Ulong Belati

Ulong Belati
Dendam Awang


__ADS_3

Leman memutar-mutar goloknya kesana kemari, mencoba menghalau dua ekor serigala jadi-jadian.


Benar-benar piawai Leman bertarung, goloknya berkelebat kesana kemari berputar-putar. Berkali-berkali dia berhasil menebas dan menusuk kedua makhluk menyeramkan itu walau belum membuahkan hasil.


Sama halnya dengan kedua makhluk yang menyerangnya, sekuat apapun mereka mencakar dan menggigit tidak juga berhasil melukai Leman sedikitpun.


Sementara itu Awang memutar otak, berpikir keras cara melawan musuh-musuh ini.


Dia dibantu dua temannya masih mengeroyok Ki Bayu.


Mereka menangkis saling melindungi dari serangan keris.


Sebuah tusukan diarahkan ke arah Awang membuatnya terpaksa melompat mundur hingga masuk melalui pintu terbuka ke ruangan dibelakangnya.


Hawa dari keris itu terasa dingin sewaktu tadi mendekati tubuhnya, jelas itu bukan keris sembarangan.


Ki Bayu mencoba mengejar Awang yang bergerak mundur tapi tombak Arman, anak buah Awang memukul dadanya.


Tombak yang digunakan Arman cukup efektif untuk menghalangi, hanya menghalangi tanpa mampu melukai.


Segera Ki Bayu disibukkan kedua orang anak buah Awang, sementara Awang sendiri melirik ke belakang mencari-cari apapun di dalam ruangan yang bisa dipergunakan untuk melawan.


Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana cara agar dia dan anak buahnya yang tersisa dapat mengalahkan musuh, atau seandainya tidak bisa maka dia harus temukan cara kabur dari sini.


Dia melihat ke arah tungku dan serokan arang, di ambilnya serokan tersebut lalu sendokkan kedalam tungku mengambil bara di dalamnya.


Ki Bayu maju dan berhasil menangkap tombak yang ditusukkan Arman ke arahnya dengan tangan kiri. lalu menyabetkan keris di tangan kanan ke arah Arman.


Arman tak bisa menghindar lagi, waktunya terlalu sempit. Begitu cepat dan begitu dekat Ki Bayu menyerang, yang dituju adalah tenggorokan.


"Modar!!!" ujar Ki Bayu.


Di saat genting itu Mat Kecik melompat lalu sebuah tendangan di sarangkannya, telak mengenai rahang Ki Bayu.


Ki Bayu terhuyung mundur, Arman yang lolos dari maut melihat kesempatan, dicondongkan tubuhnya ke depan lalu mendorongkan tombak dengan tangan kanan sejauh mungkin. Tombak mengenai dada Ki Bayu, bukan cuma menusuk tapi juga mementalkannya membentur dinding tepas, menerobos masuk ruangan lalu jatuh telentang.


Sebelum lawan berdiri, Awang menyiramkan bara di dalam serokan ke tubuh Ki Bayu.


Spontan Ki Bayu menepiskan tangannya, potongan bara memercik kesana kemari.


Panasnya bara langsung membakar dinding tepas yang ditindih tubuh Ki Bayu.


Awang mengangkat meja dan menimpakannya ke atas tubuh Ki Bayu yang kelabakan karena disiram bara.


Mat Kecik menyusul masuk ruangan, melompat dan menginjak meja yang menimpa Ki Bayu.


Awang tak mau menyia-nyiakan kesempatan, di seroknya lagi bara dalam tungku dan curahkan lagi ke arah Ki Bayu.


Arman dan Mat kecik mengangkat besi landasan untuk menempa dan ditimpakan ke atas meja yang menindih tubuh Ki Bayu.


"Ayo lari', ujar Awang kepada kedua temannya.


"Pakcik ayo ikut, cepat", ujar Awang berteriak sambil berlari.


"Iya", jawab Leman singkat.


Sambil berlari keluar halaman Arman melemparkan tombaknya ke arah seekor serigala jadi-jadian.


Lemparan tombak Arman telak mengenai perut seekor serigala, membuat nya jatuh terduduk.


Awang dan yang lain-lain berlari menerabas semak belukar menjauhi rumah Ncik Dolah yang mulai terbakar.


"Cepat, lari", teriak Awang pada Leman, dia masih menyempatkan diri menoleh ke belakang.


"Iya", ujar Leman lalu bergerak mundur.


Menyangka Leman telah mengikuti, Awang menyusul dua anak buahnya yang sudah berlari di depan.


Sebuah terkaman pada pinggang menjatuhkan Leman, dengan cepat dia berguling ke samping.


"Aku tidak mungkin lari", pikir Leman. "Pergilah saudara-saudaraku seperjuangan, aku akan memberi kalian waktu untuk melarikan diri", ujarnya dalam hati.


Sebuah sabetan cakar berhasil di hindarinya, cakar makhluk itu menggores dengan sangat dalam ke tanah. Leman berkelit lalu berusaha berdiri. Makhluk satunya menerkam, Leman melompat menyamping lalu memutar tubuh dan ayunkan golok.


Makhluk yang ditebas golok justru membuka mulut lalu menggigit golok Leman dan menahannya disana.


Leman mengguncang-guncang sekuat tenaga agar golok terlepas tapi makhluk itu menggigit sangat kuat tidak mau melepaskan.


"Grrraah.." tiba-tiba dari belakang, serigala raksasa yang sedari tadi sibuk memangsa Hamid kini menerkam dan menggigit tengkuk Leman.


Leman tidak lagi bisa bergerak, tangannya menggapai-gapai tanpa arti, goloknya sudah terlepas, menyangkut di mulut serigala jadi-jadian. Dengan tinju dia memukuli serigala raksasa yang menggigit tengkuknya.


Serigala raksasa menarik Leman menjauhi terangnya api. Dua serigala jadi-jadian mencakari dan menggigit sekujur tubuhnya.


Pakaian Leman tercabik-cabik compang-camping tak karuan walau belum ada luka pada tubuhnya.


Sementara itu api sudah menyala besar dibangunan, Ki Bayu dengan susah payah mencampakkan benda-benda yang menimpa tubuhnya lalu melompat keluar, terdapat beberapa luka bakar pada tubuhnya.


Pakaiannya juga berasap disana sini.


Leman melihat itu, "sepertinya api memberi efek pada mereka", pikirnya.

__ADS_1


Ki Bayu berteriak menggelegar saking marahnya "Aaaarggh..", dia benar-benar murka akibat perbuatan Awang dan kawan-kawannya. Dihunusnya kerisnya lalu dia menerjang maju dan tancapkan keris di dada Leman.


Leman mungkin saja tidak bisa dilukai oleh makhluk-makhluk ini, tapi keris Ki Bayu bukan keris sembarangan.


Keris Nogo Ireng berhasil menembus tubuh Leman bersarang tepat di jantungnya.


⚜️⚜️⚜️


Awang dan teman-temannya berkumpul di sebuah rumah panggung yang ditinggalkan pemiliknya di tepi sungai.


Tempat ini selalu menjadi titik pertemuan bagi dia dan orang-orangnya.


Awang duduk di depan pintu, menunduk. Beberapa orang anak buahnya berjaga di luar rumah panggung, sebagian lagi di suruhnya beristirahat di dalam.


Masih terlalu gelap untuk berjalan pulang, lagi pula bisa saja Pakcik Leman menyusul pikir Awang.


Beberapa saat lalu karena panik tidak satupun dari mereka menyadari kalau Pakcik Leman tidak bersama mereka.


Awang baru menyadari setelah cukup jauh mereka berlari.


Malu sekali rasanya meninggalkan teman seperjuangan dalam bahaya. Dia berbalik arah lalu berlari kembali menuju rumah Ncik Dolah. Tapi kedua temannya menahan sekuat tenaga dan terpaksa menyeretnya.


Awang terduduk di depan gubuk bersandar bahu ke kusen pintu, dadanya terasa berat karena geram dan sedih, rasanya seperti ada yang menggumpal didalam dada dan tak mau keluar.


Dia masih tidak terima teman-temannya tewas dengan cara seperti itu.


Tak lama karena begitu letih jiwa dan raga dia tertidur begitu saja dalam keadaan bersandar di pintu.


Cukup lama Awang tertidur sebelum dia bermimpi melihat serigala jadi-jadian dan serigala raksasa mencabik-cabik teman-temannya.


Serigala itu mendatanginya dengan mulut penuh darah.


Dia terjaga begitu mendengar suara bocah perempuan yang dibawa Ruslan mengigau lalu menjerit-jerit.


"Ssh.. ssh.. tenang, gak ada apa-apa, Paman disini menjagamu, tidur saja lagi" terdengar suara Ruslan membujuk bocah itu agar kembali tertidur.


Bocah itu memeluk lengan Ruslan erat-erat lalu kembali pejamkan mata.


Masih gelap diluar, Ruslan kembali bersandar ke dinding gubuk sambil membelai-belai kepala si bocah.


Awang yang sudah terbangun menyuruh orang-orangnya yang berjaga untuk beristirahat.


"Biar aku yang gantian berjaga, kalian istirahat lah" ujarnya.


Di dalam hatinya dia masih berharap setidaknya Pakcik Leman menyusul mereka disini.


⚜️⚜️⚜️


Matahari sudah terbit, Awang membangunkan sebagian orang-orangnya yang masih tertidur.


"Kalian yang lain beristirahat dulu, sebagian cari makanan untuk sarapan, setelah itu jangan tunggu kami, langsung kembali saja ke markas" perintah Awang.


Teman-teman Awang mengangguk mengiyakan.


Awang dan dua anggotanya berjalan menyusuri kembali jalan yang tadi malam mereka lalui.


Mereka melanjutkan perjalanan tanpa berbicara apapun karena sama-sama sedang gundah.


Setiba di rumah Ncik Dolah, rumah itu sudah ludes terbakar, hanya beberapa tiang membara tertinggal disana sini.


Jenazah Hamid, Uncu Aswin tergeletak di halaman.


Di tengah halaman tertelungkup tubuh Pakcik Leman, pakaiannya sobek disana sini bekas terkena cakar. Awang membalikkan jenazahnya dan melihat luka menganga di dada.


Awang bersimpuh tepekur di hadapan jenazah teman-temannya.


Sejenak dia terdiam seperti itu, sementara Mat Kecik dan Arman pergi ke sumur.


Mereka membopong tubuh istri Ncik Dolah dari belakang rumah dengan hati-hati agar tidak bertambah bagian tubuh yang terlepas.


Mereka membawa dan membaringkan tubuh wanita malang tersebut di halaman rumah.


"Wang lihat", ujar Arman. Awang melihat dengan pandangan nanar, tersentak dari lamunan.


Arman menunjuk ke tanah.


Di tanah di tempat tadinya Leman tertelungkup, pada bagian tempat tangannya sebelumnya tergeletak, ada gambar di tanah.


Awang memperhatikan gambar tersebut, seperti gambar lidah api, mereka bertatapan dengan heran.


"Sepertinya Pakcik hendak menyampaikan sesuatu, sayangnya dia tidak bisa menulis" ujar Mat Kecik.


"Mungkin saja, cuma kita tidak tahu maknanya" jawab Arman.


Mereka terdiam kembali, dan tidak membahas lebih lanjut kejadian itu.


Awang berdiri lalu mengajak kedua temannya untuk mengurus jenazah.


Mereka bersama-sama mengorek lubang seadanya sekedar cukup untuk memasukkan jenazah agar tidak diganggu hewan liar.


Lewat tengah hari baru mereka selesai mengorek lubang untuk makam.

__ADS_1


Dua lubang berdampingan untuk Ncik Dolah dan Istrinya.


Sedangkan sedikit jauh tiga lubang berdampingan untuk ketiga teman mereka.


Setelah kelima orang itu dikuburkan, Awang membacakan doa, beberapa tetes air mata jatuh ke pipinya.


Mereka meletakkan nisan dari kayu dan beberapa batu sebagai penanda makam.


Lalu Awang dan kedua temannya berjalan perlahan, pulang menuju markas mereka.


⚜️⚜️⚜️


Tiga hari kemudian di Bahorok, matahari baru mulai bersinar.


Ulong sedang duduk menikmati kopi dan ubi rebus bersama teman-temannya di Aula.


Sehabis sarapan mereka berencana akan berangkat menuju suatu tempat dipinggiran kerajaan sunggal karena ada pertemuan bagi pimpinan laskar yang harus mereka hadiri.


Pertemuan ini diadakan untuk menyikapi bala bantuan kompeni yang tiba lima hari lalu, juga untuk berbagi informasi apapun yang mungkin berguna bagi perjuangan.


Beberapa pria sudah menambatkan kuda-kuda diluar menunggu mereka yang sedang sarapan, jumlahnya lima ekor.


"Perjalanan ini lumayan jauh, sekitar satu hari bila berjalan kaki, atau setengah hari bila berkuda" ujar Ulong menjelaskan pada Parman.


Lalu Ulong membahas beberapa hal lagi dengan orang-orangnya, termasuk Mak Bedah soal logistik, dan lain-lain.


Laksmi duduk disamping Ulong, Putra dan beberapa orang lagi duduk bersandar di dinding ruangan sebelah kanan.


Siti duduk tak jauh di hadapan mereka menikmati hidangan, sedangkan Paijo seperti biasa duduk di samping pintu menunggu apapun untuk di kerjakan.


Ulong dan hampir seluruh orang disini menyukai Paijo karena dia selalu berusaha membuat dirinya berguna, bahkan hal-hal remeh sekalipun akan dikerjakannya dengan sukacita.


Selesai sarapan, Siti keluar lalu berdiri di samping rumah besar.


Dia berdehem sewaktu Paijo lewat. Paijo sedang membawa piring kotor hendak di antarnya ke belakang. Paijo membungkuk hormat, dan cuma berkata "neng", lalu berjalan kembali.


Ini orang nggak ngerti isyarat pikir Siti. Ngomong kek, atau khawatir kek, aku kan mau pergi agak jauh batinnya.


"Bang tunggu".


Paijo berhenti, berdegup kencang jantungnya.


Malu-malu Siti lalu berkata,


"bang, Siti mau pergi menemani Ulong dan yang lain-lain.


"I.. iya neng" jawab Paijo grogi.


Mereka berdiam sesaat tak tahu mau berkata apa lagi, Siti lalu tersenyum dan melangkah menuju ke teman-temannya.


Setelah berjalan beberapa langkah, "Urrggh.. " ujarnya sambil mengepalkan tangan, Siti kesal karena sesingkat itu perbincangan mereka.


Ulong dan Laksmi sudah duduk diatas kuda masing-masing, berdampingan mereka menjalankan kuda perlahan menjauh, lalu berhenti mengamati orang-orang di belakangnya.


Putra juga sudah duduk diatas kuda tapi masih diam di dekat dua kuda lainnya tertambat.


Pagi itu Laksmi mengenakan kerudung hitam, baju berwarna merah tua, dengan celana hitam, di bagian luar dia mengenakan sarung yang dilibatkan ke pinggang, rencong terselip di pinggang kiri, golok di pinggang kanan, dan anak panah disandang.


"Cantik sekali Laksmi pagi ini".


"Sepertinya hujan tak akan turun, benar-benar hari akan cerah" ujar Ulong berbisik tanpa menoleh.


Laksmi tersenyum mendengar ucapan Ulong.


"Indahnya si abang berpuisi, mendengarnya seolah-olah perang telah usai" balas Laksmi juga berbisik.


Ulong tertawa tanpa suara mendengar jawaban kekasihnya yang jelita.


Siti pun naik keatas kudanya, dia lirik Laksmi yang tersenyum-senyum menatapnya.


"Eh kita menunggu siapa lagi?" ujar Siti menyadari bahwa mereka belum berangkat juga setelah dia naik ke atas kudanya.


Satu kuda masih terlihat kosong.


Tak lama Paijo muncul tergopoh-gopoh dengan membawa buntalan kain.


Dia letakkan buntalan itu di punggung kuda lalu dia dengan grogi seperti biasa menaiki kudanya.


Ulong memalingkan wajah, dia khawatir Paijo terjatuh.


Setelah sesaat baru dia berani melirik, ajaib kali ini entah kenapa Paijo tidak ceroboh dan terjatuh.


Muka Siti memerah, "kenapalah tadi aku musti berpamitan, kalau si abang pun ternyata ikut.


Putra, adiknya, cuma tersenyum tipis lalu menjalankan kudanya, pura-pura tidak melihat ekspresi Siti yang berubah dengan munculnya Paijo.


Walau jadi malu tapi hati Siti girang.


Dia menoleh ke arah Laksmi yang tersenyum menatapnya.


"Ini pasti ulah Laksmi", batinnya.

__ADS_1


"Uurgh.. kenapa dia tidak memberitahuku" batin Siti gemas.


Mereka berangkat berlima dengan Ulong dan Laksmi di depan, Putra di tengah dan Siti di belakang menemani Paijo yang kesulitan menunggang kuda.


__ADS_2