
Klambir Lima, tengah hari.
Seorang prajurit tadi pagi memasuki tenda komando dengan membawa sepucuk surat untuk Jhon dari Otoritas Militer di Medan.
Surat itu adalah surat panggilan untuk pemberian mandat, dia dipercaya untuk menggantikan Heidrich dan mengambil alih tugas Heidrich disini. Yang mana artinya apabila dalam waktu tertentu dia berhasil menjalankan mandat seperti yang diinginkan pihak Militer (dan Maskapai), maka pangkatnya pun akan dinaikkan.
Begitupun Jhon masih terlihat murung, begitu banyak hal yang harus dia kerjakan dan banyak hal lain yang masih mengganggu pikirannya.
Delapan hari lalu Jhon kembali ke perkemahan mereka di Hamparan Perak setelah menyelesaikan tugas di Belawan dan menemukan seluruh prajurit mereka tewas, juga Ki Bayu.
Mayat-mayat yang telah dingin kaku berserakan di sana sini. Lalat berterbangan memenuhi lokasi perkemahan, bekas-bekas pertempuran pun masih jelas terlihat.
Puluhan burung gagak berpesta memakan tubuh-tubuh malang para serdadu.
Jhon dan kelima puluh orang prajuritnya mencari-cari kesana kemari keberadaan Heidrich, tapi jasad komandannya itu tidak dapat ditemukan diantara para prajurit yang tewas.
Yang aneh adalah mereka menemukan Ki Bayu juga tewas dengan luka banyak tembakan, dan jenazahnya berada di atas pedati.
Berarti ada jeda antara tewasnya Ki Bayu dengan pembantaian pasukan disana, karena jenazah Ki Bayu sudah sempat di naikkan ke pedati. Lantas siapa yang membantai prajurit mereka? apa mungkin serigala Ki Bayu yang melakukannya, pikir Jhon. Seandainya para serigala yang membunuh, kenapa jasad Ki Bayu mereka tinggalkan begitu saja.
Akhirnya pada saat itu Jhon memerintahkan beberapa prajuritnya kembali ke Klambir Lima untuk meminta bantuan mengangkut jenazah para prajurit yang tewas, sedangkan dia beserta tiga puluh orang menyusuri sungai di samping perkemahan, berkuda hingga sepuluh kilometer menuju laut.
Dan yang mereka temukan sepanjang sungai hanyalah beberapa mayat prajurit lain yang mengapung sudah menggembung.
Sedangkan keberadaan Heidrich tetap jadi misteri.
Dan kini dia diberi jabatan atas prestasi yang dilakukan atasannya membunuh Ki Bayu. Betapa menyedihkan, dia merasa seperti mengambil keuntungan dari dibantainya seratusan prajurit kompeni dan hilangnya Heidrich.
Lalu tentang Nilam, Jhon hanya sekali mengunjungi bocah tersebut, itupun hanya sebentar sekedar untuk memberi biaya hidup dan mengetahui keadaannya. Karena dia tak sanggup terus-terusan berbohong pada bocah itu saat dia bertanya tentang Heidrich.
⚜️⚜️⚜️
Malamnya.
Suma berkuda sendirian keluar dari perkebunan di hamparan perak, dia memacu kudanya memasuki sebuah kawasan hutan sangat luas yang memanjang hingga ke Binjai.
Dia sangat kesal, wajahnya menggembung menahan marah.
Dia memukul sebatang dahan pohon yang melintang di jalan, "dhuak!!", dahan itu patah berantakan.
Sekitar lima belas menit berkuda dalam penerangan cahaya bulan, dia mulai memasuki bagian hutan yang sama sekali tidak tersentuh cahaya karena rapat dan rindangnya daun-daun disitu.
__ADS_1
Pohon-pohon ini sudah berumur ratusan tahun kalau dilihat dari ukurannya yang begitu besar dengan tinggi hingga puluhan meter.
Beberapa kelelawar terlihat terbang berseliweran mencari mangsa yaitu serangga-serangga yang terbang malam. Ini adalah bagian hutan dimana penduduk lokal menghindarinya karena keangkeran dan banyaknya hewan buas.
Suma menyalakan obor yang dibawanya dengan pemantik dan menjalankan kudanya lebih pelan dari sebelumnya. Ada jalan setapak diantara belukar tinggi disitu yang bisa dilalui kuda. Dan setelah berkuda sekitar setengah jam melalui jalan setapak tersebut dia mulai memasuki kawasan rawa-rawa, beberapa bagian rawa tersebut sangatlah dalam dan dapat membenamkan siapapun yang terlalu bodoh menapakinya. Pohon-pohon disitu tidak lagi terlalu rapat, begitupun penerangan tetap sangat di perlukan.
Suasana mistis begitu terasa, dan mulai terdengar seperti ada suara-suara magis sayup-sayup diantara angin yang bertiup.
Suma hapal tempat ini, dia berkali-kali kesini, tempat dia berobat saat hampir mati beberapa tahun lalu. Kejadian yang merubah kemampuan dan kehidupannya.
Setelah berkuda sekitar satu kilometer melalui jalan berliku-liku diantara rawa, dia melihat nyala obor di kejauhan.
Dan Suma memasuki tanah kosong yang cukup luas dengan sebuah bangunan gelap cukup besar padanya, rumah tersebut berbentuk rumah panggung besar dan memanjang ke belakang, beratap ijuk, pada atap bagian muka dan belakang meruncing berhiaskan tengkorak kepala manusia di ujungnya.
Tanah kosong ini adalah satu-satunya tempat kosong yang cukup luas di rawa-rawa ini. Berbagai ritual mengerikan pernah dilihat Suma disini.
Di halaman rumah tersebut digambar ditanah, sebuah simbol berupa lingkaran besar berwarna hitam dikelilingi aksara yang dia tidak paham maknanya.
Empat buah obor di pancangkan di empat penjuru Lingkaran hitam di tanah itu.
Ni Gaok terlihat bersila di dalam lingkaran tersebut menunduk.
Sementara para pengawalnya berdiri diluar lingkaran tak bergerak bagai patung.
Dan satu pengawal yang baru ini tadinya adalah serdadu kompeni yang pernah ditemui Suma. Sangat gampang bagi Suma mengingatnya karena prajurit ini bertubuh sangat tinggi sekitar dua meter, dengan otot yang besar, berambut pirang cepak.
Kini sama seperti para pengawal yang lain, mantan serdadu kompeni yang kini jadi pengawal Ni Gaok inipun berdiri bagaikan patung dengan tatapan kosong.
Begitu Suma turun dari kudanya, Ni Gaok angkat kepalanya yang tadi tertunduk, "kemari mendekat", ujarnya.
Suma menyimpan keheranannya lalu berjalan mendekat dan tanpa basa basi langsung bertanya, "kenapa Nini membunuh semua pasukan kompeni di perkemahan?", tanya Suma.
Ni Gaok terkekeh, wajahnya yang seperti gadis dua puluhan tahun terlihat menyeringai menyeramkan.
"Aku terpaksa melakukannya, karena bidak mu tidak bekerja sesuai rencana", jawab Ni Gaok tanpa bergerak dari silanya.
"Kenapa, apa pula yang membuatmu risau?", tanya Ni Gaok.
Suma hendak marah, tapi dia tahu dengan siapa dia berhadapan. Kini dia ikut duduk bersila di hadapan Ni Gaok.
"Aah..benar-benar berantakan!!", geramnya.
__ADS_1
"Dengan tewasnya Ki Bayu dan seluruh pasukan kompeni disana maka tanggung jawab penguasaan daerah jatuh ke wakilnya, bukan kepadaku", ujar Suma mencurahkan kekesalan.
Dia mendapat informasi tersebut dari salah seorang prajurit di Klambir Lima. Dan betapa kecewanya dia karena rencananya yang sudah disusun dan jalankan, hancur berantakan. Tadi siang kabarnya Jhon berangkat dengan beberapa pengawalnya ke Medan untuk mendapatkan mandat penguasaan wilayah tersebut.
"Berarti kau harus membuat rencana baru", ujar Ni Gaok tenang.
Suma berpikir, "bagaimana mereka dapat membunuh Ki Bayu?", tanyanya.
"Ki Bayu tidak sehebat yang kau ceritakan, itu kalau kau tanya kenapa", ujar Ni Gaok.
"Tidak ada seekor pun serigala bersamanya sejak pertama aku mengawasinya", ujar Ni Gaok.
"Begitu ya?", tanya Suma heran, dia benar-benar tidak tahu sejak kapan Ki Bayu tidak ditemani lagi oleh peliharaannya.
"Ya seperti itulah keadaan sebenarnya, bahkan aku terpaksa menyelamatkan si bodoh itu dari seorang tua yang menunggang harimau putih", sambung Ni Gaok.
"Dan saat menghadapi pasukan kompeni tidak ada kemampuan yang dia keluarkan, dia tewas begitu saja tanpa perlawanan sama sekali", jawab Ni Gaok.
"Sial!!", ujar Suma geram. Sepertinya dia memang harus membuat skenario baru, pikirnya.
"Heidrich sendiri, maksudku Letnan pemimpin pasukan kompeni ada dimana?, aku tidak mendengar kabar dia tewas", tanya Suma penasaran.
"Kemungkinan tewas dan jenazahnya hanyut di sungai", jawab Ni Gaok.
"Kemungkinan? aku perlu hal yang pasti!!!", ujar Suma marah.
"Kenapa kau segusar itu?", tanya Ni Gaok.
"Kenapa? Karena seandainya Heidrich masih hidup dan tiba-tiba kembali maka dia pasti tahu siapa di belakang ini dan tak akan melepaskanku", jawab Suma kesal.
"Itu karena Nini menghabisi seluruh pasukan kompeni disana tapi menyisakan Heidrich tetap hidup!!", ujar Suma.
"Aah berarti semua kesalahanku, apa kau lupa bahwa ini semua rencanamu mengumpankan Ki Bayu yang tidak memiliki kesaktian apa-apa untuk melawan kompeni? atau kau lupa sedang berbicara dengan siapa, dan lupa apa yang pernah kulakukan untukmu?", tanya Ni Gaok marah.
Suma terbungkuk menahan nyeri yang mendadak dirasakannya, dipegangnya dada sebelah kiri. Tak ada detak disana, sudah bertahun-tahun seperti itu semenjak dia dulu hampir tewas dan diselamatkan perempuan ini. Kini sakit sekali terasa disitu seolah-olah jantungnya masih ada dan berhenti bekerja. Suma merasa lehernya tercekik tak bisa bernapas.
"Ma..maafkan..aku Ni", iya semua salahku tidak mencermati keadaan dengan benar, ampuni aku.. pa..paling tidak aku.. aku sudah memberikan nyawa tambahan untuk koleksi bonekamu", ujar Suma menunjuk kearah mantan serdadu Belanda yang berdiri mematung diantara pengawal Ni Gaok.
Sial, seandainya aku tahu cara mengatasi masalah ini maka aku akan membunuhmu perempuan gila, batin Suma sambil memegangi dada kirinya.
"Aah iya, setiap seratus nyawa kuambil maka satu bonekaku bangkit, dan seratus tahun bertambah usiaku", ujar Ni Gaok bangkit dari duduknya lalu berpaling menatap para pengawalnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencoba memperbaiki ini, aku akan mencari komandanmu dan membunuhnya", ujar Ni Gaok lalu tertawa keras.