
Bersamaan dengan berjalannya para ibu petani itu ke arah timur, Ulong dan Awang mundur sedikit dengan perlahan-lahan menjauhi jalanan agar tak terlihat oleh musuh.
"Sepertinya kita harus menunggu lebih lama atau mencari jalan memutar untuk bisa melewati musuh", ujar Awang.
"Apa tidak ada jalan selain dari sini bang?", tanya Ulong.
"Ada, tapi sangat jauh ke arah barat, dan bisa ku perkirakan pada saat seperti ini bakal ada juga serdadu kompeni yang menunggu kita di sepanjang jalan seperti yang bersembunyi disini. Lalu seandainya kita bisa meloloskan diri dari mereka maka dari sana kita harus berjalan beberapa kilometer lagi menuju Utara melewati jembatan yang juga dijaga".
Ulong mendengarkan penjelasan Awang.
"Kalau menyebrangi jalan ini kita bisa mencapai persembunyian kami dalam waktu sekitar tiga jam, kita tinggal berjalan lurus melintasi padang ilalang luas di depan hingga mencapai tempat dangkal di sungai Bedera yang bisa di seberangi sambil membawa kuda, dari sana kita akan dapati hutan kecil, sangat aman" ujar Awang menjelaskan.
Ulong mendengarkan dengan seksama, lalu dia menatap ke jalan yang mengarah ke kanan.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Ulong Awang melanjutkan, "kalau mengikuti jalan ini ke arah timur, dari jalanan ini kita bisa berbelok ke jalan lain menuju utara mencapai sebuah jembatan sekitar lima ratus meter dari sini, jembatan itu juga dijaga".
"Biasanya hanya ada sekitar lima atau enam serdadu disana, kita bisa mengalahkan mereka. Yang jadi masalah adalah para serdadu yang bersembunyi di semak ilalang di depan kita. Mereka akan dengan cepat datang membantu, seandainya terjadi keributan di jembatan tersebut" sambung Awang menjelaskan.
Ulong mengangguk paham.
Dia memperhatikan padang ilalang didepan memperkirakan di sebelah mana para serdadu yang di katakan ibu-ibu tadi bersembunyi.
Beberapa orang nampak berjalan kaki melintas di jalan di hadapan mereka. Orang-orang itu berjalan dengan membawa hasil bumi, sepertinya mereka petani atau pekebun yang pulang kerumah karena hari mulai senja.
Hampir semuanya yang melintas adalah perempuan. Kalaupun ada laki-laki, hanya yang tua-tua saja. Karena sebagian besar pria pergi berjuang melawan pihak kompeni.
Tiba-tiba melintas ide di benak Ulong, walau ide itu sepertinya perlu untuk didiskusikan lebih lanjut dengan Awang dan teman-teman yang lain.
Awang menatap Ulong, ekspresi Ulong seperti menyiratkan sesuatu, "ada apa Long?" tanyanya.
"Abang lihat padang ilalang itu begitu kering?"tanya Ulong sambil menunjuk padang ilalang sangat luas di seberang mereka yang kata ibu tadi ada tentara kompeni bersembunyi.
Awang menatap ke arah yang di tunjuk Ulong, memang hampir semua ilalang kering karena terjemur matahari dan tak tersentuh hujan berhari-hari.
"Bukan hanya di seberang, disini disekitar kita juga ilalangnya mengering Long".
"Tapi disana lebih banyak ilalangnya, satu percikan api bisa menyalakan padang ilalang seluas itu" ujar Ulong.
Awang terbelalak dan tertawa pelan, "Ah iya betul itu, kita bisa memanfaatkan ilalang tersebut dengan membakarnya sekaligus dengan pasukan musuh yang bersembunyi disana", ujarnya paham akan maksud Ulong.
__ADS_1
Berawal dari ide tersebut mereka pun melanjutkan mengamati situasi disitu dengan tujuan memastikan di mana saja musuh berada, dan berapa jumlahnya, agar mereka dapat mengatur pembakaran dengan tepat.
Disaat mereka tengah mengamati dan membahas strategi, terdengar derap kaki beberapa kuda dari arah barat.
Mereka menatap ke arah itu, tak lama terlihat rombongan pasukan berkuda kompeni berjalan pelan mendekat.
Awalnya Awang dan Ulong berpikir cuma pasukan berkuda kompeni saja yang mendekat.
Tapi setelah mereka cukup dekat, terlihat dibelakang mereka membawa beberapa kuda tanpa penunggang, lalu di paling belakang lagi ada dua orang serdadu memegang masing-masing seutas tali.
Tali itu dihubungkan dengan beberapa orang pribumi yang setengah berlari mengikuti, tangan para pribumi itu terikat ke depan.
Begitu mereka mendekat, Ulong dan Awang segera bisa mengenali orang-orang yang tangannya terikat tersebut.
Mereka adalah para laskar yang tadinya berpisah dengan mereka dan melanjutkan perjalanan menuju Binjai.
Para laskar yang tertangkap itu semuanya pria, mereka terlihat kotor penuh debu, dan kelelahan, terlihat juga ada beberapa lecet dan memar di wajah mereka.
Tidak tahu entah sudah berapa jauh mereka berlari-lari kecil seperti itu mengikuti pasukan kompeni sehingga terlihat begitu kelelahan.
Ulong dan Awang melihat keadaan mereka dengan sangat geram.
"Hari sudah hampir gelap, cepat sedikit kalian berjalan" bentak seorang serdadu yang memegang satu ujung tali.
Tiba-tiba rombongan pasukan berkuda itu di hentikan oleh penunggang yang berada paling depan.
Mereka yang berkuda menoleh ke rimbunan semak dan ilalang di seberang tempat Ulong dan Awang sedang berjongkok mengawasi.
Di sana tak jauh dari jalan, berdiri seorang serdadu kompeni sambil mengangkat tangan kanannya.
Ternyata benar yang di sampaikan ibu yang barusan lewat, disana lah para kompeni bersembunyi menunggu untuk menyergap para laskar.
Setelah serdadu kompeni itu berdiri kawan-kawannya yang bersembunyi disitu juga bersamaan menyusul berdiri.
Ulong dan Awang menghitung ada dua puluh empat orang serdadu yang bersembunyi di padang ilalang diseberang mereka.
Mereka berbicara dalam bahasa Belanda (antara serdadu kompeni yang bersembunyi di antara ilalang dengan serdadu kompeni yang sedang melintas).
Walau mereka berbicara dalam bahasa Belanda, Ulong dan Awang yang sudah sedari kecil mengenal orang Belanda sedikit-sedikit bisa memahami apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Mereka mengatakan akan membawa para tawanan ini untuk di interogasi di pos mereka di wilayah Kelambir Lima.
Ulong memasang telinga mendengarkan dengan seksama hingga para serdadu berkuda yang membawa para tawanan pergi, dan serdadu kompeni yang berada di seberang kembali menyembunyikan diri dalam rimbun Ilalang dan semak belukar.
"Ayo kita kembali, sudah cukup yang kita lihat dan amati", bisik Awang.
Ulong mengangguk dan mereka pun kembali ke tempat kuda mereka di tambatkan. Saat itu langit sudah hampir gelap.
"Kebetulan arah perjalanan kita sejalan dengan pos tempat mereka membawa para tawanan tadi" ujar Awang sambil menaiki kudanya.
"Kita bisa selamatkan dulu para tawanan itu lalu kita bawa mereka melarikan diri ke tempat persembunyian kami", ujarnya melanjutkan.
Ulong mendengarkan dan mengangguk setuju, seandainya Siti dan Paijo pun tertangkap, maka kemungkinan besar mereka juga dibawa kesana, pikirnya.
Mereka pun memacu kuda menuju ke tempat teman-teman mereka sedang menunggu.
⚜️⚜️⚜️
Laksmi dan yang lain-lain segera bersiap begitu mendengar derap kuda melangkah mendekat.
Beberapa dari mereka yang ada disitu hendak mencabut senjata tapi Laksmi menahan, dia menjulurkan tangan ke samping memberi isyarat untuk menahan diri.
"Cuma dua suara derap kaki kuda yang mendekat, kemungkinan itu bang Awang dan bang Ulong" ujarnya.
Mendengar itu yang lain menyarungkan senjata kembali.
Benar yang dikatakan Laksmi, tak lama Ulong dan Awang muncul menunggang kuda-kuda mereka menerobos belukar.
Mereka berdua melompat turun dari kuda lalu berjalan menghampiri teman-temannya yang berkumpul menunggu.
Ulong dan Awang bergantian menceritakan hal-hal yang mereka temukan.
Mereka memberi dua pilihan, langsung pergi menyelamatkan diri, atau menyelamatkan laskar yang ditawan baru setelah itu menyelamatkan diri ke tempat persembunyian Awang.
"Aku setuju untuk menyelamatkan teman-teman laskar itu, tidak akan ada lagi perjuangan kalau para pejuang ditangkapi" ujar Angku Razak.
Putri dan keponakannya yang mendengarkan mengangguk, mereka terlihat yakin dan siap untuk membebaskan para tawanan.
Putra, dan Laksmi sudah pasti setuju karena mereka memiliki pemikiran sama dengan Ulong, yaitu untuk mencari tahu keberadaan Siti dan Paijo.
__ADS_1
Sedangkan Arman dan Mat Kecik, mereka berdua memang senang berperang dan akan mengikuti kemana saja Awang mengajak mereka berperang.
Karena semua setuju maka mereka pun mengatur siasat di bawah sinar bulan yang terang malam itu.