
Dua hari kemudian di persembunyian laskar di hamparan perak.
Nilam nama bocah perempuan berusia lima tahun itu. Cucu dari Almarhum Ncik Dolah yang tewas di bunuh Ki Bayu dan peliharaannya.
Dia lah satu-satunya perempuan dan satu-satunya balita di tempat persembunyian kelompok Awang.
Tingkahnya yang lucu menggemaskan lebih dari seminggu ini memberi nuansa menghibur bagi mereka yang ada disitu.
Apalagi kini dia sudah terbiasa dan mau bila diajak bicara oleh orang-orang disini. Tidak lagi takut-takut dan rewel seperti dulu sewaktu pertama kali dibawa oleh rombongan Awang.
Mereka para laskar, begitu menyayanginya. Dan berganti-gantian merawat dan menghibur Nilam.
Terutama bila gadis cilik tersebut sedang sedih atau sedang ketakutan teringat peristiwa pembunuhan kakeknya.
Hari ini saat Ruslan duduk menunggui Nilam bermain di dekat perkampungan kecil mereka di pinggir sungai, iseng-iseng dia coba membuat boneka.
"Biasanya anak perempuan kan bermain boneka", pikirnya.
Boneka itu dibentuknya dari segenggam ilalang kering lalu diikat disana sini, pada matanya disematkan bunga rumput berwarna kuning.
Setelah selesai Ruslan menatap boneka buatannya lalu kerutkan kening dan terkekeh sendiri.
"Ada tangan, kaki, dan kepala walau kebesaran, tapi sudah bisa lah ini disebut boneka", pikirnya menilai.
Dia berjalan menghampiri Nilam sambil menggenggam boneka buatannya di belakang punggung.
Saat itu Nilam sedang memperhatikan capung yang banyak beterbangan di pinggir sungai.
Nilam menoleh mendengar langkah kaki Ruslan di belakangnya.
"Pakcik capungnya banyak sekali", ujar Nilam menunjuk capung yang berterbangan.
"Boleh Nilam tangkap?" tanya nya.
"Jangan", ujar Ruslan tertawa.
Sungai itu tidak dalam, hanya sekitar sebetis orang dewasa, tidak akan berbahaya bagi Nilam bermain disitu.
Hanya saja bocah ini sangat cerdik, dan Ruslan tahu itu hanya alasan Nilam hendak menangkap capung, padahal sebenarnya dia ingin bermain air, dan kalau tidak di larang dia akan bermain air seharian hingga lupa makan dan tidur siang.
"Apa yang Pakcik sembunyikan itu?" tanya Nilam melihat tangan Ruslan diletakkan di belakang tubuh.
Ruslan tersenyum lebar lalu tunjukkan boneka buatannya pada Nilam.
"Ini buat Nilam", ujar Ruslan.
Hal menarik terjadi saat Ruslan memberikan boneka rumput tersebut pada Nilam. Tak disangkanya bocah itu begitu luar biasa senang menerimanya, bibir mungilnya tersenyum lebar dan matanya terbelalak kagum.
"Terima kasih Pakcik, cantik sekali bonekanya", ujarnya.
Menatap wajah lugu itu dan mendengar ucapan terima kasih yang begitu tulus, membuat Ruslan merasa benar-benar bahagia. Kepuasan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata.
Dia berjanji di dalam hati untuk membuatkan Nilam mainan lain, demi melihat bocah ini tersenyum seperti itu lagi.
Dengan riang Nilam memainkan boneka buatan Ruslan di bawah pohon rindang, di tepi sungai.
Terdengar nada suaranya yang begitu lembut berdendang sambil bermain, ntah lagu apa yang dia dendangkan, hanya dia yang tahu.
Ruslan lalu duduk diatas rumput memperhatikan.
"Melihat Nilam bermain dengan riang, terasa seperti perang telah usai ya", ujar Tama yang baru datang lalu duduk di samping Ruslan.
Ruslan menoleh melihat Tama, dia menghela napas dalam lalu kembali memperhatikan Nilam, seuntai senyum terukir di wajahnya.
Tama menarik napas dalam-dalam lalu berbaring menatap langit.
"Tenang kali Lan", ujar Tama
"Kau lihat langit itu, mirip konde nenekku", ujarnya lagi.
Ruslan tak perdulikan ocehan temannya. Dengan penuh ketertarikan dia menatap Nilam yang asik bermain.
Hampir semua yang dia ketahui hanyalah perang dan apapun yang berkaitan dengan perang, hal itu benar-benar sering hampir menggeser kenangan dan perasaannya tentang hal lain.
Hidup selalu tentang penyerangan, dan pelarian. Orang-orang pergi berperang, beberapa kembali dan beberapa lainnya tidak.
Hanya ada darah dan air mata. Hanya keserakahan manusia melawan perjuangan manusia lainnya yang ingin mempertahankan haknya. Benar-benar siklus yang melelahkan.
Dan melalui bocah perempuan ini dia baru sadar, walau sedikit ternyata kasih sayang dan kelembutan masih ada didunia ini dan harus dijaga, dipelihara.
Untuk hal-hal seperti ini lah sebenarnya mereka berjuang.
Agar anak-anak seperti Nilam dapat tumbuh bahagia dalam damai.
__ADS_1
Nilam menoleh dan tersenyum padanya. Ruslan membalas tersenyum, mungkin senyum terbaik seumur hidupnya.
Dan begitulah, dengan mudah kebahagiaan dan ketulusan Nilam menulari orang di sekitarnya.
🌼la 🌻 la 🌸 la🌺
"Nilam, pindah bermainnya nak, hari sudah mulai panas", ujar Ruslan.
Nilam menatap Ruslan dan Tama, dia tersenyum lalu bergeser ke bawah bayangan pepohonan dan melanjutkan bermain.
Persembunyian para laskar disini juga di tengah hutan, walau pepohonannya tak selebat di hutan tempat persembunyian para laskar di bahorok.
Karena tempat ini mendekat ke laut bukan ke pegunungan.
Sebuah sungai kecil sekitar dua meter lebarnya melintas tak jauh di belakang gubuk-gubuk mereka, tempat Nilam bermain saat ini.
Sungai ini adalah cabang dari sungai besar yang menuju ke Selat Malaka.
Ada tiga bangunan di hutan ini yang didirikan Awang dan teman-teman, berbentuk rumah panggung, berukuran sekitar lima kali lima meter. Dinding dan lantai gubuk terbuat dari kayu yang disusun dan dipaku sedangkan atapnya terbuat dari anyaman rumbia.
"Pakcik Awang kapan dia kembali?" tanya Nilam sambil berjalan manja menghampiri.
"Aah", Ruslan jadi teringat akan Awang, pikirannya yang tadi memasuki alam penuh ketenangan kini harus berhadapan kembali dengan kenyataan.
Begitupun dia berusaha tersenyum di hadapan wajah polos Nilam, "Pakcik Awang sedang berburu rusa, jangan khawatir dia dijaga Pakcik Arman dan Pakcik Amat (Mat Kecik)", jawab Ruslan lalu menepuk-nepuk kedua bahu Nilam.
Dia teringat kembali satu hari sebelum Awang dan dua orang kepercayaannya pergi menghadiri pertemuan di Sunggal, Awang telah memerintahkan beberapa orang laskarnya untuk mencari tahu keberadaan keluarga Ncik Dolah di perkampungan sebelah utara tempat persembunyian mereka.
Dan memerintahkan mereka memulangkan Nilam pada keluarganya.
Lalu pada keesokan harinya Awang berangkat pada pagi hari menuju ke pertemuan ditemani Arman dan Mat Kecik, sedangkan Ruslan dan tiga orang lainnya berangkat agak siang setelah menunggu Nilam selesai makan siang.
Saat di jalan Ruslan dan kawan-kawan mulai menyadari ada yang tak beres di hari itu, karena begitu banyak serdadu kompeni mereka lihat berpatroli di jalan-jalan, jauh lebih banyak dari biasanya.
Karena hal tersebut, mereka memutuskan tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dan mereka pun pulang kembali ke persembunyian.
Itu sebab Nilam masih bersama mereka hingga hari ini, disaat Awang justru tidak di ketahui dimana rimbanya.
Dan kini tak terasa sudah tujuh hari Awang belum ada kabarnya. Untuk pergi mencari, situasi tak memungkinkan, terlalu banyak patroli kompeni berkeliaran menutup jalan mereka.
"Rusanya besar? Boleh Nilam naiki?" tanya Nilam.
Ruslan kembali tersadar dari lamunan, dia menghela napas lalu mengangguk dan tersenyum,
Melihat anggukan Ruslan, Nilam bersorak riang lalu berlari berputar-putar sambil menggenggam boneka rumputnya.
⚜️⚜️⚜️
Tak terasa senja menjelang di ufuk barat, sebagian laskar beristirahat sementara beberapa lainnya berjaga.
Api-api sudah dipadamkan untuk menghindari terlihat oleh musuh dari kejauhan.
Tak lama senja pun digantikan malam gelap, hanya berhiaskan bulan separuh.
Selesai makan malam mereka beristirahat.
Tak seperti biasanya, malam ini entah kenapa perasaan Ruslan tidak enak. Berkali-kali dia terjaga dari tidur, berbagai bayangan menakutkan muncul berkelebat dalam mimpinya.
Dan kini dia terjaga lagi dengan tubuh berkeringat, padahal malam begitu dingin.
Beristighfar beberapa kali lalu dia menoleh ke pojok ruangan di hadapannya, dalam samar Nilam terlihat pulas dalam selimutnya.
Terlihat dadanya naik turun menghirup udara teratur.
Tiba-tiba Ruslan mendengar suara bergedebukan diluar.
Dengan sigap diraihnya golok yang selalu di letakkan di sampingnya setiap tidur.
Dia berdiri lalu mengintip keluar dari celah pintu gubuk.
Tidak ada apapun terlihat diluar walau saat itu sinar rembulan cukup terang menyinari.
Perlahan-lahan dibukanya pintu, terdengar suara berderit pelan.
Ruslan keluar dari gubuk dengan golok terhunus, lalu perlahan dia tutupkan pintu gubuk dan melangkah menuruni rumah panggung.
Dalam gelap dia berbisik mencari-cari temannya.
"Siapa disana?" ujarnya pelan.
Tidak ada jawaban, padahal seharusnya ada tiga orang yang berjaga malam ini.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Siang keesokan harinya di pelarian.
"Sudah terlalu lama kita disini", ujar Awang menggerutu.
Ulong menoleh dan tersenyum mendengarkan gerutuan Awang.
Mereka saat itu sedang duduk mengelilingi perapian. Di bawah rimbun pepohonan.
Awang duduk diatas sebuah batu seukuran paha orang dewasa, agak jauh dari perapian.
Ulong duduk diatas batang pohon yang diletakkan di tanah, bersebelahan dengan Laksmi yang sesekali mengaduk periuk besar sedang membuat bubur.
Salhah dan Mardiani berjongkok di seberang perapian, memperhatikan.
Bubur itu dibuat dengan beras yang dimasak dengan banyak air agar lembek, lalu di bakar diatas api kecil, dan diaduk terus menerus agar tidak hangus atau menggumpal menjadi kerak.
Sedangkan untuk bumbu, tadi pagi Laksmi dan kedua gadis bersama-sama memetik beberapa tanaman di sekitar mereka, kunyit, jahe dll.
Ya negeri ini begitu subur, segala macam tumbuhan dan hewan melimpah dimana-mana, tinggal petik atau buru. Dan asal manusia tidak serakah merusaknya maka alam disini akan terus menyediakan hasil yang cukup untuk hidup berkelanjutan.
Lalu untuk lauk Laksmi menggunakan ikan asin yang di rendam di air hangat agar tidak menjadi terlalu asin sebelum di campur ke bubur. Ikan asin ini berkilo-kilo mereka ambil dari pos Belanda yang mereka hancurkan.
Sangat banyak yang berhasil mereka rampas dari kompeni Minggu lalu, bahkan masih cukup banyak untuk mereka setelah dibagi dengan tahanan yang mereka bebaskan sebelumnya.
Saat itu hanya ada mereka berenam menunggu Laksmi memasak makan siang, karena Putra, Arman, dan Mat Kecik sedang pergi memeriksa wilayah sekitar.
"Enak sekali aromanya kak", ujar Mardiani mendekat.
Laksmi tersenyum lalu sendokkan sedikit bubur dan berikan pada Mardiani untuk dicicipi.
Baru saja Laksmi hendak mengingatkan, "pelan - pe..".
"Aah..panas", ujar Mardiani begitu dia menyeruput dari sendok.
Dibukanya mulut lebar-lebar "haah.. Haaah.." ujarnya, lalu mengipas-ngipas tangan di depan mulut.
Angku Razak terkekeh melihat tingkah anak gadisnya yang begitu tak sabaran menyeruput dari sendok panas.
Salhah mengambil sendok dari tangan Mardiani dan ikut mencicipi, dicoleknya sedikit saja pada ujung sendok "enak sekali..lezat", ujarnya.
Ulong menatap Awang, dia paham kenapa dua hari ini Awang uring-uringan.
Pastinya dia kesal karena seminggu lamanya mereka tidak dapat pergi kemana-mana.
Dan sebagai pimpinan laskar di wilayah ini dia benci merasa tidak berdaya karena banyaknya pasukan kompeni yang berkeliaran.
Berbeda dengan Awang, bagi Ulong dan yang lain disini adalah tempat terbaik untuk saat ini.
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri Ananda, keadaan ini bukan salah dirimu", ujar Angku Razak.
Entah kenapa senyum dan jawaban orang tua ini terasa selalu begitu menyejukkan.
"Iya Angku", jawab Awang lirih, lalu dia mencoba balas tersenyum.
Tak lama terdengar derap kuda berlari mendekat, dari suaranya Ulong bisa menduga itu adalah Putra dan rombongan pengintai.
"Enak sekali aromanya, aku jadi lapar", ujar Mat Kecik mendatangi setelah menambatkan kuda.
Dia berjalan bersama Arman, sedangkan Putra datang sambil menjinjing seekor pelanduk (kancil), yang berhasil di panahnya di tengah perjalanan pulang.
Laksmi tersenyum ke arah mereka, "kebetulan makan siang sudah siap, ayo mari kita makan", ujarnya.
Mereka berkumpul, Salhah dan Mardiani membagikan piring-piring kaleng yang telah diisi bubur.
"Bagaimana?" tanya Awang, dia masih duduk di tempatnya semula, hanya memperhatikan teman-temannya yang mulai makan.
"Nanti malam kita bisa bergerak Wang", ujar Mat Kecik sambil mengunyah sedikit kepayahan karena menyendok bubur panas.
Arman meneguk air lalu berbicara menimpali "Si Madan anak kak Hasnah, nanti malam giliran dia menjemput garam ke Belawan".
Mendengar ucapan Arman mata Awang langsung berbinar, dia tersenyum lebar.
"Aaah.. kenapa tidak kalian katakan dari tadi", ujar Awang.
Dia bergerak dari tempat duduknya dan mendekat.
"Kami terlalu lapar untuk bercerita", jawab Mat Kecik.
"Ayolah ceritakan sambil makan, sini piringnya, jadi semangat aku untuk makan", ujar Awang.
Salhah tersenyum lalu menyendokkan bubur ke sebuah piring kaleng dan memberikannya pada Awang.
"Hmm.. enak sekali", puji Awang setelah menyuapkan bubur sesendok ke mulutnya.
__ADS_1