
Letnan Heidrich bersama wakilnya sersan Jhon berkuda memasuki lapangan rumput yang barusan mereka bombardir.
Mereka masuk setelah pasukan infanteri yang menyerbu berhasil menguasai tanah kosong tersebut.
Mereka turun dari kuda dan melihat lapangan kecil tersebut dalam keadaan porak poranda.
Disana sini terlihat lubang-lubang besar bekas di hantam peluru meriam. Mayat-mayat bergelimpangan, baik mayat para laskar maupun mayat serdadu kompeni.
Bau asap mesiu masih tercium cukup menyengat di udara.
Tempat tadi para pejuang mengadakan rapat tinggal puing tak jelas lagi bentuknya, luluh lantak dihantam bola besi peluru meriam.
Terlihat beberapa pasukan mereka sedang membantu rekan-rekannya yang terluka, dan beberapa yang lain tengah memeriksa mayat-mayat yang tergeletak.
Sersan Jhon perhatikan ekspresi wajah pimpinannya yang terlihat kurang puas.
"Kita sudah menang komandan" ujarnya berusaha menenangkan.
Heidrich menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan kecil di depannya.
"Kerugian kita jauh lebih besar dari kerugian yang mereka derita sersan".
Jhon diam mendengarkan.
"Senjata, juga prajurit kita, dibawa begitu jauh dari Nederland kesini dengan biaya begitu besar. Dan kau lihat sendiri tadi betapa peralatan sederhana mereka sanggup mengimbangi persenjataan prajurit kita".
"Dari yang aku dengar sudah 23 tahun perang ini berlangsung, maskapai sudah mengeluarkan biaya yang tak terhitung untuk mengatasi perlawanan gerilyawan ini tanpa hasil maksimal", ujar Heidrich kepada bawahannya itu.
"Dan keberadaan kita disini tergantung bisa tidaknya kita mengatasi perlawanan ini. Itu lah tanggung jawab yang aku risaukan sebagai perwira militer" ujar Heidrich.
Seorang prajurit muda terlihat berlari kecil menuju ke arah mereka.
Prajurit itu berhenti di hadapan mereka, memberi hormat lalu melaporkan.
"Lapor komandan, 11 orang pasukan kita tewas, 5 orang kritis dan 23 lainnya terluka ringan".
"Apakah itu sudah termasuk prajurit lokal?" tanya Heindrich.
"Sudah komandan", jawab si prajurit.
"Berapa jumlah musuh yang tewas dan tertangkap?" tanya Heidrich.
"Musuh tewas 28 orang komandan, tidak ada satupun yang kita tawan" jawab si prajurit.
"Kenapa tidak ada satupun tawanan?" tanya Heidrich dengan gusar.
Prajurit itu menjawab "prajurit lokal mengeksekusi beberapa korban yang hidup komandan".
"Panggilkan Kesuma kesini" ujar Heidrich geram.
Si prajurit memberi hormat "Siap" katanya lalu pergi.
Tak lama Kesuma atau Suma yaitu mantan pengawal Datuk Indra Sakti datang menghampiri.
"Apakah anda paham kalau kita butuh tawanan untuk di interogasi yang mana tidak akan mungkin bagi kita menginterogasi orang mati?" semprot Heidrich begitu Suma tiba dihadapannya.
"Mereka dibunuh pasukanku karena mereka sudah sekarat, sia-sia menawan mereka", ujar Suma enteng.
Heidrich terlihat tidak puas dengan jawaban Suma.
"Saya adalah penanggung jawab disini, kenapa anda bertindak tanpa menunggu persetujuan saya?" tanya Heidrich.
__ADS_1
Suma menjawab sambil menyeringai, "tentunya aku paham hal itu, tapi ini adalah medan perang tuan, ada hal-hal yang perlu di putuskan dengan cepat, sedangkan anda tadi tidak terlihat berada di tengah peperangan memberi pengarahan".
Heidrich menarik napas dalam-dalam, tak tahu mau berkata apa lagi, dia mengangkat tangannya mengakhiri pembicaraan.
Suma pergi meninggalkan mereka kembali ke orang-orangnya.
Beberapa serdadu kompeni yang menunggang kuda terlihat berjalan mendatangi mereka dari arah Utara.
"Bagaimana?" tanya Heidrich tak sabar begitu para prajurit itu turun dari kudanya.
"Seluruh kavaleri yang mengejar tewas terbunuh komandan, hanya kami yang tersisa" ujar salah seorang dari mereka.
Heidrich kepalkan tangan geram. Hampir tiga puluh orangnya tewas hari itu.
"Sial, benar-benar sial" ujarnya.
⚜️⚜️⚜️
Tanpa henti Paijo dan Siti berkuda. Sekeliling sudah gelap apalagi saat ini mereka sedang berada di hutan lebat.
"Berbahaya memacu kuda dalam gelap seperti ini" pikir Siti, dia memelankan laju kuda.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Siti, Paijo berkata "Neng bukan kah lebih baik kalau kita menyalakan obor?"
"Iya bang, memang berbahaya kalau kita berkendara tanpa penerangan" jawab Siti.
Mereka turun dari kuda lalu Siti menghidupkan api dengan pemantik dari batu yang di lagakan.
Paijo diam dan memperhatikan sekeliling. Hanya suara jangkrik terdengar disana sini.
Siti menyalakan obor sebagai penerangan, "ini bang", ujarnya memberikan obor pada Paijo.
"Musuh yang tadi sudah terlalu jauh dan tidak akan melihat obor kita, yang aku kuatirkan musuh yang menyelinap dalam gelap", ujar Siti lalu menatap ke satu arah.
Berhentinya suara jangkrik secara bersamaan di sana menandakan ada sesuatu yang cukup besar sedang melintas.
Siti naik ke atas kuda lalu diam menunduk, dia coba mendengarkan untuk memastikan dimana musuh berada.
Paijo menatap Siti yang sedang diam berkonsentrasi, dia yang tidak merasakan dan mengerti apa-apa ikut diam menunggu.
Sepertinya ini yang ditunggu musuh, saat keadaan menjadi gelap pikir Siti.
Siti tak melihat ada kemungkinan lain selain menyerang lebih dulu lalu melarikan kuda secepat mungkin.
"Siapa kau yang mengikuti kami sedari tadi" bentak Siti.
Paijo kaget karena sedari tadi dia tidak mengetahui mereka sedang diikuti, dia melihat ke kegelapan ke arah Siti memandang.
Siti sudah memastikan arah musuh, sambil membentak diambilnya busur yang di sangkutkan di punggung lalu dengan cepat mencabut anak panah dan memanah ke arah kegelapan.
"Jrep", dalam gelap terdengar panahnya mengenai sesuatu.
Paijo duduk diatas kudanya memperhatikan, tangan yang memegang obor dia majukan ke depan untuk menerangi apa yang di panah oleh Siti.
Hening sesaat setelah Siti menembakkan anak panah, dia menatap tajam ke arah dia memanah barusan.
Aneh tidak ada suara benda yang terjatuh selayaknya anak panah mengenai sasaran pikirnya.
Lalu terdengar langkah berlari mengarah ke mereka, Siti dan Paijo mendengar langkah itu menerabas semak dan dedaunan.
Siti jepit perut kuda dengan kedua kaki agar berlari, dia tidak bisa memastikan berapa jumlah musuh dan siapa musuhnya, yang bisa dia pastikan adalah musuh terkena anak panahnya dan masih bisa mengejar.
__ADS_1
Kudanya melonjak dan berlari diikuti kuda Paijo.
Baru beberapa meter bergerak tiba-tiba kuda Siti yang berada di depan berhenti lalu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.
Siti hampir terjatuh kalau saja dia tidak berpegang erat pada tali kekang kuda.
Sesosok bayangan lompat menyeruak dari rerimbunan daun di hadapan mereka.
Deg.. jantung Siti dan Paijo sama nyaris berhenti karena kaget melihat makhluk yang muncul dihadapan mereka.
Seekor serigala sebesar lembu, dengan warna bulu sekelam gelap malam, berdiri menghalangi jalan mereka.
Serigala itu menyeringai menampilkan gigi-gigi runcing sebesar-besar jari orang dewasa. Air liurnya terlihat menetes dari pinggir mulut.
"Apes, makhluk apa ini", pikir Paijo.
Tubuhnya langsung menggigil melihat makhluk tersebut.
Seorang pria tua yang juga seram duduk menunggang di atas serigala tersebut. Pria tersebut tinggi kurus mengenakan mantel dari kulit harimau berwarna putih.
Wajahnya memiliki bekas luka menggores dari alis kanan melewati hidung hingga ke pipi kiri, seperti bekas cakaran hewan buas.
"Hebat sekali dirimu nona cantik bisa mengetahui keberadaan kami" ujarnya.
"Hahaha beruntungnya diriku, niat hati memburu laskar, tak kusangka bertemu bidadari secantik ini" ujarnya.
"Siapa dirimu orang tua, dan katakan apa keperluanmu mengikuti kami?" tanya Siti.
"Ooh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Ki Bayu Ireng".
"Keperluanku, hmm.. aku ingin memuaskan syahwat denganmu, hahaha" Ki Bayu menyeringai tertawa.
"Ma..Mak..sud mu aa..aapa tuan?" tanya Paijo dengan gemetar.
"Bodoh, maksudku aku akan membunuhmu, manusia gak penting. Setelah itu aku akan bersenang-senang menikmati tubuh wanita cantik ini" jawab Ki Bayu lalu menyeringai buas.
Paijo tersirap darahnya mendengar itu.
Dia majukan kudanya, dia bukan marah karena dibilang orang gak penting, yang dia marah adalah ucapan kurang ajar orang tua ini tentang Siti, dengan geram dia menjawab, "kurang ajar mulutmu orang tua, jangan kau berani-beranian mengganggu neng Siti ku" ujarnya, entah keberanian dari mana yang merasukinya.
Siti menatap keberanian Paijo dengan pandangan kaget. Dalam situasi sulit seperti itu tak sadar dia menyunggingkan senyum di bibirnya. Senang sekali dia mendengar ucapan dan sikap Paijo saat itu.
"Bang, mundur lah", ucap Siti pelan.
Dia tahu kalau Paijo akan membelanya mati-matian tapi tidak akan ada gunanya, musuh bukan lah orang biasa, bisa dipastikan Paijo hanya akan membuang nyawa sia-sia.
Paijo menatap Siti, lalu seperti tersadar. Dia mengangguk dan mundurkan sedikit kuda yang di tungganginya.
Keadaan tidak berpihak pada mereka, satu-satunya cara adalah mencoba melawan lalu melarikan diri pikir Siti.
Baru Siti berpikir begitu, tiba-tiba "srak, sraaak" terdengar dua kali belukar tersibak di kanan dan kiri mereka.
Makhluk yang barusan muncul tak kalah mengerikan dari makhluk sebelumnya, yaitu sepasang makhluk dengan bentuk serigala utuh, tapi berdiri di atas dua kaki.
Tingginya setinggi manusia dewasa berdiri. Tangannya panjang mirip dengan tangan manusia dengan kuku-kuku panjang beberapa inci keluar dari ujung-ujung jarinya, warna bulunya juga hitam sehitam bulu serigala raksasa yang ditunggangi Ki Bayu.
"Sial, tak mungkin lagi melarikan diri" pikir Siti.
Siti menatap Paijo yang terlihat lemas tak berdaya karena kemunculan dua makhluk lainnya.
"Kenapa kalian mendadak membisu?" ujar Ki Bayu menyeringai.
__ADS_1
"Sudah kita putuskan saja nona cantik ini ikut bersenang-senang denganku, kau akan ku rawat dengan baik sampai aku bosan".
"Sedangkan kau, aah aku tidak perduli denganmu, ku janjikan kau kematian yang cepat" ujar Ki Bayu menatap Paijo lalu tertawa.