
Seluruh pria bahu membahu, membangun jebakan di perkampungan ini.
Jala penangkap ikan di pasang di kebun-kebun, diantara pepohonan ubi kayu dan pohon pisang, juga disesemakan di luar perkampungan.
Pada jala digantungkan berbagai barang-barang dari besi, sendok, garpu, dan lain-lain, agar berbunyi bila ada yang menabraknya. Dengan begitu mereka akan dapat segera mengetahui di bagian mana jala yang mengenai sasaran.
Sedang para wanita menyibukkan diri dengan menyiapkan konsumsi. Hilir mudik kesana kemari. Para gadis laskar ikut membantu mereka dengan semangat.
Mardiani dan Salhah memarut kelapa, sedangkan Laksmi menggiling bumbu di dekat mereka.
Awang memperhatikan dari jauh, para gadis ini bekerja dengan riang sambil bercerita, sementara Laksmi mendengarkan sesekali ikut nimbrung. Entah apa yang mereka bahas, terlalu jauh baginya untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
Arman, Mat Kecik, dan Angku Razak juga ikut membantu para penduduk. Bersama-sama mereka mengangkat jala-jala nelayan lalu membantu para penduduk memasang perangkap.
Ulong dan Awang berjalan kesana kemari mengawasi pekerjaan agar semua sesuai dengan yang di rencanakan. Sesekali mereka ikut membantu memegangkan jaring yang di pasang, atau bantu mengikatkan ke tiang dan pohon.
Lewat tengah hari seluruh pekerjaan selesai, mereka lalu beristirahat dan duduk menikmati makan siang di tepi pantai. Dibawah sebuah tenda yang baru saja didirikan untuk tempat berkumpul.
Berbagai ikan, Udang dan kepiting disajikan, hasil kekayaan laut negeri ini.
Mat Kecik sampai melotot melihat makanan laut yang dihidangkan. Bolak-balik tadi dia melewati dapur umum, mencuri-curi pandang, kepingin tahu apa yang dimasak, dan kini akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, waktunya makan.
"Aku makan di dekat tempat masak saja, agar gampang kalau mau nambah", ujarnya.
Rustam sebagai kepala desa mempersilahkan hadirin untuk memulai makan.
Ulong duduk bersebelahan dengan Laksmi seperti biasa, menikmati hidangan dihadapan mereka, sedangkan Awang dikelilingi Mardiani dan Salhah, Angku Razak duduk tak jauh dari mereka.
Arman duduk sendiri tak perdulikan Mat Kecik yang tak berada di dekatnya, dia maklum tabiat temannya itu.
"Teringat ku, apa pernah Ki Bayu menyerang di siang hari?", tanya Ulong pada orang-orang yang ada disitu.
Semua orang, termasuk Awang dan Arman saling berpandangan dan angkat bahu.
"Kenapa Long?", tanya Arman.
"Sepertinya tanda yang ditinggalkan Pakcik Leman itu bukan bermakna Api", ujar Ulong.
"Jadi?", tanya Arman sambil mengunyah makanan.
"Melainkan cahaya dari api", sambung Ulong.
"Dia tidak pernah muncul di siang hari karena kelemahannya akan terbongkar di siang hari, apapun yang berkaitan dengan cahaya akan membongkar tipuan ilmunya", ujar Ulong menjelaskan.
Semua yang hadir disitu kaget, benar juga pikir mereka.
"Itu satu petunjuk baru, berarti dengan bantuan cahaya kita bisa mengetahui kelemahan Ki Bayu", Ulong menyimpulkan.
"Dan malam ini akan kita buat menjadi terang benderang", ujar Ulong.
"Wadaw!!" Mat Kecik memekik, serentak semua orang menoleh ke arahnya.
Seorang wanita barusan meletakkan baskom berisi kepiting yang belum dimasak di dekat Mat Kecik. Saking asyiknya makan Mat Kecik tak sadar lalu meraih kepiting yang masih hidup di baskom untuk diletakkan di piringnya.
⚜️⚜️⚜️
Tak terasa sore pun menjelang, sebagian pria membawa seluruh wanita dan anak-anak, juga orang-orang tua dan yang sakit menaiki sampan menuju ke laut.
Mereka tidak perlu terlalu jauh ke laut, sekedar agar Ki Bayu dan peliharaannya tidak bisa menjangkau mereka.
Sedangkan sisa sampan digunakan para pria lain untuk bersembunyi di laut tak jauh dari pantai, di tempat yang ada karang cukup besar mencuat keluar dari air.
Tak lama matahari bergeser ke persemayamannya, senja berganti dengan gelap malam berhias bintang-bintang dan bulan sabit.
Ulong dan yang lain segera menyalakan api unggun di beberapa tempat.
Obor-obor yang terpancang disana sini juga segera dinyalakan.
Perkampungan itu pun menjadi terang benderang. Ini dilakukan untuk memancing, agar Ki Bayu beranggapan bahwasanya para penghuni kampung sudah kembali.
Diluar rumah-rumah terang benderang sedangkan di dalam rumah-rumah sendiri tidak dinyalakan penerangan. Hal ini pun disengaja agar dari dalam rumah dapat melihat keluar sedangkan dari luar tidak dapat melihat kedalam rumah.
Para lelaki dan rombongan Ulong bersembunyi di tiga rumah deretan depan, karena itu tempat yang paling dekat dengan laut, dan paling aman, karena Ki Bayu tak mungkin menyerang dari laut.
Mereka menunggu di dalam rumah mengintip keluar dari celah-celah dinding papan, dan bergantian berjaga seperti arahan Ulong.
Suasana begitu sunyi malam itu, tidak ada terdengar suara apapun selain suara angin yang meniup pepohonan di luar.
Tidak terjadi apa-apa hingga lewat tengah malam. Begitu pun mereka tidak berputus asa dan tetap menunggu, mereka benar-benar bertekad untuk menangkap Ki Bayu yang telah meneror pesisir hampir sebulan ini.
Bergiliran para pria berjaga disaat yang lain beristirahat memulihkan tenaga.
Akhirnya, sekitar menjelang subuh terdengar suara serigala melolong panjang di kejauhan.
Mereka yang berjaga segera membangunkan teman-temannya yang sedang beristirahat.
__ADS_1
Tak sampai semenit terdengar lagi suara lolongan lain, kali ini makin dekat.
Mereka menunggu dengan tegang, seluruh orang yang berada di tiga rumah yang dijadikan persembunyian menyiapkan senjatanya.
Laksmi, Mardiani dan Salhah, telah bersiap dengan anak panah yang pada ujung dekat mata panahnya dibalut kain dan dibasahi dengan minyak kelapa.
Hening tak ada suara hingga beberapa saat.
Lalu terdengar suara gemerincing jaring yang di tabrak sesuatu di sebelah timur laut.
Suara gemerincing terdengar berkali-kali diikuti suara geraman binatang buas.
Satu suara lagi terdengar berderap berat, berlari dari arah barat menuju ke asal suara jebakan pertama berbunyi, lalu suara derap lari itu berhenti digantikan suara gemerincing jebakan lain disana.
Gemerincing itu terdengar berkali-kali, sepertinya makhluk yang terperangkap disitu berusaha membebaskan diri.
"Ini saatnya" batin Ulong.
Lalu dia berteriak dari persembunyian, "SERBUU!!", serentak seluruh orang yang bersembunyi berhamburan keluar dari rumah-rumah sambil membawa senjata dan jaring tambahan.
Laksmi, Mardiani dan Salhah keluar dari persembunyian menuju salah satu obor dengan masing-masing sebilah anak panah yang sudah disediakan sebelumnya di busur. Ujung anak panah mereka yang dililit kain tersebut dinyalakan di obor dan ditembakkan ke angkasa.
Dalam gelap malam terlihat tiga cahaya anak panah terbang ke angkasa, cahaya tersebut terlihat hingga jauh.
Itu penanda bagi para pria yang bersembunyi di sampan-sampan di balik karang. Begitu melihat tanda tersebut, mereka pun mengayuh perahu-perahu sekuat tenaga menuju pantai untuk bergabung dan membantu rekan-rekan mereka disana.
Mereka yang bersembunyi di rumah-rumah berpencar mengejar ke dua arah, asal suara gemerincing.
Ulong, Putra, dan Mat Kecik berlari ke arah suara gemerincing perangkap di sebelah barat diikuti belasan pria. Sedangkan sisa rombongannya bersama sebagian penduduk lainnya bergerak ke arah Timur Laut ke arah perkebunan.
Sesuatu yang sangat besar tampak di kegelapan menggeliat-geliat, berusaha membebaskan diri dari perangkap jaring nelayan. Para penduduk yang membawa obor menerangi makhluk itu.
Ini pertama kalinya Ulong melihat Ki Bayu dan peliharaannya. Ulong kaget dan beristighfar di dalam hati, dari bentuknya sudah jelas ini bukan makhluk dari dunia ini pikirnya.
Ki Bayu dan serigala raksasa yang di tungganginya berkutat tak bisa bergerak, terlibat jala nelayan.
Tubuh mereka berhimpitan dengan posisi Ki Bayu di atas tunggangannya terjepit rapat.
Seorang pria setengah baya dengan marah maju dan tebaskan goloknya.
"Hei tunggu jangan dulu" ujar Ulong.
"Dia memperkosa putriku dan membunuhnya", ujar orang tua tersebut dengan marah.
Beberapa penduduk lain ikut-ikutan menombak dan membacok tubuh Ki Bayu.
"Hentikan, kalian merusak jalanya", ujar Ulong.
Terlambat, Ki Bayu begitu jaring di bagian tubuhnya sobek di sana sini langsung mengambil kesempatan mencabut keris di pinggang.
Tidak hiraukan serangan bertubi-tubi ditubuhnya dia menyabetkan keris kesana kemari merobek-robek jala yang membungkusnya.
Setelah tubuhnya terbebas dan berhasil keluar dari jala, dia membalas serangan orang-orang yang mengeroyoknya.
Orang tua yang pertama membacoknya tersabet keris di bagian tangan yang memegang golok.
Pria tersebut mengaduh lalu lepaskan golok dan memegangi tangannya yang tersambar keris.
Dia bergerak mundur menjauh meninggalkan kerumunan.
Melihat itu para penyerang menjadi gentar dan menghentikan serangan.
Ki Bayu ambil golok yang jatuh ke tanah dengan tangan kiri.
Dengan kedua tangan dia sabet-sabetkan keris dan golok untuk membebaskan serigala raksasa yang saat ini sudah tergeletak tak bergerak karena terlilit jaring.
"Dhuak!!", sebuah tendangan telak mengenai rusuk Ki Bayu, Mat Kecik yang sedari tadi berdiam menunggu kini menerjangnya.
Walau tak bisa dilukai tapi Ki Bayu bisa di pentalkan dengan serangan fisik. Itu pengalaman yang diingat Mat Kecik sewaktu pertama kali dia menghadapi orang tua ini.
Keras sekali tendangan Mat Kecik, Ki Bayu terpental menyamping lalu terjatuh berguling-guling.
Golok terlepas dari tangannya, sedang keris masih di genggam.
"Tambahkan jaring ke serigala raksasa", perintah Ulong, para penduduk mendengar itu lalu melemparkan jaring tambahan untuk memastikan agar serigala raksasa ini tidak lolos seperti Ki Bayu.
"Sebagian lagi, ambil jaring yang tersisa untuk menjaring Ki Bayu!!" ujar Ulong.
Ki Bayu menatap Ulong dengan geram.
"Siapa anak muda ini"
"Bagaimana dia bisa mengenaliku", pikirnya.
"Seandainya aku terjaring lagi alamat aku takkan bisa selamat", batin Ki Bayu.
__ADS_1
Dia benamkan ujung kaki kiri ke pasir, lalu sapukan pasir ke arah penyerang.
Ulong angkat lengan untuk melindungi mata, beberapa penduduk terkena pasir lalu menunduk membersihkan mata mereka.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Ki Bayu, dia melompat mundur lalu lari terpincang-pincang menuju rimbunan pohon di selatan.
"Jangan di kejar",
"kita tidak tahu pasti apa yang disiapkannya disana", tahan Ulong.
"Ikat saja hasil tangkapan kita ini lalu gantungkan di tengah desa, dan kelilingi dengan obor", perintahnya.
Seandainya Ulong tidak melihat sendiri bagaimana Ki Bayu tidak bisa dilukai, tentu dia juga akan melepaskan beberapa belati untuk mencegah orang tua tersebut melarikan diri.
Putra, Mat Kecik dan para penduduk yang hendak mengejar menghentikan langkahnya mengikuti perintah Ulong.
Mereka beramai-ramai menyeret serigala raksasa yang sudah tidak dapat bergerak, ke arah pantai, serigala tersebut hanya bisa menggeram dan sesekali menyalak.
Tak lama Awang dan yang lain juga muncul sambil menyeret serigala jadi-jadian yang berhasil mereka tangkap.
"Mana Ki Bayu?" tanya Awang, sakit hatinya masih terasa akibat teman-temannya tewas dibantai orang tua tersebut
"Melarikan diri bang", ujar Ulong.
Para warga yang tadi membacok sehingga jala penjebak Ki Bayu sobek, menunduk malu.
Setelah itu Ulong memerintahkan penduduk kampung untuk mendirikan tiang untuk menggantung makhluk-makhluk ini, agar lebih leluasa mengamati.
Para pria mendirikan empat buah tiang di empat sisi membentuk persegi lalu keempat tiang dihubungkan dengan palang-palang kayu yang diikat di bagian atas dan bawah agar tidak goyang.
Serigala jadi-jadian yang masih terlibat jala mereka gantung disitu, sedangkan serigala raksasa terlalu besar untuk digantungkan maka dibiarkan saja tergeletak di pasir di dekat serigala yang di gantung di tiang.
Obor-obor di pajang di dekat kedua serigala, api unggun pun dinyalakan disekitar situ, agar mereka dapat mengetahui wujud sebenarnya para serigala ini.
Kedua serigala menggeram-geram tanpa henti tak dapat bergerak, terbungkus jaring nelayan.
⚜️⚜️⚜️
Tak jauh dari situ, Ki Bayu melarikan diri menerabas ilalang sambil mengumpat-umpat.
"Sial, benar-benar sial", geramnya.
Dia tak menyangka tipuan penduduk desa berhasil mengenainya.
Dia menyesali diri karena terlalu percaya pada kemampuannya sehingga lengah dan terperdaya.
Dia berlari terus ke arah selatan dengan harapan dapat menemukan patroli pasukan kompeni, agar mereka dapat membantunya membebaskan peliharaannya.
Tiba-tiba angin kencang berputar-putar di sekitarnya, menerbangkan daun-daun dan ilalang.
Ki Bayu menatap berkeliling, "jangan sekarang, jangan sekarang", ujarnya.
Ki Bayu terus berlari ke arah selatan dengan ketakutan, sesuatu yang sangat mengerikan sedang mengikuti bersama datangnya angin kencang. Dia tahu, itu bagian perjanjian yang pernah dia buat.
Tak lama terdengar suara menggeram samar-samar di tengah suara angin, suara menggeram itu makin lama makin jelas.
Ki Bayu kesulitan berlari dengan kaki kanan yang tidak utuh.
"Pecundang"
"Lemah"
"Pecundang"
"Lemah"
Suara itu terdengar dengan nada yang sangat berat menggema mengikuti dan mengelilingi Ki Bayu.
Lalu satu hembusan angin yang sangat keras menghantamnya hingga dia terjatuh.
⚜️⚜️⚜️
Sementara itu di tepi pantai,
Mendadak angin kencang bertiup di sekitar Ulong dan para penduduk, lalu petir mulai menyambar bersahutan.
Ulong dan yang lain menatap ke langit, terlihat disana langit yang tadi terang berhias bintang kini ditutupi awan bergulung-gulung.
Berkali-kali petir menyambar membuat mereka dapat melihat gulungan awan yang hitam dengan jelas.
"Berlindung, berlindung!!" ujar Awang, para penduduk berlindung di teras-teras dan di kolong-kolong rumah panggung.
Petir yang sambar menyambar tak lama di gantikan hujan yang sangat deras.
Obor-obor dan api unggun pun padam meninggalkan alam menjadi gelap gulita.
__ADS_1
"Sesuatu yang sangat jahat sedang melintasi tempat ini", ujar Angku Razak.
Awang menatap orang tua tersebut, dia pun merasakan keanehan akan keadaan alam ini.