
Menjelang subuh di pelabuhan Belawan.
Tanpa adanya suara angin bertiup dan kecipak air, suasana akan terasa begitu sunyi.
Angin darat berhembus ke laut menambah dingin suasana, membuat kebanyakan orang-orang akan menarik selimut mereka dan tertidur pulas.
Dalam temaram cahaya beberapa obor yang terpancang di dermaga terlihat lima buah kapal layar cukup besar milik angkatan laut Belanda. Kelima kapal itu terletak cukup jauh dari kapal-kapal lain yang sandar di dermaga. Hanya itu kapal perang Belanda yang tersisa di pelabuhan saat ini. Belasan lainnya yang lebih sebulan lalu mengantar bantuan prajurit kompeni tak terlihat lagi disitu, telah berlayar meninggalkan pelabuhan Belawan.
Tak jauh dari kapal-kapal milik angkatan laut kompeni tersebut sandar, lima buah perahu kecil dikayuh perlahan melaju tanpa suara dalam kegelapan.
Masing-masing perahu berisi lima orang penumpang di dalamnya. Mereka adalah rombongan Ulong dan penduduk desa nelayan.
Mereka mendayung perahu mendekat ke kapal kompeni yang tertambat. Yang mereka tuju adalah kapal yang paling tengah.
Setelah tiba di tempat yang dituju yaitu buritan kapal paling tengah yang gelap karena cahaya obor-obor tidak dapat mencapainya, Ulong gunakan belati yang diikat dengan tali menyambit tonggak runcing diujung buritan.
Lalu setelah tali yang diberi banyak simpul melilit tonggak, dia tarik beberapa kali untuk memastikan.
"Aman untuk di panjat", bisik Ulong.
Awang, Arman, dan Mat Kecik bergiliran memanjat tali-tali tersebut tanpa suara.
Pada saat bersamaan Laksmi, Mardiani dan Salhah mendekati dermaga dari kegelapan di arah barat mengendap-endap tanpa suara, sebuah perahu lain barusan membawa mereka mendarat disana bersama Putra dan Angku Razak.
Mereka memperhatikan ada tiga penjaga pribumi sedang berdiri di tepi dermaga. Mereka menunggu Ulong memberi isyarat atau bila terjadi keributan di atas kapal maka mereka akan segera menghabisi ke tiga prajurit yang sedang berdiri ini.
Kembali ke kapal.
Dalam gelap Awang, Mat Kecik dan Arman berhasil menaiki kapal tanpa ada seorang penjaga pun menyadarinya. Tepat seperti yang diperkirakan Ulong, kompeni tidak menempatkan penjagaan khusus pada kapal-kapal perang mereka.
Selagi teman-temannya memanjat, Ulong berdiri di atas perahu berjaga dengan dua belati di tangan.
Hanya ada dua penjaga berdiri di geladak kapal saat itu, dengan cepat dan tanpa suara Awang dan Arman menghabisi mereka dengan tombak yang tadi disandang dipunggung saat memanjat.
Setelah kedua prajurit penjaga tewas mereka bertiarap lalu merangkak maju, mencabut tombak yang tertancap di tubuh musuh lalu Arman masuk ke lambung kapal memeriksa musuh tersisa. Sedangkan Mat Kecik membantu yang lain untuk naik ke atas kapal.
Awang tidak ikut masuk ke lambung kapal melainkan menunggu di dekat pintu bertangga untuk naik ke kapal. Dia menunggu bila ada musuh yang bisa saja tiba-tiba naik ke kapal ini.
Dan sejauh ini tidak ada tanda-tanda seorang musuhpun menyadari kehadiran mereka, lalu satu persatu orang dari perahu-perahu kecil pun memanjat menaiki kapal.
Setelah di atas kapal, para penduduk desa nelayan bersiap dengan busur yang mereka buat sendiri dari batang bambu dan akar rotan sebagai tali, selama lebih seminggu ini mereka berlatih memanah pada Laksmi, Mardiani, dan Salhah.
Tidak terlalu mahir tapi cukup agar mereka mengerti cara memanah, dan itu juga mematikan.
Dua puluh lima orang rombongan Ulong dan Awang berhasil menaiki kapal tanpa terdeteksi, jumlah yang jauh lebih banyak dari musuh yang berjaga yaitu masing-masing dua orang di tiap kapal perang disitu.
Ulong menirukan suara burung hantu, isyarat bagi Laksmi dan kedua gadis lainnya.
Laksmi dan yang lain memanah dari kegelapan dibawah bayang-bayang bangunan.
"Crep!! Crep!! Crep!!" hampir bersamaan ketiga anak panah mereka menancap di tubuh tiga penjaga, ketiga penjaga langsung ambruk tertancap anak panah, satu di kepala dan dua di jantung.
Setelah memanah ambruk ke tiga musuh, dengan cepat mereka bergerak maju tetap dalam bayang-bayang bangunan yang tak tersentuh cahaya, untuk menghindari penjaga lain yang mungkin tidak terlihat oleh mereka.
Dua orang lagi penjaga di kapal terdekat roboh terkena anak panah mereka, satu orang terjatuh ke laut menimbulkan suara byur. Penjaga di kapal yang lain mendengar suara tersebut, mereka pun melongok ke arah asal suara.
"Sekarang!!" ujar Ulong yang mengintai keberadaan musuh. Para penduduk desa segera bangkit dari tiarapnya dan berjongkok di balik dinding pagar kapal lalu memanah, sebagian ke dua penjaga di kapal di kiri dan sebagian ke penjaga di dua kapal sebelah kanan.
Walau penduduk desa ini tidak terlalu mahir tapi jumlah anak panah yang mereka lesatkan sangat banyak, para prajurit jaga pun berjatuhan di hunjam beberapa panah sekaligus.
Setelah memanah para penduduk desa kembali berlindung, seperti itu yang diajarkan Laksmi pada mereka.
__ADS_1
Satu orang penjaga di kapal terjauh di kanan rupanya belum tewas, penjaga ini adalah jenis yang beruntung, tidak satu pun anak panah berhasil mengenainya. Tapi peruntungannya kali ini berakhir, Awang yang mengintai melemparkan tombak ditangannya tepat menembus jantung prajurit tersebut sebelum si prajurit sempat membuat keributan dengan menembakkan bedil di tangan.
Tidak ada lagi perlawanan, seluruh penjaga tewas. Perahu-perahu kecil yang tadi membawa mereka kini mereka naikkan ke atas kapal sesuai pesan Ulong sebelum mereka berangkat untuk tidak meninggalkan bukti apapun.
Setelah itu bersama-sama mereka menyangkutkan papan titian ke kapal-kapal lain disebelahnya sambung menyambung. Lalu dengan hati-hati mereka memindahkan peluru meriam dan bubuk mesiu juga senjata lain secukupnya ke kapal yang hendak mereka curi. Itu penting agar mereka tidak kehabisan amunisi saat di laut nanti.
Setelah segala keperluan mereka pindahkan, mereka menumpahkan minyak di dek kapal-kapal yang akan mereka tinggalkan.
Lalu Laksmi, Mardiani, dan Salhah yang sedari tadi mengawasi dari kegelapan pun menyusul menaiki kapal.
Setelah itu mereka menunggu Angku Razak dan Putra yang bertugas membawa Rustam seperti yang mereka sepakati sebelumnya.
Tak lama dari kegelapan di arah timur laut terdengar suara burung hantu, itu suara Putra.
Ulong membalas dengan menirukan suara yang sama dua kali.
Mendengar suara balasan, Putra, Angku Razak, dan Rustam berlari menuju ke kapal.
Angku Razak dan Rustam naik melalui tangga tali yang diturunkan, setelah di atas kapal Rustam segera mengambil posisi berdiri di belakang kemudi kapal.
Putra belakangan naik ke kapal, dia terlebih dahulu melepaskan tali penambat kapal di dermaga, baru setelah itu dengan cekatan dia memanjat tali tersebut dengan di bantu Ulong yang menariknya dari atas dek.
Para penduduk memasuki lambung kapal, sebagian membantu Arman dan Mat Kecik menyiapkan meriam. Sebagian lainnya menyiapkan kayuh untuk menggerakkan kapal keluar dari pelabuhan.
Dan perlahan kapal yang mereka naiki pun dikayuh menjauhi pelabuhan.
Setelah berjarak sekitar lima puluh meter dari kapal-kapal yang tertambat, kapal yang mereka naiki berputar ke arah barat.
Beramai-ramai para nelayan mengisi mesiu lalu memasukkan bola-bola besi peluru meriam. Setelah itu jendela-jendela tempat meriam yang menghadap ke selatan dibuka, dan meriam siap di tembakkan, Mat Kecik berteriak "Tutup telinga kalian!!!".
Mereka yang berada di kapal serentak menutup telinga termasuk yang sedang berdiri di dek.
Mat Kecik dan Arman yang memegang obor saling berpandangan dan terkekeh.
"Bledar!!!, Duar !!, Dar!!!" bersahutan suara meriam di tembakkan ke arah kapal-kapal perang yang tertambat di dermaga.
Malam mendadak terang sekejap dengan kilatan meriam yang di tembakkan.
Peluru-peluru meriam terlihat menembus badan kapal-kapal tersebut, memercikkan serpihan kayu kemana-mana.
Mereka yang berada di lambung kapal perang curian bergegas naik ke dek, menyiapkan busur dan anak-anak panah khusus yang sudah disediakan sebelumnya. Bersamaan mereka menyalakan anak-anak panah-panah, dan malam pun kembali terang karena anak-anak panah menyala yang di pasang di busur mereka.
"Arahkan anak panah kalian, ikuti aku!!" ujar Laksmi. Mereka membidik mengikuti arah anak panah Laksmi yang diarahkan ke langit.
"Tarik!!!".
"Tembak!!!", teriak Laksmi. Anak panah yang menyala pun beterbangan laksana kembang api meluncur ke arah kapal-kapal yang belum sepenuhnya hancur.
Serentak mereka bersorak melihat kapal-kapal perang musuh mulai terbakar.
Api menjalar dengan cepat di kapal-kapal yang terkena panah api.
Langit jelang subuh di pelabuhan ini menjadi terang benderang disinari cahaya dari kapal-kapal terbakar.
Lalu tak lama terdengar suara ledakan bersahut-sahutan, api telah mencapai gudang-gudang mesiu di kapal-kapal tersebut.
"Bledum!!!, Duar!!, Bledar!!!"
Mereka bersorak kembali.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Kapal sudah menjauh dari pelabuhan Belawan, tak ada kemungkinan musuh untuk mengejar.
Seorang nelayan menggantikan Rustam memegang kemudi. Lalu Ulong dan teman-temannya bersama Rustam kini memasuki ruang komando terletak di paling ujung atas di bawah kemudi.
Mereka masuk ke dalam ruangan cukup luas berukuran lima kali tujuh meter.
Di dalam ruangan ada beberapa kursi dan meja dengan peta dan bola dunia diatasnya.
Mat Kecik, Angku Razak, Laksmi dan Mardiani duduk di kursi-kursi yang tersedia di sekeliling meja, sedang sisanya berdiri menatap Rustam.
Tak berlama-lama Rustam langsung menyampaikan temuannya di markas kompeni.
"Ada beberapa informasi terbaru yang aku dapatkan" ujar Rustam.
"Setelah aku menceritakan informasi palsu kepada Letnan Heidrich pimpinan kompeni di wilayah Kelambir Lima, seperti yang diajarkan Ulong kepadaku. Letnan tersebut berangkat bersama lebih seratus pasukannya", ujar Rustam.
"Awalnya kupikir dia hendak mengejar kalian yang ku katakan lari ke arah Binjai, tapi dia ternyata memimpin pasukannya bergerak ke arah hamparan perak", sambung Rustam.
Semua terdiam mendengarkan dan mencermati ucapan Rustam.
"Aku jadi curiga, kenapa mereka bukannya mengejar kalian dan malah menyusul ke arah Ki Bayu. Lantas aku pun berbalik ke Klambir Lima mencari informasi. Dari cerita beberapa prajurit disitu aku bisa menyimpulkan bahwa Ki Bayu bukan lagi di pihak kompeni, orang itu disebut telah membantai lebih selusin pasukan kompeni pribumi yang berada dibawah komando Suma di lokasi markasmu Wang", ujar Rustam.
Mereka yang berada disitu kaget.
Ulong berpikir sebentar lalu berbicara, "jangan-jangan yang dimaksud mereka prajurit kompeni pribumi yang kami kalahkan" ujar Ulong.
"Kalau benar, berarti Ki Bayu terkena jebakan yang dibuat Suma", sambungnya.
Awang dan yang lain mengangguk paham, karena mereka semua terlibat pertempuran dengan pasukan kompeni pribumi di markas persembunyian Awang.
"Bisa jadi", ujar Awang menimpali.
"Baiklah kita bahas itu nanti, silahkan lanjutkan Pakcik" ujar Ulong.
"Ada satu informasi lagi yang mungkin penting tapi seharusnya melegakan bagi kalian", ujar Rustam menatap Awang dan kedua temannya yang berdiri di dekatnya.
Rustam mengeluarkan dari sakunya sebuah cangkir mini terbuat dari timah, lalu dia maju dan menyerahkannya pada Awang.
"Apa ini, Pakcik?" tanya Awang bingung.
Rustam pun menceritakan ihwal benda tersebut berada di tangannya, tentang Heidrich yang baru hadir di ruangan lalu mengeluarkan benda tersebut dari sakunya dan meletakkannya dimeja. Juga tentang keponakannya yang disebut bernama Nilam.
Awang, Mat Kecik, dan Arman terperangah, "benarkah itu Pakcik?" tanya Awang.
Rustam mengangguk lalu kembali berbicara, "karena aku sempat beberapa kali mendengar nama tersebut dari kalian maka aku jadi penasaran, dan saat tidak ada satupun yang melihat aku mengambil mainan tersebut dan mengantonginya sebagai bukti untuk kutunjukkan pada kalian", ujar Rustam terkekeh mengingat betapa liciknya dirinya.
"Tapi itu belum semua", sambungnya.
"Selain mencari info tentang Ki Bayu aku pun mencari info tentang Nilam dan keberadaannya. Benar gadis kecil kesayangan kalian Nilam masih hidup, dia tinggal di salah satu rumah yang di tempati buruh kebon bernama Lik Pardi dan Mbok Marni kalau aku tidak salah, aku menyambangi kesana dan melihat sendiri Nilam dalam keadaan sehat".
Awang sampai berkaca-kaca matanya terharu mendengar cerita Rustam.
Mat Kecik mengelus dadanya lega,.
"Alhamdulillah", ujar Arman.
"Menurut cerita yang aku dengar, Nilam ditemukan oleh pasukan patroli kompeni bersama dua orang laskar anggotamu, mereka telah cukup jauh berlari dari markas sebelum berpapasan dengan patroli kompeni", ujar Rustam pada Awang.
"Kedua anggotamu tewas di tembak pasukan kompeni, sedangkan Nilam dibawa mereka kepada atasan mereka Letnan Heidrich".
"Atas dasar perintah Letnan Heidrich juga Nilam di titipkan di rumah buruh kebon tersebut".
__ADS_1
"Sedikit tambahan, mungkin tidak terlalu penting. Dari cerita yang aku dengar dan saksikan saat berbicara langsung dengan Letnan Heidrich, juga tentang bagaimana dia membiayai hidup Nilam, aku bisa simpulkan sepertinya Letnan Heidrich itu walaupun berseberangan dengan kita tapi dia adalah orang baik", ujar Rustam menutup ceritanya.