Ulong Belati

Ulong Belati
Di ujung Tanduk


__ADS_3

Sudah jelas orang ini memburu laskar dan keributan tak mungkin dihindari, apalagi dia datang bersama tiga makhluk mengerikan menutup kemungkinan bagi Siti dan Paijo untuk meloloskan diri.


Siti berpikir satu-satunya jalan untuk keluar dari masalah ini adalah jika Ki Bayu berhasil dia atasi.


Berdasarkan pemikiran itu dengan cepat dan tanpa peringatan Siti langsung memanah ke arah kepala Ki Bayu.


"Mati kau orang tua mesum" ujarnya.


Anak panah melesat dengan cepat tak terelakkan.


"Jrep" kena telak menancap di tengah dahi Ki Bayu.


Paijo begitu melihat anak panah yang dilesatkan busur Siti menancap dalam di dahi Ki Bayu bersorak senang di dalam hati "rasain" batinnya.


Sayangnya apa yang mereka harapkan tidak berjalan semestinya.


Yang terjadi berikutnya justru membuat mereka kaget setengah mati.


Ki Bayu yang seharusnya sudah tak bernyawa karena tertembus panah malah tertawa tanpa henti.


Lalu perlahan-lahan sekali anak panah yang tertancap tersebut di cabutnya dari dahi.


Setelah panah tercabut tak terlihat meninggalkan bekas luka atau darah disana.


Ki Bayu mencampakkan anak panah yang dicabutnya dari dahi lalu bertanya mengejek "ada lagi?"


"Iblis", desis Siti kaget.


Ki Bayu tertawa menyeramkan, "iblis ini yang akan memuaskanmu" ujarnya.


Ki Bayu tarik bulu leher serigala yang ditungganginya, serigala itu lantas melompat dan dalam hitungan detik sudah berada di samping kuda Siti.


Ki Bayu melompat dari atas punggung serigala dan dengan beringas menerkam Siti.


Siti kaget dengan serangan seperti itu dimana lawan menyerang dengan menubruk, busur terlepas jatuh dari tangannya.


Refleks ia mencabut rencong yang terselip di pinggang bagian belakang lalu tusukkan berkali-kali ke punggung Ki Bayu yang tengah memeluknya.


Paijo jelas melihat rencong Siti menembusi tubuh Ki Bayu, tapi tidak satu pun bekas luka terlihat disana, bahkan pakaiannya pun tidak terlihat sobek.


Ki Bayu yang tidak merasakan tikaman di tubuhnya mendekap Siti erat-erat sambil tertawa kegirangan.


Siti terdorong mundur dari pelana dan mereka berdua jatuh terguling dari kuda yang ditungganginya.


Siti masih berusaha menikam punggung dan pinggang Ki Bayu dalam keadaan di dekap seperti itu.


Dia menikam kemana-mana mencari titik lemah di tubuh Ki Bayu.


Ki Bayu terkekeh melihat usaha Siti yang sia-sia, tak sedikitpun dia terpengaruh dengan hunjaman rencong berkali-kali di tubuhnya, dia ciumi pipi dan bibir Siti.


"Kurang ajar, manusia biadab" ujar Siti memalingkan wajah kesana kemari sambil terus melawan.


"Halus sekali kulitmu" ujar Ki Bayu dengan kurang ajarnya. Kedua kakinya menekan dan memaksa tuk renggangkan kaki Siti.


Sebagai wanita belum pernah Siti merasa dipermalukan seperti itu, amarahnya benar-benar memuncak.

__ADS_1


Siti masukkan kedua tangan kedalam dekapan Ki Bayu, lalu tangannya dia dorongkan ke depan memberi sedikit ruang untuk bergerak.


Setelah cukup mendapat ruang lalu lututnya dia naikkan hingga ke perut lalu tendangkan kakinya ke depan sehingga Ki Bayu terpental.


Siti berhasil melepaskan diri, dia bergerak mundur lalu berkali-kali meludah ke samping karena jijik, beberapa kali bibirnya tersentuh bibir Ki Bayu.


"Kurang ajar, kau harus mati" desisnya.


Dengan murka Siti menyerang, kini tangan kirinya sudah mencabut golok sedang tangan kanannya masih menggenggam rencong.


Siti tusukkan rencongnya ke leher Ki Bayu.


Yang diserang malah diam saja biarkan serangan rencong mengena ke tenggorokannya.


Dengan cepat Siti tarik tusukan di tenggorokan, tetap tidak ada terlihat darah disana.


Dia tikam lagi kali ini ke ulu hati. Gerakan Siti sangat cepat dan indah tapi juga mematikan.


Sambil tusukkan rencong, tangan kiri yang memegang golok dia mundurkan lalu begitu rencong ditarik golok tersebut ditikamkan ke leher Ki Bayu.


Dulu sebelum berkumpul dengan kelompok Ulong, Siti dan Laksmi sudah lama malang melintang berperang melawan kompeni dan melewati banyak pertempuran sejak umur belasan tahun.


Pengalaman membuat setiap gerakan Siti begitu efektif, juga mematikan.


Tapi kali ini segala pengalaman dan keahlian yang pernah dipelajarinya itu terasa sia-sia.


"Sial, makhluk apa mereka ini sebenarnya" pikir Siti mengumpat dalam hati.


Berkali-kali dirinya berhasil menghunjamkan senjata ke tubuh lawan tanpa hasil sedikitpun.


Kini saat goloknya menembus leher Ki Bayu hingga ke tengkuknya, Ki Bayu tetap seperti tidak merasakan apa-apa, malah dia tangkap tangan Siti yang memegang golok.


Ki Bayu tertawa cengengesan, "sepertinya kau lebih suka cara kasar" ujarnya.


Ki Bayu berkelebat maju lalu dia bergerak setengah memutar dan sapukan kakinya ke arah kaki Siti.


Terlalu enteng serangan seperti itu bagi Siti. Dia melompat sambil acungkan rencong sejauhnya kembali mengarah tenggorokan.


"Hebat dan ganas, aku jadi benar-benar bernafsu" ujar Ki Bayu.


Dia bungkukkan tubuh menghindari rencong yang dihunus mengarah tenggorokan lalu gunakan bahu menyundul rusuk Siti yang sedang melompat.


Siti terlempar ke atas, begitupun dia masih bisa membalas.


Rencong diputarnya di telapak tangan hingga mengarah ke bawah lalu tancapkan ke punggung Ki Bayu.


Terasa rencong tersebut menikam dalam lalu Siti tarik mundur berbarengan dengan tubuhnya yang terlempar mundur, pada orang normal itu akan menimbulkan sayatan yang dalam dan sangat berbahaya.


Tapi bagi Ki Bayu itu tak ada artinya, dia hanya terkekeh.


Siti jatuh berdiri lalu mundur terhuyung-huyung menyeimbangkan diri.


Ki Bayu mulai bosan, sudah cukup bermain-main seperti ini pikirnya, justru membuatnya jadi semakin gila karena nafsu yang begitu memuncak dan juga rasa tak sabar ingin segera mendapatkan gadis ini.


Dia menyeringai lalu berpaling melihat ke arah Paijo.

__ADS_1


"Tangkap orang itu" perintahnya kepada serigala jadi-jadian.


Paijo kaget, serigala yang di kanannya maju lalu meraih kakinya. Dalam panik dia cabut golok lalu bacokkan ke kepala serigala tersebut.


"Crass.." golok menancap dalam, tepat di tengah kepala serigala.


Sama seperti yang terjadi dengan Ki Bayu, serigala ini pun tidak mengeluarkan darah dari lukanya yang tertancap golok.


Serigala itu tanpa merasa terganggu dengan golok yang menancap dikepalanya tetap menangkap dan menarik kaki Paijo lalu menjatuhkannya dari atas kuda.


Paijo jatuh tertelungkup, dia hendak berdiri tapi serigala itu segera injakkan kaki ke punggungnya. Paijo tak lagi bisa bergerak, setelah itu serigala tersebut memegang kepala Paijo dan tengadahkan wajahnya.


Obor yang di pegang Paijo jatuh ke tanah tak jauh darinya, cahayanya masih menyala menerangi tempat tersebut.


Siti menatap Paijo bingung dan khawatir, "sepertinya ini ajal kami" pikirnya.


Menyerah sudah pasti dia tak sudi, apalagi kepada orang tua cabul ini.


Tak berani dia membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya kelak.


"Lihat, sekali aku perintahkan maka nyawa kekasihmu yang tak berharga akan melayang", ujar Ki Bayu terkekeh.


Sekarang menyerahlah kecuali kau mau pria ini mati "ujar Ki Bayu".


Siti menatap bingung.


Mata Paijo berkaca-kaca, tak disangkanya nasib mereka bakal berakhir tragis seperti ini.


Yang dikhawatirkannya adalah keselamatan dan kehormatan Siti.


"Jangan, ja.. jangan menyerah neng", biarkan aku mati, "pergilah, lari selamatkan dirimu" ujarnya.


"Lariii..cepat!!!" teriaknya putus asa.


Tangan kanan serigala yang menginjak punggung Paijo terangkat keatas mencabut golok yang menancap di kepalanya lalu dia acungkan tangan yang memegang golok itu siap menebas leher Paijo.


Siti menatap geram, dia terdiam sesaat sambil tetap acungkan rencong.


Ki Bayu menyeringai menunggu.


Siti menatap Paijo dengan sedih, tak sanggup dia melihat orang yang dia kasihi terbunuh di hadapannya.


"Untukmu bang" ujarnya lirih, dijatuhkan rencongnya ke tanah.


Paijo tak sanggup menahan tangis, dia pejamkan matanya agar tak melihat apa yang terjadi.


Ki Bayu leletkan lidah, berkali-kali dia tak sadar menelan ludah membayangkan kenikmatan yang bakal dia dapat.


Gadis ini benar-benar cantik dan tubuhnya bagus sekali, perlahan dia datangi Siti yang berdiri mematung tak bisa berbuat apa-apa.


"Ma.. maafkan aku neng" ujar Paijo sambil tetap pejamkan mata.


Dengan geram dia pergunakan kedua tangan memukul-mukul tanah dibawahnya.


"Bunuh aku, bunuh saja aku", teriak Paijo histeris.

__ADS_1


Siti melotot menatap wajah Ki Bayu yang mendekat dengan jijik.


Dia tidak mau memejamkan mata, harga dirinya sebagai seorang prajurit melarangnya melakukan itu.


__ADS_2