
Setelah melintasi jalanan kota Belawan, Jhon bersama pasukannya bergerak sedikit ke timur melalui beberapa rumah penduduk, lalu setelah berhenti sebentar untuk melihat denah yang tertera disurat mereka melanjutkan berkuda berbelok ke Utara, hingga disana mereka menemukan sebuah gubuk di tepi laut.
Tempat itu masih di kawasan Belawan, tak terlalu jauh dari pemukiman dan tempatnya sangat sunyi dengan air yang sangat tenang. Itu dikarenakan lautnya menjorok ke darat, dan di depan sana terlihat banyak batu-batu karang yang memecah ombak sebelum menghempas ke pantai
Di dekat gubuk ada dua pohon besar yang dahannya berada di atas air laut. Banyak dari daunnya yang berjatuhan dan mengapung di atas air laut bagaikan sampan-sampan kecil. Gubuk itu sendiri berukuran sekitar tujuh meter persegi terbuat dari kayu laut yang keras, sedangkan atapnya terbuat dari daun rumbia seperti umumnya rumah-rumah disini.
Jhon menyuruh pasukannya bersembunyi dan bersiaga di balik pepohonan tak jauh dari pantai dimana gubuk berdiri.
Lalu dia berjalan mendekat dengan mencabut pistol dan mengokangnya, siap untuk di tembakkan. Sedangkan di tangan kiri dia memegang pedang terhunus.
Jhon berjalan perlahan mendekati gubuk untuk mencari pintunya, dia berjalan ke arah kanan gubuk. Dari situ dia melihat sebuah perahu kecil dengan layar digulung tertambat di bebatuan besar, bergoyang-goyang terkena ombak.
Pada bagian gubuk yang mengarah ke laut, ada teras beratap rumbia berukuran sekitar dua meter disangga dua tiang, juga terbuat kayu laut. Disana baru terlihat pintu dan juga jendela, keduanya dalam keadaan tertutup. Jhon mendekat ke pintu dengan hati-hati, "Heidrich" panggilnya setengah berbisik.
Karena tidak ada jawaban, dia mendorong pintu kayu yang ternyata tidak terkunci, pintu yang di dorong terbuka menimbulkan suara berderit.
"Masuk", terdengar suara dari dalam, tapi Jhon tidak bisa memastikan itu suara siapa.
Jhon masuk kedalam, terlihat seorang pria duduk di satu-satunya kursi di ruangan tersebut. Selain pria tersebut ada tiga pria lagi berdiri di dekatnya. Pria yang sedang duduk tersebut mengenakan pakaian seperti yang umumnya dikenakan penduduk lokal, baju putih tangan pendek tanpa kerah, memiliki dua kancing di bawah leher. Sedangkan dibawah mengenakan celana hitam sebatas bawah betis. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup caping dari bilah bambu yang di anyam. Sedangkan tiga pria yang bersamanya mengenakan pakaian serba hitam dengan sarung menutupi wajah.
Jhon menatap bergantian keempat orang yang berada di hadapannya dengan curiga, jangan-jangan ini jebakan. Di dalam ruangan seperti ini tidak mungkin baginya melawan empat orang sekaligus, pikirnya. Perlahan Jhon langkahkan kakinya mundur ke arah pintu.
Sebelum Jhon meninggalkan ruangan pria yang duduk itu membuka caping menampilkan wajahnya.
Jhon terdiam sesaat, kaget juga senang menatap pria tersebut.
"Tuhan, aku tidak menyangka anda masih hidup", ujar Jhon dengan senangnya begitu mengetahui orang itu adalah Heidrich. Dia hendak menghampiri dan memeluk komandannya itu tapi tiba-tiba tersadar lalu dia berdiri tegap dan memberi hormat.
"Anda baik-baik saja komandan?", tanya Jhon. Heidrich tersenyum lebar.
Jhon menatap ketiga orang lainnya lalu menatap Heidrich dengan pandangan bertanya.
__ADS_1
"Mereka yang mengantarku kesini", jelas Heidrich pada Jhon.
Ketiga pria berpakaian hitam hanya mengangguk lalu mereka bergerak menuju pintu.
Di depan pintu salah seorang dari mereka berkata, "ada baiknya tuan keluar untuk memastikan agar prajurit diluar tidak menyerang kami".
Heidrich mengangguk pada Jhon, dan Jhon pun keluar lalu mengangkat tangan memberi isyarat agar orang-orangnya tahu keadaan baik-baik saja.
"Baiklah kalian aman untuk keluar", ujar Jhon.
Lalu ketiga orang misterius itu pun keluar dari dalam gubuk menuju ke perahu.
Orang-orang itu adalah penduduk desa yang dipimpin Arman. Mereka bergegas menuju perahu dan mendorongnya menjauhi tepian lalu mendayung perahu tersebut meninggalkan pantai.
Setelah perahu menjauh, Jhon kembali memasuki ruangan dengan ekspresi heran.
"Nanti kita bahas hal itu", ujar Heidrich tersenyum.
Jhon lalu kembali keluar dari gubuk menemui prajuritnya dan meminta selusin dari mereka untuk kembali ke Klambir Lima. Dia menunjuk sepuluh orang pribumi dan dua prajurit Belanda untuk pergi, dia sengaja lakukan itu agar mereka tidak menaruh curiga seandainya yang disuruh pulang hanya yang pribumi saja.
Setelah selusin prajurit bergerak menjauh, Jhon pun kembali memasuki gubuk untuk berbicara dengan Heidrich.
⚜️⚜️⚜️
Beberapa hari sebelumnya, diatas kapal.
"Tak habis pikir aku Long, untuk apa kita membebaskan pimpinan kompeni yang sudah di tangan kita?", ujar Mat Kecik.
Saat itu mereka para laskar dan Rustam berkumpul di ruang komando, berdiskusi tentang nasib Heidrich. Ulong menyarankan untuk membebaskan saja perwira tersebut.
"Si Heidrich itu begitu baik terhadap Nilam, seperti itulah yang disaksikan Pakcik Rustam, itu adalah sikap ksatria. Dan seorang ksatria harusnya mati di medan perang bukan ditawan dan dieksekusi", ujar Awang mendukung pendapat Ulong.
__ADS_1
Rustam mendengarkan dan mengangguk membenarkan, dari apa yang dia dengar dari penduduk dan para prajurit yang dia temui sewaktu menyamar, Heidrich memang orang baik, dia sendiri bahkan pernah merasakan langsung kebaikannya.
"Seandainya kau yang di posisi si Heidrich, apa mungkin dia mau membebaskanmu?" tanya Arman pada Awang.
"Tidak lah harus seperti itu, karena itu kan prinsip untuk diriku pribadi, manalah mungkin aku bisa berharap hal yang sama pada musuhku, ada-ada saja kau Man. Hanya saja bagiku menawan lalu mengeksekusinya seperti itu terasa benar-benar tidak adil", jawab Awang.
"Tapi seandainya kami bertemu dalam pertempuran, aku akan dengan senang hati membunuhnya", sambungnya terkekeh.
Awang lalu menatap Tama, Samsul dan tiga teman lainnya yang membawa Heidrich kesini, lalu naik-naikkan alis memberi isyarat meminta jawaban. Namun mereka yang diberi isyarat cuma mengangkat bahu.
"Ada baiknya kita dengarkan dulu apa yang hendak dikatakan Ulong", ujar Angku Razak.
Ulong menggigit bibir, lalu menatap teman-temannya satu persatu sebelum berucap.
"Begini, Heidrich hanyalah seorang perwira, membunuhnya tidak lantas membuat kita memenangkan perang. Satu Heidrich tewas maka akan ada penggantinya. Aku akan lebih memilih menghancurkan, atau membakar satu perkebunan milik kompeni daripada membunuhi para prajuritnya, karena jelas kerusakan yang kita timbulkan, dan jelas hasil yang kita capai", ujar Ulong.
"Lalu, pada sisi lain saat ini Heidrich dijebak oleh Suma. Membunuh Heidrich saat ini sama saja kita meminjamkan tangan pada Suma dan memberi kemenangan untuknya", jelas Ulong.
Serentak mereka yang ada di ruangan manggut-manggut, benar juga pikir mereka.
"Karena itu kupikir ada baiknya bebaskan saja Heidrich dan biarkan mereka saling berperang. Terus terang aku lebih senang bila mereka berperang lalu Suma dan penyihir wanitanya yang terbunuh. Karena sama kita ketahui orang itu rela melakukan apapun untuk mencapai ambisinya, dan aku yakin dia juga yang mengkhianati pertemuan laskar tempo hari", sambungnya lagi.
"Biarkan mereka saling serang dan kita menonton begitu Long?", tanya Mat Kecik.
"Ya kita tidak punya pilihan lain saat ini, kita menonton sambil menunggu waktu yang tepat untuk terlibat", ujar Ulong.
Teman-teman yang lain kembali manggut-manggut paham.
Dan akhirnya tercapai lah kesepakatan mereka yaitu untuk segera membebaskan Heidrich.
Lalu pada malamnya mereka pun mengutus Arman dan dua penduduk desa sebagai pemandu untuk mengantar Heidrich ke sebuah tempat yang aman di sekitar Belawan. Setelah tiba di gubuk di pinggir laut, seorang dari mereka mencari kuda untuk digunakan menuju Klambir Lima memberi surat yang ditulis Heidrich kepada Jhon.
__ADS_1