Ulong Belati

Ulong Belati
Siapapun yang Tidak Datang Bersama Kita, Tenggelamkan!!


__ADS_3

Kapal yang terbakar menimbulkan suara berderak disana sini. Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan kapal, pikir Ni Gaok.


"Selamatkan diri kalian, tinggalkan kapal!!", ujarnya.


"Cepat sebelum terlambat!!".


Seluruh orang yang berada di kapal termasuk para pengawal Ni Gaok segera melompat meninggalkan kapal.


Sedangkan Ni Gaok sendiri menyatukan kedua jari telunjuk dan jempolnya lalu "Fwoosh!!" tubuhnya menghilang dan berubah menjadi enam ekor gagak sesuai jumlah tato tersisa ditubuh. Ke enam gagak segera terbang ke pantai dan begitu mencapai pantai, keenam gagak bersatu dan tubuh Ni Gaok mewujud.


Tak lama Ni Gaok mencapai pantai, kapal yang mereka naiki pun meledak karena api telah mencapai gudang mesiu.


Duumm!! Bledar!!


Ledakan kapal mengguncang pantai disitu, menimbulkan gelombang kecil namun kuat, mengantarkan sekoci-sekoci penuh penumpang dan tubuh-tubuh yang masih hidup maupun yang telah tewas menuju ke tepian.


Geladak kapal tersebut langsung hancur berkeping-keping, sebuah sekoci tak berpenumpang yang berada disamping kapal ikut terpental menghantam beberapa orang yang sedang berenang menyelamatkan diri.


Setelah ledakan, perlahan kapal yang membawa Ni Gaok dan rombongan tenggelam sebagian, hanya sebagian karena air tidak terlalu dalam di tempat kapal tersebut tadi berhenti.


Ni Gaok menatap geram ke arah kapal yang tenggelam, pada bagian atasnya api masih terlihat menyala di beberapa tempat, terutama di bagian layar yang terbuat dari kain.


Puluhan orang rombongan Ni Gaok yang tidak sempat naik di sekoci segera berenang ke tepian.


Mereka mengibas-ngibaskan tangan berusaha mengeringkan diri. Sungguh tak terbayang apa yang barusan mereka alami. Bukan pertempuran seperti ini yang mereka harapkan.


Beberapa prajurit begitu tiba di darat segera duduk melepas penat karena terpaksa berenang sejauh puluhan meter.


"Sial, mesiu kami basah!!", ujar seorang prajurit memeriksa senjatanya.


Terlihat para prajurit yang lain ikut-ikutan memeriksa senjata yang mereka sandang saat meninggalkan kapal.


Ni Gaok memperhatikan para prajurit yang selamat, sangatlah buruk berada di tengah laut menghadapi musuh tanpa senjata pikirnya. Lalu diapun komat-kamit merapal mantera.


Udara mendadak menjadi dingin dan dari tubuh Ni Gaok perlahan keluar kabut hitam.


Dan berikutnya terjadi hal menakjubkan, perlahan butiran-butiran air keluar dari pakaian mereka yang kebasahan. Butiran-butiran air tersebut membentuk untaian yang bergerak lalu bergelung di hadapan Ni Gaok, berputar-putar.


Para prajurit yang basah kuyup kaget merasakan pakaian dan tubuh mereka mengering.


Selama ini mereka hanya mendengar legenda tentang guru dari komandannya ini. Dan dalam beberapa hari ini berkali-kali mereka menyaksikan sendiri kesaktian yang dipertontonkan perempuan ini.


Ni Gaok terus bergumam merapal mantera hingga air berkumpul membentuk bulatan sebesar dua kali ukuran bola kaki.


Dia menggeram lalu membentak, "Hah!!", bulatan air tersebut mengarah secepat lesatan anak panah mengarah ke kapal yang dinaiki Ulong.


Gumpalan air membawa angin berkesiur bersamanya membuat air laut yang dilintasi seperti terbelah.


Ulong yang saat itu berdiri diatas dek sedang mengamati dengan teropong melihat gumpalan air yang datang, "awas serangan!!, ujarnya. Dia segera menggamit jemari Laksmi dan melompat menghindar kesamping kanan.


Awang begitu mendengar peringatan segera memegang tangan Mardiani dan Salhah lalu melompat kesamping kiri.


Sedangkan Rustam yang berdiri di tengah diantara mereka tidak sempat menghindar.


Byurrr!!!, bola air dan angin kencang yang datang mengiringinya menabrak kapal menimbulkan sedikit getaran. Walaupun bola air tersebut bergerak sangat cepat tapi itu hanyalah air, hanya menimbulkan sedikit rasa perih seperti di tampar, tanpa melukai.


Rustam langsung basah kuyup sekujur tubuhnya, gelagapan karena sebagian air memasuki hidung dan mulutnya.


"Ini serangan?", tanya Awang heran campur geli melihat Rustam yang basah kuyup.

__ADS_1


"Eh", segera dia tersadar lalu melepas pegangan pada tangan Mardiani dan Salhah. Kedua gadis tersenyum-senyum, mereka senang Awang berusaha menyelamatkan mereka, karena tindakan spontan mencerminkan perasaan.


Ni Gaok menatap geram, bola air tadi hanya ungkapan kekesalannya karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Sementara para anggota rombongannya kaget, karena tadinya mereka berharap kapal musuh hancur lebur, mereka hanya menatap tanpa berani berkata apa-apa.


Ni Gaok bisa saja merubah dirinya menjadi enam gagak sekaligus lalu terbang kesana, tapi itu beresiko makin banyak gagaknya yang tewas dan itu akan menjadi fatal baginya.


Angku Razak, dan Samsul bergegas keluar dari dalam geladak, "apa barusan yang menghantam kita?", tanyanya.


"Hanya air", jawab Rustam nyengir sambil mengibas-ngibaskan tangan.


⚜️⚜️⚜️


Tembakan meriam dan kapal rombongan Ni Gaok yang meledak terlihat dan terdengar suaranya dari bukit karang dimana Heidrich dan pasukannya menunggu.


Para prajurit tidak mengerti apa yang terjadi, mereka hanya melihat di kejauhan sebuah kapal yang menuju pantai ditembaki oleh sebuah kapal lain.


Sedangkan Heidrich dan Jhon masing-masing memegang teropong dan menyaksikan kejadian itu secara jelas.


"Sepertinya ada musuh lain yang menyerang Ni Gaok?", tanya Jhon heran.


Heidrich mengangguk sambil meneropong, eh tapi dia mengenali kapal tersebut, itu adalah kapal perang kompeni, hanya saja tanpa bendera.


Dia jadi teringat para laskar yang dulu sempat menawannya, mereka menaiki kapal yang sama, kapal perang kompeni yang mereka curi dari pelabuhan.


"Mat Kabur", gumamnya.


Jhon kurang jelas mendengar, dia melepaskan pandangan dari teropong di tangan dan melirik komandannya.


Dia kembali meneropong lalu tanpa sengaja melihat ke arah kiri. "Komandan lihat!!", ujar Jhon menunjuk ke arah kiri mereka.


Heidrich meneropong dan melihat kapal mereka yang tadinya bersembunyi, telah bergerak keluar dari kumpulan karang karena mendengar suara ledakan.


Mendengar perintah Heidrich beberapa orang anak buahnya segera berlari ke puncak tertinggi dari karang lalu diatas puncak mengibar-ngibarkan bendera berwarna kuning memberi isyarat semaphore (bahasa sandi dengan menggunakan bendera).


Mereka terus mengibarkan bendera memberi isyarat agar terlihat dari kapal mereka.


Heidrich dan Jhon mengawasi dengan cemas, karena kapal mereka adalah kapal dagang, sudah jelas tidak akan mampu mengimbangi kecepatan kapal perang musuh.


⚜️⚜️⚜️


"Ada kapal lain mendekat!!", ujar Ulong lalu memberikan teropong kepada Rustam. Rustam mengamati melalui teropong, "kapal kompeni yang lain", ujarnya.


Dia menyerahkan teropong kepada Ulong lalu berlari menuju kemudi kapal.


"Perintahkan untuk mengisi ulang seluruh meriam di sisi sebelah kiri", pinta Rustam.


Ulong melongok ke bawah lalu berteriak, "Isi semua meriam sebelah kiri!!!".


Mereka yang berada di kabin meriam mendengarnya. "Ayo, isi meriam, cepat!!", ujar Mat Kecik. Lalu dia nyengir kepada Arman, "kita seperti perompak ya", ujarnya. Arman terkekeh menatap sahabatnya itu.


Tama, beserta keempat teman Awang dan beberapa penduduk desa nelayan naik ke dek menunggu perintah.


"Naikkan sauh", turunkan layar, cepat!!" ujar Rustam.


Mereka bergegas menarik sauh (jangkar), di keempat sisi sedang sebagian lagi menarik layar dan mengikat tali-talinya agar mengembang, untuk mempercepat laju kapal tertiup angin.


"Persiapkan diri kalian, kita akan kembali menembak!!", teriak Rustam.


Awang yang kali ini melongok ke bawah dan berteriak, "bersiap!!".

__ADS_1


"Bersiap!!", teriak Mat Kecik dengan senang. Putra dan Arman segera bersiap di masing-masing sebuah meriam.


Kapal dagang kompeni mengarah ke mereka, dan Rustam pun mengarahkan kapal ke musuh.


Kedua kapal berhadapan dengan cepat, pada jarak seratus meter dari musuh dengan cepat Rustam memutar kemudi sehingga sisi kiri kapal yang mereka naiki kini menghadap kapal musuh.


Musuh melakukan hal sebaliknya berusaha menghadapkan sisi kanan kapal mereka ke lawan, namun kapal mereka tidak bisa bermanuver secepat kapal yang dinakhodai Rustam.


Rustam sudah perkirakan bahwa musuh pasti berbelok ke arah sisi kanan mereka, karena bila berbelok ke sisi kiri maka mereka akan mendekat ke pantai dan besar kemungkinan terjebak di air dangkal.


Kini sisi kiri kapal yang dinakhodai Rustam sepenuhnya menghadap kapal musuh yang masih berusaha berbelok.


"Sial", ujar Nakhoda kapal dagang kompeni dengan wajah pucat pasi melihat kini musuh sudah menghadapkan sisi kapal dengan belasan meriam ke arah mereka.


"Tembak!!", teriak Rustam semangat.


"Tembak!!", teriak Ulong dan Awang bersamaan.


"Tembak!!!", teriak Mat Kecik lalu menyalakan meriam dihadapannya.


Hampir bersamaan meriam-meriam ditembakkan.


Bledum!! Duar!! Duar, Duar, Duar!!


Belasan meriam di tembakkan, asap putih mesiu berkepul-kepul dari kapal yang dinaiki Ulong.


Dan kapal dagang kompeni berlubang disana sini, rusak parah pada bagian depan dan sebagian samping kanan. Peluru menembus masuk ke geladak dan menghantam beberapa meriam didalamnya berikut beberapa orang prajurit.


"Isi ulang!!", perintah Rustam.


"Isi Ulang", teriak Tama dengan semangat dari atas dek, tak mau kalah.


Ulong dan Awang menatapnya, Tama nyengir sambil mengangkat bahu.


"Isi ulang meriam!!", teriak Arman.


Kapal musuh dengan sisa tenaganya berusaha menghadapkan sisi kanannya ke arah mereka.


"Bersiap, serangan!!", teriak Ulong begitu melihat arah gerakan kapal lawan.


Rustam juga sudah memperkirakan itu, benar-benar pelaut tua yang handal, dia menggerakkan kapal mereka mengikuti arah gerakan anjungan kapal musuh, sehingga musuh tidak akan pernah bisa menembak mereka.


"Hahaha, aku benar-benar menyukai kapal ini", ujarnya senang lalu mencium kemudi yang dipegangnya.


"Meriam siap!!", teriak Mat Kecik dari bawah.


"Meriam siap!!!", teriak Awang.


Kali ini Rustam menunggu, membiarkan kapal lawan mengikuti mereka, agar lebih banyak bagian tubuh kapal lawan yang terkena tembakan.


Begitu setengah tubuh kapal lawan terlihat terbuka, "tembak!!!", teriak Rustam. Bersamaan mereka yang di dek berteriak "tembak!!".


Dan kembali meriam berdentum menimbulkan kebisingan di pagi itu.


Bledar, Dar, Dar , Dar!! Kapal musuh langsung remuk redam. Beberapa meriam sempat balas ditembakkan mereka namun tidak ada yang mengena karena posisi mereka menembak belum tepat.


Peluru-peluru meriam musuh berdesingan di belakang buritan kapal mereka lalu jatuh ke laut meledakkan air.


Sebuah peluru berhasil menyerempet kayu buritan, hanya itu serangan terdekat yang mengenai kapal.

__ADS_1


__ADS_2