Ulong Belati

Ulong Belati
Pos Pertahanan Musuh


__ADS_3

Rombongan Ulong menghentikan kuda di tempat yang tidak terlalu banyak pepohonan.


Dalam bantuan penerangan cahaya bulan, Ulong, Awang, Putra, Arman, dan Mat Kecik mengganti pakaian mereka dengan seragam serdadu kompeni yang tadi mereka lucuti di jembatan penyebrangan.


Ini juga bagian dari siasat yang direncanakan Ulong dan Awang sejak awal.


"Bang wajah kalian harus disamarkan agar tidak terjadi seperti tadi, ada serdadu kompeni yang mengenali" ujar Ulong pada Awang.


Awang menoleh ke arah Ulong, "iya juga" pikirnya.


"Payah memang jadi orang terkenal Wang", ujar Mat Kecik tertawa.


"Iya kami tadi sempat jantungan melihat abang", ujar Mardiani, Salhah ikut mengangguk membenarkan.


Awang menatap kedua gadis dengan grogi, alisnya yang tebal terjingkat naik ke atas, membuatnya justru terlihat makin tampan.


Arman dan Mat Kecik melihat ekspresi Awang lalu saling lirik dan tertawa tanpa suara.


Awang pura-pura tidak ada kejadian, tidak hiraukan arti lirikan dan tertawa kedua temannya.


"Entah apa tingkah dua orang ni, apa tak tau mereka kalau kedua gadis ini masih anak-anak, umur mereka saja sepuluh tahun di bawahku" batin Awang.


Tak berhenti hanya disitu, Arman datang menghampiri, "sini bang biar saya samarkan wajah tampan abang" ujar Arman menggoda Awang.


Arman mengambil obor padam yang tergantung di samping pelana lalu usapkan tangan disitu untuk mengambil jelaganya, setelah tangannya hitam terkena jelaga dia oleskan di beberapa tempat di wajah Awang.


"Nah kalau begini Abang tambah tampan tak bisa dikenali lagi" sambung Arman.


"Udah jangan bikin tingkah yang nggak-nggak kau Man, bikin malu aku saja" bisik Awang salah tingkah.


Walau menggerutu tapi dia tidak protes Arman mengoleskan jelaga ke wajahnya.


Arman tersenyum lebar mendengar gerutuan temannya itu.


Ulong dan Laksmi tersenyum melihat itu, Awang dan orang-orangnya kelakuannya sama, suka bercanda.


"Bukan cuma bang Awang, kalian berdua juga bang, kalian kan selalu bersama kemana-mana. Kemungkinan kalian juga bakal dikenali" ujar Ulong lagi.


Bersamaan Mat Kecik dan Arman menatap Awang, "ooh iya" pikir mereka.


Awang menyeringai lebar "sini gantian", ujarnya lalu menggosokkan kedua telapak tangannya ke obor.


Mat Kecik pun melakukan hal yang sama dengan mengoleskan jelaga ke wajah sendiri.


"Hei itu kebanyakan, nanti musuh malah curiga" ujar Awang pada Mat Kecik.


Dia melihat Mat Kecik menggosokkan jelaga dengan kedua tangan ke wajah hingga seluruh wajahnya hitam.


Ulong dan yang lain-lain jadi tertawa melihatnya, "sini", ujar Arman lalu meninggalkan Awang yang mau mengoleskan jelaga ke wajahnya.


Arman, mengelap sebagian wajah Mat Kecik dengan tangan bajunya.


Mat Kecik walau namanya Kecik tapi tubuhnya tinggi besar, tingginya sama dengan Ulong dan badannya lebih tegap. Sedangkan Arman bertubuh sedang, sedikit lebih tinggi dari Awang.


Sehingga Arman harus sedikit tengadah menatap wajah Mat Kecik.


Sembari Awang dan kedua temannya mengoleskan jelaga ke wajah mereka berdiskusi kembali untuk mematangkan strategi, agar jangan ada satu langkah pun yang terlewat.


⚜️⚜️⚜️


Mereka kembali melanjutkan memacu kuda-kuda menyusuri jalanan umum, menuju Pos Pertahanan Kompeni di Klambir Lima.


Beruntunglah saat itu bulan bercahaya cukup terang, sehingga mereka dapat memacu kuda tanpa perlu menyalakan obor.


Baru saja berpacu sekitar satu kilometer dari jembatan terbakar, terlihat di kejauhan di arah depan banyak cahaya obor berkelap-kelip menuju ke arah mereka.


"Musuh di depan" ujar Awang, lalu memberi isyarat agar rombongan berhenti.


Seperti yang sudah di sepakati sebelumnya bila berpapasan dengan patroli, Laksmi, Angku Razak dan kedua gadisnya segera turun dari kuda.


Mereka menuntun kuda-kuda mereka dan kuda pengangkut perbekalan, bersembunyi di rimbun pepohonan dan belukar di pinggir jalan.


Ulong dan yang lain yang menyamar menjadi serdadu kompeni berhenti sebentar, memberi waktu bagi Laksmi dan yang lain bersembunyi.


Laksmi memberi isyarat dengan jempol kepada Ulong menandakan mereka siap, Ulong membalas dengan anggukan.


"Ayo kita bergerak" ujar Ulong kepada teman-temannya.


Seperti yang sudah mereka perkirakan, rombongan yang membawa obor itu adalah patroli pasukan kompeni.

__ADS_1


Ulong dan rombongan berpapasan dengan mereka yang berpatroli dari arah Klambir Lima.


Ulong menghitung jumlah kompeni yang berpatroli berjumlah lima belas orang


"Cukup sulit bagi kami melawan mereka dalam perang terbuka" pikir Ulong.


Awang dan Ulong saling melirik.


Ulong maju mengendarai kudanya menghampiri serdadu kompeni.


"Tuan, tolong, jembatan diserang dan telah dibakar musuh", ujar Ulong dengan napas tersengal-sengal begitu dia tiba dihadapan para serdadu kompeni.


Para serdadu kompeni kaget mendengar itu. Apalagi melihat penampilan Ulong dan teman-temannya begitu meyakinkan, kotor, dan baju mereka berdarah disana-sini (darah serdadu pemilik seragam yang mereka bunuh).


Wajah tiga orang diantara mereka bahkan hitam-hitam terkena jelaga.


"Berapa banyak jumlah penyerang sehingga kalian kalah? tanya komandan mereka pada Ulong dengan ekspresi tegang.


"Saya tidak tahu berapa jumlah pastinya, mereka muncul dari mana-mana, cuma kami yang berhasil selamat" sambung Ulong lagi.


"Kami diperbantukan disini, ternyata jumlah kami kurang banyak", sambung Awang menambahkan, lalu dia menunduk terbatuk, "Uhuk..uhk".. (pura-pura).


Si komandan berpikir sebentar, dia menatap ke arah jembatan satu kilometer di depan. Memang terlihat dilangit disana ada cahaya merah.


Cahaya itu sudah pasti bukan dari terbakarnya jembatan, melainkan berasal dari api di padang ilalang yang belum padam hingga kini.


Si komandan menyuruh dua orangnya kembali ke pos untuk meminta bantuan.


Dia mengamati kedua anggotanya hingga memacu kuda menjauh, lalu dia kembali menatap Ulong, "kalian ikut kami untuk membantu menahan para penyerang selagi menunggu bantuan tiba, kita tidak bisa biarkan mereka bergerak maju terlalu jauh" ujarnya.


Ulong mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita bergerak, kita hajar ekstrimis-ekstrimis tersebut!!!", seru si komandan pada pasukannya.


Awang mendengar ucapan si komandan kembali terbatuk-batuk, kali ini batuknya beneran.


"Ayo serbu!!!" ujar beberapa serdadu kompeni.


"Serang!!!", sambung yang lain.


Ulong dan rombongan mengikuti prajurit kompeni yang begitu semangatnya memacu kuda, kembali menuju ke arah jembatan.


Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di tempat rombongan Laksmi bersembunyi.


"Ada apa?" tanya si komandan, Ulong letakkan telujuk di bibir mengisyaratkan agar mereka diam, lalu dia letakkan tangan di telinga seolah sedang mendengarkan.


Prajurit kompeni yang bersamanya ikut-ikutan bersiaga, menoleh kesana kemari.


Ulong sengaja berhenti dan berpura-pura seperti itu untuk memberi kesempatan agar lebih mudah bagi Laksmi dan yang lainnya untuk membidik.


Dan, tiga buah anak panah melesat dari kegelapan disusul tumbangnya tiga orang prajurit kompeni, jatuh dari kuda mereka.


Hanya Laksmi, dan dua gadis Angku Razak yang melepaskan anak panah.


Angku Razak cukup mahir memanah tapi tidak untuk jarak yang jauh karena pengaruh matanya yang sudah mulai merabun.


Sedangkan untuk menyamar jadi serdadu kompeni dan bergabung dengan rombongan Ulong dia sudah ketuaan, hingga kini dia cuma menonton sambil bersembunyi di kegelapan.


"Awas, musuh dikiri!!!" teriak komandan patroli kompeni lalu mencabut pistol dan menembakkannya ke arah panah berasal di kiri mereka.


"Duar".


Laksmi dan yang lain begitu selesai memanah langsung bersembunyi di balik pohon.


Tanpa diberi komando lagi senapan beberapa serdadu kompeni langsung menyalak membalas bersahutan menyusul tembakan komandan mereka.


Peluru-peluru berdesingan melintasi tempat Laksmi bersembunyi, pohon-pohon yang jadi sasarannya. Serpihan batang dan kulit pohon beterbangan di tempat yang terkena peluru.


"Duar.. Duar, duarr!!!"


Sebagian serdadu melompat turun berlindung di samping kuda-kuda mereka sambil menembak ke arah panah berasal.


Ulong dan teman-teman ikut menembak beriringan seperti petasan, tapi bukan ke arah Laksmi yang bersembunyi, melainkan ke arah serdadu yang terdekat dengan mereka.


Lima orang lagi serdadu kompeni roboh tak bernyawa, termasuk komandannya.


Musuh yang tersisa terkesiap kaget, mereka menatap ke arah Ulong dan kawan-kawan dengan pandangan bingung.


Belum hilang kaget mereka, Ulong dan teman-teman masing-masing menikamkan bayonetnya

__ADS_1


"Ayo serbu!!!", ujar Mat Kecik sambil menikamkan bayonetnya ke leher seorang serdadu musuh.


Serdadu kompeni yang tersisa pun roboh menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu tewas.


Tubuh serdadu kompeni bergelimpangan, asap mesiu berwarna putih memenuhi lokasi dimana mereka berada.


"Aaaahh.. uhh.. keriting bulu hidungku", ujar Mat Kecik sambil mengipas-ngipas dengan tangan mengusir asap di depannya.


Laksmi, dua gadis yang lain, dan Angku Razak keluar dari persembunyian di balik pepohonan tanpa luka sedikitpun.


"Kalian semua baik-baik saja kan?" tanya Awang.


Mereka yang ditanya mengangguk mengiyakan. Anak dan ponakan Angku Razak tersenyum malu-malu, manis sekali.


Awang diberi senyuman seperti itu jadi salah tingkah lalu mengalihkan pandangan.


Putra mengumpulkan kuda-kuda musuh lalu memberikan tali kekangnya ke Laksmi dan yang lain.


Setelah memastikan tidak ada yang terluka, dan memastikan prajurit kompeni semuanya tewas, Ulong dan seluruh rombongan kembali meneruskan perjalanan, menuju Pos kompeni beberapa kilometer lagi di depan.


Hampir setengah jam mereka berkuda tanpa bicara, hingga sesaat lagi mereka akan tiba di Pos kompeni.


Awang memberi isyarat pada yang lain untuk menghentikan laju kuda mereka.


"Kenapa bang?" tanya Ulong.


"Kita hampir tiba di markas kompeni, sekitar sepuluh atau lima belas menit setelah melewati jalan menanjak di depan" ujarnya.


"Ooh", ujar Ulong sambil menatap ke depan, ke jalan yang menanjak.


"Kalau begitu kita harus tunggu dulu sehingga sebagian besar pasukan mereka keluar", sambung Ulong.


"Kenapa mereka begitu lama, apa mereka tidak mau kita berkunjung ke pos mereka?", tanpa sadar Mat Kecik berucap.


Arman meninju bahu temannya itu sambil tertawa.


Baru saja Mat Kecik berkata seperti itu terlihat cahaya obor berkelap kelip di ujung jalan yang menanjak di depan mereka, pertama hanya satu lalu disusul beberapa lagi di belakangnya.


"Itu mereka sudah keluar dari markasnya" ujar Awang.


Satu persatu obor-obor yang dibawa pasukan kompeni itu padam karena pemegangnya memacu kuda mereka menuruni jalan.


Dalam temaram cahaya rembulan, terlihat mereka bagai bayangan hitam berlomba berpacu turun.


"Ayo bersiap", ujar Angku Razak.


Ulong dan rombongan buru-buru menyingkir, seluruhnya.


Ini adalah bagian terpenting dari rencana.


Tak lama mereka bersembunyi, pasukan kompeni melewati mereka dengan jumlah sekitar tiga puluh orang atau lebih, terdiri dari serdadu Belanda dan pribumi.


Para penunggang itu meninggalkan debu berkepul di belakang mereka.


Ulong dan yang lain diam menunggu dan memperhatikan hingga rombongan itu berlalu.


Banyaknya kuda yang melintas bersamaan menimbulkan suara gemuruh, suara itu bahkan masih terdengar hingga mereka menjauh.


Setelah mereka berlalu dan derap kuda-kuda tak terdengar lagi, Putra keluar dari persembunyian menuntun kudanya dan berdiri di jalan.


Dia memastikan sebentar, lalu setelah keadaan dirasanya benar-benar aman dia memberi isyarat dengan tangan memanggil teman-temannya yang bersembunyi untuk keluar.


Serentak Ulong, Awang dan rombongan keluar dari persembunyian di rerimbunan pohon dan semak.


Mereka langsung memacu kuda secepat mungkin menuju pos kompeni yang bisa dipastikan saat ini hampir kosong dari penjaga.


Seperti yang diucapkan Awang, sekitar sepuluh menit setelah melewati tanjakan terlihat Pos militer di depan, berpagar tembok putih, berhiaskan cahaya kuning obor-obor yang terpancang disana sini.


Segera mereka melompat turun dari kuda dan menuntunnya menuju rimbunan pepohonan jati di sebelah selatan pos.


Dari situ mereka cukup leluasa mengamati tanpa terlihat oleh musuh.


Pos pertahanan itu terlihat cukup luas, lebih kurang tiga puluh meter persegi.


Di sekeliling pos ada tanah kosong dengan lebar sekitar empat puluh meter pada setiap sisinya.


Tanah kosong tanpa ada apapun tumbuhan di atasnya itu disediakan agar tentara di dalam komplek militer tersebut dapat melihat apabila ada musuh yang mendekat.


Pagar tembok setinggi lima meter menjadi pembatas dengan tanah kosong di sekitarnya. Dan pada empat sudutnya ada menara jaga setinggi tujuh meter.

__ADS_1


Pada tiap menara terlihat masing-masing ada seorang prajurit yang berjaga.


"Tempat ini terlalu besar untuk disebut pos", pikir Ulong begitu melihat bangunan tersebut.


__ADS_2