Ulong Belati

Ulong Belati
Tanpa Kegaduhan


__ADS_3

"Izin ya Angku", ujar Awang dengan segan, dia terpaksa harus mengikat kedua belah tangan Angku Razak ke depan.


Angku Razak malah tertawa "apapun itu ananda, silah lakukan, saya tidak keberatan demi kemenangan memperjuangkan hak kita", ujarnya.


Awang tersenyum lalu mulai mengikat.


Tak memakan waktu lama untuk melilitkan tali di tangan Angku Razak, karena hanya di lilitkan.


Yang penting adalah terlihat oleh musuh tangan Angku seperti sungguh-sungguh diikat.


Selanjutnya tinggal tergantung Awang dan kedua temannya memainkan peran.


Ini adalah siasat yang di susun Ulong agar mereka dapat memasuki Pos musuh.


"Baiklah, sudah selesai" ujar Awang begitu selesai melilitkan tali ke tangan Angku Razak.


Berbeda dengannya yang tadi diikat tangan ke belakang sewaktu berpura-pura menjadi tawanan, maka pada Angku Razak tangan beliau di ikat ke depan agar masih dapat berpegang pada pelana.


Dengan dibantu Mat Kecik, Awang menaikkan Angku Razak ke kudanya.


"Hati-hati ayah", ujar Mardiani. "Iya hati-hati Angku" sambung Salhah.


Angku Razak tersenyum menenangkan kedua gadis kesayangannya itu.


Setelah Angku Razak menaiki kuda, Awang dan kedua temannya berjalan menuju kuda mereka.


Sedangkan Mardiani dan Salhah segera berlari ke posisi mereka yang telah di tetapkan, yaitu bersembunyi di pepohonan depan gerbang.


"Seharusnya saat ini Ulong dan Laksmi sudah berhasil menerobos masuk" batin Awang.


Dia menatap rombongan sejenak lalu mulai menjalankan kudanya.


⚜️⚜️⚜️


Mereka berbagi tugas.


Laksmi bertugas menjatuhkan para penjaga menara di tembok belakang dengan busur dan panah.


Setelah Laksmi menjatuhkan para penjaga menara belakang, Ulong dan Laksmi akan masuk dari belakang dengan cara memanjat tembok dengan tali. Setelah melumpuhkan penjaga menara maka mereka yang akan membuka gerbang dari dalam seandainya Awang dan yang lain tidak berhasil melewati penjaga di depan gerbang.


Lalu bersama-sama mereka akan menyerang serdadu kompeni yang tersisa di dalam komplek dan membebaskan tawanan.


Sedangkan Awang, Arman, dan Mat Kecik membawa Angku Razak sebagai tawanan, mereka bertugas memasuki pos dari gerbang depan.


Atau seandainya mereka gagal, maka mereka harus membunuh penjaga gerbang.


Mereka bergerak beberapa menit setelah Ulong dan Laksmi berusaha masuk dari belakang.


Mardiani dan Salhah masing-masing mengawasi kedua menara di depan, mereka diperintahkan memanah kedua penjaga menara depan bila mulai terjadi keributan di dalam komplek, atau bila Awang memberi isyarat untuk menyerang.


Lalu Putra kebagian tugas untuk menyiapkan kuda-kuda mereka di sebelah Utara Pos pertahanan musuh, untuk mereka melarikan diri.


⚜️⚜️⚜️


Dibagian tembok sebelah belakang, dari jarak sekitar empat puluh meter di rerimbunan pohon jati Laksmi berhasil merobohkan kedua penjaga di menara yang kiri dan kanan dengan anak panahnya.


Dua kali memanah tanpa meleset, dan kedua-duanya kena tepat di bagian dahi.


Setelah dua orang penjaga roboh, Ulong menggunakan tali yang diikat pada sebilah belati, diputarnya sekali tali yang dijulurkan sekitar satu meter untuk menambah daya lontaran lalu lemparkan ke tiang menara yang berada di sebelah sudut kanan tembok.


Ulong berhasil melemparkan belatinya.


Belati tersebut membawa tali yang terikat padanya meluncur lalu memutari tiang dan membelit tiang tersebut.


Ulong menarik tali beberapa kali untuk memastikan aman untuk di panjat.


Setelah memastikan tali dapat di panjat dengan aman, dia menatap Laksmi yang bersiaga dengan busur di tangan berdiri beberapa meter darinya.


Laksmi mengangguk memberi isyarat keadaan aman dan Ulong pun langsung memanjat menggunakan tali yang diberi banyak simpul tersebut, dengan sangat lincah tanpa suara.


Setelah Ulong berhasil naik ke menara jaga kini giliran dia memperhatikan sekeliling dan Laksmi yang memanjat.


Dari menara tempat Ulong berdiri terlihat kandang kuda yang menempel di dinding sebelah Selatan.


Hanya ada tersisa dua ekor kuda disana.


"Benar-benar hening disini" pikir Ulong, sepertinya para serdadu kompeni mengerahkan hampir seluruh kekuatannya ke jembatan sungai Bedera.


Di depan kandang kuda dipisahkan gang kecil sejarak dua meter, ada bangunan tidak begitu besar berukuran sekitar enam kali lima meter.


Kalau menilik dari bentuknya yang tanpa jendela dan hanya ada deretan lubang angin di atas, kemungkinan itu gudang.

__ADS_1


Gudang itu adalah bangunan terdekat, dipisahkan lapangan kecil dari menara tempatnya berada.


Ada sebuah obor terpancang di tengah lapangan, itu satu-satunya obor yang menerangi halaman belakang.


Setelah memperhatikan kearah tersebut Ulong baru tersadar, di dekat obor tersebut ada enam tiang di pancangkan ke tanah.


Pada setiap tiang terdapat satu orang terikat, mereka terikat menghadap ke arah dinding belakang gudang, membelakangi Ulong.


Mereka semua hanya mengenakan celana yang sudah sobek disana sini.


Dalam cahaya obor terlihat tubuh mereka penuh luka memar dan guratan cambuk.


Mereka diam tidak bergerak, entah hidup atau mati.


Ulong tidak mau terburu-buru bertindak, dia melanjutkan pengamatan.


Di samping kiri gudang, dipisahkan sebuah gang lainnya yang juga berjarak sekitar dua meter ada bangunan lain memanjang ke arah Utara.


Sayangnya dari tempat Ulong di menara jaga tidak dapat melihat bagian depan bangunan tersebut.


Untuk melihat ke depan juga pandangan terbatas, karena ada atap gudang menghalangi.


Dia melihat tangan Laksmi tengah menggapai dinding menara jaga.


Diraihnya tangan kekasihnya itu untuk membantu menaiki menara.


Setelah membereskan temali dari menara, mereka menuruni tangga menuju halaman belakang dan mendekati orang-orang yang terikat di tiang pancang.


Ulong dan Laksmi memeriksa para tawanan yang terikat.


Syukurlah mereka semua masih hidup, dua diantaranya adalah laskar yang berasal dari Binjai.


"Kami datang untuk menyelamatkan kalian, tapi untuk sementara kalian diam dulu dan jangan berkata apa-apa" ujar Ulong perlahan pada mereka.


Para tahanan mengangguk lemah mengiyakan.


Di dekat situ ada ember berisi air, Laksmi memberi minum mereka dengan gayung yang terletak di ember tersebut.


Dengan lahap para tahanan itu meminum air yang di berikan Laksmi.


Disaat Laksmi memberi minum pada para tawanan, Ulong berlari kecil tanpa suara bergerak merapat ke bagian belakang dinding gudang.


Ulong sembulkan kepala melongok ke gang yang memisahkan gudang dengan bangunan memanjang ke selatan.


Ulong tarik diri kembali bersembunyi, begitu dilihatnya serdadu tersebut menoleh ke arahnya.


"Bagaimana?" bisik Laksmi yang sudah ikut merapat ke dinding.


"Satu orang berdiri tepat di seberang bangunan tempat kita bersembunyi ini" ujar Ulong.


"Untuk menjatuhkan serdadu di depan sangatlah mudah. Tapi tidak mungkin menyerang sembarangan karena kita tidak tahu apa yang berada di depan bangunan ini dan bangunan yang memanjang ke Selatan", bisik Ulong.


Laksmi mengangguk paham.


Tidak tertutup kemungkinan ada musuh lain berada disitu dan akan membuat kegaduhan bila mereka nekad menyerang, sehingga memancing serdadu kompeni lainnya di komplek kecil ini menjadi waspada, dan buyarlah rencana mereka.


Laksmi memperhatikan wajah kekasihnya, menunggu, karena biasanya Ulong selalu bisa memberi ide cemerlang.


"Adinda, bersiap lah" Ulong berbisik.


Tiba-tiba Ulong bergerak ke obor yang menyala, di raupnya tanah di dekat obor lalu tuangkan tanah tersebut menutupi obor hingga apinya padam.


Setelah api obor padam Ulong menarik tangan Laksmi menuju samping gudang yang berdekatan dengan kandang kuda.


Serdadu yang berdiri santai mengawasi ke arah gang melihat keadaan di belakang mendadak gelap gulita.


Terdengar langkah sepatunya menuju ke halaman belakang, lalu terdengar pula ada suara serdadu lain menegurnya.


"Ada apa?" tanya suara tersebut.


"Sepertinya obor di belakang padam, mungkin tertiup angin" ujar yang ditanya.


Prajurit itu berjalan menuju obor yang padam.


Tanpa curiga dia memeriksa obor tersebut.


Dia mengeluarkan sebuah pemantik, dan mencoba beberapa kali menghidupkannya


Dalam gelap terlihat batu api yang beradu dengan roda besi pemantik berkali-kali memercikkan api tapi api tak juga menyala.


"Sialan", ujar si prajurit sambil mengguncang pemantiknya.

__ADS_1


Setelah guncang beberapa kali, dia menyalakan kembali pemantiknya, kali ini hidup.


Dia kaget begitu pemantik hidup dan melihat wajah Ulong menyeringai berada dalam jarak sekitar dua meter dihadapannya.


Dengan cepat Ulong maju mendekat, "crep!!!", belatinya menancap di leher si serdadu dan si serdadu roboh.


Terdengar suara prajurit lain dari arah depan, "bagaimana, kok lama sekali?".


Karena setelah ditunggu tidak ada jawaban, prajurit yang bertanya berjalan menuju tempat Ulong berada.


Laksmi yang bersembunyi di balik dinding gudang berusaha mendengarkan langkah si prajurit.


Terdengar dari suara langkahnya ada dua orang yang berjalan mendekat.


Setelah berhasil merobohkan musuh Ulong masih berdiri disitu menunggu dibawah cahaya rembulan.


Dia menatap ke arah Laksmi yang menyembulkan kepala.


Laksmi memberi isyarat dengan dua jarinya, memberi tahu Ulong ada dua orang yang datang.


Ulong mengangguk dan bersiap dengan dua belati di tangan.


Dia berjalan maju agar nanti musuh yang datang tidak terlalu jauh jaraknya dari dia.


Tepat seperti yang di isyaratkan Laksmi, dua serdadu musuh muncul dari gang di samping gudang.


Kedua serdadu begitu muncul melihat Ulong yang berdiri diam mengenakan seragam kompeni, tanpa curiga mereka mendekat.


Detik berikutnya mereka kaget karena baru sadar ada serdadu lain tergeletak di belakang Ulong.


Sebelum mereka sadar dan bertindak, dengan cepat Ulong lemparkan kedua belati tepat mengenai dada kiri keduanya.


Tanpa bersuara kedua serdadu kompeni rubuh dalam gelap.


⚜️⚜️⚜️


Di depan gerbang.


Awang dan teman-teman dengan berpura-pura kecapekan mendekat menunggang kuda mereka.


Terlihat ada dua penjaga yang bertugas menjaga bagian luar gerbang, keduanya pribumi.


Seorang dari penjaga memberi isyarat untuk berhenti, "siapa kalian?" tanya nya sambil berusaha mengenali Awang dan teman-teman yang juga mengenakan seragam kompeni.


"Kami yang tadi diperbantukan untuk berjaga di jembatan sungai Bedera" jawab Awang.


"Komandan patroli menyuruh kami beristirahat dan mengobati luka-luka kami, sekaligus mengantar tawanan yang berhasil kami tangkap", sambungnya.


Kedua serdadu berpandangan.


Mereka berbisik-bisik sebentar sambil melirik ke arah Awang dan kawan-kawannya.


"Kalau boleh aku bertanya, siapa nama komandan Patroli yang menyuruh kalian kesini?" tanya penjaga satunya yang ternyata agak pintar.


Nah ini bagian yang mengkhawatirkan, pikir Awang.


Awang terdiam, dia bergaya pura-pura mengingat-ingat, di tengadahkan wajah menatap ke atas lalu ketuk-ketuk sisi kepala dengan telunjuk.


Ini isyarat bagi Mardiani dan Salhah.


Kedua gadis hampir bersamaan lesatkan anak panah.


Kedua penjaga menara ambruk, seorang jatuh keluar tembok bergedebukan.


Kedua penjaga gerbang kaget dan menoleh ke arah jatuhnya penjaga di kiri mereka.


"Aah iya baru ingat aku, nama komandannya malaikat maut" ujar Awang terkekeh.


"Dan dia akan membawa kalian ke neraka jahanam" sambungnya sambil tebaskan pedang bersamaan dengan Mat Kecik ke arah dua penjaga yang tengah lengah.


Setelah kedua penjaga gerbang tergeletak, Awang mendekati Angku Razak untuk membuka ikatan di tangannya.


Mat Kecik dan Arman dari atas kuda menodongkan senapan ke arah gerbang, menunggu bila ada serdadu lain muncul.


Mardiani dan Salhah tetap berdiri di kegelapan membidik dengan busur ke arah menara, siapa tahu ada penjaga lain yang naik kesana.


Sebelumnya mereka sudah sepakat apabila Ulong tidak juga membuka gerbang, maka mereka akan menyusul masuk dengan menggunakan tali dari depan setelah melumpuhkan semua musuh disitu.


Hening sejenak tidak ada suara apa-apa dari dalam maupun luar pagar.


Mereka menunggu dengan perasaan tegang.

__ADS_1


Lalu beberapa saat kemudian, secara perlahan gerbang membuka ke dalam menimbulkan suara berderit, lalu terlihat Ulong berdiri di tengah gerbang dan tersenyum lebar.


__ADS_2