
Setelah seluruh musuh tewas, Awang dan kedua orang kepercayaannya mencari kesana kemari di sekitar markas mereka untuk memastikan ada tidaknya korban lain.
Tapi tidak banyak yang mereka temukan, selain bekas-bekas perkelahian disana sini.
Juga tak ada tanda-tanda keberadaan Nilam, seolah bocah itu raib di telan bumi.
Awang benar-benar mengkhawatirkannya, tempat ini adalah hutan sehingga tidak mungkin bocah berumur lima tahun bisa bertahan hidup disini.
Dia membayangkan saat ini pasti Nilam sedang bersembunyi ketakutan
Gadis kecil itu sudah terlalu menderita dan Awang tak ingin sesuatu yang lebih buruk menimpanya.
Sementara itu Ulong dan yang lain mengumpulkan jenazah para laskar, mereka menggotong mayat-mayat dan membawanya ke halaman tempat tadi mereka bertarung.
Setelah itu Ulong dan Putra mengorek lubang seadanya untuk menguburkan teman-teman laskar Awang.
"Kita harus bergerak cepat, dalam tempo dua atau tiga jam kemungkinan pihak kompeni akan mengirim lagi pasukan kesini", ujar Ulong.
"Atau yang lebih parah, bila Ki Bayu kembali" batin Ulong, dia tidak berani mengungkapkan hal tersebut secara lisan. Itu dapat membuat teman-temannya was-was.
Setelah tidak menemukan apapun selain korban tewas disini Awang memutuskan menghentikan pencarian.
Dia meminta agar para wanita untuk berjaga beberapa ratus meter di sekitar barat laut untuk mengawasi siapa tahu ada musuh yang datang, karena tempat itu yang paling memungkinkan bagi musuh menuju kesini.
Sementara itu para para pria mengorek lubang dan menguburkan jenazah teman-teman mereka.
Dengan menggunakan peralatan yang diambil dari bangunan markas mereka bekerja dengan cepat tanpa berbicara, mengorek lubang lebar hingga sepuluh meter dengan dalam sekitar satu meter.
Sekitar dua jam kemudian setelah matahari lewat sepenggalah mereka selesai menguburkan seluruh jenazah laskar. Sedangkan jenazah prajurit kompeni mereka biarkan, karena menurut perkiraan, pasukan kompeni yang lain dalam satu atau dua hari ini pasti akan segera tiba disini dan akan membawa mayat-mayat teman mereka.
Mereka meletakkan batu-batu di sekeliling makam lalu Angku Razak memimpin doa untuk mengakhiri prosesi pemakaman.
Ulong mengukir sebuah batu besar sebagai penanda makam, dia menuliskan nama-nama mereka yang tewas disitu dengan belatinya, sementara Awang membacakan nama mereka satu-persatu.
⚜️⚜️⚜️
"Wilayah ini sudah sepenuhnya di kuasai kompeni. Kita tak mungkin bertahan disini. Jalan paling aman untuk kita lalui adalah ke Utara melewati laut, atau menelusuri pesisir melewati beberapa perkampungan di tepi pantai menuju Binjai", ujar Awang.
Ulong mengangguk mengiyakan.
Dengan ditemukan dan dihancurkannya persembunyian Awang disitu maka tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk bertahan, terutama dengan berkeliarannya Ki Bayu disana. Dan bila Ki Bayu sehebat seperti yang diceritakan Awang dan kedua temannya maka yang terbaik bagi mereka adalah menghindar karena mustahil untuk mengalahkannya.
Maka mereka pun berjalan kaki menerobos hutan hingga beberapa kilometer lagi menuju ke arah Utara mengikuti Awang sebagai pemandunya.
Awang berjalan di depan dengan Mardiani dan Salhah berjalan mengiringi.
Mereka turut berduka atas kehilangan Awang dan ingin berada disampingnya disaat seperti ini.
Putra berjalan di belakangnya bersama Angku Razak. Disusul Ulong dan Laksmi.
Sedangkan Mat Kecik berjalan paling belakang bersama Arman. Mereka yang biasanya selalu bergurau pun kini tidak terdengar sama sekali suaranya, tenggelam dalam renungan sendiri.
Menjelang sore mereka tiba di rawa-rawa tepian hutan bakau, angin terasa makin kencang bertiup menghembus ke wajah membawa aroma asinnya garam.
"Kalau kita menembus hutan bakau ini sekitar setengah jam ke depan, maka kita akan bertemu dengan selat Malaka", ujar Awang pada Mardiani dan Salhah.
"Ooh", ujar Mardiani melongok ke depan menatap gelapnya hutan bakau, sepertinya berkilo-kilo meter luasnya. Salhah bertepuk girang di dalam hati karena Awang sudah mau berbicara setelah berjam-jam terdiam membisu.
__ADS_1
"Kita berjalan kesana bang?" tanya Salhah.
Awang menatap gadis cantik ini lalu menjawab,
"sangat tidak disarankan untuk menelusurinya tanpa perahu, karena kita bisa terbenam di dalamnya. Belum lagi ada banyak ular bakau disini yang sangat berbisa, sekali terkena patukannya maka dalam hitungan detik orang akan mati".
"Ular selimpat juga banyak Wang", ujar Mat Kecik menambahkan, dia bersama Arman berdiri sebentar memperhatikan lalu melanjutkan berjalan.
Awang mengangguk tanpa menoleh, "iya sangat berbisa", ujar Awang.
"Hei ini apa?" ujar Salhah, dia memperhatikan sesuatu yang bergerak-gerak di tepi rawa.
Awang melihat hewan-hewan yang berkumpul di tepian rawa,"itu ciput, ada yang menyebutnya Umang-umang atau kelomang", ujar Awang.
"Berbahaya tak?", tanya Mardiani, kini dia berjongkok di samping Salhah memperhatikan.
Ulong dan Laksmi berdiri melongok, sebagai orang yang bermukim di gunung sudah pasti hal seperti ini adalah langka bagi mereka.
Ada banyak ciput disitu berkerumun dengan berbagai bentuk cangkang dan ukuran. Mardiani dan Salhah memperhatikan makhluk- makhluk kecil tersebut dengan senang.
"Tidak berbahaya kecuali yang sangat besar, jepitan capitnya bisa melukai", ujar Awang lalu mengambil seekor ciput dan meletakkan di telapak tangannya.
Ciput tersebut lalu bersembunyi di dalam cangkangnya.
"Dia masuk ke cangkangnya", ujar Salhah.
Arman dan Mat Kecik setelah berhenti sejenak memperhatikan perbincangan Awang dan kedua gadis, kini kembali berjalan menyusuri tepian hutan bakau ke arah barat. Putra mengikuti kedua orang ini di belakangnya.
"Makhluk ini tidak mempunyai cangkang sedari kecil, mereka merebut cangkang dari keong atau siput dan hewan laut lainnya", ujar Awang menjelaskan pada Mardiani dan Salhah.
Mardiani mengambil seekor yang agak besar lalu meletakkan di telapak tangannya, sama dengan yang di telapak tangan Awang makhluk ini pun buru-buru masuk ke dalam cangkangnya, hanya saja yang besar ini tergoda untuk mencubit telapak tangan Mardiani.
Ciput itu terlepas jatuh meninggalkan luka lecet di telapak tangan Mardiani.
Awang buru-buru memegang pergelangan tangan Mardiani lalu memeriksanya.
Sementara Salhah memperhatikan sambil memegang lengan Awang.
"Uhuk", Angku Razak terbatuk.
Awang tersadar lalu buru-buru melepas tangan Mardiani yang di pegangnya, dan Salhah pun melepas pegangannya di lengan Awang.
Mereka bertiga tersipu malu, Awang salah tingkah lalu pura-pura berjongkok melihat ciput-ciput disitu.
Kedua gadis terdiam dengan wajah memerah.
Angku Razak pura-pura tidak melihat dan berjalan mengikuti Arman dan Mat Kecik yang sudah berjalan di depan bersama Putra.
Ulong mengikuti mereka bersama Laksmi yang memalingkan wajah agar tak terlihat sedang tersenyum geli, setelah berjalan beberapa meter menjauh dicubitnya lengan Ulong.
"Sudah lah patik menyingkir dari tepian laut, tapi tetap saja ciput mencapit lengan", bisik Ulong.
Laksmi tersenyum geli lalu tinju bahu Ulong, "Ooh adik sekarang sudah dianggap jadi ciput pula, apa mau kena capit lagi", ujar Laksmi merengut manja lalu mencubiti lengan kekasihnya.
Ulong pun buru-buru menghindar sambil tertawa pelan.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Mereka beristirahat sebentar dan mengisi perut yang sudah demikian lapar karena sedari pagi belum memakan apa-apa.
Arman dan Mat Kecik menangkap banyak udang berukuran cukup besar.
Pada masa itu dimana laut belum rusak, untuk mencari udang atau kepiting tidak lah sulit.
Udang-udang yang besar berkumpul dan bertengger di tepian pohon-pohon bakau, sungutnya mencuat ke atas, sebagian bahkan menjulur hingga keluar dari air.
Dengan cekatan Arman dan Mat Kecik menarik sungut-sungut tersebut dan mengumpulkan udang di sebuah kain yang mereka bawa.
Mereka membuat perapian lalu mengelilingi perapian tersebut, setelah api menjadi bara mereka memanggang udang-udang dengan menusukkannya di ranting kayu seperti sate.
"Lezat sekali", ujar Salhah begitu dia memakan udang panggang di ranting yang di pegangnya.
Mardiani majukan wajah menikmati aroma udang panggang di ranting ditangannya.
"Sewaktu kami kecil dulu, kalau kami ke laut menangkap udang, kami tidak memasaknya tapi cukup mengupas kulitnya dan memakannya", ujar Awang menerangkan.
"Jorok abang ni lah", ujar Salhah.
"Sadis, kasihan mereka dikuliti hidup-hidup", ujar Mardiani.
Angku Razak hanya tersenyum mendengarkan mereka bercerita, senang rasanya melihat Awang sudah mulai bersikap normal setelah kejadian yang mereka alami.
Sedangkan Arman dan Mat Kecik hanya mendengarkan tanpa berkata apa-apa, putra duduk diantara mereka berdua menikmati udang panggangnya.
⚜️⚜️⚜️
Selesai mengisi perut dan beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka tiba diluar hutan bakau, lalu melewati banyak pohon kelapa.
Beberapa kelapa jatuh dari pohonnya, Awang dan Mat Kecik mengupas dan memberikannya pada rombongan untuk diminum air dan di makan daging buahnya.
Setelah berjalan beberapa lama melewati kumpulan pohon kelapa mereka tiba di pantai yang bersih dari pepohonan. Sejauh mata memandang terbentang hamparan pasir putih bertemu dengan birunya air laut.
"Pantainya indah sekali", ujar Mardiani kagum. Dia membuka kasut, mengikatkannya ke pinggang lalu kembangkan tangan dan berlari menyusuri pantai, Salhah melepas kasut yang dikenakan dikaki lalu mengejar sepupunya itu.
Mereka berlari dan berputar-putar menikmati sensasi kaki yang dibenamkan di pasir pantai.
Ulong dan yang lain-lain mengikuti mereka melepas kasut lalu berjalan menyusuri pantai.
Awang berdiri memperhatikan.
"Indah bunga-bunga di tamanku ananda", ujar Angku Razak berdiri di samping Awang.
"Eh Angku", ujar Awang gugup, dia baru menyadari Angku Razak berada disampingnya. Keringat dingin mengalir membasahi pipi Awang.
Tanpa memalingkan wajah memperhatikan anak dan ponakannya yang berlarian di pantai Angku Razak meneruskan kalimatnya.
"Kalau ananda hendak memetiknya silah, patik sebagai penjaga taman merelakannya, satu atau dua sekalipun, patik percaya ananda akan menjaganya dengan baik", ujar Angku Razak, di tepuknya bahu Awang lalu dia berjalan ke pantai.
Wajah Awang memerah, tubuhnya menggeletar. Dia yang begitu pemberani dan sanggup menertawakan bahaya kini tidak berani berkata apa-apa.
Awang juga menyukai kedua gadis tersebut, walaupun masih sebatas suka.
Mereka cantik, baik dan cekatan, walau usia mereka terpaut sepuluh tahun lebih muda dari usianya yang hampir menginjak tiga puluh.
__ADS_1
Riak gelombang menerpa pantai, meninggalkan buih di atas pasir. Sementara di langit sebelah barat matahari mulai turun dari tahtanya, untuk di gantikan bulan dan bintang.