
Door
Door
Door
prankkk
aaaaarrrrrrggggggg
aaaaarrrrrrggggggg
Aaaaarrrrrrggggggg
Suara tembarak yang tiba-tiba membuat Ara dan Devan bersembunyi di balik tubuh mangsanya, apa lagi tembakan beruntun itu di lakukan bukan oleh orang propinsional.
Tebakan, teriakan dan barang pecah mengisi ruangan penyiksaan, bunyi nyaring yang saling bersahutan membuat Ara dan Devan langsung bersembunyi.
"Hihihi, akak meleka pingsan " girang Fio bahagia.
Begitu bahagia nya Fio, bahkan tidak sadar jika tembakan nya tidak ada satupun yang mengenai mangsa, hanya tembakan Felix yang sempurna, semua peluru yang keluar tidak sia-sia mendarat sempurna do rubuh mangsa.
Sedangan Felix tidak menunjuk ekspresi apa pun wajahnya datar, dan berjalan mendekati pria jelek itu.
Ia, jelek hanya sang Daddy dan grandpa dan uncle yang tampan tapi tetap dia yang paling tampan, ternyata anda narsis juga tuan muda.
Ia, pelukannya di kembar F, Fiona dan Felix yang entah dia dapat dari mana pistol itu, hanya mereka yang tahu.
__ADS_1
"Ck tembakan yang jelek " sinis Felix, coba lihat tembakannya tepat sasaran.
"Good boy " bangga Devan.
"Good gril " bangga Ara.
Ara dan Devan langsung memeluk cucu mereka bangga, lagi dan lagi Ara mengingat masa kecilnya yang melakukan hal sama dan tembakan tepat sasaran mengenai kakek yang kejam, arson, yang ingin flashback bisa langsung ke baby gril ya, okay.
"Glandma meleka jelek " ejek Fio melihat wajah sangar pria yang di tembak sang kembaran.
"Iya kau benar gril, jelek dan bod*h " ucap Ara .
"Siapa kau " tanya Felix dengan wajah datarnya.
"Kau tidak perlu tahu anak ingusan " jawab mereka.
"Baiklah " Felix membalikan badan dan dengan gerakan cepat dia ..
aaaaarrrrrrggggggg
"Iya aku anak ingusan tapi tidak seperti mu " setiap kata yang Felix ucapkan dengan penuh penekanan, terlihat aura sang Daddy yang mengintimidasi seseorang.
"Sayang kau tidak ingin bermain, mencongkel mata nya mungkin " tanya Ara pada sang cucu yang langsung berbinar, bagaimana tidak permainan yang menggiurkan baginya
"start " intruksi Ara dan benar saja Fiona kecil memukai aksinya.
"Jarum " cicit Devan, untuk apa jarum kecil itu.
__ADS_1
Sedangkan Felix sudah mulai aksinya, dengan anak buah Ara yang memegang pria yang memanggil anak kecil, pembalasan yang setimpal bukan.
Aaaaarrrrrrggggggg
Aaaaarrrrrrggggggg
Di ruang penyiksaan teriakan demi teriakan saling bersahutan, hal itu membuat dia bocah kecil menyeringai puas dengan hasil karya mereka.
Tidak ada kasihan sedikit pun pada mereka, yang ada, mereka hanya senang mendengar teriakan kesakitan dari mereka.
"Ini baru pembukaan " ucap Felix tajam.
Ara dan Devan langsung saling pandang, apa jiwa spikopat cucu mereka timbul sekarang.
"Holeeee " girang Fiona setelah menyelesaikan karyanya.
"Kau harus coba ini " Felix menyerahkan pisau kecil pada sang kembaran yang di terima dengan antusias, dan jarum kecil habis menjahit tanpa luka Fiona berikan pada paman besar di sampingnya, entahlah dia tidka tahu namanya hanya badan besar dan tinggi jadi cukup menggambarkan nama besar cocok bukan, cocok lah masak enggak tabok ni kalau gak .
"Kau belum terluka " tanya Fiona dengan polosnya, pria yang di tanya hanya menelan ludah dengan susah payah.
"Paman besar tolong " dengan sigap pria di samping Fiona mengendong ratu kecil, dan duduk di kursi saling berhadapan dengan Fiona yang sudah senyum manis memperlihatkan gigi putihnya.
"Cieee takut ya " ejek Fiona, Tolong Ara dan Devan sudah menahan tawa bagaimana bisa sang cucu berkata demikian, padahal Sekarang Kondisi sedang tegang.
"Paman besar buka pakaian jelek itu " perintah Fio, lagi dan lagi Fiona kecil merendahkan pria bertubuh besar di hadapannya, tanpa ada rasa sakit sedikit pun.
Fiona langsung mengarahkan pisau kecil tepat di jantung pria besar itu, tapu pergerakan terhenti saat mendengar ucapan seseorang.
__ADS_1
"Sayang "
Next part selanjutnya Kak jangan lupa untuk mampir di karya otor yang lain