
Pagi, saat matahari baru saja terbit di luar Kota Belawan.
"Naluri hewan memang aneh, bagaimana burung itu bisa mengetahui apa yang kita bawa", ujar Herrmann, seorang prajurit kompeni Belanda berpangkat kopral yang sedang menunggang kuda.
Dia memperhatikan ke langit melihat seekor burung gagak besar yang terbang berputar-putar mengikuti mereka sedari tadi.
Saat itu dia ditemani empat prajurit kompeni lain, tiga orang dari mereka berkuda dan dua orang lainnya duduk diatas pedati yang ditarik dua ekor lembu. Mereka melaksanakan tugas rahasia dari Heidrich, membawa tubuh Suma yang terpotong-potong di dalam kotak besar diatas pedati. Tujuannya membuang kotak tersebut di sebuah kepulauan di tengah selat Malaka.
"Apa pengkhianat itu sudah menjadi bangkai, sehingga burung gagak mencium baunya?", tanya temannya sambil melirik ke peti besar diatas pedati.
Herrmann menyeringai, tidak menjawab malah balik bertanya, "apa kau mau memeriksanya?".
Si prajurit yang ditanya hanya tertawa kecil.
Setelah keluar dari kota kini mereka bergerak perlahan melintasi jalanan kecil hingga beberapa kilometer ke arah timur laut.
Tadi malam menjelang subuh hujan turun cukup deras, sehingga jalanan yang mereka lalui menjadi becek berlumpur. Beruntungnya pagi ini langit terlihat cerah dan matahari telah menyembul malu-malu membagikan cahayanya, sehingga mereka dapat melintasi jalan becek berbatu-batu dan berlubang disana-sini tanpa khawatir terperosok.
Mereka berjalan sekitar satu jam ke arah timur laut hingga tiba di sebuah teluk kecil, tidak terlalu jauh dari pemukiman nelayan lokal.
Disana ada empat orang lagi serdadu kompeni telah menunggu, mereka sudah terlebih dahulu berada disana untuk mengamankan lokasi dan memastikan perahu untuk mengangkut tersedia, disewa dari nelayan lokal.
Pedati segera dipinggirkan ke tepi sebuah dermaga kayu. Dermaga tersebut lebih mirip seperti titian kayu selebar tiga meter yang menjorok kelaut hingga sepuluh meter kedepan. Ada empat lagi titian kayu seperti itu disitu dipisahkan jarak masing-masing sekitar sepuluh meter. Beberapa perahu lain milik nelayan ditambatkan pada titian-titian tersebut.
Titian tempat mereka menghentikan pedati adalah titian yang pertama di antara kelima titian, dan hanya ada satu perahu tertambat disana, yaitu yang sudah disewa dari nelayan lokal dan akan mereka pergunakan. Saat itu di teluk hanya ada dua orang lain, yaitu nelayan di titian yang paling ujung. Mereka terlihat sedang memeriksa jala dan sepertinya tidak perduli atau tidak berusaha mencari tahu tentang kehadiran tentara kompeni disini.
Herrmann bersama-sama dengan prajurit yang lain menurunkan peti dari gerobak pedati lalu menggotongnya menuju perahu di ujung titian. Mereka memindahkan peti tersebut ke atas perahu dengan cepat dan tanpa kesulitan. Selain peti mereka juga memasukkan beberapa sekop kedalam perahu.
"Hei itu burung gagak tadi kan?", ujar seorang prajurit yang datang bersama Herrmann. Dia menatap langit sambil meletakkan tangan diatas mata.
Mereka bersamaan menatap ke arah burung tersebut yang masih mengitari mereka. Tadi hampir satu jam burung tersebut tidak lagi terlihat ada di angkasa. Tapi kini burung tersebut terlihat lagi disaat mereka hendak melaut.
"Aah bisa saja itu burung gagak lain", ujar temannya lalu sambil ke atas.
"Aneh kalau burung gagak terlihat di atas laut, eh..kenapa burung itu terlihat semakin dekat", sambung yang lain.
Benar saja perlahan-lahan burung tersebut merendahkan terbangnya, lalu tiba-tiba menukik ke arah mereka.
"Kaaak..kaaak..!!!", burung gagak yang tadinya hanya mengitari itu kini turun dan menyambar ke arah mereka.
"Sialan, berhenti!!", ujar salah seorang prajurit. Tapi gagak itu terus menyerang, berkali-kali dia menukik dan mematuk juga mencakar lalu kembali terbang.
"Sial!!", ujar Herrmann, pipinya terlihat berdarah di gores cakar burung.
Semua prajurit yang berada disitu serentak hunus pedang mereka dan menyabet-nyabetkannya ke burung tersebut.
Tidak ada sabetan yang berhasil mengenai burung tersebut karena kecepatan gerakan dan kelincahannya, dua kali lagi burung itu menyambar tapi setelah itu dia menjauh, karena sabetan terakhir hampir mengenainya. Kini burung tersebut terbang dan hanya berputar-putar mengamati mereka.
"Ayo cepat kita pergi sebelum ada gangguan lain", perintah Herrmann sambil memegangi pipi kiri yang berdarah.
Mereka berlima segera menaiki perahu, empat prajurit lainnya yang lebih dulu ada disitu tidak ikut naik, mereka hanya berdiri diatas titian menunggu perahu membawa peti berisi potongan tubuh Suma bergerak meninggalkan teluk kecil tersebut.
Bersamaan dengan perahu mereka berlayar, dua nelayan yang tadi terlihat memeriksa jala mereka pun ikut berlayar. Mereka masih melihat perahu nelayan itu di sisi kanan mereka hingga satu kilometer ke depan menuju laut lepas.
Hermann mengeluarkan peta dan membaca kompas untuk menentukan arah seperti yang diperintahkan Heidrich sebelum mereka berangkat pagi tadi.
Mereka berlayar mengikuti arah kompas hingga dua jam, dan tak lama dikejauhan mereka melihat beberapa pulau kecil tak bernama dan tak berpenghuni.
__ADS_1
Herrmann mengeluarkan teropong lalu mengamati pulau-pulau tersebut.
"Komandan memerintahkan kita untuk menguburkan peti ini disalah satu pulau di depan, satu hal yang paling penting untuk kalian ingat, ini adalah rahasia yang akan kita bawa sampai mati, paham?", ujarnya.
"Siap", ujar teman-temannya serentak.
Mereka menuju pulau paling tengah dari tujuh pulau disitu. Pulau ini tidak terlalu besar, berpantai luas, atau lebih tepat disebut hampir keseluruhannya terdiri dari pasir berwarna putih. Setelah menambatkan perahu mereka menggotong peti menuju daratan yang dipenuhi pohon kelapa dan semak belukar yang tidak terlalu lebat.
Mereka berjalan sambil menggotong peti hingga sekitar satu kilometer memasuki pulau. Lalu mereka berhenti di sebuah tempat yang dikelilingi bebatuan karang besar setinggi sekitar sepuluh meter.
"Kupikir disini tempat yang cocok untuk menggali lubang", ujar Herrmann. Dia berdiri menatap sekeliling, tempat ini jauh dari pantai dan cukup tinggi, belasan meter diatas air laut. Dapat mencegah kotak yang akan mereka tanam tergerus air pasang.
Dia menekan-nekan pasir dengan ujung kakinya untuk menguji kekerasan dataran disitu.
"Disini kita mulai menggali", ujarnya.
Dan mereka pun bergantian menggali tanah bercampur pasir tersebut. Untuk memastikan agar lebih aman mereka menggali cukup dalam hingga sekitar dua meter, lalu memasukkan peti yang mereka bawa kedalamnya.
Setelah peti mereka masukkan ke dalam lubang, mereka menimbunnya dan beberapa dari mereka mengambil sebongkah potongan karang yang besar untuk di timpakan diatas timbunan tersebut.
"Tugas selesai, kita langsung bergerak saja, kalian dapat beristirahat nanti di perahu", ujar Herrmann menatap sekeliling, saat itu sudah senja.
"Siap!!", ujar para prajurit bersamaan.
Mereka pun bergegas menuju perahu dan mendorongnya menjauhi pantai lalu berlayar pergi.
Tidak ada halangan apapun bagi mereka berlayar hingga mereka tiba di teluk tempat mereka tadi berangkat, selepas Maghrib.
Pada titian dimana tadi mereka mengambil perahu terlihat dua orang penduduk desa, satu agak tua berusia sekitar lima puluhan sedangkan satunya anak-anak berusia sekitar dua belas tahun. Mereka adalah pemilik perahu ini dan anaknya.
Herrmann membalas menghormat dengan tersenyum sambil turunkan ujung topinya.
"Teman-teman tuan menunggu disana", ujar nelayan tersebut menunjuk ke satu tempat yang diterangi nyala obor sekitar dua ratus meter dari situ.
"Terima kasih", ujar Herrmann lalu berjalan bersama pasukannya menuju arah yang ditunjuk si nelayan.
Keempat prajurit yang diawal keberangkatan tadi menemani mereka, kini sedang duduk di tepi pantai menunggui kuda-kuda dan pedati.
Beberapa obor terlihat bergerak disana sini di pantai, di bawa para nelayan yang akan berlayar malam.
Mereka sibuk dengan urusannya sendiri, tidak perdulikan kumpulan prajurit kompeni disitu.
Segera Herrmann dan seluruh prajurit yang ada disitu menaiki kuda-kuda dan pedati lalu bergerak menuju kota Belawan.
Mereka bergerak perlahan menyusuri jalan yang mereka lalui pagi tadi.
Sudah sekitar tiga kilometer mereka berjalan di jalanan gelap hanya diterangi cahaya obor. Kini di kiri kanan mereka hanya ada pepohonan dan semak-semak sepinggang. Suara jangkrik terdengar disana-sini, sementara di kejauhan di sebelah kanan mereka sesekali masih terdengar suara ombak.
Terlihat ada sebuah obor lain bergerak-gerak di kejauhan. Tak lama mereka menyusul pembawa obor tersebut yaitu penduduk desa yang sedang berjalan kaki.
"Tabik tuan", ujar si pria berusia empat puluhan tersebut begitu rombongan pasukan kompeni melewatinya.
Herrmann menghentikan kudanya, "hendak kemana malam-malam begini Pakcik?", tanyanya.
"Aah patik hendak ke kota Belawan, menjenguk seorang keluarga yang sakit tuan", jawabnya sopan.
Herrmann menatap si nelayan sebentar, lalu menoleh ke pedati.
__ADS_1
"Perjalanan masih jauh ke Belawan, naiklah ke pedati kami, kami juga ke arah yang sama", ujarnya.
Si nelayan membungkuk hormat "terima kasih tuan", ujarnya girang, lalu mematikan obor di tangan dan naik ke bagian belakang pedati.
Tak lama mereka pun tiba di pinggir kota Belawan, terlihat sekitar lima ratus meter di depan cahaya-cahaya terang dirumah-rumah dan gedung disana.
Mereka sedang melintasi rimbun pepohonan melinjo di kanan kiri jalan saat tiba-tiba terdengar suara perempuan berbicara. "Aah para nelayan kembali dari laut, anehnya mereka pergi kelaut bukan mencari ikan tapi pergi membuang jenazah", ujar sebuah suara.
Para prajurit langsung bersiaga, dari pembicaraan tersebut jelas si pemilik suara mengetahui apa yang mereka lakukan dan sedang mencari gara-gara.
"Berani sekali kau mencampuri urusan kami", ujar Herrmann menatap ke sisi kanannya tempat suara tersebut berasal. Satu hal yang aneh menurutnya kalau ada yang berani mengganggu mereka di sekitar kota.
"Keluar kau tunjukkan wajahmu!!", bentak Herrmann, dia memberi aba-aba agar orang-orangnya bersiap.
Mereka segera menyiapkan senapan dan membidik.
Sesosok tubuh perempuan muda berpakaian serba hitam keluar dari kegelapan sekitar sepuluh meter di depan mereka. Bersamanya juga muncul lima orang pria berpakaian serba hitam dengan lengan ditutupi sarung tangan berkilat-kilat
"Siapa kalian?", tanya Herrmann kaget, tak menyangka ada enam orang bersembunyi disitu.
Perempuan ini cukup cantik, tapi entah kenapa melihatnya terasa begitu menyeramkan, pikir Herrmann.
"Aah, namaku ya? Aku sendiri sudah lupa, karena orang-orang yang biasa memanggilnya sudah ratusan tahun lalu meninggal", ujar si perempuan.
Herrmann tersenyum sinis, "tidak mungkin seperti itu, kalau kulihat tampangmu sepertinya usiamu sepuluh tahun dibawahku, hanya suaramu saja yang mirip suara nenek-nenek", ujarnya mengejek.
Si perempuan hanya tertawa cekikikan.
"Ooh iya, orang-orang biasa menyebutku Ni Gaok", ujarnya.
"Dan aku ratu Wilhelmina", sambung seorang prajurit lain tertawa mengejek, dia sudah pernah mendengar nama itu dari penduduk lokal, dan tidak mungkin Ni Gaok adalah perempuan semuda ini, pikirnya.
Herrmann kaget mendengar perempuan itu menyebut namanya, sebagai prajurit yang sudah sepuluh tahun bertugas di wilayah ini dia sudah sering mendengar nama itu, Ni Gaok adalah mitos yang sering dia dengar dari penduduk lokal, penyihir gagak yang mengerikan.
"Baiklah kita anggap saja dirimu Ni Gaok, lantas apa urusanmu dengan kami?", ujar Herrmann masih tidak yakin kalau perempuan ini adalah Ni Gaok.
Ni Gaok menyeringai membuatnya terlihat makin seram.
"Jenazah yang kalian potong-potong dan buang ke laut tersebut adalah muridku", ujarnya.
Jantung Herrmann serasa berhenti, bagaimana mungkin perempuan ini mengetahui hal itu.
Jangan-jangan burung gagak yang menyerang kami tadi, pikirnya. Memikirkan itu mendadak bulu tengkuknya berdiri.
Segera dia sadar ada penduduk lokal yang bersama mereka saat ini, dan pembicaraan ini adalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapapun. Herman menoleh ke pedati di belakangnya. Pedati itu kosong, penduduk desa tadi tidak ada lagi disitu, hanya ada selimut yang menutupi perkakas terlihat di atas gerobak pedati.
"Jadi, apakah kalian sudah paham maksudku?", tanya Ni Gaok dengan nada mengancam.
"Ma..Maksudmu, kau akan membalas dendam dan membunuh kami?", ujar Herrmann terbata-bata.
Para prajuritnya melihat gelagat tidak beres segera mengokang senapan di tangan.
"Ooh, tidak secepat itu, aku tidak akan membunuh kalian..", ujar Ni Gaok sambil memegang dagunya berpikir dan berjalan mendekat.
"Jangan..jangan mendekat!!", ujar Herrmann menodongkan senapan di tangan.
"Emm.. kupikir-pikir aku akan membunuh kalian dan menyisakan satu orang sebagai penunjuk jalan ke tempat kalian membuang tubuh muridku", ujar Ni Gaok lalu menyeringai seram.
__ADS_1