
Tengah hari.
Angin laut terasa begitu sejuk menghampir ke darat, mengawal ombak hingga memecah di pantai.
Ulong berjalan menghampiri Awang yang berdiri di tepi pantai sedang menatap laut.
"Bagaimana bang?", tanya Ulong pada Awang.
Tanpa menoleh Awang menjawab.
"Walau perjuangan belum berakhir, tapi ada rasa lega di hatiku".
"Bukan karena kita berhasil membunuh dua peliharaan Ki Bayu, tapi lebih dari itu, kita telah berhasil melindungi penduduk dari teror mengerikan".
Lalu Awang menoleh ke Ulong dan tersenyum, "terima kasih saudaraku, kau telah memandu kami sejauh ini", ujarnya.
Ulong hanya tersenyum dan menunduk malu dipuji seperti itu.
Awang kembali menatap laut lalu menoleh ke Ulong.
"Ada baiknya kita tidak berlama-lama di sini, aku khawatir pihak kompeni menyisir sampai kemari dan menemukan kita, aku tidak mau para penduduk disini terlibat masalah", ujarnya.
"Aku juga berpikir demikian, tapi dengan kalahnya Ki Bayu harusnya jalan akan lebih mudah bagi kita bukan hanya untuk melewati pasukan kompeni, tapi juga untuk kembali beroperasi ", ujar Ulong.
"Maksudmu?" tanya Awang.
"Aku lihat para penduduk disini sangat ahli di laut, aku berpikir dengan sulitnya perjalanan kita di darat apakah memungkinkan bagi kita meminta bantuan mereka?" jawab Ulong.
"Tapi untuk itu aku mengandalkan pengetahuan abang karena abang yang lebih tahu situasi disini", ujar Ulong.
Awang membelalak kagum.
"Ide bagus itu Long, tapi bagaimana dengan armada laut kompeni?", tanya Awang bersemangat.
"Nah disitulah kita butuhkan keahlian para pelaut handal, armada laut kompeni tidak banyak, dan tidak akan ada armada kalau kita merusak kapal mereka atau mencurinya", jawab Ulong.
"Sama kita ketahui bahwa peperangan yang mereka lalui bertahun-tahun ini kebanyakan di darat, dan itu lah yang mereka persiapkan, serangan dari laut tidak akan mereka perkirakan", ujar Ulong menjelaskan.
Awang tersenyum lebar mendengar ucapan Ulong, memang luar biasa ide sahabatnya yang lebih muda darinya ini.
Ya selama yang dia tahu pihak kompeni lebih memfokuskan kekuatannya di darat untuk melindungi aset-aset perkebunan mereka. Mereka tidak terlalu kuat di lautan.
Dia pernah mendengar kisah dari beberapa pedagang antar pulau, bahwa di sebuah pulau bernama Selebes orang-orang dari suku Bugis yang sangat ahli di laut berkali-kali memporak porandakan angkatan laut kompeni.
Terdengar langkah-langkah kaki berlari mendekat, mereka menoleh dan melihat Mardiani dan Salhah berlari kecil menghampiri.
Kedua gadis tersebut sekilas terlihat mirip, baik wajah maupun pakaian. Mereka mengenakan baju terusan panjang selutut berwarna merah, di sisi kanan dan kiri baju terusan ada belahan untuk mempermudah gerakan. Lalu dibawah mengenakan celana panjang hitam di sambung kasut yang terikat hingga ke betis, sedangkan diatas mereka mengenakan kerudung hitam menutupi rambut yang ujungnya di lilitkan di leher.
Ulong hendak beranjak pergi karena takut mengganggu, tapi Awang menahan dengan memegang bahunya.
"Ini lebih berat dari perang Long", ujar Awang berbisik.
Ulong melirik Awang, nyengir tanpa berkata.
"Bang Awang lihat tangan kami", ujar Mardiani setibanya dihadapan Awang. Kedua gadis menunjukkan masing-masing dua gelang emas di tangan mereka, Awang memperhatikan tangan mereka bergantian.
"Hadiah dari Pakcik Rustam", ujar mereka berdua serempak dengan senangnya.
Ulong tersenyum-senyum mendengarkan celotehan dua gadis ini yang sahut menyahut, memamerkan gelang di tangan, dan memperhatikan Awang yang terlihat grogi seperti biasa apabila Mardiani dan Salhah ada didekatnya.
"Cantik kan?" tanya Mardiani manja. Awang mengangguk.
"Punyaku, cocok tak?", tanya Salhah.
"Benar-benar cocok di tangan kalian berdua", jawab Awang diplomatis.
Ulong menatap keceriaan mereka. Selain tampan, Awang begitu baik, juga sangat sabar meladeni gadis-gadis ini. Sikap yang Awang tunjukkan seperti paman kepada keponakan, mungkin karena usia kedua gadis terpaut jauh darinya, pikir Ulong.
Tapi sikap seperti itu pula sepertinya yang membuat para gadis ini betah di dekatnya.
Mereka benar-benar cocok, batin Ulong memperhatikan.
__ADS_1
Tak begitu lama Ulong melihat Rustam berjalan menghampiri mereka, dari jauh dia sudah tersenyum lebar.
"Terima kasih atas hadiahnya Pakcik", ujar Mardiani dan Salhah berbarengan begitu orang tua tersebut tiba dihadapan mereka.
Ulong dan Awang mengangguk hormat pada Rustam.
Rustam tersenyum pada kedua gadis itu, "sudah selayaknya bunga-bunga di beri hiasan untuk memperindah diri", ujarnya tersenyum.
Dia menoleh ke Ulong dan Awang, lalu tersenyum lagi.
"Ada apa gerangan Pakcik?", tanya Ulong melihat Rustam yang senyum-senyum.
"Kalaulah patik perturutkan, maka setiap orang di pesisir ini ingin mengundang ananda sekalian untuk dijamu di rumah mereka masing-masing sebagai ucapan terima kasih", ujar Rustam terkekeh.
"Tapi patik khawatir itu akan mengganggu urusan kalian, atau yang lebih parah akan mengundang datangnya masalah bagi kalian, jadi akhirnya kami putuskan untuk melakukan satu perjamuan saja sebagai ungkapan terima kasih kami, yaitu di kampung ini", ujar Rustam lagi.
"Jadi penduduk desa berharap, kalian jangan pergi kemana-mana dulu, nanti malam kami akan mengadakan perjamuan tersebut", tutupnya.
Ulong dan Awang saling melirik.
Kalau satu perjamuan tidak lah berbahaya, pikir Awang, apalagi mereka harus membicarakan apa yang diutarakan Ulong barusan pada penduduk desa.
Awang mengangguk lalu melirik Mardiani dan Salhah.
Kedua gadis menatap Awang lalu mengangguk, Ulong pun tersenyum lalu mengangguk.
"Nah gayung pun bersambut", ujar Rustam bertepuk tangan dan tertawa.
Dan begitulah sebagai rasa bersyukur karena desa-desa di pesisir ini telah terbebas dari teror, penduduk dari beberapa desa di sekitar pesisir pantai berdatangan menyiapkan acara perjamuan.
Para pria dan wanita dari desa-desa sekitar yang memang masih disitu meramaikan desa tersebut, mereka membantu sebisanya untuk mengadakan perhelatan. Suasana terasa begitu hangat dan penuh keakraban.
Anak-anak terlihat berlarian bermain kesana kemari dengan riang, sementara para pria membantu mengupas kelapa, menyiangi ikan dan lain sebagainya.
Mat Kecik senang sekali, bolak balik dia menyikut Arman melihat para perempuan yang sedang menyiapkan makanan, Putra yang belakangan ini sering bersama mereka cuma diam memperhatikan.
Dan malamnya sehabis isya perjamuan istimewa pun di buka, obor-obor menerangi perkampungan.
Orang tua yang sebelumnya di sabet keris Ki Bayu pun hadir disitu, Angku Razak berhasil memberinya penawar racun bagi warangan (arsenik), yang berasal dari keris. Saat itu si orang tua terlihat hadir duduk bersama mereka ditemani anak dan menantunya. Terlihat tangannya masih dibalut, walau masih ada rasa sedih, tapi sudah sedikit terobati dengan kalahnya peneror kampung mereka.
⚜️⚜️⚜️
Seminggu kemudian di kota Belawan.
Sebagai kota pelabuhan tempat ini sangatlah sibuk. Orang-orang terlihat berlalu lalang kesana kemari dengan berbagai keperluan. Pedati pengantar barang terlihat disana sini berjalan lambat menyusuri jalanan kering berdebu, beberapa kosong sedangkan beberapa penuh muatan.
Saat itu hampir tengah hari.
Suma yang berpakaian lengkap ala serdadu kompeni turun dari kudanya didepan sebuah gedung besar yang terletak di tepi jalan raya. Ada dua orang pelayan terlihat sedang berdiri di teras dekat pilar gedung, dia berbincang sebentar dengan seorang pelayan lalu menyerahkan tali kekang kuda pada pelayan tersebut.
Kedua pelayan itu memang sudah diperintahkan untuk menunggunya. Segera setelah seorang pelayan membawa kuda, seorang pelayan yang lain meminta Suma untuk mengikutinya berjalan memasuki gedung.
Suma pun mengikuti pelayan tersebut melintasi ruang depan yang cukup lebar dengan sofa yang mengelilingi ruangan. Terdengar lagu Belanda yang populer saat itu sedang di putar dari piringan hitam di sudut ruangan.
Seorang wanita Belanda duduk di hadapan meja di samping pintu masuk, wanita berambut ikal coklat kemerahan tersebut sedang menulis sesuatu dibuku besar di hadapannya, wanita itu hanya melirik sekilas lalu melanjutkan menulis.
Mereka melanjutkan berjalan melintasi lorong cukup panjang melewati tiga pintu yang terbuka disisi kanan. Terlihat ada beberapa pria pribumi dan Belanda sedang menulis atau memeriksa catatan pada ruangan-ruangan tersebut.
Setelah melewati tiga ruangan, mereka tiba diujung lorong yang mempertemukan dengan ruang besar lain yang memiliki balkon diatasnya. Balkon tersebut berpagar kayu yang di plitur berkilat. Pelayan membawa Suma menaiki tangga menuju balkon tersebut.
Lalu dari situ mereka mendapati dua pintu tertutup, mereka berjalan menuju pintu yang paling ujung.
Pelayan mengetuk pintu tersebut, terdengar sebuah suara bernada berat dari dalam, "masuk".
Pelayan di luar membuka pintu ruangan lalu mempersilahkan Suma memasuki ruangan.
Suma melepas topi yang dikenakan dan menentengnya, topi khas tentara kompeni yang pada bagian tengah atasnya berujung runcing. Lalu dia melangkah memasuki ruangan.
Di dalam ruangan terlihat empat pria Belanda berstelan jas, rapi, dan elegan, duduk dengan santai di beberapa sofa yang diatur posisinya berkeliling.
Dua orang dari mereka mengenakan jas putih sedang menghisap cerutu, empat buah jendela besar di dinding terbuka lebar untuk menyalurkan udara agar ruangan tidak menjadi pengap.
__ADS_1
Ada beberapa gelas berisi kopi di atas meja, dua buah asbak rokok dari keramik, pemantik, juga terdapat sebuah kotak cerutu dari logam yang berkilat terbuka tutupnya, terlihat batangan cerutu tersusun di dalam kotak tersebut.
Para pria Belanda ini adalah pejabat maskapai perkebunan di Sumatera Utara, para pemain penting yang menentukan jalannya perdagangan dan pemerintahan disini.
"Silahkan duduk", ujar seorang pria berkumis pirang dan tebal.
Suma menuju sebuah single sofa lalu duduk menghadap pria tersebut. Diletakkan topi tentaranya di pangkuan.
"Silahkan", ujar si pria lagi sambil menyodorkan kotak berisi cerutu pada Suma.
Suma menyeringai lalu meraih sebatang cerutu di kotak dan letakkan di bibir.
Seorang pria Belanda lain, berambut dan berkumis hitam yang duduk di single sofa di kirinya mengambil pemantik dari meja lalu membantu Suma menyalakan cerutu di bibirnya.
"Kami di tengah perbincangan ringan tentang kualitas tembakau dan pemasarannya di Bremen (Jerman)", ujar si pria berkumis tebal.
"Betapa begitu besarnya minat penduduk Eropa terhadap tembakau Deli ini", sambungnya.
Suma menyedot perlahan asap dari cerutu, merasakan sensasi asap tersebut mengalir ke paru-parunya.
Tak terbayang berapa banyak perjuangan yang dilakukan pihak Belanda demi benda ini, padahal yang dihasilkannya cuma asap semu, pikir Suma.
Tak begitu lama pelayan yang tadi mengantarnya memasuki ruangan sambil membawakan segelas kopi, setelah meletakkan cangkir kopi beralaskan piring kecil di meja pelayan tersebut membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan.
Setelah diam sesaat memperhatikan Suma, pria Belanda yang tadi membuka percakapan.
"Aku mendengar ada hal mendesak yang hendak tuan sampaikan beberapa hari lalu sehingga diadakan pertemuan ini, kalau kami boleh tahu hal mendesak seperti apa itu?", tanyanya.
Suma majukan duduknya lalu letakkan cerutu di tangan ke asbak terdekat, dan pasang tampang serius.
"Saya hendak melaporkan bahwa stabilitas keamanan sudah cukup terjaga dengan datangnya bantuan pasukan dari pulau Jawa", ujarnya memulai laporan.
"Dengan pasukan dan senjata tambahan yang tiba bulan lalu, kami berhasil menekan posisi para pemberontak hingga menjauhi aset-aset penting kompeni", sambungnya.
"Kami sudah dengar hal tersebut, tapi mendengarnya langsung dari anda yang merupakan prajurit lokal terasa begitu menyenangkan, karena anda yang lebih paham situasi disini", ujar si pria Belanda.
Suma tersenyum, "saya benar-benar menghargai kalau tuan sekalian paham hal tersebut, bahwa kami prajurit lokal lebih memahami situasi disini", ujar Suma.
"Tapi bukan itu alasan saya meminta pertemuan ini".
Suma menatap pada orang-orang di dalam ruangan, menyusun kata-kata lalu melanjutkan.
"Walaupun hal yang saya ingin sampaikan sebenarnya masih berhubungan dengan hal tersebut".
"Hal paling penting yang ingin saya minta pada tuan sekalian adalah agar menarik kewenangan Ki Bayu", sambungnya.
Para pria tersebut menatap Suma dengan tatapan menyelidik.
"Sebenarnya bukan cuma menarik kewenangannya, tapi lebih kepada kita harus menangkap atau mungkin menghabisinya", ujar Suma lagi.
Para pria Belanda di ruangan tersebut kaget. Seorang dari mereka yang sedang menghisap cerutu terbatuk.
"Maksud tuan?", tanya seorang dari mereka, kali ini yang bertanya adalah pria kurus yang berkaca mata.
"Situasi di sini berangsur terkendali dan kehadiran Ki Bayu disini dapat merusak keadaan tersebut", jawab Suma.
"Orang tua tersebut bertingkah semakin liar, membantai penduduk tak bersalah juga membantai belasan pasukan kompeni pribumi yang berada dibawah komandoku", sambungnya.
"Ada satu lagi kejadian sebelum itu, dimana dia juga terlibat pertengkaran dengan Letnan Heidrich, sehingga atasanku tersebut menyerangnya. Dari kejadian itu saya bisa perkirakan mungkin itulah alasan yang menyebabkan dia menyerang pasukan kompeni".
Lalu Suma menceritakan kejadian di malam dimana Heidrich saking geramnya berusaha membunuh Ki Bayu.
Para pria Belanda disitu mendengarkan dengan serius.
"Menurutku yang di katakan letnan Heidrich malam itu benar, dengan Ki Bayu bertingkah brutal seperti itu justru bakal menimbulkan perlawanan lebih sengit dari penduduk pribumi", ujar Suma lagi.
"Jadi apa yang bisa kami lakukan untuk membantu tugasmu?", tanya Pria Belanda yang berkumis pirang tebal.
"Berikan aku surat perintah untuk melakukan penangkapan Ki Bayu, surat itu akan kuberikan kepada Letnan Heidrich untuk meyakinkannya mengejar Ki Bayu", sambung Suma terkekeh di dalam hati.
Menurut perkiraan Suma, Heidrich tidak akan mungkin dapat mengalahkan Ki Bayu. Yang ada justru pihak kompeni akan dibantai orang tua tersebut, dengan begitu maka Heidrich akan dianggap tidak mampu menjalankan tugas. Lalu dirinya akan mengajukan diri mengambil kewenangan atasannya tersebut dan memerintahkan pasukan rahasianya memburu Ki Bayu.
__ADS_1
Dan, saat tugas tersebut berhasil sesuai yang direncanakannya, maka dia akan menjadi penguasa militer di wilayah ini.