
Setelah setengah hari berkuda Ulong dan teman-teman tiba di tempat pertemuan.
Tempat yang dipilih para laskar untuk berkumpul adalah sebuah lapangan kecil di pinggir sungai, di daerah lalang (nama tempat) yang di kelilingi pepohonan dan rumpun bambu.
Ada beberapa kelompok laskar yang sudah hadir disana. Ulong dan teman-teman yang memang mengenal mereka segera menghampiri dan berbincang akrab.
Datuk Indra Sakti datang memasuki lapangan menunggang kuda beserta dua orang kepercayaannya.
Dari jauh dia sudah tersenyum lebar ke arah Ulong.
Setelah mengikat kuda-kuda, mereka menghampiri Ulong dan teman-temannya.
Datuk Indra Sakti menyalami dan memeluk Ulong.
Datuk Indra Sakti adalah seorang pejuang tua, teman baik almarhum ayah Ulong.
Dia menatap Ulong dari kaki hingga kepala dengan terharu.
Aku dulu ikut menggunting rambut anak ini sewaktu bayi, di upacara pemberian namanya, ujarnya dalam hati.
"Anakku, apa kabar mu?" ujar Datuk Indra Sakti dengan ramah.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja Pakcik" jawab Ulong.
"Apa kabar Pakcik?" Ulong balas bertanya.
"Alhamdulillah Pakcik juga sehat" jawabnya,
Ulong tersenyum senang mendengarnya.
"Jarak kita tinggal tidak lah terlalu jauh, seandainya saja tidak sedang terjadi perang seharusnya kita dapat lebih sering bertemu", ujar Datuk.
"Begitulah Pakcik" Ulong membenarkan.
Ulong memperkenalkan Laksmi dan Putra kepada Datuk Indra Sakti.
"Ini istrimu?" tanya Datuk.
Laksmi tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Datuk.
"Bukan Pakcik, kami belum menikah" jawab Ulong.
"Mau tunggu apa lagi? Kalian sudah cukup dewasa, kalau perang yang kau tunggu, kita tak tahu kapan berakhirnya" ujar Datuk.
Ulong cuma tersenyum mendengar ucapan Datuk Indra.
Datuk Indra mengenalkan dua orang kepercayaannya kepada Ulong dan teman-teman.
Dua pemuda itu bernama Suma dan Anwar, berusia lebih kurang sebaya dengan Ulong.
Dua pemuda ini terlihat sangat tangguh, terutama Suma, tinggi dan tegap. Tingginya sama dengan Ulong sekitar 1,8 m.
Yang aneh, ada firasat tidak baik di hati Ulong tentang pemuda ini.
Ulong berjalan bersama Datuk Indra Sakti dan orang-orangnya menuju tempat berkumpul di tengah lapangan, Laksmi, Putra dan Anwar mengikuti dari belakang. Sedangkan Suma kembali menuju tempat kuda-kuda mereka di tambatkan.
Bangunan di tengah lapangan cukup besar, bangunan ini cuma atap dan tiang tanpa dinding, dibawah hanya tikar pandan sebagai alasnya. Beberapa orang laskar yang lain sudah duduk disitu, mereka menyapa dengan ramah pada Ulong dan yang lain-lain.
⚜️⚜️⚜️
Sementara itu Siti dan Paijo menunggu diluar. Paijo menyibukkan diri dengan kuda-kuda yang ditambatkan, sedangkan Siti menemani duduk di palang kayu penambat kuda memperhatikan abang tersayangnya.
Ada banyak anggota laskar berdiri berjaga diantara pepohonan, mereka semua mengenakan pakaian serba hitam dengan pita kuning di bahu sebagai penanda. Sedangkan para tamu di berikan pita kain berwarna putih sebagai penanda, dan juga wajib di ikatkan di bahu.
Dengan berjalannya waktu semakin banyak orang yang hadir, baik di dalam maupun diluar bangunan.
Beberapa laskar muda yang menunggu diluar melirik-lirik ke arah Siti yang hitam manis.
Memang saat itu ada beberapa wanita lagi disana.
Tapi tetap Siti yang termanis di antara mereka, kulitnya yang sawo matang, hidung yang mancung dengan bagian ujung sedikit mencuat ke atas, alis mata yang indah dan tubuh tinggi semampai, benar-benar para lelaki akan sulit mengalihkan pandangan darinya.
Saat itu siti mengenakan pakaian serba hitam dan rompi tanpa tangan berwarna merah, kerudung yang juga merah menutup rambutnya. Pada ujung kerudung di lilitkan ke leher. Sedangkan di pinggang, dililit sarung yang dijadikan ikat pinggang terselip golok, rencong tidak kelihatan karena di selipkan di belakang.
Benar-benar perpaduan kecantikan dan ketangguhan.
Siti tidak perdulikan lirikan para pemuda itu, hatinya sudah penuh dengan bang Paijonya yang sederhana.
Senang sekali tadi hati Siti berkuda berdampingan hingga setengah harian. Belum pernah ada kesempatan cukup lama bagi mereka untuk berdua, semenjak Paijo menginjakkan kaki di perkampungan para pengungsi.
Siti memberanikan diri tadi berbicara, dia membuka percakapan dengan meminta maaf pada Paijo karena dulu dia lah yang menendang bahu Paijo hingga terpelanting di bangsal tembakau Meneer Jan.
Paijo cuma nyengir dan menunduk, "gak apa-apa neng, saya ikhlas kok", ujarnya sambil tak sadar mengelus-elus bahunya yang dulu pernah di tendang Siti.
Paijo sendiri sebenarnya sudah suka semenjak pertama melihat Siti.
Tapi dia tidak berani berharap, dia berpikir terlalu tinggi angannya untuk mendapatkan Siti. Nanti takutnya malah kena tinju.
__ADS_1
Tapi belakangan ini Paijo bisa pastikan kalau Siti juga menyukainya.
Rasanya bagai ketiban durian runtuh.
Siti yang begitu sempurna di matanya menyukainya.
Pejuang wanita yang sangat berani, cerdas, cantik dan mandiri menyukainya yang tidak memiliki apa-apa.
Tadi di jalan Siti memberikan tempat minumnya pada Paijo, Paijo ragu-ragu untuk meneguk, dia kuatir Siti nanti nggak mau lagi meminum dari situ.
Eh setelah dia minum dia serahkan tempat minum dari kulit itu pada Siti dan tanpa ragu Siti meneguk kembali dari situ.
Paijo melirik sambil menelan ludah, deg deg deg jantungnya berdegup kencang.
Ternyata benar kata Parman kalau Siti menyukainya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memperjuangkan mu sekuat tenaga" tekad Paijo dalam hati.
⚜️⚜️⚜️
Orang-orang yang berada di bangunan tanpa dinding duduk bersila membentuk lingkaran.
Sudah ada belasan orang disana, mereka masih berbincang-bincang karena rapat belum di mulai.
Datuk Awan Putih mengetukkan tongkatnya ketanah.
"Sudah cukup banyak yang hadir, kupikir sudah waktunya kita membahas hal-hal terbaru yang kita ketahui", ujar Datuk Awan Putih kepada para hadirin.
Datuk ini berusia sekitar delapan puluhan, berpakaian serba putih. Pendekar legenda yang sakti.
Kata orang-orang Datuk ini memiliki peliharaan seekor harimau putih yang menjadi tunggangannya.
Ulong dan para hadirin mengangguk mengiyakan ucapan Datuk Awan Putih.
Tapi sebelum Datuk Awan Putih melanjutkan berbicara beberapa orang kembali memasuki ruangan.
Awang bersama orang-orang kepercayaannya, Arman dan Mat Kecik tiba.
Setelah memberi salam dan mohon maaf pada yang hadir karena keterlambatannya awang duduk di sebelah Ulong.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanyanya berbisik pada Ulong.
"Belum bang, rapat belum di mulai" jawab Ulong.
Awang mengangguk lega.
Usia Awang dan Ulong terpaut lima tahun, lebih tua Awang.
Duduk berdampingan seperti itu terlihat wajah Ulong dan Awang sama tampan walau wajah Awang terlihat lebih macho.
Datuk Awan Putih bertanya pada Awang, "Apakabar ananda lama kita tidak bersua".
"Alhamdulillah kabar ananda baik Datuk, saya harap Datuk juga demikian", jawab Awang sopan.
"Kenapa tidak ku lihat Leman bersamamu?" Datuk Awan Putih bertanya demikian karena Pakcik Leman adalah keponakan dari almarhumah istrinya.
Pertanyaan ini yang ditakutkan Awang tadi saat memasuki ruangan dan melihat kehadiran Datuk Awan Putih.
"Pakcik Leman sedang tidak bisa hadir datuk", jawab Awang. Arman dan Mat Kecik yang duduk di belakang Awang menundukkan kepala.
Datuk Awan Putih menatap dengan pandangan menyelidik ke Awang, tapi dia tidak berbicara apa-apa lagi, sudah jelas dia jadi curiga dengan ketidak hadiran Leman, karena Leman adalah salah seorang penasehat Awang.
⚜️⚜️⚜️
Rapat segera dibuka, Datuk Awan Putih menjelaskan tentang maksud mengumpulkan laskar disini.
Yaitu untuk berbagi informasi dan mencari cara menyikapi bala bantuan kompeni yang mendarat beberapa hari lalu.
"Intinya adalah kita semua harus mengetahui situasi ini, agar kita dapat menyikapinya dengan baik", ujar Datuk Awan Putih.
"Kita telah dua kali menghancurkan bala bantuan mereka sebelumnya, apa bedanya dengan bantuan mereka saat ini?" ujar seorang pimpinan laskar dengan percaya diri.
Beberapa pimpinan laskar lain mengangguk dan membenarkan.
"Izinkan hamba berbicara tuan-tuan", ujar Awang.
Hadirin kembali diam menyimak.
"Selain bala bantuan yang jelas terlihat mata, ada bantuan lain yang mereka bawa dari Batavia" sambungnya.
Semua mata menatap Awang bertanya apa maksud perkataan Awang barusan.
Lalu dengan geram Awang menceritakan perihal tiga orang anggotanya yang tewas di bantai siluman serigala dan Ki Bayu Ireng.
Seluruh orang yang hadir kaget mendengar cerita Awang. Seandainya bukan Awang yang bercerita mungkin mereka tidak akan percaya.
"Maksud ananda, Leman keponakanku tewas?"
__ADS_1
Awang mengangguk lalu menunduk sedih.
"Iya tuk, maafkan saya yang tidak bisa menjaga anggota kelompokku" ujar Awang sedih.
Wajah Datuk sesaat terlihat mengeras membesi.
Dia menghela nafas lalu berjalan ke arah Awang dan duduk di hadapannya, ditepuknya pundak Awang.
Setelah itu dia berdiri menghadap ke semua orang dan berbicara , "sebagai orang tua sudah pasti aku sedih dengan kejadian ini, karena Leman itu keponakanku.
"Tapi ada yang harus kita ingat, inilah konsekuensi atas perjuangan kita, dan aku yakin Leman pun sadar akan hal itu".
Datuk diam sejenak lalu menatap seluruh yang hadir dan melanjutkan, "Jadi jangan meratapi teman-teman kita yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita".
"Sama seperti kita yang siap untuk mati, mereka juga seperti itu, yang membedakannya kita masih bertahan hidup dan mereka telah mati".
"Jangan nodai pengorbanan yang telah mereka berikan dengan kesedihan kita, jangan bikin para penjajah senang karena telah berhasil membuat kita berduka".
Semua yang mendengar terdiam, benar kata Datuk pikir mereka. Seandainya mereka yang mati berjuang dihidupkan kembali, pasti mereka akan senang hati kembali untuk berperang walau harus terbunuh kembali.
"Merdeka!!" teriak seorang hadirin sambil mengepalkan tangan, disambut gegap gempita oleh yang lain "Merdeka!!", "Takbir!!"
Suasana menjadi ramai dengan sorak sorai riuh rendah.
"Bleduuum", sebuah tembakan meriam meledak tak jauh dari bangunan tempat rapat.
Debu dan tanah beterbangan, tembakan lain menyusul "Duar" meledak tak jauh dari tembakan pertama.
Ulong meraih tangan Laksmi dan Putra meninggalkan lokasi.
"Buum, buum, bledar" Berkali-kali peluru meriam jatuh di lapangan kecil itu.
Beberapa anggota laskar yang tidak sempat melarikan diri terpental berkeping-keping terkena ledakannya.
Para laskar berlarian kesana kemari menyelamatkan diri, tembakan meriam beberapa kali menghunjam bumi menggetarkan kaki mereka yang berada disitu.
"Duar" bangunan tempat rapat pecah berhamburan di hantam peluru berikutnya, pecahannya mengenai beberapa laskar yang berusaha melarikan diri.
Melihat kejadian itu Siti segera membantu Paijo membawa kuda-kuda masuk ke rumpun bambu.
"Abang disini saja dulu, tunggu kami" ujar Siti lalu dia mengambil busur dan anak panah yang diletakkan di samping pelana.
Ulong, Laksmi dan Putra berlari menuju kuda-kuda mereka. Siti sudah menunggu disana menyiapkan busur.
Tak lama letusan meriam berhenti meninggalkan asap putih mesiu, dan mayat para laskar yang bergelimpangan. Menyusul itu gerombolan serdadu kompeni berjumlah puluhan memasuki areal dari jalan di selatan lapangan dan langsung menembakkan bedilnya.
Suara bedil bersahut-sahutan di iringi tumbangnya para laskar yang diterjang peluru.
"Cepat, cepat", ujar Siti pada teman-temannya sambil mulai memanah.
Pada jarak sekitar tujuh puluh meter panah Siti berkali-kali berhasil mengenai beberapa orang serdadu mengurangi jumlah pasukan musuh.
Ulong berhasil mencapai kudanya, Siti mengikuti teman-temannya mundur sambil terus memanah.
Ulong dan teman-teman telah naik ke atas kuda, Siti dan kini Laksmi memanah dari atas kuda.
Beberapa laskar yang tidak sempat melarikan diri melawan dengan sia-sia, hunjaman bayonet serdadu kompeni mengakhiri perjuangan mereka.
Dari arah barat pasukan kompeni hitam (pribumi yang bekerja untuk kompeni), menerobos ilalang dan ikut menyerbu tanah lapang dengan bersenjatakan pedang dan tombak.
Ulong menatap ke tanah lapang lalu memutar kudanya hendak kembali. Dia melihat Datuk Indra Sakti berusaha berdiri disana, orang kepercayaannya Anwar telah tertelungkup disampingnya.
Sesaat pandangan Ulong terhalang tebalnya asap putih mesiu yang melintas. Dia hendak kembali menjemput Datuk, tapi putra memegang tali kekang kudanya menahan.
Setelah asap putih berlalu, Ulong melihat Suma memegang Datuk Indra, tangan kiri Suma memegang dagu Datuk lalu dengan tangan kanannya dia menggorok leher Datuk Indra sakti.
Ulong tak berkedip menyaksikan itu gemeretakkan rahang dengan geram.
Merasa sia-sia untuk kembali Ulong memacu kudanya mengikuti puluhan anggota laskar yang lain bergerak ke arah Utara menyelamatkan diri dari serangan pasukan kompeni.
Tak lama mereka bergerak, terdengar kembali dentuman meriam yang tadi sempat berhenti.
Peluru-peluru meriam menerabas rumpun bambu menimbulkan suara berderak batang bambu yang patah sebelum menyentuh tanah dan meledak.
Kepingan peluru meriam, hamburan tanah dan potongan-potongan bambu berterbangan kesana kemari melanda siapapun yang berada pada lintasannya.
Sekitar tiga ratus meter mereka memacu kuda melewati rumpun hutan bambu dan mereka tiba di tempat yang agak terbuka.
Ternyata dari arah samping segerombolan pasukan kompeni yang menunggang kuda telah berbaris menunggu, mereka melepaskan tembakan bersamaan, beberapa laskar di sebelah kanan berjatuhan dari kuda tertembak.
Laskar dan kuda-kuda berjatuhan dan saling bertabrakan, termasuk kuda Laksmi.
Ulong yang berada di belakangnya miringkan tubuh ke kanan dan dengan cepat meraih bahu Laksmi sebelum kekasihnya itu terjatuh ke tanah.
Ulong membawa Laksmi dalam pelukannya berkuda bersama laskar yang tersisa.
Laksmi sambil duduk di pangkuan Ulong membalas memanah berkali-kali menjatuhkan beberapa orang serdadu.
__ADS_1
Bedil kompeni walau lebih gampang digunakan di banding busur panah tapi cuma bisa sekali menembak, setelah itu harus diisi kembali sebelum di tembakkan.
Saat mereka sibuk mengisi ulang senapan, Awang muncul bersama dua orang temannya menyambar mereka dari samping, tombak Arman dan Awang berputar-putar menghantam kesana kemari menjatuhkan para serdadu kompeni, sedangkan Mat Kecik menebas siapapun yang mereka lewati.