
Ni Gaok tersadar dari semedinya, barusan dia mengirim seekor gagak untuk mengawasi situasi setelah Ki Bayu di lepaskan tak jauh dari perkemahan kompeni.
Dan dia melihat melalui burung gagak tersebut hal yang justru mengagetkannya, bagaimana dengan mudahnya Ki Bayu tewas di berondong senapan para prajurit kompeni disitu.
"Sial", desisnya geram. Suma pasti akan marah mendengar hal ini, karena yang mereka harapkan Ki Bayu membantai pasukan kompeni, bukan sebaliknya.
Dia tak menyangka hal seperti itu yang akan terjadi, karena seminggu lalu malam saat mereka berhadapan dengan Datuk Awan Putih, dia sudah mencoba melukai Ki Bayu tapi tidak berhasil (Baik Ni Gaok maupun Suma belum tahu kalau Ki Bayu kehilangan kemampuannya saat dibawah sinar matahari).
Tujuan Suma adalah menggagalkan misi Heidrich dengan cara mengadunya dengan Ki Bayu. Menurut perkiraan Suma, Ki Bayu dan dua atau tiga peliharaannya (Suma tidak tahu pasti berapa jumlah terakhirnya) pasti akan mengalahkan pasukan kompeni yang mengejarnya. Sehingga atasannya tersebut akan mendapat malu dan dianggap tidak layak lagi untuk memimpin di wilayah ini.
Itu sebabnya dia menyuruh Ni Gaok mengawasi agar Ki Bayu bergerak sesuai yang direncanakannya.
Hanya saja saat Ni Gaok memata-matai ternyata dia mendapati Ki Bayu hanya tinggal seorang diri dan begitu lemah, (Dia dan Suma juga sama-sama tidak tahu kalau peliharaan Ki Bayu pun sudah tewas di bunuh Ulong dan teman-temannya).
Awalnya Ni Gaok hanya mengamati tapi saat Ki Bayu dibawa harimau putih Datuk Awan, Ni Gaok tak punya pilihan selain menyelamatkannya. Lalu setelah Datuk Awan pergi, agar tidak ada masalah lagi yang menimpa bidak (pion) mereka, dia menidurkan orang tua tersebut dengan mantra sehingga tak sadar, sampai pada saat pasukan kompeni yang mencarinya tiba disini.
Dan kelihatannya kini semua rencana Suma berantakan.
Sepertinya satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk menutupi kegagalan ini adalah membunuh Letnan Heidrich dan seluruh prajuritnya lalu menimpakan kesalahan pada Ki Bayu yang sudah mati, pikirnya.
Ni Gaok menatap kelima pengawalnya yang duduk diatas pelana masing-masing dalam hening.
Dia melompat menuju kudanya, lalu menggebraknya mengarah ke perkemahan kompeni. Tanpa diperintah serentak kelima pengawalnya mengikuti memacu kuda mereka.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Saat ini belum terlalu sore.
Heidrich memerintahkan beberapa prajuritnya menaikkan jenazah Ki Bayu ke atas sebuah pedati. Rencananya besok pagi dia akan mengirim beberapa prajuritnya membawa mayat Ki Bayu ke Belawan sebagai bukti, beserta surat pemberitahuan resmi darinya ke Maskapai Perkebunan bahwa Ki Bayu telah tewas.
Lalu sesuai perintahnya beberapa prajurit pun menaikkan tubuh Ki Bayu ke atas pedati, lalu menutupinya dengan kain.
Heidrich menatap sekeliling, suasana perkemahan di tepi sungai itu terasa menjadi lebih santai karena tugas telah selesai dengan baik tanpa seorangpun dari pihak mereka terluka. Heidrich tidak menghukum satupun prajuritnya karena menembak Ki Bayu tanpa perintah darinya. Seandainya nanti ada pertanyaan yang diajukan padanya, maka dia akan menjelaskan seperti apa berbahayanya Ki Bayu saat malam tiba.
Sepertinya mereka akan pulang lebih cepat dari yang diperkirakan, pikirnya.
Setelah jenazah Ki Bayu di naikkan ke pedati, Heidrich berjalan masuk ke tenda yang sudah disiapkan untuknya. Tenda tersebut di letakkan di bawah pohon besar dekat dengan tebing sungai.
Ada meja dan kursi lipat di dalam tenda tersebut, Heidrich duduk di kursi kecil menghadap ke meja. Secarik kertas tebal yang biasa digunakan untuk menulis surat diambilnya dari sebuah kotak kayu.
Heidrich baru saja mencelupkan mata pena ke tinta saat tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar tenda.
Dia bergegas berdiri dari duduknya lalu melangkah hendak keluar.
Makin riuh teriakan perang di luar, tembakan dan dentingan senjata beradu berkali-kali terdengar.
Belum lagi Heidrich mencapai pintu tenda, dari luar sesosok tubuh terlempar begitu keras menghantamnya membuatnya jatuh berguling bersama tendanya.
Heidrich berguling tergulung tenda yang terlepas dari pasak, lalu tercebur ke sungai. Karena sungai tersebut cukup dalam dan airnya deras, Heidrich yang tergulung tenda kesulitan melepaskan diri dan terbawa arus sungai.
Ni Gaok dan kelima pengawalnya telah mencapai perkemahan kompeni dan mengamuk.
__ADS_1
Ni Gaok berkuda paling depan, digerakkan tangan kanannya ke pinggang lalu cabut cemeti lalu libaskan ke depan. Cemeti yang selalu dilibatkan ke pinggangnya bila diulur panjangnya mencapai sekitar sepuluh meter. Berbeda dengan saat menebas rumput yang langsung terpapras habis, pada saat digunakan menyabet musuh serangan cemetinya yang memancarkan cahaya hitam tersebut tidak dapat memotong tubuh seketika, hanya memberi luka cukup dalam seperti sayatan pedang, sangat mematikan.
Lima orang serdadu kompeni tersabet cambuk pada leher dan roboh.
Kelima pengawal Ni Gaok melompat dari kuda yang mereka tunggangi lalu menyerang musuh terdekat.
Beberapa serdadu kompeni langsung menjadi korban mereka, terpental dengan belulang patah atau remuk di hantam tangan mereka yang dibungkus sarung tangan baja.
Beberapa prajurit kompeni segera menembakkan senapannya mengenai para pengawal Ni Gaok. Ada sekitar seratus prajurit kompeni disitu menembaki. Dan peluru-peluru pun berdesingan menembus tubuh para pengawal itu membuat lubang disana sini di tubuh mereka.
Begitu banyak lubang di tubuh mereka, asap mesiu dan uap panas keluar dari luka-luka tertembus peluru. Tapi anehnya luka-luka tersebut tidak mengeluarkan darah, bahkan ekspresi para pengawal ini tidak terlihat kesakitan ataupun merasa apa-apa. Gerakan mereka juga sepertinya tidak terganggu oleh luka-luka tersebut dan mereka terus maju menyerang, memukuli semua lawan yang terdekat.
"Duagh!!, Bledugh!!", dua orang serdadu kompeni yang baru saja melepaskan tembakan masing-masing terpukul di dada oleh seorang pengawal Ni Gaok, terpelanting mundur dengan tulang dada remuk, muntah darah.
Temannya yang berada di dekat mereka menusukkan bayonet tapi si pengawal Ni Gaok menangkis dengan tangannya yang di selubungi sarung tangan baja. Bunga api memercik keluar dari benturan.
Dari belakang si serdadu kompeni, pengawal yang lain berkelebat lalu sambil lewat memukul kepalanya. "Prak!!", serdadu ini pun roboh menggelosor bagai tak bertulang dengan kepala remuk.
Dengan buas dan cepat para pengawal Ni Gaok menghabisi para serdadu kompeni satu persatu.
Para serdadu kompeni berpelantingan kesana kemari diiringi lolongan kesakitan mereka.
Seorang serdadu kompeni mencoba menangkis tinju lawan dengan silangkan senapan di depan wajah.
"Bruagh!!", tinju itu tidak terhenti, malah batang senapan yang terbuat dari kayu hancur berkeping-keping dan larasnya yang terbuat dari baja patah menusuk wajah si pemilik berikut tinju lawan yang bersarung tangan baja.
__ADS_1