
Heidrich mengamati dengan teropong ke arah kapal milik Ulong dan rombongan yang meninggalkan pulau tempat mereka berada. Ekspresinya terlihat sangat kesal.
Barusan, setelah mengalahkan Ni Gaok dan kelompoknya, dia bersama Jhon dan beberapa orangnya menuju pantai dengan mengibar-ngibarkan bendera putih memberi isyarat untuk berunding.
Heidrich bermaksud mengajak orang-orang di kapal berdamai, lalu meminta membawa mereka ikut serta hingga ke pelabuhan Belawan. Dan sebagai balasan, dia akan berjanji untuk tidak menuntut mereka karena telah menghancurkan kapalnya.
Dari pantai dia dapat melihat beberapa orang berdiri diatas dek kapal. Lalu seorang pria bertubuh tinggi besar yang pernah ditemuinya sewaktu dia ditawan, berdiri membalas kibarkan bendera putih juga. Orang itu Mat Kecik.
Karena melihat ada sambutan, Heidrich meneruskan mengibar-ngibarkan bendera, dan menunggu mereka mengirim sekoci untuk dinaikinya agar mereka dapat berbicara bertatap mata.
Tapi pria tinggi besar yang memegang kain putih tersebut yang awalnya balas mengibarkan kain putih, malah memutar-mutar kain di atas kepala sambil berjoget-joget, setelah itu kain putih yang dipegangnya di letakkan di pangkal paha dan kedua tangannya satu di depan, satu dibelakang menarik kain yang dipegangnya maju mundur menggosok ************ seperti orang yang mengeringkan tubuh pakai handuk. Beberapa orang yang berada di dek kapal tersebut menyaksikan itu lalu tertawa riuh rendah.
Jhon yang berada di samping Heidrich sampai menggembung merah wajahnya karena merasa dipermalukan.
"Kurang ajar", desis Jhon.
"Sepertinya kita terpaksa harus menggunakan sekoci-sekoci yang berada di pantai untuk kembali ke Belawan", keluh Heidrich. Jhon mengangguk mengiyakan, kemarahan masih terlihat di wajahnya.
Tak lama kapal itu menarik sauh dan berlayar menjauh, sementara Arman, Mat Kecik dan Samsul masih berjoget-joget di atas dek diiringi tepuk tangan teman-teman yang lain.
Heidrich kembali memasuki pulau untuk menemui anak buahnya.
Sebagian besar dari mereka sedang mengorek lubang untuk memakamkan teman-teman mereka, sementara beberapa lagi merawat yang terluka, lalu sebagian yang lain membuang mayat-mayat prajurit Suma ke laut disisi kanan pulau yang tidak ada pantainya, sekitar lima puluh meter dari tempat barusan terjadi pertempuran.
Tak perlu menunggu lama, darah dari tubuh-tubuh prajurit tewas yang dibuang ke laut segera mengundang para hiu. Sirip-sirip para pemangsa itu bermunculan di atas air bagaikan layar-layar perahu kecil, dan para predator itu mulai berebut, membersihkan lautan dari mayat-mayat prajurit yang tewas.
Karena kapal Ulong yang berada di lepas pantai telah pergi, Heidrich juga memerintahkan beberapa prajurit bergerak menyisir pantai mencari apapun benda terdampar yang bisa dipergunakan, sekoci, tong-tong kayu berisi air, makanan dan lain-lain.
Setelah itu dia menghampiri beberapa prajurit yang menjaga Ni Gaok di dekat tebing karang dimana mereka bersembunyi sebelumnya.
Tubuh perempuan itu tergeletak di atas dahan dan ranting-ranting kering yang disusun untuk membakarnya. Hal itu sengaja dilakukan agar tidak terjadi lagi hal-hal dimana ada yang berusaha menyelamatkan mereka dan menjadi masalah dikemudian hari.
Tubuh Ni Gaok tak dapat bergerak, karena tangan dan kakinya telah dipotong. Mulutnya disumpal agar tidak merapal mantera atau sekedar mengomel. Potongan tangan dan kaki miliknya sudah dikumpulkan bersama potongan-potongan tubuh Suma lalu di tumpukkan di atas tubuh penyihir ini. Potongan kepala Suma yang juga terlihat masih hidup, di sandingkan di samping kepala Ni Gaok. Mata Suma melirik kesana kemari memperhatikan orang-orang disekitarnya tapi tidak dapat berbicara apa-apa karena mulutnya juga disumpal kain.
__ADS_1
Atas perintah Heidrich para prajurit menumpukkan banyak dahan dan ranting-ranting kering mengelilingi dan menimpa potongan tubuh kedua orang ini.
Mata Ni Gaok mendelik menyeramkan ke arahnya begitu Heidrich tiba disitu.
Heidrich mengangguk pada beberapa prajuritnya yang berdiri di dekat Ni Gaok tergeletak. Segera beberapa prajurit menuangkan minyak dari lentera ke atas ranting dan dahan kering. Lalu setelah dahan dan ranting cukup basah oleh minyak, api di sulutkan.
Api segera menyambar ranting dan dahan-dahan kering, melingkupi potongan-potongan tubuh Ni Gaok dan Suma. Asap hitam segera membumbung bersamaan dengan terbakarnya dahan-dahan dan ranting menimbulkan suara berkemeretakan. Setelah memerintahkan pembakaran Heidrich segera berlalu untuk ikut memeriksa para prajuritnya yang terluka berjarak sekitar seratus meter dari situ. Sementara beberapa prajurit menunggui pembakaran dari kejauhan, menghindari panasnya api yang berkobar.
Bau daging yang hangus segera menyeruak penciuman, tubuh Suma ikut terbakar bersama dahan dan ranting kering. Tapi tak demikian dengan tubuh Ni Gaok, tubuh perempuan itu kelihatannya sulit terbakar. Setelah penyumpal mulutnya terbakar Ni Gaok malah tertawa menyeramkan lalu menggumam merapal mantera.
"Iblis", desis seorang prajurit takut, "siluman", ujar prajurit lainnya.
Para prajurit kompeni pribumi langsung menyingkir makin menjauh karena ketakutan.
Sekitar setengah jam kemudian api padam, menyisakan bara di beberapa tempat, namun tidak ada tanda-tanda tubuh Ni Gaok terbakar.
Seorang prajurit kompeni pribumi berlari menghadap Heidrich dengan wajah pucat.
Heidrich dan Jhon bergegas mendatangi tempat dimana tubuh Ni Gaok barusan dibakar dan sama-sama saksikan tubuh perempuan itu sama seperti sebelumnya, dalam keadaan terpotong namun tidak terbakar sedikitpun, bahkan pakaian yang dikenakannya pun tidak dimakan api. Padahal diatas tubuh dan disekelilingnya bara dari dahan-dahan kering masih menyala.
Ni Gaok terlihat menutup mata sambil merapal mantera dalam bahasa yang tidak mereka mengerti dengan suara sebentar pelan dan sebentar kuat.
"Sumpal kembali mulutnya", perintah Heidrich.
Seorang prajurit menggunakan ujung senapannya, untuk gelindingkan kepala Ni Gaok menjauh dari bara. Lalu begitu si prajurit mendekat, matanya yang tadi terpejam kini membuka, "Baaaaa!!", teriaknya. Si prajurit langsung mundur ketakutan. Ni Gaok malah tertawa cekikikan melihat ekspresi ketakutan si prajurit.
Jhon berinisiatif mengambil potongan kain yang diambil dari pakaian prajurit yang tewas dan diletakkan di tanah tak jauh dari situ. Dengan geram Jhon sobekkan kain dengan ukuran cukup besar. "Buka mulutmu, iblis!!", bentak Jhon. Ni Gaok cuma nyengir lalu mingkemkan bibir. Jhon tak habis akal "buka atau kuperintahkan prajuritku untuk mengencingi wajahmu bergantian", ancam Jhon.
"Kau akan rasakan pem..mmf..mmff", begitu Ni Gaok membuka mulut mengancam, Jhon sumpalkan potongan kain ke mulut Ni Gaok. Karena geram Jhon sumpalkan potongan kain sedalam-dalamnya hingga mencapai kerongkongan. Ni Gaok mendelik marah ke arah Jhon, giliran Jhon yang menyeringai mengejek.
Setelah itu Jhon menatap Heidrich dengan pandangan bertanya.
"Kuburkan di tempat kita mengubur peti berisi tubuh Suma sebelumnya", ujar Heidrich.
__ADS_1
Beberapa prajurit yang berada disitu segera mengangkut potongan tubuh Ni Gaok lalu menguburkan di tempat peti berisi potongan tubuh Suma sebelumnya dikubur, lubang itu agak sedikit lebih besar di bagian atas karena ledakan yang tadi terjadi di situ.
Setelah itu, tulang belulang milik Suma dan ketiga pengawal Ni Gaok mereka bungkus dengan kain, rencananya akan mereka buang di laut di tengah perjalanan pulang.
Lalu menjelang sore, Heidrich, Jhon dan beberapa orang pasukannya berangkat terlebih dahulu dengan menaiki delapan buah sekoci tersisa yang diikat bergandengan. Masing-masing sekoci diisi lima orang didalamnya. Pada sekoci yang berada ditengah, mereka menggunakan potongan layar dari kapal yang tenggelam sebagai layarnya.
"Menggunakan sekoci-sekoci ini, kemungkinan besok pagi baru kita tiba di pelabuhan", ujar Jhon.
Heidrich menatap Jhon.
"Berdoalah agar kita tidak bertemu kembali dengan kapal musuh Jhon, karena bila itu terjadi kita tidak akan pernah tiba di pelabuhan", jawab Heidrich.
Mereka pun mendayung sampan bergantian hingga angin membawa perahu seadanya itu bergerak. Setelah sekitar tiga kilometer dari laut mereka pun membuang bungkusan berisi tulang-tulang Suma dan para pengawal Ni Gaok untuk berjaga-jaga agar tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk dibangkitkan kembali.
Senja pun menjelang dan matahari mulai menyembunyikan cahayanya.
⚜️⚜️⚜️
Sementara itu di sekitar hamparan perak di rawa-rawa tempat tinggal Ni Gaok.
Seorang pria Belanda tinggi besar setinggi tujuh kaki (satu kaki sama dengan tiga puluh senti), berdiri dari duduk bersilanya di halaman rumah, di tempat yang memiliki simbol sihir berbentuk lingkaran hitam dengan beberapa aksara mengelilingi.
Pria ini berjalan memasuki rumah milik Ni Gaok, lalu menuju sebuah kamar di sebelah kanan. Dari kamar itu dia menuruni tangga batu panjang sekitar lima puluh undakan yang menuju ruang bawah tanah. Di ujung tangga dia tiba di ruangan cukup besar berukuran sekitar sepuluh kali sepuluh meter, berdinding batu granit berwarna abu-abu.
Pria ini berjalan melintasi ruangan yang diterangi nyala obor menuju ke ujung ruangan melintasi dua pasang pilar penyangga setinggi tujuh meter. Banyak tumpukan tengkorak kepala manusia menumpuk di sekitar empat pilar di ruangan tersebut.
Diujung ruangan, menempel pada dinding terlihat altar dari batu seluas tiga kali tiga meter memiliki enam undakan. Ada tiga patung gagak terbuat dari kayu setinggi masing-masing satu meter di atas altar, patung-patung itu berwarna hitam dalam dua pose. Yang ditengah mengembangkan sayapnya, sedangkan yang dua lagi melipat sayap dengan kepala tengadah dan paruh menghadap keatas.
Pria Belanda ini adalah boneka terakhir Ni Gaok. Dia membungkuk lalu mengambil dua buah kotak kayu yang terletak di tengah altar, dihadapan burung gagak yang mengembangkan sayap. Kotak itu juga berwarna hitam berukuran masing-masing sekitar lima belas sentimeter persegi. Dibukanya tutup kotak satu persatu. Terlihat di dalamnya masing-masing berisi jantung yang masih berdetak, jantung milik Suma dan jantung milik Ni Gaok.
Dengan jemari tangan yang dibalut besi dia cabik kulit dan daging di dada kirinya lalu keluarkan jantungnya dan letakkan di lantai altar. Karena pria ini adalah mayat yang dibangkitkan, maka jantungnya yang diletakkan di atas altar pun tidak dalam keadaan berdetak.
Setelah itu diambilnya jantung milik Suma dari kotak dan di remasnya dengan jemari. Darah segar mengalir keluar dari jantung yang pernah di manterai itu, darah tersebut diteteskan di jantung si pria yang diletakkan di altar. Lalu tubuh pria Belanda tersebut tersentak, jantung yang diletakkan di altar kini berdetak kembali.
__ADS_1