
Heidrich meminjam kapal dagang milik maskapai karena kapal-kapal perang mereka sebelumnya di bakar dan dicuri Ulong dan teman-teman.
Walaupun kapal yang di pinjam ini adalah kapal dagang, tapi pada masa itu kapal dagang pun memiliki meriam. Yang membedakannya dengan kapal perang adalah ruang kargo dan tubuh kapal dagang lebih besar sebagai tempat penyimpanan barang dan logistik. Sehingga pada umumnya kapal dagang bergerak lebih lambat di bandingkan kapal perang yang bertubuh langsing.
Tak tanggung-tanggung, agar tidak kecolongan seperti sebelumnya, kali ini Heidrich membawa dua ratus orang prajurit sekaligus, baik prajurit Belanda maupun pribumi dengan berbagai perlengkapannya. Setelah semua persiapan selesai mereka mengangkat jangkar, berlayar selepas Maghrib.
Di atas kapal dekat anjungan, Heidrich berdiri menatap lautan di depan bersama Jhon. Pada malam hari angin cukup kencang bertiup dari darat ke laut. Beberapa kali mereka sempat melihat obor dan lentera berkelap kelip berasal dari beberapa perahu nelayan dikejauhan yang berangkat untuk mencari ikan.
"Apakah tidak lebih baik kita mengambil kotak berisi potongan tubuh Suma dan membawanya pergi lalu memindahkannya?", tanya Jhon kepada Heidrich.
"Dan membiarkan Ni Gaok mengamuk lalu menyerang di tempat yang tidak bisa kita perkirakan? Tidak, ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk membalas mereka, dilaut dimana mereka tidak bisa menggunakan kesaktiannya dan berlari menghindar seperti di darat", jawab Heidrich.
Dia menoleh Jhon dan tertawa kecil.
"Aah", Jhon mengangguk paham.
Dia mengikuti komandannya mengalihkan pandangan ke depan, ke arah lautan luas, gelap seolah tak bertepi, dan dia tersenyum.
Dia senang akhirnya masalah paling rumit telah diselesaikan, komandan telah kembali, pengkhianatan telah dibuktikan, dan mereka kembali menghadapi perang sesungguhnya, bukan lagi polemik berkepanjangan.
Setelah sekitar tiga jam berlayar mereka pun tiba di pulau tempat tubuh Suma di sembunyikan.
Masih hening di situ, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ni Gaok.
Segera sekoci-sekoci (sampan), diturunkan. Dan para prajurit kompeni bergiliran menaikinya menuju daratan.
Setelah Heidrich dan para prajuritnya mendarat, kapal disembunyikan di salah satu pulau terdekat, di tempat yang terlindung karang, agar tidak terlihat oleh musuh yang datang.
Heidrich membawa pasukannya mengikuti Edward, yaitu prajuritnya yang selamat dari serangan Ni Gaok untuk menunjukkan dimana mereka menyembunyikan peti berisi potongan tubuh Suma.
Mereka berjalan tanpa suara dan tanpa cahaya dalam keadaan siaga, untuk menghindari kemungkinan Ni Gaok dan para pengawalnya sudah tiba terlebih dahulu lalu menyerang mereka.
Sekitar lima belas menit berjalan akhirnya mereka tiba di tempat dituju. Dan tidak ada tanda-tanda tempat penyembunyian peti telah dikorek ulang.
Heidrich menarik napas lega, lalu memerintahkan orang-orangnya menyalakan beberapa obor.
Dia menatap gundukan karang yang mengelilingi tempat tersebut.
"Apakah anda berpikir sama seperti yang sedang kupikirkan komandan?", tanya Jhon.
Heidrich tertawa, "ya gundukan karang ini bisa menjadi tempat pengepungan yang sangat baik, ujarnya".
Gundukan karang yang mengelilingi lokasi penyimpanan peti memiliki tinggi sekitar sepuluh meter dengan dinding yang terjal. Gundukan itu sangat luas hingga mencapai lautan di sebelah Utara dan Timur pulau ini. Sangat cocok untuk dijadikan tempat menyerang dan bertahan.
Heidrich memerintahkan seorang pasukan pribumi yang terkenal sangat terampil, untuk membawa tali dan memanjat tebing tersebut. Lalu dari atas prajurit tersebut menurunkan tali yang dibawanya.
Heidrich dan seluruh pasukannya segera naik ke atas gundukan karang.
__ADS_1
Diatas gundukan karang mereka mempersiapkan diri mengambil posisi untuk menjebak Ni Gaok atau siapapun yang berusaha mengambil peti berisi potongan tubuh Suma.
⚜️⚜️⚜️
Ni Gaok bersama rombongannya berkuda perlahan di pinggiran kota Belawan lalu menerobos belukar dan pepohonan untuk menuju pelabuhan.
Awalnya dia berencana untuk merampas perahu nelayan di desa-desa di pesisir pantai, hanya saja melalui burung gagaknya dia melihat pergerakan tentara kompeni di pelabuhan Belawan, dia bahkan melihat seorang perwira bersama mereka yang sudah bisa diduganya orang itu adalah Heidrich.
Dia sudah hidup ratusan tahun, cukup berpengalaman untuk dapat melihat bahwa kapal yang dinaiki tentara kompeni adalah kapal dagang dengan banyak meriam. Untuk apalagi kalau bukan untuk mencegah dirinya menyelamatkan peti berisi tubuh Suma pikirnya.
Dia menduga seorang prajurit musuh yang berhasil selamat dari serangannya beberapa hari lalu di pinggir kota pasti telah bercerita kepada Heidrich dan kini mereka bersiap untuk melawannya. Lalu kalau mereka menggunakan perahu untuk menuju ke tempat peti disembunyikan, sama saja artinya membiarkan rombongannya menjadi sasaran empuk untuk ditenggelamkan meriam-meriam musuh.
Sehingga satu-satunya pilihan tersisa saat ini adalah mereka harus merebut kapal dagang lainnya lalu menggunakannya menghadapi para prajurit kompeni di lautan.
Kini selepas subuh dia memimpin rombongan menuju pelabuhan Belawan, berkuda melintasi pinggiran rawa hutan bakau.
Sekitar dua puluh menit berjalan dalam gelap, mereka pun tiba di dermaga.
Begitu cahaya-cahaya obor dan lentera terlihat di pelabuhan di depan mereka, keenam pengawal Ni Gaok segera turun dari kuda dan bergerak maju perlahan.
Dua orang prajurit kompeni terlihat sedang berbincang membelakangi arah di mana para pengawal datang.
Seorang pengawal Ni Gaok mendekati mereka lalu membenturkan kepala kedua prajurit tersebut. "Prak!!", kedua prajurit malang tersebut roboh dengan kepala pecah.
Duar!! Daar!! Dar!!
Menyusul suara tembakan dilepaskan, peluit berkali-kali di tiup di beberapa tempat di sekitar dermaga.
Peluru-peluru mengenai tubuh para pengawal, ke enam pengawal Ni Gaok langsung berlari mengejar prajurit yang menembak. Berpikir lawan adalah orang biasa para prajurit yang tadi menembak kini mencabut pedangnya.
Dan perkelahian tak terhindarkan, kelima pengawal Ni Gaok bertarung dengan para prajurit penjaga dermaga.
"Ayo kita bergerak cepat!!", perintah Ni Gaok kepada rombongannya. Mereka memacu kuda mengarah ke sebuah kapal dagang terdekat.
Pasukan kompeni yang bersama Ni Gaok segera melepaskan tembakan sambil memacu kuda mereka.
Rentetan tembakan menyalak berbalas-balasan, beberapa prajurit kompeni yang berdatangan karena suara tembakan segera menjadi korban, berjatuhan dihantam peluru.
Walaupun semenjak pelabuhan di serang Ulong dan teman-teman jumlah penjaga ditambah, tetap saja musuh terlalu banyak bagi mereka. Kini mereka yang selamat hanya bisa bersembunyi ditembaki.
Segera rombongan Ni Gaok menaiki kapal yang mereka tuju, meninggalkan kuda-kuda mereka di dermaga.
Para pengawal setelah membereskan prajurit penjaga segera berlari menyusul mereka menaiki kapal.
Dua orang prajurit lain yang berjaga di atas kapal sempat melepaskan tembakan, disambut berondongan tembakan lawan. Karena lawan terlalu banyak dan tidak mungkin untuk dihalau, mereka pun terjun ke laut menyelamatkan diri.
__ADS_1
Tembakan masih terdengar beberapa kali bersahutan, mengiringi kapal meninggalkan pelabuhan, menghilang di gelapnya malam menjelang pagi.
Sekitar tiga jam mereka berlayar, dan perlahan gelap berganti dengan semburat cahaya matahari di ufuk timur.
Tak lama mereka pun tiba di pantai yang ditunjukkan prajurit kompeni yang disandera, di saat matahari sudah sepenuhnya muncul.
Sangat sepi disini, hanya terdengar suara deburan ombak dan pekikan camar yang ramai bercengkerama di udara. Tapi Ni Gaok bisa perkirakan kalau musuh sudah tiba terlebih dahulu dan bersembunyi menunggu mereka.
Para prajurit sudah menurunkan sekoci, bersiap untuk mendarat, Ni Gaok duduk bersila di dek kapal berkonsentrasi lalu melepas seekor gagaknya untuk terbang mengawasi. Gagak itu segera terbang melintasi batas pantai menuju ke pulau.
Bledar!, Duar!! Bledumm!!
Belasan tembakan meriam mengarah ke mereka dari kapal musuh lain yang sama sekali tidak mereka perkirakan. Yaitu kapal Ulong dan rombongan yang ternyata menyusul di belakang.
Ni Gaok kaget, konsentrasinya buyar dan gagaknya kini melayang tanpa arah menuju pulau.
Gagak itu melayang jauh ke daratan, lalu Duar!! sebuah tembakan telak mengenai tubuh burung tersebut, hingga tubuhnya terpental dan beberapa bulunya terlepas.
Tembakan itu dilepaskan oleh seorang penembak jitu kompeni yang bersama Heidrich mengintai di atas karang.
Heidrich sudah mendengar cerita dari Edward bahwa ni Gaok sering mempergunakan gagaknya untuk mengamati musuh, dan begitu dia melihat seekor gagak mendatangi pulau (adalah aneh menurutnya melihat gagak berada di tempat yang sangat jauh dari daratan utama), maka dia memerintahkan seorang penembak jitu menembak burung tersebut.
Begitu burung di tembak, Ni Gaok terjatuh kesakitan, burung itu bukan sekedar tato di pundak kiri melainkan bagian dari kekuatannya. Dia merasakan perih di bahu kirinya tempat tato gagak yang dikirimnya. "Sial!!", geramnya.
Sebelumnya, Mat Kecik dan Arman terkekeh di ruang meriam, "ini coba Put", ujar Mat Kecik menyerahkan obor ke Putra.
Putra cuma tersenyum tipis lalu menerima obor di tangannya dan sulutkan ke lubang kecil di atas meriam.
Bleduar!!! Putra tersentak, baru sekali ini dia menyalakan meriam, ternyata luar biasa deras suaranya. Mat Kecik dan Arman terkekeh melihat ekspresi Putra yang kaget.
Kembali ke kapal Ni Gaok, belasan peluru meriam di tembakkan, beberapa mengenai lambung kapal, beberapa mengenai tiang-tiang layar dan beberapa lagi menimbulkan desingan lewat diatas kepala mereka lalu jatuh di laut menimbulkan ledakan air yang mengguyur kemana-mana.
Serpihan-serpihan kayu beterbangan kesana kemari dengan kecepatan mematikan. Beberapa anggota rombongan terpental karena ledakan.
Para prajurit di kapal Ni Gaok tidak sempat lagi membalas, kapal musuh begitu tiba-tiba muncul dari arah yang tidak diperkirakan. Bahkan Ni Gaok tidak tahu kelompok siapa yang saat ini menyerang mereka.
Kapal mereka mulai terbakar, tiang-tiang layar berderak patah dan menimpa beberapa prajurit.
Sebagian besar orang yang di dek langsung melompat ke dalam air menyelamatkan diri.
Kini tembakan gelombang kedua disiapkan. Meriam-meriam sudah diisi ulang.
Mat Kecik, Arman, dan Putra bersiap masing-masing didepan sebuah meriam sambil memegang obor.
Mereka saling menoleh lalu mengangguk, "Tembak!!!", teriak Mat Kecik.
Duar Dar Bledum Duar!!
__ADS_1
Seluruh meriam disisi yang mengarah ke kapal Ni Gaok kembali diletuskan. Dan kembali belasan peluru meriam menghantam kapal Ni Gaok dan rombongan.