Ulong Belati

Ulong Belati
Kerajaan Sunggal Serbanyaman, dan Raja yang Diasingkan


__ADS_3

Ketika Sunggal di bawah kepemimpinan Datuk Abdullah Ahmad Surbakti (1845-1857) sebagai pengganti ayahnya menjadi raja Sunggal, ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sunggal (sekarang terletak di Jalan PAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Medan). Datuk Ahmad diberi gelar Datuk Indera Pahlawan Wazir Serbanyaman Ulon Janji. Pada masa inilah diresmikan nama Serbanyaman sebagai pengganti Sunggal.


Ketika Datuk Abdullah Ahmad Surbakti meninggal dunia pada tahun 1857, anaknya Datuk Badiuzzaman Surbakti masih berusia 12 tahun, maka atas musyawarah keluarga, Datuk Kecil ditugaskan untuk memangku kerajaan Sunggal sampai Datuk Badiuzzaman dewasa.


Karena lingkungan keluarga yang sangat anti Belanda atau anti penjajahan maka hal tersebut memberi pengaruh yang kuat pada diri Datuk Badiuzzaman Surbakti yang didampingi Datuk Kecil (pamannya, yang memangku kekuasaan hingga tahun 1866). Pada tahun 1866 kepemimpinan Kerajaan Sunggal dilanjutkan oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti pada saat beliau berumur 21 tahun.


Datuk Badiuzzaman Surbakti adalah lahir dengan nama lengkap Datuk Sri Diraja Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti. Beliau lahir di Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, pada tahun 1845. Ia merupakan putera dari hasil pernikahan Raja Sunggal, Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti dengan seorang perempuan bernama Tengku Kemala Inasun Bahorok.


Datuk Badiuzzaman memperistri seorang perempuan yang bernama Ajang Olong Besar Hamparan Perak, dan dari hasil perkawinan tersebut beliau mendapat keturunan lima orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yaitu Datuk Muhammad Mahir Surbakti, Datuk Muhammad Lazim Surbakti, Datuk Muhammad Darus Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, Datuk Muhammad Alif, Amah/Olong Br. Surbakti, dan Aja Ngah Haji Surbakti.


Datuk Badiuzzaman Surbakti merupakan seorang dengan memiliki rasa keingin tahuan sangat besar. Beliau belajar kepada siapa saja dan kemana saja demi menempuh ilmu yang dia ingin pelajari. Beliau belajar Bahasa Melayu di Sunggal dengan guru kerajaan dibawah bimbingan pamannya Datuk Muhammad Abdul Jalil Surbakti dan Datuk Muhammad Dini Surbakti. Beliau juga mendalami ilmu agama Islam diberbagai tempat, seperti di daerah Sunggal, Kota Bangun, dan Aceh.


Beliau menguasai Bahasa Arab dan Ilmu Tauhid, serta hukum syariat Islam, belajar pada beberapa guru dan ulama, salah satunya bernama Syekh Maulana Muchtar, penasihat spiritual kerajaan Sunggal di zaman Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti.


Sebagai sosok tokoh masyarakat, Datuk Badiuzzaman dalam kehidupan sehari-harinya dikenal sebagai seseorang yang berjiwa besar, dan rela berkorban. Dia memberi teladan kepada masyarakatnya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi rakyat Sunggal. Beliau juga selalu membina persatuan dan kesatuan lintas etnis, yakni Karo, Melayu, Aceh, Gayo, dan lainnya.


Sejalan dengan semakin kuatnya pengaruh Belanda di daerah Sumatera Timur (Deli), ambisi Deli untuk menaklukkan Sunggal terbuka lebar.


Ketika Sultan Deli menyewakan tanah-tanah subur di daerah Sunggal bagi kepentingan industri perkebunan pemerintah kolonial Belanda, maka hubungan Deli-Sunggal kembali memburuk.

__ADS_1


Perubahan cepat yang terjadi di Deli mencemaskan para penguasa Sunggal. Oleh karena itu, pada bulan Desember 1871 Datuk Badiuzaman Surbakti sebagai Raja Urung Sunggal Serbanyaman beserta seluruh kerabat dan orang-orang dekatnya, termasuk orang-orang pegunungan mengadakan rapat di sebuah kebun lada. Rapat itu dihadiri oleh Datuk Kecil (Mahini), Datuk Jalil, Datuk Sulong Barat, Nabung Surbakti sebagai komandan pasukan Karo dan pegunungan, dan Tuanku Hasyim mewakili Panglima Nyak Makam sebagai komandan Laskar Aceh, Alas, Gayo. Hasil rapat itu memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap Sultan Deli dan Pemerintah Belanda. Hingga meletuslah perlawanan rakyat Sunggal tahun 1872-1895.



Pada tahun 1872, bersama Sulong Barat dan Datuk Jalil, Datuk Kecil (paman dari Datuk Badiuzzaman) menyiapkan 1.500 pasukan. Perang terbuka meletus, namun kekuatan gabungan Deli-Hindia Belanda berhasil menangkap Datuk Kecil, Datuk Jalil, Sulong Barat, dan empat panglima perang Sunggal pada November 1872. Lalu setelah 10 bulan disekap di Riau, mereka pun dibawa ke Batavia.


Tertangkapnya para datuk dan panglima Perang Sunggal tak menyurutkan perlawanan. Dipimpin Datuk Badiuzzaman perang terus berkobar. Saking dahsyatnya, Hindia Belanda harus bersusah-payah. Tercatat pihak Belanda sampai mengirim tiga kali bala bantuan dari Batavia untuk memperkuat militernya.


Perang itu, bagi Kesultanan Deli adalah bagian dari upaya klasik untuk melemahkan kekuasaan Datuk Sunggal. Sebaliknya, bagi Sunggal perang ini adalah upaya mempertahankan hak dan kedaulatannya atas wilayah dan kemerdekaan rakyat Sunggal yang sudah dimiliki sejak lama, bahkan sebelum adanya Kerajaan Deli.


Perang ini terjadi setelah enam tahun Datuk Badiuzzaman menjadi raja Sunggal yaitu disaat beliau berusia 27 tahun, dan peperangan ini berlangsung hingga 23 tahun lamanya.


Pola perjuangan yang dipimpinnya adalah pola perjuangan gerilya dengan menghindari konfrontasi langsung dengan pihak musuh, dengan menggunakan daerah pegunungan sebagai medan pertempuran, aksi-aksi sabotase dilakukannya dengan cara membakar bangsal-bangsal atau pabrik-pabrik perkebunan yang dimiliki oleh Belanda setelah terlebih dahulu menempelkan tanda/cap “Musuh Berngi”.


Sedangkan koordinasi dengan komandan laskar pejuang dilapangan lainnya dilakukan melalui perantara kurir dari Istana Kerajaan Sunggal.


Sejarah telah mencatat bahwa Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti telah berhasil membuka akses perjuangan Karo dan Aceh, dengan sistem pembagian daerah pertahanan, dimana pasukan Aceh berkedudukan di sepanjang pesisir Langkat hingga ke pulau Kampai dan mengawasi Kejuruan Bahorok sampai memanjang di lereng Bukit.


Pasukan Sunggal menempati daerah Timbang Langkat, memanjang sampai ke Hamparan Perak, Tanduk Banua, Sapo Uruk, sampai Sunggal, sedangkan pasukan Karo memanjang dari Bukum-Buluhawar Pariama-Tuntungan-Padang Bulan sampai Sunggal.

__ADS_1


Pola pembagian zona ini tidak hanya berhasil membendung gerak maju pasukan musuh, tetapi kemudian menjalari rasa nasionalisme dan persatuan senasib serta sepenanggungan dalam mengusir penjajah Belanda.


Pada tahun 1895, Hindia Belanda mengajukan tawaran berdamai. Sebagai bentuk “keseriusan”, mereka mengundang Datuk Badiuzzaman untuk berunding dengan Gubernur Jenderal Carel Herman Aart van der Wijck di Batavia.


Tanpa curiga, undangan tersebut dipenuhi. Bersama adiknya (Datuk Alang Mohammad Bahar), sekretarisnya (Datuk Mahmood), dan ajudannya (Da’im), dia bertolak ke Batavia. Namun, setiba di Batavia, bukan perundingan yang mereka terima namun penghinaan.


Gubernur jenderal menyatakan akan memaafkan segala “kesalahan” Datuk Badiuzzaman jika mau bersujud di depan kakinya. Dan Datuk Badiuzzaman menolak mentah-mentah lalu berkata :


“Biar mati sekalipun, saya tak akan pernah jongkok minta ampun di depan orang-orang Belanda.”


Konsekuensi akibat penolakan itu, hukuman pun dijatuhkan. Datuk Badiuzzaman dan Datuk Alang dihukum buang seumur hidup, masing-masing ke Cianjur dan Banyumas.


Ketika kabar itu sampai di Sunggal, tiga bulan lamanya rakyat Sunggal menyatakan berkabung karena kehilangan raja yang begitu mereka cintai.


Datuk Badiuzzaman Surbakti berada di pengasingan hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Pamoyanan, Cianjur.


Sumber : berbagai sumber


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Pujo Prasetio


__ADS_2