
Perkemahan kompeni porak poranda, kuda-kuda berlarian kesana kemari karena palang-palang tempat mereka di tambatkan patah berantakan. Beberapa kuda tergelimpang turut menjadi korban.
Beberapa perajurit berusaha menjauh sambil mengisi senapan-senapan mereka sementara teman-temannya bertarung menggunakan bayonet dan pedang.
Mayat-mayat serdadu kompeni berserakan, beberapa tubuh bertumpuk saking banyaknya jumlah yang tewas, dan beberapa yang lain jatuh ke dalam sungai lalu mengambang terbawa air.
Amis darah bercampur asap mesiu mewarnai senja itu. Tembakan, jeritan kesakitan dan denting baja beradu berlomba mengisi pendengaran.
Ni Gaok dan pengawalnya benar-benar haus darah.
Setelah menyabet-nyabetkan cemeti kesana kemari menjatuhkan beberapa orang sekaligus dalam setiap sabetan, Ni Gaok menarik cemeti tersebut lalu menggulungnya dengan satu tangan, lalu ujung cemeti dia jentikkan untuk menyerang lawan dengan jurus sembilu pembelah jantung.
Dua orang sekaligus prajurit kompeni tertembus cemeti yang di jentikkannya. Satu tepat di dada kiri dan satunya di bahu kanan.
Dia menoleh ke arah seorang pengawalnya yang sedang ditembaki lima serdadu kompeni, ditarik kaki kanannya menjauh ke belakang lalu melompat maju sambil berputar dan lesatkan cemeti dari tangan kanan ke arah penyerang, "crash, crash", dua orang prajurit kompeni terjatuh dengan luka dipaha dan di perut. Langsung di sambut oleh pengawalnya menggeprak bagian atas kepala dengan dua tangan.
Seorang dari pengawalnya yang lain mencengkram leher seorang serdadu lalu mengangkatnya sehingga kaki si serdadu terjuntai tak berpijak, dilanjutkan si pengawal meremas lehernya "krtk krak, Aahk", si serdadu meregang nyawa dengan leher remuk.
"Iblis!!", ujar prajurit yang lain lalu tusukkan pedang di tangan ke perut lawan. Pengawal Ni Gaok yang ditusuk justru majukan diri hingga pedang lawan menghunjam lebih jauh dan menembus tubuhnya.
Jelas prajurit tersebut melihat wajah si pengawal yang begitu dingin tanpa ekspresi, "bu..bu..kan ma..nusia", ujarnya ketakutan. "Prak!!", kepala si prajurit pecah di pukul dari atas oleh si pengawal.
Sementara itu sekitar tiga kilometer dari perkemahan Heidrich masih terlibat tenda di dalam air, dia berusaha melepaskan diri tanpa tahu telah dibawa arus begitu jauh.
Ada bagian tenda yang menggembung berisi udara, sambil berusaha melepaskan tali tenda yang melilit kaki dia mengambil napas dari situ.
Di cabutnya pedang dari pinggangnya lalu sabetkan ke tali di kakinya, tali tersebut berhasil diputuskannya, lalu dengan pedangnya juga dia mengoyak tenda yang menutupinya.
Begitu tenda terkoyak dan dia berhasil memunculkan kepala, tanpa sadar dirinya ternyata hanyut mengarah ke sebatang pohon besar yang tumbang melintang di sungai, lalu "Bletak!!", tengkuknya terhantam batang pohon tersebut dan pandangannya perlahan menjadi buram dan dia pun tak sadarkan diri.
⚜️⚜️⚜️
Ni Gaok dan kelima pengawalnya memeriksa perkemahan. Terlihat seorang prajurit yang merangkak menjauh di sesemakan berusaha menyelamatkan diri. Seorang pengawal Ni Gaok segera mengejarnya.
Prajurit tersebut mendengar langkah si pengawal mendekat dan dia balikkan tubuh menatap dengan takut, "tolong jangan bunuh aku", hibanya.
Pengawal Ni Gaok mengangkat kaki lalu injakkan kekepala si prajurit "kretk..Crash!!", si prajurit melepas nyawa dengan kepala remuk.
Ni Gaok mencari-cari kesana kemari, membalikkan tubuh para musuh mencari Heidrich namun tidak ditemukannya orang yang dicari.
Dia berjalan berkeliling, lalu dia melihat ke arah dimana tadinya tenda Heidrich berdiri. Terlihat meja dan kursi lipat tergelimpang disitu, ada sebuah botol berisi tinta yang juga tergelimpang dan tintanya tumpah berserakan.
Ni Gaok mendatangi tempat itu, tidak ada Heidrich disitu bahkan tendanya pun hilang, lalu dia menatap ke sungai yang deras dan berpikir satu-satunya kemungkinan si perwira tersebut terjatuh ke sungai bersama tendanya.
"Nanti aku bisa mencarinya belakangan, sementara ini kalau Suma bertanya aku katakan saja Heidrich telah tewas dan jenazahnya hanyut", pikirnya.
Setelah memutuskan demikian, Ni Gaok berjalan ke tengah perkemahan yang sudah rata dengan tanah. Lalu disitu dia berdiri dan tundukkan kepala, komat kamit merapal mantera.
__ADS_1
Perlahan angin dingin berputar-putar berkesiuran di sekitar perkemahan, menerbangkan helai debu, daun, dan ilalang yang terpapras dan tercabut akibat perkelahian. Lalu uap hitam terlihat keluar dari tubuhnya.
Kelima pengawal Ni Gaok pun serentak berdiri dengan kepala tertunduk.
Udara menjadi semakin dingin dan semakin gelap disekitar mereka, dan angin semakin kencang berputar. Ni Gaok makin keras merapal manteranya. Lalu terlihat dari setiap mayat serdadu kompeni yang tewas tetesan darah keluar dari tubuh mereka dan bergerak naik ke udara.
Begitu banyak tetesan darah yang berkumpul mengambang di udara pada ketinggian sekitar satu meter dari tanah, sehingga bekas perkemahan tersebut terlihat merah. Lalu perlahan tetesan-tetesan darah tersebut bergerak menuju tubuh Ni Gaok dan para pengawalnya.
Tetesan darah tersebut terus bergerak memasuki tubuh mereka melalui kulit. Ni Gaok tengadahkan wajah dan regangkan tubuh karena lonjakan energi yang berasal dari darah mulai memasuki tubuhnya.
Pada para pengawalnya, begitu tetesan darah tersebut merasuk maka perlahan-lahan luka-luka di tubuh mereka pulih. Peluru-peluru yang masih tertinggal di tubuh mereka pun keluar satu persatu berjatuhan ke tanah. Lalu luka-luka mereka menutup kembali, tak berbekas.
Setelah seluruh darah itu memasuki tubuh Ni Gaok dan para pengawalnya, Ni Gaok langsung bersimpuh lemas di atas tanah, sementara para pengawalnya roboh seperti tak bertenaga.
Ni Gaok hampir hilang kesadaran, terlalu banyak darah yang diserap mereka dan sedang berproses di dalam tubuh, tenaga dari darah tersebut yang pemiliknya tidak rela dibunuh begitu kuat mencoba memberontak di dalam diri mereka, berbagai suara bergemuruh di telinga Ni Gaok, "Lepaskan!!", "Aaah!!", suara-suara tersebut bergemuruh terus menerus.
Dalam keadaan setengah sadar seperti itu Ni Gaok tidak dapat mendengar atau merasakan beberapa sosok yang tak jauh dari mereka sedang mendekati kuda-kuda yang terlepas disekitar lalu memacunya menjauh.
⚜️⚜️⚜️
Selat Malaka beberapa hari sesudahnya di suatu sore.
Rustam sedang memperhatikan beberapa penduduk yang sedang menaikkan beberapa barang dari perahu kecil yang mendekat ke kapal perang.
Perahu tersebut membawa minyak kelapa dan sayuran dari kampung nelayan untuk makanan orang-orang di kapal.
Seperti yang di sarankan Ulong, saat ini yang terbaik bagi mereka adalah berada di atas kapal disaat hampir seluruh wilayah dikuasai pihak kompeni. Mereka menggunakan kapal ini sebagai markas bergerak dan untuk sesaat ini mereka sedang menunggu situasi mendingin setelah beberapa hari lalu mereka mencuri kapal perang ini dan menghancurkan armada kompeni di pelabuhan Belawan.
Mat Kecik berdiri di belakang kemudi berlagak menjadi Nakhoda, sedangkan Arman tak jauh darinya sedang duduk diatas pagar pembatas dek memperhatikan senja menjelang.
Camar-camar terbang pulang ke sarang disapu cahaya matahari yang nyaris tenggelam, benar-benar syahdu.
Arman menatap sekeliling lalu mulai berpuisi
Elok langit di waktu senja
Gurindam indah di lantun matahari tenggelam
Hamba budak membawa tubuh sebatang
Fakir ilmu mencari pengetahuan
Mat Kecik menoleh ke Arman sambil masih memegang kemudi, kemudian menyambung.
Biru langit, biru laut di seruak lancang putih
Hamba nakhoda, hamba nelayan tualang
__ADS_1
Di samudera tak bertuan.
Tiada tepi
Rustam tanpa menoleh menyambut,
Hamba hanyalah budak kecik terdampar
Lautan luas adalah kerabat
Saudara adalah laskar
Mengarung biru dan putih ciptaan Ilahi
Awang tersenyum mendengar teman-temannya berpuisi. Dia saat itu sedang duduk di atas drum-drum kayu berisi air. Mardiani dan Salhah setia menemani duduk di dekatnya.
Lalu Awang pun menyambung berpuisi.
Menentang badai, menyibak halimun, amboi
Di kaki langit hamba mencari
Kebaikan, santun dan ilmu
Bersama sanak, karib kerabat
Ulong, Laksmi, Putra dan Angku Razak yang baru keluar dari geladak berdiri di atas dek mendengarkan indah dan cerianya senandung mereka.
Ulong pun menyambung,
Sanak dan karib bertemu
beriring jalan dialam fana
Takdir berpilin hadir tak tertolak
Mendulang nasib berkayuh badai
Mardiani dan Salhah bertepuk mendengar teman-temannya berpuisi.
Laksmi tersenyum-senyum menatap kekasihnya, mendengar untaian indah bermakna yang barusan diucapkan.
Para nelayan telah menaikkan seluruh barang, seorang dari mereka yang berada di atas dek menatap jauh lalu menaikkan dan letakkan tangan di atas mata.
"Hoi ada perahu lain mendekat" ujarnya.
Mereka yang sedang asyik bercengkrama dalam puisi pun bergegas menghampiri.
__ADS_1
Di kejauhan mereka melihat titik kecil diantara garis laut dan langit. Sebuah perahu mendekat.