Ulong Belati

Ulong Belati
Akhir Perjalanan Serigala Tua


__ADS_3

"Siapa kalian?", tanya Datuk Awan.


Saat ini mereka berdiri saling berhadapan pada tiga kubu, Ki Bayu yang berdiri sendirian, lalu Datuk Awan Putih bersama harimau putih dan perempuan aneh dengan lima orang pasukannya.


Angin berkesiuran dingin menerpa mereka disitu.


Setelah sesemakan terpapras habis disekitar mereka, nampak jelas bentuk si perempuan dan kelima orang yang bersamanya.


Para pria yang berada di sekitar si perempuan diam bagai patung. Tangan-tangan mereka mengenakan sarung tangan besi sebatas siku, itu yang tadi terlihat bercahaya sewaktu mereka memukul dan menangkis.


"Aah maafkan saya lupa memperkenalkan diri", ujar si perempuan menyeringai.


"Namaku, aku sendiri sudah lupa, sudah lama sekali tidak ada yang menyebutnya, tapi orang-orang menggelariku Ni Gaok", ujarnya dengan nada datar.


Datuk Awan menatap perempuan bernama Ni Gaok ini lekat-lekat. Aneh, kalau melihat parasnya perempuan ini seperti baru berusia dua puluhan, tapi suara dan cara berbicaranya seperti orang tua pikirnya.


"Apa urusan kalian denganku?", tanya Datuk Awan Putih.


Perempuan tersebut tidak menjawab, sambil menatap Datuk Awan dia menggerakkan tangannya naik perlahan, terlihat kuku-kukunya panjang berwarna hitam, jari telunjuknya di arahkan pada Ki Bayu.


"Kurang ajar kau, apa urusanmu denganku?" bentak Ki Bayu marah di tuding seperti itu.


Ni Gaok menoleh ke arah Ki Bayu, "itu urusanku, bukan urusanmu", jawabnya dengan nada dingin mengancam.


Bersamaan berakhir ucapan di jentikkan jari telunjuknya, walau cuma jentikkan jari tapi terasa angin kencang mengarah Ki Bayu disertai bayangan hitam terlihat keluar dari telunjuk tersebut.


Serangan yang biasa-biasa saja sudah bisa mengenai Ki Bayu yang lemah dalam pertarungan, apalagi kini yang datang serangan yang hanya terlihat bagai bayangan hitam sebesar telunjuk. Serangan itu seperti lesatan anak panah, secepat gerakan Datuk Awan menyayat lehernya tadi. Kali ini pun Ki Bayu tak sempat menghindar dan kena telak di dada kirinya. Jelas terlihat serangan berupa bayangan hitam itu menembus tubuhnya.


Beruntung dia berada dalam pengaruh ilmu bayangan, sehingga tidak ada luka yang di deritanya akibat serangan ini. Tubuhnya hanya sedikit tersentak mundur.


Datuk Awan memperhatikan dengan seksama, dan dia benar-benar kaget dengan serangan Ni Gaok barusan yang tak terduga.


Ni Gaok menatap tajam, tidak ada ekspresi terkejut pada wajahnya melihat lawan tidak tewas. Dua kali serangannya mengenai Ki Bayu dengan telak. Pertama saat dia mengibaskan tangan hingga rumput terpapras habis, semua yang disitu berhasil menghindar kecuali Ki Bayu. Kini jurus sembilu pembelah jantung juga menghantam tanpa menimbulkan luka.


Dia menyerang hanya untuk mencobai kesaktian Ki Bayu yang kata Suma tidak bisa dilukai, dan ternyata itu benar.


Saat ini pertanyaan yang tersisa adalah hilangnya tiga serigala yang menurut cerita Suma selalu bersama Ki Bayu. Satu hal diluar perkiraan tapi menguntungkan dirinya.


Karena lawan terbukti tidak bisa terluka, Ni Gaok menggumam pelan melapalkan mantra.


"Lagi-lagi sihir hitam", batin Datuk Awan. Dia merasakan udara disekitar menjadi dingin berputar-putar lalu terlihat ada uap hitam keluar dari tubuh Ni Gaok.


Ke lima pria yang setengah bersimpuh diam di hadapan Ni Gaok langsung melompat maju tanpa diperintahkan. Mereka bergerak dengan gerakan yang cepat namun kaku menyerbu Ki Bayu.


Ki Bayu langsung kewalahan menghadapi musuh-musuh ini. Jumlah mereka terlalu banyak untuk di lawan sendirian, apalagi kini dia bertangan kosong.


Pukulan orang pertama ke arah wajah dapat di tangkisnya dengan lengan, "Duash!!". Ki Bayu kaget ternyata serangan itu sangat kuat, dia sampai terdorong mundur. Penyerang kedua menendang ke arah perut, tapi dalam keadaan limbung dia masih sanggup elakkan dengan bergerak menyamping.


"Ayo kita pergi Datuk, biar mereka selesaikan urusan mereka", bisik Datuk Awan. Harimau putih menggeram lalu berjalan membawa Datuk Putih meninggalkan lokasi tersebut.


Lawan sepertinya tidak berminat untuk menyerangnya dan dia juga tidak melihat satu hal yang menguntungkan melawan mereka, itu yang menyebabkan Datuk Awan pergi begitu saja meninggalkan lokasi pertarungan.


Sebuah tendangan kini berhasil menghantam perut Ki Bayu membuatnya tersurut mundur. Belum lagi dia berdiri dengan benar, seorang musuh lagi menyerang dari belakang menendang pergelangan betisnya disusul pukulan ke rusuk.

__ADS_1


Ki Bayu membalas menyerang sebisanya, sebuah pukulan berhasil di daratkan ke wajah lawan di depan. Tapi sama sepertinya, lawan ini juga seperti tidak merasakan apa-apa.


"Ilmu apa yang digunakan oleh mereka, kenapa wajahnya terasa keras dan dingin", pikir Ki Bayu heran.


Kini lawan dibelakang yang tadi menendang pangkal betisnya, menelikung kedua tangannya kebelakang.


"Sial", ujar Ki Bayu.


⚜️⚜️⚜️


Hamparan Perak.


Satu hari sesudah Heidrich bergerak bersama pasukannya.


Heidrich bukanlah orang bodoh, dia tahu telah diperalat Suma. Begitupun dia tetap saja menyukai perburuan ini. Rasa keadilan dan kemanusiaan di dalam dirinya terluka melihat kelakuan Ki Bayu. Apalagi mengingat peliharaan orang tua keji ini sanggup melukai Nilam, bocah perempuan yang disayangi dan dianggapnya keponakan sendiri.


Setelah pemberontakan dimana-mana sudah bisa di atasi, dan para laskar tidak lagi dapat melakukan penyerangan, kini tugas Heidrich menjaga keamanan. Paling tidak dia dapat memberi sumbangsihnya mengurangi penderitaan masyarakat. Dan menurutnya Ki Bayu sebagai salah seorang yang membuat penderitaan tersebut makin parah harus lah dihukum.


Sudah satu malam satu hari Heidrich memimpin pasukannya menyisir sungai dan mata air di sekitar hamparan perak.


Mereka sengaja menyisir tempat-tempat berair karena setiap makhluk hidup akan memerlukan air, tidak terkecuali Ki Bayu.


Saat ini sudah beranjak sore.


Setelah seharian mencari tanpa hasil Heidrich memerintahkan para prajuritnya mendirikan tenda di sekitar rumpun pepohonan di pinggir sebuah sungai.


Heidrich sedang berjalan bersama Jhon untuk mengawasi pendirian tenda saat terdengar derap kuda mendekat. Heidrich menatap memperhatikan ke arah suara derap kuda tersebut.


Mereka menghentikan kuda lalu turun dan menyerahkan tali kekang kepada beberapa prajurit disitu.


Heidrich memanggil seorang prajurit yang berada di dekatnya lalu memberi isyarat untuk memberikan kantong minumannya.


Prajurit tersebut bergegas memberikan kantong minuman kepada para prajurit yang baru datang.


Dengan terburu-buru mereka bergantian minum dari kantongan tersebut.


"Ada apa?" tanya Heidrich heran.


"Pelabuhan Belawan di serang komandan", ujar si Prajurit sambil mengelap mulutnya yang basah.


Heidrich dan Jhon kaget mendengar hal tersebut.


"Siapa penyerangnya?" tanya Heidrich.


"Tidak diketahui, kemungkinan para laskar", ujar si prajurit.


"Kejadiannya tadi pagi menjelang subuh, satu buah kapal perang kita dicuri lalu dengan kapal curian tersebut musuh menembaki dan menenggelamkan empat buah kapal perang yang tersisa", sambung si prajurit.


Ini adalah hal baru, pikir Heidrich, jarang-jarang laskar menyerang dari laut.


Atau ini mungkin perompak dari selat Malaka. Kalau itu benar maka ini adalah masalah serius, pikirnya.


Heidrich segera memerintahkan anggotanya untuk menyediakan kuda baru bagi prajurit yang baru datang ini. Lalu memerintahkan Jhon untuk memimpin lima puluh orang prajurit mengikuti ketiga prajurit ini bergerak menuju ke arah timur laut ke kota Belawan.

__ADS_1


Tanpa ada yang menyadari, seekor gagak terbang melintasi perkemahan. Setelah berputar sejenak gagak itu melayang pergi ke arah barat sekitar tiga kilometer di mana Ni Gaok sedang duduk bersila di kelilingi kelima pengawalnya di tengah padang rumput.


Saat itu Ni Gaok hanya mengenakan kemben, pakaian luarnya diletakkan di atas rumput tak jauh darinya.


Terlihat beberapa tato menghiasi tubuhnya dari pundak hingga ke lengan, bergambar beberapa ekor burung gagak dalam berbagai pose, hanya di pundak sebelah kiri yang tidak ada tatonya.


Gagak yang terbang mendekat terlihat menabrak Ni Gaok lalu "Fwoosh", hilang di atas kepalanya.


Setelah gagak menghilang Ni Gaok tersadar dari semedinya, lalu perlahan muncul tato baru bergambar gagak yang lain di pundak kirinya.


"Sekarang!!", ujarnya begitu membuka mata.


Kelima orang pengawalnya tanpa berkata apa-apa bergegas menaiki kuda mereka melaju menuju kumpulan pepohonan di arah Timur Laut.


Terlihat Ki Bayu tergeletak dibawah sebatang pohon. Sudah enam hari dia disana tak sadarkan diri. Ada lingkaran hitam di sekelilingnya yang membuatnya tak bisa tersadar, lingkaran sihir buatan Ni Gaok.


Seorang anak buah Ni Gaok turun dari kuda lalu di angkatnya tubuh Ki Bayu dan naikkan di atas kudanya. Setelah itu dia pun menaiki kuda tersebut sambil memegangi tubuh Ki Bayu yang tertelungkup belum juga tersadar.


Mereka berkuda hingga mendekati tenda pasukan kompeni. Lalu setelah tinggal lima ratus meter lagi jaraknya dari pasukan kompeni, orang yang membawa Ki Bayu menjatuhkan tubuh Ki Bayu.


"Bruk, gusrak!!", Ki Bayu terjatuh bagaikan karung beras di rerumputan.


Sesudah menjatuhkan tubuh Ki Bayu, para pengawal Ni Gaok memacu kuda mereka bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


⚜️⚜️⚜️


Jhon sudah tak terlihat lagi dari pandangan, derap suara kudanya pun tak terdengar lagi, sudah sekitar lima belas menit mereka pergi.


Heidrich meneruskan berjalan berkeliling sambil sesekali memberi arahan pada anak buahnya.


Namun tak lama, terdengar keriuhan di tenda sebelah Utara. Heidrich mendengar itu dan bergegas menghampiri.


Terlihat pasukannya tengah membidik dengan senapan di tangan, lalu sekitar dua puluh meter di depan mereka terlihat seorang pria tua berjalan terpincang-pincang menghampiri.


"Hei tunggu, ini aku", ujar orang tua tersebut girang.


Heidrich menatap kaget, tak disangka Ki Bayu yang tengah dicari-cari justru menghampiri mereka.


"Aku Ki Bayu", ujar Ki Bayu memperkenalkan diri pada para prajurit, seluruh prajurit yang bersiap membidik justru kaget mendengar ucapan tersebut.


Lalu sebuah suara tembakan terdengar, entah prajurit yang mana yang melepaskan tembakan, tak bisa dipastikan. Karena hampir seluruh prajurit kompeni sedang berkerumun disitu.


Satu tembakan terdengar, dan prajurit yang lain langsung ikut-ikutan menembak.


Suara bedil menyalak meramaikan sore yang tenang bak rentetan petasan bersahutan.


Ki Bayu menatap dengan ekspresi bingung, dia tak menyangka kalau pihak kompeni justru menyerangnya.


Setelah menatap para penembak dia melihat ke arah tubuhnya dan merabanya.


Tubuh itu penuh luka tembakan, asap panas mesiu masih keluar dari luka-lukanya, dan darah mengucur tanpa henti. Ini adalah masa dimana matahari masih bersinar sehingga kemampuannya belum muncul.


Heidrich tak sempat lagi melakukan apa-apa, hanya mampu melihat Ki Bayu yang berdiri sesaat menatap ke arah mereka dengan pandangan nanar lalu terhuyung dan roboh.

__ADS_1


__ADS_2