
Siti mengepalkan kedua tangannya erat-erat, tubuhnya menggigil menahan emosi.
Dalam remang cahaya obor yang tergeletak hampir padam, dia menatap wajah Paijo demi menguatkan diri menghadapi yang akan terjadi.
Sedangkan Paijo sendiri malah tidak berani membuka mata menyaksikan perempuan yang dia kasihi dipermalukan.
"Seandainya bukan karena aku harusnya neng Siti bisa melarikan diri" sesal Paijo, dia malu dan merasa tidak berguna sebagai laki-laki.
Sementara itu dengan seringai buas Ki Bayu julurkan kedua tangannya menuju dada Siti.
"Pletak"
Entah darimana asalnya sebongkah batu sebesar telapak tangan dilempar tepat mengenai kening Ki Bayu.
Nafsu yang sudah menggelegak di ubun-ubun membuat Ki Bayu murka di ganggu seperti itu.
"Kurang ajar" ujar Ki Bayu lalu menatap sekeliling mencari-cari si pelempar. Tapi tidak kelihatan ada apapun yang mencurigakan
"Jangan seperti pengecut, tunjukkan dirimu kalau berani!!!" tantang Ki Bayu berang.
Tetap tidak ada jawaban, suasana begitu hening.
"Siutt.. Pletak" sebuah batu lagi dilempar, kali ini kena tengkuknya.
Serigala raksasa menoleh ke arah kiri, sebagai hewan dengan pendengaran dan penciuman tajam dia dapat segera mengetahui arah musuh.
Begitupun serigala itu terlambat karena saat menoleh ke kiri, sebuah batang kayu di pukulkan ke kepalanya.
Sesosok tubuh berpakaian hitam berdiri memegang potongan dahan pohon yang lumayan besar.
Serigala raksasa terdorong mundur sedikit namun langsung membalas menerkam penyerangnya.
Si penyerang begitu lincah, tundukkan tubuh sambil mengayun dahan pohon yang di pegangnya menyapu kaki serigala raksasa.
Kuat sekali serangan itu, bahkan serigala raksasa limbung dan terjatuh menyosor tanah.
Pada waktu hampir bersamaan, dari samping sebatang kayu disodokkan ke serigala jadi-jadian yang menginjak tubuh Paijo.
"Duak.." serigala ini pun terdorong mundur, golok yang tadi di pegangnya terjatuh tepat di depan hidung Paijo.
Beberapa helai rambut Paijo yang mencuat ke depan terpapras goloknya sendiri.
Paijo begitu merasa terbebas membuka mata dan kaget melihat goloknya yang berkilat di depan hidung, "biyung, hampir saja" pikirnya.
Dia raih golok itu lalu dengan cepat berguling kesamping menyelamatkan diri.
"Kesempatan" pikir Siti melihat Paijo terbebas, kakinya dia tendangkan ke dada Ki Bayu yang sedang lengah karena datangnya serangan mendadak barusan.
Ki Bayu terlempar mundur dan Siti segera memungut rencong dan golok yang tadi dia jatuhkan.
Serigala jadi-jadian satunya menoleh dan hendak membantu temannya namun satu tendangan keras begitu cepat bersarang di tengkuknya sebelum dia bergerak.
Serigala itu terdorong ke depan, limbung.
"Aaauuuuuuu...Grrrrr.." dia melolong dan menggeram marah lalu menerkam si penyerang, cakarnya menyabet kesana dan kemari namun penyerang ini pun dengan begitu lincah dapat menghindari serangan serigala itu.
Serangan cakar serigala tidak membuahkan hasil hanya mengenai angin.
Paijo bergegas mengambil obornya yang tergeletak di tanah, lalu sambil memegang obor dan golok dia mundur mengawasi pertempuran, bersandar di bawah pohon besar.
Cahaya terang obor yang di pegang Paijo menyinari lokasi di sekitarnya.
Ketiga penyerang, Ki Bayu dan semua yang ada disitu jadi terlihat jelas rupanya.
Siti dan Paijo segera mengenali orang-orang yang datang menolong.
"Terima kasih Pakcik sekalian" ujar Siti menatap para penyerang yang baru datang.
Sambil mengucapkan terima kasih Siti tetap memasang kuda-kuda bersiap menghadapi serangan balasan Ki Bayu.
Ternyata para penolong mereka adalah tiga pendekar pengawal utusan kerajaan, Wan Salman. Sedangkan Wan Salman sendiri tidak kelihatan batang hidungnya saat itu.
Para pengawal itu hanya menanggapi ucapan Siti dengan sedikit tersenyum tanpa berkata apa-apa, seperti biasa ekspresi mereka tetap dingin dan tenang.
Paijo membungkuk hormat pada mereka "tuan" ujarnya.
Ki Bayu gusar, syahwatnya tak berhasil di tuntaskan.
"Siapa kalian? kenapa menyerang ku?"
"Tidak perlu kau tahu siapa kami", ujar Bahar dengan nada datar, Bahar adalah salah seorang dari tiga penyerang.
"Kalau kau mau tahu kenapa kami menyerang, itu karena kami lihat kau menyerang seorang anggota laskar rakyat sunggal, itu jadi urusan kami", sambungnya.
"Berarti kalian musuhku, dan akan menjadi santapan peliharaanku", ujar Ki Bayu sambil gertakkan gigi dengan geram.
Dia marah sekali urusannya dengan Siti terganggu.
"Serang, cabik-cabik mereka, tapi jangan buru-buru dibunuh!!!" ujarnya.
__ADS_1
Mendengar perintah Ki Bayu ke tiga serigala yang bersamanya serentak menyerang.
Segera pertarungan terjadi antara ketiga orang yang baru datang melawan hewan-hewan peliharaan Ki Bayu yang menyerang dengan ganas.
Kini dia berpaling ke Siti, "urusan kita belum selesai nona cantik", ujarnya.
Siti menggeram, amarahnya belum hilang akan perbuatan orang tua ini mempermalukannya barusan.
Dia menggebrak maju lalu tusukkan rencong dengan tangan kanan.
"Berapa kali kau coba pun tetap akan sia-sia" ujar Ki Bayu tertawa, dia diam tak bergeming menunggu tusukan rencong Siti mencapai tenggorokannya.
Dia malah majukan batang leher dan pejamkan mata menantang.
Siti sudah memperkirakan ini, serangan rencong yang sengaja dilakukan untuk memancing dia batalkan.
Setelah itu tangan kirinya tebaskan golok yang tajam berkilat ke batang leher.
"Kalau ditusuk tidak mempan bagaimana seandainya kubabat putus, apa bisa bersatu kembali" pikir Siti.
Tanpa halangan golok Siti menebas batang leher Ki Bayu.
"Jreb..", Siti merasakan sisi tajam goloknya mengenai leher Ki Bayu, menembus satu sisi leher lalu keluar di sisi lainnya.
"Putus!!" ujar Siti.
"Sial" batin Siti, walau golok itu terasa mengenai bahkan melewati batang leher Ki Bayu, begitu golok lewat, tidak terlihat luka di leher yang di penggalnya.
Ki Bayu tertawa melihat Siti yang kebingungan.
Siti bergerak mundur, memikirkan strategi baru.
Sementara itu Bahar, Jebat, dan Purna sedang disibukkan dengan tiga makhluk peliharaan Ki Bayu.
Tiga pendekar berusia empat puluhan ini dulu di masa mudanya di juluki tiga elang laut.
Mereka mendapat julukan itu karena kelincahan mereka dalam menyerang dan menghindar.
Kelincahan itu yang membuat mereka dapat mengimbangi serangan serigala-serigala ini.
Seandainya saja senjata mereka bisa melukai para serigala sudah pasti makhluk-makhluk ini akan dapat segera mereka kalahkan.
Serigala raksasa berkali-kali hendak menggigit Bahar, namun Bahar dengan lincah mengelak kesana kemari.
Dia tahu sekali saja serigala ini berhasil menggigit maka selesailah perlawanannya.
Bahar berkali-kali juga membalas, namun sama seperti yang dia lihat saat Siti melawan mereka, pedangnya pun tak berpengaruh apa-apa terhadap lawan.
Tadi mereka sempat melihat bagaimana Siti kesulitan menghadapi musuh-musuh ini.
Sayangnya sebelum mereka sempat menyimpulkan cara melawan para makhluk ini mereka keburu harus ikut campur karena tak sanggup melihat Siti yang akan dipermalukan.
Serigala raksasa kembali menyerangnya, Bahar bukannya mundur tapi maju berguling ke bawah tubuh hewan itu lalu tusukkan pedangnya ke tenggorokan makhluk tersebut.
Serigala raksasa kebingungan karena tidak dapat melihat musuh yang bersembunyi di bawah tubuhnya.
Sambil setengah berjongkok dari bawah Bahar dorong pedangnya yang tertancap di tenggorokan serigala raksasa untuk merobek tubuh serigala itu dari leher ke perut.
Setelah tusukan sampai ke perut dia dorong pedang makin dalam hingga tangannya pun ikut masuk ke tubuh serigala.
Dia penasaran dengan apa yang ada di dalam sana.
Aneh di dalam tubuh serigala ini dia tidak merasakan tangannya menyentuh apa-apa, bagaikan kabut yang tidak bisa di pegang di dalam situ.
Serigala raksasa berputar-putar mencari mangsanya.
Bahar tarik tangan dan pedangnya dari perut serigala lalu berguling menjauh.
Dia kebetulan berguling mendekat ke arah Paijo berdiri, di tatapnya Paijo.
"Tuan" ujar Paijo membungkuk hormat. "Hmm" gumamnya pada Paijo.
Di dekat Paijo yang memegang obor dia perhatikan tangannya yang tadi memegang pedang tidak ada bekas darah atau apapun, kering.
"Mereka tidak nyata" bisiknya tersadar.
"Nak coba angkat tinggi-tinggi obormu" ujarnya pada Paijo.
Paijo mengangkat tinggi-tinggi obor hingga cahayanya menerangi makin jauh.
Bahar memperhatikan serigala raksasa yang menggeram pamerkan gigi ke arahnya.
Lalu dia perhatikan sekeliling untuk melihat seperti apa sebenarnya makhluk-makhluk ini.
Deg.. akhirnya dia melihat hal aneh.
Dia dapat melihat bayangan semua yang sedang bertarung disana.
Pada normalnya karena pencahayaan hanya satu yaitu obor milik Paijo, maka bayangan setiap orang juga satu.
__ADS_1
Tetapi tidak dengan makhluk-makhluk ini dan Ki Bayu, masing-masing mereka memiliki dua bayangan.
Serigala di hadapannya maju menerkam, sambil berpikir keras Bahar menghindar ke samping lalu sabetkan pedang.
"Sial serigala ini menyerang terus, aku harus berpikir cepat sebelum mereka menghabisi kami semua", batinnya.
Baru saja berhasil mengelak dan hendak berpikir, lagi-lagi serigala raksasa menyerangnya.
Bahar melompat mundur tapi gerakannya terhalang oleh tubuh kuda Paijo dibelakangnya, refleks dia berkelit memutari tubuh kuda itu begitu serigala raksasa kembali menerkam.
Gigi-gigi runcing serigala raksasa menancap erat di leher kuda.
Hewan malang itu meringkik keras sebelum roboh, serigala yang marah menggigit dan menggoyang-goyangkan kepalanya menyobek tubuh kuda.
Bahar menemukan ide, begitu serigala raksasa menerkam lagi dia maju berguling kebawah serigala raksasa lalu disambungnya dengan melompat menjauhi cahaya obor yang di pegang Paijo.
Dia sengaja berguling lalu maju melompat agar dia berada di posisi dimana bayangan mereka yang sedang bertarung jatuh ke tanah.
Dia perhatikan salah satu dari bayangan serigala raksasa terlihat tidak sesuai dengan arah cahaya.
Dia hunus pedang lalu hendak hunjamkan di bayangan yang janggal tersebut, tapi tiba-tiba temannya Jebat terlempar karena menangkis serangan serigala yang berdiri di atas kaki.
Serigala jadi-jadian itu maju hendak menerkam Jebat di hadapannya.
Karena makhluk itu yang terdekat bayangannya dengan dia maka Bahar tancapkan pedangnya ke salah satu bayangan makhluk itu yang tidak sesuai dengan arah pencahayaan.
"Hiaaaah!!!" dia tancapkan sekuat-kuatnya pedang pada bayangan itu.
"Aaauuuu" serigala jadi-jadian melolong.
Hal aneh terjadi, yang ditikam oleh Bahar adalah bayangannya tetapi serigala yang tadinya hendak menerkam Jebat itu terlihat berdarah perutnya.
Serigala itu meronta-ronta kesakitan, Bahar tekan pedangnya makin dalam ke tanah lalu putar pedang untuk memperlebar luka.
Siti dan semua yang hadir disitu kaget melihat kejadian itu.
"Bayangan mereka ada dua, salah satunya itu tubuh aslinya!!!" teriak Bahar.
Ki Bayu kaget melihat hewan peliharaannya terluka, luka itu mengucurkan darah dan semakin terbuka lebar akibat hunjaman dan putaran pedang Bahar. Makhluk itu terkaing-kaing meronta.
"Sialan kau!!" ujarnya lalu maju untuk menyerang Bahar, Siti yang cerdik langsung bisa membaca situasi, dia melihat Ki Bayu hendak menerkam Bahar, diperhatikannya bayangan Ki Bayu.
Dia baru sadar, terlihat jelas memang bayangan Ki Bayu ada dua.
Dan salah satu bayangannya aneh karena tidak mengikuti arah cahaya obor.
Dengan golok di tebasnya bayangan itu, namun Ki Bayu keburu melompat mengejar Bahar sehingga tebasan Siti hanya mengenai kaki pada bayangan.
"Aaaarghhhh.." giliran Ki Bayu yang melolong, kakinya sebatas pertengahan betis terpotong oleh sabetan golok milik Siti.
Ki Bayu tidak bisa meneruskan gerakan menyerang Bahar, dia terjatuh karena kakinya terpotong sebelah.
"Dasar sialan kau" ujarnya mendelik ke arah Siti. Dia bergerak mundur terpincang-pincang lalu terjatuh.
Siti menyeringai mengejek, puas rasanya.
Di pungutnya kaki Ki Bayu yang barusan di tebasnya dan pamerkan potongan kaki yang berdarah itu pada Ki Bayu.
"Bau sekali kakimu orang tua" ujarnya menutup hidung dan pasang ekspresi seperti mau muntah. Lalu dia mencampakkan potongan kaki tersebut ke wajah Ki Bayu.
Potongan kaki itu jatuh tepat mengenai kepala Ki Bayu. Darah yang masih mengucur disitu membasahi wajahnya.
Ki Bayu menggeram menahan sakit, malu dan marah.
"Lawan sepertinya sudah mengetahui kelemahan kami" pikirnya.
Melihat situasi tidak lagi menguntungkan, dia bersuit.
Mendengar suitan serigala raksasa berkelebat bergerak menyambar tubuh Ki Bayu lalu berlari hilang dalam kegelapan dengan membawa Ki Bayu di rahangnya.
Serigala jadi-jadian yang satu lagi juga dengan cepat berlari pergi sebelum Siti dan yang lain sempat melakukan sesuatu.
"Kalian tunggu pembalasanku!!!" teriak Ki Bayu dari kegelapan hutan.
Siti masih geram, diambilnya lagi potongan kaki Ki Bayu, lalu lemparkan sekuat tenaga ke arah asal suara itu.
Sepeninggal Ki Bayu yang melarikan diri Siti dan yang lainnya mendatangi serigala yang membungkuk tidak bisa bergerak karena bayangannya tertancap pedang Bahar.
Jebat tebaskan goloknya pada bayangan serigala di bagian tangan, ajaib tangan itu terputus, sama seperti kaki Ki Bayu tadi yang ditebas Siti.
"Untuk apa kau lakukan itu?" tanya Purna.
"Aah.. aku cuma penasaran" ujar Jebat lalu sarungkan golok dengan ekspresi puas.
Paijo juga penasaran dia hendak menebaskan goloknya.
"Srekk..Srekk.." semak belukar tersibak, mereka langsung pasang kuda-kuda kecuali Paijo yang menoleh dengan kaget.
Ternyata yang muncul adalah Wan Salman, "Alhamdulillah musuh berhasil kalian kalahkan" ujarnya.
__ADS_1
"Maaf aku tidak pandai bertarung makanya aku melihat dari jauh saja" ujarnya menjelaskan pada Paijo dan Siti.
"Tuan", ujar Paijo membungkuk hormat.