
Kemudian tak jauh dari keberadaan Karen yang lebih tepatnya dari arah pintu masuk ada Marvel yang juga berkunjung ke club. Marvel memang terlihat baik namun jika urusan nakal dirinya juga tak ketinggalan.
Marvel lalu melihat Karen yang asyik bercengkrama dengan seorang pria paruh baya. Namun tak berselang lama, setelah itu Karen dan pria paruh baya itu meninggalkan meja bartender. Karen dan pria paruh baya itu tampak saling merangkul mesra. Marvel paham ternyata tunangan Jason bermain dengan pria tua yang cabul.
" Benarkah tunangan Jason memiliki hubungan dengan pria tua itu?" gumam Marvel yang masih melihat pasangan beda usia itu berlalu.
" Kalaupun iya itu bukan urusan ku," ucap Marvel kemudian meneruskan tujuannya datang ke club.
...****************...
Hari ini seperti biasa Lala sedang sibuk di kantor perusahaan Davies. Usia menurunkan makan siang, Lala bergegas ke ruangan Jason untuk melaksanakan tugas biasanya. Lala mengetuk pintu ruangan Jason. Selang beberapa menit tidak ada sahutan juga. Lala berjalan menuju meja sekertaris Jason berniat menanyakan dimana Jason namun meja sekertaris itu juga kosong.
Sudah cukup selama SMA Lala di cap sebagai wanita seperti itu. Bahkan karena gelar itu Lala sering mendapatkan perlakuan tidak senonoh oleh para laki-laki yang menjadi teman seangkatannya dulu. Lala juga tidak tahu bagaimana awal mula dirinya di cap seperti itu. Bahkan Jennie adik Jason membencinya juga karena fitnah gelar penggoda itu.
Lala berbalik badan ingin melangkah pergi dari lantai ruangan Jason namun ponsel dalam tasnya berdering. Lala mengambil ponselnya dan nama Jason terpampang di layar benda persegi milik Lala.
" Halo," ucap Lala setelah mendekatkan ponselnya ke telinga.
" Tunggulah aku di ruangan. Aku sedang meeting dan sebentar lagi selesai. Ingat, jangan mencoba pulang lebih awal karena tugas mu belum selesai," ucap Jason kemudian langsung mematikan teleponnya. Lala menghela nafas. Gagal sudah rencananya pulang lebih awal.
__ADS_1
Lala menunggu Jason di ruangannya. Lala duduk di sofa seperti biasanya. Hampir tiga puluh menit berlalu tetapi Jason belum ada tanda-tanda akan kemunculannya.
Setelah satu jam berlalu tetapi Jason belum kunjung datang juga. Lala mulai merasa bosan. Ia memutuskan berjalan mengitari isi ruangan Jason. Lala melihat-lihat ruangan Jason yang selalu tampak rapi.
Langkah Lala terhenti ketika dirinya melihat kaca jendela yang menampilkan pemandangan kota dari jauh. Ruangan Jason memang menampilkan banyak sisi yang berlapiskan kaca. Sehingga pemandangan kota dan area sekitar kantor masih terjangkau dari lantai ruangan Jason.
Kemudian arah pandangan Lala jatuh ke bawah yang menampilkan pintu masuk kantor perusahaan dari atas gedung. Gedung perusahaan Davies memang cukup tinggi tetapi masih bisa melihat pemandangan area luar kantor dari atas.
Lala merasa ada yang janggal dengan area pintu masuk yang sedang ia lihat. Saat ini pintu masuk itu dilalui rentetan ambulans yang berjejer untuk masuk. Lala tidak mengerti mengapa ada banyak ambulans yang berdatangan ke perusahaan Davies.
" Ada apa ini? Mengapa banyak sekali ambulans? " gumam Lala merasa ada yang tidak beres.
Tidak mungkin kantor ini mengadakan meeting dengan orang- orang yang mengendarai ambulans. Perasaan Lala tidak enak mengenai hal ini. Lala memutuskan untuk turun dari ruangan Jason dan melihat sebenarnya ada apa yang terjadi. Lala turun menggunakan lift. Lala menekan tombol lobby sebagai tujuannya untuk turun dari lift.
Ting, bunyi lift terbuka dan Lala berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Lala ketika melihat karyawan yang di bawa menggunakan brankar. Tidak hanya itu ada juga karyawan yang kesakitan dan terlihat sangat pucat. Lala bingung melihat keadaan kantor yang ricuh dengan banyak karyawan yang mengeluh kesakitan. Lala melihat para petugas medis berlarian mencoba menyelamatkan.
Lala mencoba bertanya kepada seorang OG yang kebetulan mencoba membantu tenaga medis mengobservasi karyawan yang sakit. OG wanita itu sedang membantu petugas medis untuk memindahkan karyawan yang lagi pingsan tak berdaya.
" Maaf, mereka semua kenapa ya? " tanya Lala kepada OG wanita itu.
OG wanita itu menoleh kemudian memandang Lala dengan tatapan sengit. Sedangkan Lala yang ditatap merasa tidak mengerti. Apa ada yang salah dengan Lala? Begitu banyak pikiran berkecamuk di otak Lala.
__ADS_1
" Ini semua gara-gara kamu. Mereka semua keracunan makanan setelah makan masakan yang kamu bawa," jelas OG wanita itu akhirnya dan membuat Lala membelalakkan matanya.