Ulong Belati

Ulong Belati
Nilam Tersayang


__ADS_3

Beberapa prajurit kompeni datang berkuda memasuki markas sementara mereka di Klambir Lima.


Salah seorang dari mereka berkuda membawa seorang gadis kecil pribumi yang didudukkan di pelana sebelah depan.


Bocah perempuan itu terlihat ketakutan, terisak-isak mengusap-usap mata dan pipinya, tubuh dan rambutnya kotor berdebu disana sini. Pada lengan kanannya ada luka yang di balut dengan kain putih yang juga sudah kotor, ada warna merah bekas darah merebak di kain tersebut.


Setelah turun dan menambatkan kuda-kuda, si serdadu kompeni menggendong bocah perempuan tersebut lalu bersama seorang temannya berjalan menuju tenda komando.


Heidrich saat itu tengah berbincang serius dengan Jhon di dalam tenda, mereka menoleh bersamaan ketika prajurit penjaga masuk dan mengatakan ada prajurit patroli yang hendak bertemu.


"Suruh mereka masuk", ujar Heidrich.


"Siap komandan", ujar si prajurit lalu bergegas keluar.


Tak lama dua orang prajurit menyibakkan tenda dan menyeruak masuk, seorang diantaranya menggendong bocah perempuan yang sedari tadi mereka bawa.


"Lapor komandan", ujar salah seorang dari mereka.


Heidrich mengangguk sambil menatap bingung.


"Kami bertemu dengan dua orang di arah timur laut, kemungkinan laskar", ujar si prajurit.


"Kenapa kalian dapat menyimpulkan seperti itu?", selidik Heidrich.


"Mereka langsung menyerang begitu berpapasan dengan kami, dua orang anggota kita tewas dibunuh mereka" jawab si prajurit.


"Kami terpaksa menembak mati mereka karena tidak ada kemungkinan bagi kami untuk menangkap mereka hidup-hidup", sambung si prajurit.


Heidrich kerutkan alis berpikir, sangat aneh kalau laskar sampai bertindak seceroboh itu, apa yang terjadi?


"Mereka kepergok kalian?", tanya Letnan Heidrich.


"Itu yang aneh komandan, mereka berlari ke arah kami dan menyerang begitu saja disaat kami sedang melintas", jawab si prajurit.


Heidrich mengangguk, "berarti memang ada sesuatu yang membuat mereka lari dan bertindak ceroboh", pikirnya.


"Baiklah aku percaya kalian telah melakukan yang terbaik, beri penjelasan lebih lanjut nanti kepada sersan Jhon. Dan bocah ini, ada apa dengan dia?.." tanyanya.


Heidrich berdiri dari duduknya dan memperhatikan Nilam yang ketakutan, Nilam menunduk sambil menangis tersedu.


"Anak ini kami temukan bersama para laskar yang tewas, dia sedang bersembunyi di semak belukar", ujar si prajurit.


Heidrich menyibakkan rambut ikal Nilam yang panjang sebahu untuk melihat wajah si bocah.


"Tidak apa-apa anak baik, Pakcik cuma mau melihatmu", ujar Heidrich membahasakan dirinya Pakcik agar terasa akrab bagi bocah ini.


Heidrich menatap Nilam dengan pandangan iba, bocah ini begitu cantik walau dalam keadaan kotor, ada noda lumpur dan darah di pakaiannya.


Nilam menatap Heidrich sambil menggumam, matanya berkaca-kaca ketakutan. Letnan Heidrich penasaran lalu dekatkan telinganya ke wajah Nilam.


"Serigala.. Serigala.." gumam Nilam pelan.


Heidrich kaget.


"Serigala..Serigala!!!" teriak Nilam lalu berontak menjerit-jerit histeris.


Heidrich mengambil Nilam dari gendongan prajuritnya, di tepuk-tepuknya punggung bocah itu untuk menenangkan.


"Ssh..Ssh.. tidak apa-apa, tidak apa-apa", ujar Heidrich pada Nilam yang berontak.


Beberapa saat Heidrich menepuk-nepuk punggung Nilam, ada rasa iba dan sayang di hatinya pada bocah ini.

__ADS_1


Sersan Jhon dan prajurit lainnya hanya diam menunggu Heidrich membujuk si bocah.


Akhirnya Heidrich berhasil menenangkan Nilam, bocah itu berhenti menjerit lalu surukkan kepala ke dada Heidrich dan menangis terisak-isak.


Sambil menggendong dan menepuk-nepuk punggung Nilam, Heidrich memerintahkan prajuritnya yang berjaga diluar untuk memanggilkan buruh perkebunan wanita.


Si prajurit bergegas meninggalkan tenda komando lalu tak lama datang dengan membawa dua wanita pribumi berusia sekitar tiga puluhan masuk ke dalam tenda.


"Tolong anak ini kalian bersihkan, gantikan pakaiannya, kalau perlu belikan yang baru, beri dia makanan dan rawat".


"Apapun keperluannya nanti sampaikan padaku", ujar Heidrich.


Kedua perempuan pribumi tersebut mengangguk hormat.


Saat hendak menyerahkan Nilam kepada kedua orang perempuan itu Heidrich baru menyadari tangan Nilam yang dibalut kain putih.


"Ini, luka di tangan si bocah, apa yang terjadi dengan tangannya?", tanya Heidrich pada kedua prajuritnya.


"Tangannya sudah dibalut seperti itu semenjak pertama kali kami temukan komandan", jawab si prajurit.


Heidrich menyerahkan Nilam yang berada di gendongannya kepada salah seorang perempuan.


Di belai-belainya kepala Nilam untuk menenangkan, "Sebentar Pakcik lihat dulu lukamu, biar nanti di ganti kainnya", bujuk Heidrich.


Perlahan Heidrich membuka kain pembungkus lengan Nilam, terlihat ada luka goresan cukup dalam, bekas cakar hewan buas.


Letnan Heidrich menatap dengan geram, "lagi-lagi ulah Ki Bayu", ujarnya di dalam hati.


"Pantas saja penduduk pribumi makin membenci kami. Tidak cukup pihak maskapai saja yang mencaplok tanah mereka, kini orang-orang seperti Ki Bayu berbuat hal mengerikan dengan mengatas namakan kami", geram Heidrich dalam hati.


Letnan Heidrich menyuruh kedua buruh perempuan membawa Nilam untuk di rawat, dan memerintahkan kedua prajuritnya untuk keluar dari tenda dan kembali ke regunya.


⚜️⚜️⚜️


Karena tidak bisa melakukan apapun untuk melukai Ki Bayu, Letnan Heidrich yang begitu marah mengajak orang-orangnya meninggalkan lokasi pertemuan.


"Dasar orang tua gila!!", ujar Letnan Heidrich geram lalu memutar kuda berbalik.


"Kau tunggu hingga laporan tentangmu di terima pihak maskapai, maka urusanmu disini segera selesai!!" sambungnya lalu menggebrak kuda.


Sersan Jhon dan dua serdadu kompeni lainnya mengikuti komandan mereka meninggalkan tempat itu.


Jhon berkuda di samping Heidrich, dia menatap atasannya tersebut, begitu cepat Heidrich berubah pikiran tentang Ki Bayu, padahal sudah jauh-jauh mereka berkuda menemuinya.


Heidrich menoleh, seolah tahu apa yang dipikirkan anak buahnya dia berkata "aku hanya berbicara dengan manusia, dan dia bukan manusia", ujar Heidrich menjelaskan kepada Jhon alasan kepergian mereka.


"Siap komandan", Jawab sersan Jhon.


Jhon mengangguk paham, komandannya ini sejauh yang dia kenal adalah pria terhormat. Dia tidak akan menerima cara-cara yang melanggar moral dan etika. Dan Ki Bayu yang bodoh mempertontonkan kegilaannya di depan si komandan.


Ki Bayu berdecak kesal menatap Heidrich dan rombongan yang berkuda menjauh.


Suma menatap atasannya itu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Mereka pasti tidak menyadari dan mungkin tidak perduli kalau dia mencoba bertahan disini.


Suma pun tetap duduk diatas kudanya dengan tenang di hadapan Ki Bayu.


"Kau, kenapa kau tidak pergi bersama teman-temanmu?" ujar Ki Bayu heran.


Suma menyeringai, lalu berkata, "seharusnya kau paham posisimu orang tua".


"Tak perlu kau pamerkan kegilaanmu pada mereka, kau tidak akan mendapatkan rasa hormat mereka dengan bertingkah seperti itu", ujar Suma.

__ADS_1


Ki Bayu menatap tajam pada Suma. Dia justru menyalahkan orang ini yang tadi mengeluarkan ucapan pedas sehingga dia terpancing bertindak sembrono.


"Anak muda, tidak sulit bagiku untuk menghabisi mu disini kalau aku mau, kenapa kau masih berbicara seolah kau yang berkuasa?", tanya Ki Suma lalu meludah ke samping.


"Aah.. anda sudah begitu tua, tapi akal anda benar-benar tidak berguna", ujar Suma terkekeh.


Ki Bayu menggeram marah, dirabanya keris di pinggang.


"Hahahaha..", Suma tertawa terbahak.


"Hanya itu yang ada di akal mu orang tua, tak pernah perduli benar tidaknya ucapan orang lain, hanya seleramu yang kau ikuti. Bila dirimu kalah berdebat, kau gunakan kekuatan untuk menyerang", ujar Suma.


Ki Bayu terdiam melotot.


"Kau silahkan serang aku, tentu saja kau sanggup untuk itu. Tapi ingat, saat ini aku adalah seorang sersan di pasukan kompeni", ujar Suma.


"Kalau kau menyerangku itu berarti kau menyerang seluruh pasukan kompeni, dan kau akan jadi buruan", ujarnya terkekeh.


Benar juga pikir Ki Bayu, kalau dia membunuh pemuda bermulut besar ini maka apa yang dikatakan Letnan Belanda tadi akan jadi kenyataan, maskapai akan membatalkan perjanjian dengannya dan dia akan dianggap membangkang.


Lalu seluruh pasukan kompeni akan mengejarnya, dan apa untungnya baginya?


Ki Bayu menggeram kesal, di gemeretakkan rahangnya tapi tidak dapat berbuat apa-apa.


Suma tertawa penuh kemenangan di dalam hati.


"Sekarang setelah kau paham apa yang ku maksudkan, apa kau bersedia untuk mendengarkan saranku?" tanya Suma.


Ki Bayu walau terlihat enggan tapi tak bisa berkata apa-apa.


Suma sendiri sebenarnya tidak menyukai Ki Bayu, orang seperti ini merasa paling hebat tak terkalahkan, tidak akan mau mendengar perintah orang lain, dan pasti akan menyulitkan di kemudian hari.


Tapi melihat bagaimana tadi senjata api tidak mampu melukai Ki Bayu membuat dia harus berpikir ulang bagaimana cara menyingkirkan orang tua ini.


"Begini, kupikir apa yang kau lakukan masih bisa ditebus, tentu saja dengan kesuksesan" ujar Suma.


Ki Bayu diam menatap Suma.


Apa salahnya dia mendengarkan pikirnya.


Lalu Suma pun menjelaskan tentang informasi yang di dapatnya mengenai markas persembunyian Awang, dan berkata seandainya Ki Bayu menghancurkan markas tersebut maka itu akan mengembalikan posisinya semula di hadapan Letnan Heidrich.


Ki Bayu diam tidak berkata apa-apa saat Suma menjelaskan, tapi Suma yakin Ki Bayu akan melaksanakannya. Karena hanya itu pilihan yang dimiliki orang tua ini.


"Semua terserahmu, bukan kah kau yang tak terkalahkan?" ujar Suma lalu memacu kudanya meninggalkan Ki Bayu.


Suma memacu kudanya melintasi padang ilalang sambil menyeringai puas.


⚜️⚜️⚜️


Dan begitulah beberapa malam sesudah pertemuannya dengan Suma, berdasarkan informasi yang di terimanya Ki Bayu berhasil memporak porandakan markas persembunyian Awang dan kelompoknya.


Suma berhasil menyuruh Ki Bayu untuk menghancurkan markas tersebut tanpa harus kehilangan prajurit.


Lalu keesokan paginya dia memerintahkan sebagian orangnya kesana agar dia bisa mengklaim pasukannya yang menghancurkan persembunyian tersebut.


Sayangnya diluar dugaan, Awang dan rombongannya ternyata tidak tewas disitu sehingga pasukannya dibantai oleh mereka.


Begitupun Suma tidak habis akal, dia tinggal menyalahkan Ki Bayu atas tragedi itu.


Dan Ki Bayu dibenturkannya dengan Letnan Heidrich.

__ADS_1


__ADS_2