
Selat Malaka, sore sehabis Ashar.
Mat Kecik menghunus golok.
Sementara Putra di hadapannya memasang kuda-kuda sambil memajukan siku kanan sejauh mungkin dan menyilangkan golok kebahu siap menebas.
Mat Kecik : "Arrgh".
Putra : .....
Mat Kecik : "Arrgh".
Putra : .....
Mat Kecik : "Urrgh".
Putra : .....
Mat Kecik tertawa sedangkan Putra tersenyum tipis lalu menepi untuk beristirahat, duduk di pagar dek kapal. Barusan mereka berlatih tanding beberapa jurus, berolahraga di sore hari. Napas mereka terlihat masih tersengal-sengal, dan pakaian basah oleh keringat.
Setelah mereka berdua mengambil posisi duduk masing-masing, lalu Awang Maju ke tengah dek disambut tepuk tangan teman-temannya.
Awang memperagakan jurus pembuka memamerkan kepiawaiannya memainkan golok, berputar, meloncat, dan menyabet. Setelah memamerkan beberapa jurus, lalu golok di pindahkan ke tangan kiri dan dengan tangan kanan dia menunjuk Ulong.
Ulong nyengir, Laksmi mendorong tangannya, dengan malu-malu Ulong bergerak maju.
Ulong dan Awang terlebih dahulu saling memberi hormat dengan membungkukkan tubuh kepada lawan.
Setelah itu mereka berdua menyiapkan kuda-kuda. Ulong mencabut dua bilah belati dari pinggang. Sementara Awang mencabut golok dan memutar-mutarnya dengan tangan kanan, lalu diudara di lepaskan golok yang sedang berputar dan disambut tangan kiri. Ini adalah bagian untuk memancing kelengahan lawan.
"Siap Long?", tanyanya.
"Siap bang", jawab Ulong tenang.
Teman-teman mereka memperhatikan dengan serius, ini adalah pertarungan yang dinantikan antara dua jagoan pimpinan laskar.
Ulong menggenggam dua belati dengan cara dipegang mengarah ke bawah, tidak bisa digunakan untuk menusuk tapi sangat efektif untuk menangkis dan menyabet.
"Awas serangan!!", ujar Awang, lalu tiba-tiba dia sudah berada di hadapan Ulong melompat dan bacokkan golok.
Ulong segera mengelak miringkan tubuh menangkis dengan kedua belati di tangan untuk menguji kekuatan serangan lawan. Berbeda dengan golok yang yang memiliki kelebihan pada jangkauan, belati di tangan jauh lebih mudah di putar dan gerakkan untuk menangkis atau menyerang. "Tring!!!", golok menyayat belati menimbulkan percikan bunga api.
__ADS_1
Seperti para laskar yang lain Ulong juga mahir menggunakan berbagai senjata, hanya saja khusus untuk belati dia benar-benar sangat berbakat. Seolah dirinya terlahir untuk menggunakan senjata tersebut.
Kini Ulong setelah menangkis serangan lawan tubuhnya berputar lalu tikam tengkuk lawan. "Awas Tengkuk!!", ujar Ulong.
Awang membungkuk lalu berguling ke depan. Luar biasa cepatnya, pada pertarungan jarak dekat Ulong tidak akan dapat ditandingi, benar-benar mematikan pikir Awang.
Satu jurus berlalu untuk mengukur kekuatan dan kecepatan lawan, kini mereka berhadapan kembali lalu berjalan saling memutari untuk mengawasi celah pertahanan lawan.
Awang menyeringai lalu menusukkan golok untuk memancing lawan, setengah perjalanan dengan cepat golok di tarik lalu sabetkan menyilang dari atas kebawah.
Ulong tidak termakan serangan pancingan, dia menangkis dengan kedua belati di silangkan di depan tubuh, satu di depan wajah dan satu di depan dada. "Tring!!", bunga api memercik kembali.
Dari posisi itu Ulong melompat menyamping untuk memperkecil jarak dan membalas tusukkan belati dengan tangan kanannya ke leher. Awang merunduk mengelakkan serangan, lalu membalas berputar, "awas Kaki!!", ujar Awang dan sapukan kaki kanan ke kaki kiri Ulong yang berada di depan.
Ulong menahan sapuan dengan telapak kaki kiri lalu memanfaatkan kekuatan sapuan lawan melompat mundur, berputar untuk mengumpulkan tenaga lalu melejit ke depan, "Awas dada!!", ujar Ulong.
"Cepat sekali Long", ujar Awang lalu menyabet belati Ulong dari samping, "tring!!", kembali bunga api memercik.
Satu belati ke arah dada tertangkis dan Awang miringkan tubuh, sebuah belati lagi mengarah ke lehernya.
Awang jatuhkan tubuh ke dek kapal sambil tendangkan kaki ke atas ke tangan Ulong yang memegang belati.
Ulong lemaskan tangan tidak melawan untuk menghindari cedera di tangan, belati di tangan kiri terpental tegak lurus ke atas.
Disambutnya belati itu dengan belati di tangan satunya, dia kaitnya hingga belati tersebut terputar lalu sambut dengan tangan kiri.
Awang yang menjatuhkan diri lantas berguling ke arah belakang, setelah itu dia melompat maju.
"Hiaa!!", Awang sabetkan pedang ke arah leher yang segera dapat ditangkis oleh Ulong dengan tangan kanan yang memegang belati.
"Tring!!", bunga api berpijar dari berlaganya kedua baja.
Berkali-kali senjata beradu dan Ulong mengakui benar-benar kuat serangan Awang, tangannya sampai terasa berdenyut.
Sama keadaannya Awang juga merasa sabetannya bagai menghantam tembok, terasa telapak tangannya kesemutan.
Selepas membacok Awang berputar lalu melompat sabetkan kembali golok menyilang dari arah bahu ke paha, Ulong menangkis kembali dengan tangan kanan. Sayatan panjang dari golok yang beradu dengan belati menimbulkan bunga api lebih banyak dari sebelumnya.
Setelah berhasil menangkis giliran Ulong yang berputar hingga kini dia berada di belakang tubuh Awang lalu tancapkan ke dua belati ke arah kiri dan kanan leher.
"Benar-benar mematikan!!" ujar Awang lalu bungkukkan dan mundurkan tubuh sehingga lengan Ulong yang menikam lewat dan terjulur menabrak bahunya.
Kalau bukan Ulong yang menjadi lawan bisa dipastikan belati itu bakal terlepas karena lengannya di hantam bahu Awang.
__ADS_1
Setelah serangan belati lewat Awang dorong makin jauh kebelakang tubuhnya ke arah dada Ulong.
"Hebat sekali abang" ujar Ulong menyeringai, dia mengelakkan dorongan dengan menjatuhkan diri lalu naikkan kaki dan dorong tubuh Awang.
Awang terpental lalu menggunakan tenaga lontaran dan berdiri langsung memasang kuda-kuda.
Sedangkan Ulong dari posisi tergeletak lalu lonjakkan kedua kakinya keudara dan putarkan kaki tersebut. Lonjakan dan putaran kedua kaki menarik tubuhnya untuk segera berdiri dan memasang kuda-kuda.
Teman-teman mereka yang menonton bertepuk tangan kembali.
"Abang benar-benar lihai, dalam perkelahian sebenarnya, aku mungkin sudah tewas", ujar Ulong memuji.
"Kalau di pertarungan sebenarnya, aku sudah mati sebelum sempat bertarung karena terkena lemparan pisaumu", ujar Awang tertawa.
Ulong nyengir, tetap saja menurutnya Awang adalah lawan yang hebat, gesit dan mematikan.
Mereka membungkuk hormat satu sama lain lalu kembali ke tempat duduknya.
Sementara itu di langit di atas kapal, beberapa camar terbang menari-nari, mungkin mereka juga sedang berlatih, siapa yang tahu.
Lalu tak lama sesosok burung lain terlihat mendekat di antara mereka, berwarna hitam, burung gagak.
Burung tersebut benar benar terlihat kontras diantara para camar putih yang melayang.
⚜️⚜️⚜️
Keesokan harinya di Pelabuhan Belawan, siang menjelang sore.
Tampak Jhon bersama rombongan memacu kudanya di jalanan menuju kota meninggalkan debu berkepul di belakang mereka.
Tadi pagi-pagi sekali seorang serdadu kompeni memasuki ruangan kerjanya membawa sepucuk surat berisi denah dengan pesan singkat tertulis dibawahnya. Pesan itu bertuliskan "Temui aku", lalu ada inisial di bawah tulisan itu bertuliskan tiga huruf, "HHV".
Menurut si prajurit surat tersebut di terimanya dari seorang pedagang yang barusan melintas, karena hanya sepucuk surat maka si prajurit tidak banyak bertanya dan mengambilnya untuk di antar kepada Jhon.
Jhon kaget begitu membaca surat tersebut, dia segera memerintahkan anggotanya menyiapkan kuda-kuda mereka.
Karena belakangan ini sudah terlalu banyak hal yang janggal dan membuatnya curiga, dia pun membawa dua puluh orang serdadu bersamanya untuk berjaga-jaga.
"Kalau dia sampai tidak berani muncul, maka pasti ada alasannya, sudah pasti ada bahaya yang sedang mengintai", pikir Jhon.
Karena HHV itu adalah inisial dari Heidrich Hugo Vos.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Catatan kaki :
In Memoriam my grandfather Claude Hugo Vos A.K.A. H.Rahmat Purnomo