
Setelah cuaca menggila selama sekitar tiga jam, tiba-tiba hujan pun berhenti.
Awan yang tadinya menggumpal hitam di langit diatas perkampungan hilang begitu saja.
Bersamaan dengan hilangnya gumpalan awan, cahaya matahari pun mulai terlihat menyapu kaki langit. Udara menjadi terasa begitu segar karena guyuran hujan barusan.
Orang-orang satu persatu keluar dari perlindungannya, mereka menatap langit dengan heran. Begitu aneh hujan badai kali ini, begitu saja muncul dan begitu saja menghilang.
Syukurnya angin pada badai ini tidak terlalu kuat, sehingga tidak menimbulkan kerusakan.
Tak jauh dari rumah-rumah tempat mereka berlindung masih terlihat serigala raksasa tergeletak di pasir pantai tak bergerak, begitu juga serigala jadi-jadian yang digantung di jaring nelayan.
Mereka kembali mengerumuni kedua makhluk mengerikan ini.
"Mereka yang membunuhi teman-temanku" ujar Awang menatap geram, Mat Kecik dan Arman mengangguk, tatapan mereka begitu beringas.
Mereka teringat Hamid, Pakcik Leman dan yang lain-lain.
"Jangan ada yang melakukan apa-apa, kita tunggu matahari menyinari mereka", ujar Ulong mengingatkan.
Kali ini mereka mengikuti arahan Ulong agar tidak terjadi seperti lolosnya Ki Bayu, diam menanti sambil menatap kedua makhluk ini dengan waspada.
Tak lama para wanita dan anak-anak telah tiba di pantai dengan perahu-perahu, satu hal yang tadi mengherankan bagi mereka, dari kejauhan mereka sama-sama saksikan badai dan hujan deras di daratan, hanya di atas perkampungan.
Di sekitar mereka yang berada diatas perahu dan sampan, laut seperti biasa, berombak tapi tidak terlalu besar, bahkan setetes hujan pun tidak turun disana.
Kini setelah mendarat mereka berjubel memenuhi tempat dimana kedua serigala terlibat jala tak bisa bergerak.
Pada kondisi terang-terang tanah di pagi seperti itu mereka dapat melihat jelas bentuk kedua makhluk yang hampir sebulan ini meneror mereka. Yaitu serigala raksasa sebesar kerbau dan serigala jadi-jadian yang berdiri diatas kedua kaki. Warna keduanya begitu hitam segelap malam, dan matanya berwarna kuning seperti api menyala.
Berbeda dengan tempat sekitarnya yang basah, kedua makhluk ini tidak terlihat sama sekali tersentuh air.
Bulu-bulu mereka kering, tapi tidak berkilat, kusam gelap.
Lalu perlahan cahaya matahari yang mulai meninggi menyinari kedua makhluk mengerikan tersebut.
Para penduduk kaget, Ulong dan teman-teman memberi isyarat agar para penduduk untuk menjauh, karena mereka tidak bisa perkirakan apa yang mungkin terjadi.
"Siapkan senjata kalian", ujar Ulong. Dia sendiri sudah menarik dua bilah belati dari pinggang.
"Para wanita, anak-anak, dan orang tua menjauh, beri kami ruang!!", sambung Awang.
Berbeda dengan tampilan mereka apabila terkena cahaya api, saat terkena cahaya matahari makhluk-makhluk ini perlahan menjadi tembus menerawang.
"Lihat, bayangannya", ujar Mardiani, bayangan para serigala masing-masing ada dua, hal itu jelas terlihat pada serigala yang di gantung.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya.
Perlahan salah satu bayangan dari serigala-serigala tersebut berubah wujud menjadi serigala seperti yang sedang terbelit jaring.
Semakin sinar matahari menyinari, semakin samar tubuh kedua serigala yang berada di dalam jaring, dan semakin jelas bayangan kedua serigala mewujud seperti tubuhnya yang terjaring tak berkutik.
__ADS_1
"Awas, ini yang aslinya!!", ujar Ulong.
Para wanita membawa anak-anak berlari sambil berteriak histeris. Untungnya mereka tadi sudah disuruh menjauh.
Suasana seketika berubah menjadi hiruk pikuk.
Bersamaan dengan semakin jelas sinar matahari kini serigala yang berada di dalam jaring menghilang sepenuhnya, berganti tempat dengan bayangannya di tanah.
"Ini ternyata rahasia kemampuan mereka, sehingga tidak bisa dilukai", pikir Ulong.
Kedua serigala baik serigala jadi-jadian maupun serigala raksasa kini terbebas dan berada diluar jaring nelayan.
"Gunakan panah dan tombak!!", ujar Ulong.
Laksmi, Mardiani dan Salhah sedari tadi sudah menyiapkan busur dan panah.
Mereka melompat mundur sambil memanah, "crep.. crepp..crepp!!", tiga batang anak panah menembus kepala serigala jadi-jadian, serigala tersebut menggeram, darah mengucur dari kepalanya.
"Kena!!", ujar Awang melihat darah mengucur dari kepala serigala jadi-jadian, dia lalu meraih tombak dan melemparkannya ke serigala tersebut, kena tepat di jantungnya menembus tubuh serigala hingga ke punggung. Darah pun menyembur dari luka di dada kiri serigala yang terhunjam tombak.
Serigala tersebut melolong dan bergerak terhuyung mundur.
Hampir bersamaan Arman pun melemparkan tombaknya, "crep!!", serigala jadi-jadian itu terlempar mundur karena kuatnya dorongan tombak yang dilemparkan Arman, tombak tersebut sebagian sampai menembus tubuh serigala pada bagian perut dan menancap ditanah membuat serigala jadi-jadian tidak bisa berkutik.
Melihat kini musuh bisa di lukai seluruh penduduk menusukkan senjatanya ke serigala raksasa.
Hewan besar itu menggeram berusaha membalas, sebatang tombak yang di pegang penyerang berhasil di gigitnya hingga patah.
"Hati-hati!!" teriak Ulong khawatir.
Serigala tersebut terkaing begitu belati Ulong mengenai dan menembus tepat tulang kedua kaki depannya. Serigala tersebut menjadi kesulitan berdiri dan tidak bisa lagi mengejar para penduduk yang menyerangnya.
Mat Kecik melihat kesempatan, dia melompat, dengan bertangan kosong di pitingnya leher serigala raksasa. Setelah kedua tangannya memiting leher serigala dia jatuhkan tubuhnya kesamping, serigala raksasa limbung hilang keseimbangan karena berat tubuh Mat Kecik.
Saat tubuh serigala raksasa jatuh terbanting ke tanah, tubuh besar Mat Kecik dengan lincah melompat mundur.
Ulong melempar dua belati lagi, kini yang dituju kedua kaki belakang serigala, "crepp..crepp!!, kedua kaki serigala bagian belakang tertembus belati tepat pada tungkainya.
"Auuuuu.." serigala raksasa melolong memilukan.
"Ini untuk teman-temanku", geram Awang, dia maju sabetkan golok, serigala itu hendak menyambutnya dengan mulut.
Tapi serigala ini adalah serigala asli bukan ilusi seperti sebelumnya yang tidak bisa dilukai.
Awang membelokkan serangan sedikit, "Crasshh!!", rahang bagian bawah serigala terpotong saking kuatnya tebasan Awang. Tidak cukup sampai di situ Awang membalik arah golok menyerang dari arah sebaliknya, "Crashh!!, rahang bagian atas serigala raksasa yang kini terpotong. Darah makhluk itu pun menyembur-nyembur membasahi pasir.
Giliran Mat Kecik melepaskan amarah, "Hiaahh!!" dia menerjang maju, di tebasnya serigala tersebut pada bagian leher dengan golok, "crass!!", leher serigala pun putus, lalu tubuhnya melejang-lejang sebelum kemudian terdiam.
"Waa!! waa!!", para penduduk berteriak kaget, serigala jadi-jadian yang pertama tewas tertembus panah dan tombak perlahan berubah, sama seperti serigala yang sebelumnya dibunuh tiga utusan kerajaan. Perlahan-lahan bulu di tubuh serigala ini pupus menampilkan kulit manusia di baliknya, struktur tubuhnya juga berubah menjadi manusia.
Kali ini serigala jadi-jadian itu berubah menjadi manusia perempuan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh.
__ADS_1
Para penduduk laki-laki segera memalingkan wajah.
Laksmi buru-buru mendekap wajah Ulong lalu memiringkannya agar jangan sampai kekasihnya melihat tubuh telanjang perempuan-serigala tersebut.
Ulong menurut, dan membelakangi pemandangan itu.
Laksmi senang karena kekasihnya itu menurut untuk tidak melihat yang bukan haknya.
Dilepasnya kedua tangan yang mendekap wajah lalu dengan gemas dicubitnya hidung Ulong.
Sebelum Mardiani dan Salhah menutup matanya Awang buru-buru berpaling lalu buka pakaiannya dan serahkan ke Mardiani, beberapa laki-laki yang ada disitu juga membuka pakaiannya.
Dengan pakaian-pakaian tersebut Mardiani dan Salhah menutupi tubuh perempuan-serigala, lalu mencabut tombak dan anak panah di tubuhnya.
Mereka membaringkan tubuh perempuan tersebut di pasir.
Belum hilang kaget mereka karena perubahan wujud serigala jadi-jadian, tiba-tiba tubuh serigala raksasa yang tadinya sudah diam kini bergerak-gerak liar berkelojotan.
Mereka yang ada disitu serentak mundur, tubuh serigala raksasa perlahan terbakar dari dalam menjadi bara merah lalu sesaat kemudian bara itu menyala menimbulkan api yang membakar sekujur tubuhnya.
Setelah sepenuhnya terbakar, tubuh serigala raksasa menjadi debu lalu debu tersebut beterbangan ditiup angin.
Bersamaan dengan debu tubuhnya menghilang dibawa angin, sesosok bayangan hitam besar muncul menggantikan tubuh yang menghilang, lalu bayangan hitam kelam tersebut mengambang di udara, dan membentuk kepala serigala raksasa dengan mata yang besar berapi.
Terdengar suara yang berat menggema di sekitar orang-orang disitu.
"Kalian tidak dapat menghancurkan ku anak-anak Adam, aku telah lama hidup dan akan tetap hidup menunggu di kegelapan, sampai seseorang dari bangsamu yang serakah tergoda untuk membangkitkan ku kembali", lalu suara itu disambung dengan suara tertawa yang menyeramkan yang makin lama makin samar menjauh.
"Iblis!!", desis Angku Razak.
Sementara itu beberapa kilometer dari tempat itu, dipinggir sebuah sungai kecil di rimbunan pohon bambu, Ki Bayu meringkuk kesakitan.
Tewasnya serigala raksasa ternyata berpengaruh pada dirinya.
Dia menjerit-jerit karena rasa sakit seperti disayat ribuan pedang, tubuhnya berkelojotan tak terkendali dan akhirnya karena tak kuat menahan sakit dia jatuh pingsan.
⚜️⚜️⚜️
Hutan beberapa ratus meter di belakang pemukiman penduduk, menjadi peristirahatan terakhir perempuan-serigala.
Entah sudah berapa ratus atau ribu tahun perempuan tersebut menjadi budak iblis dalam bentuk tubuh serigala jadi-jadian, hukuman yang diterima akibat perjanjian yang pernah dibuatnya.
"Laksmi", panggil Ulong.
"Eh..", Laksmi yang sedang memperhatikan orang-orang yang memakamkan perempuan-serigala segera menoleh ke arah Ulong yang beranjak pergi setelah memanggilnya.
"Ada apa bang?", tanya Laksmi.
"Entah perasaanku saja, sepertinya hidungku patah", ujar Ulong sambil memegang hidungnya yang tadi dicubit Laksmi.
"Oo kurang keras rupanya cubitanku ya", ujar Laksmi, "laki-laki kalau dikasih hati minta jantung", sambungnya lalu berusaha mencubit Ulong.
__ADS_1
Ulong berlari kecil menghindar sambil terkekeh dengan Laksmi mengejar di belakangnya.
Langit begitu cerah hari ini tanpa awan, waktu bergulir, dan kisah anak manusia pun terus berlanjut.