Ulong Belati

Ulong Belati
Menghadapi Sang Legenda


__ADS_3

Segera rentetan tembakan diganti dengan teriakan perang dan denting senjata.


Tring!! Hia!! Tring!! Trang!!


Para bawahan Jhon yang membawa bayonet berlari menyeruduk musuh-musuh yang berada dihadapan mereka. Para prajurit rombongan Ni Gaok tak mau kalah, maju menyerbu membalas dengan tusukan bayonet dan tebasan pedang.


Mereka saling menusuk dan bacok, saling tangkis dan serang. Beberapa orang yang berhadapan paling depan segera mendapat sayatan dan tikaman dari musuh. Sebagian dari mereka langsung bergelimpangan, dan terinjak orang-orang yang berkelahi.


Seorang musuh mencoba membacok leher Jhon dengan pedang, namun Jhon dengan cepat merunduk sambil menyabet perut lawan. Lawan memegang perut dengan sebelah tangan dan masih mencoba membacok dari atas ke bawah, tapi sebelum serangannya sampai, Jhon terlebih dahulu menendang perutnya hingga terjatuh.


Pada waktu hampir bersamaan seorang lagi musuh hendak membacok dari samping kiri tapi Jhon tembakkan pistol ditangan, Duar!! musuh tewas tertembak di bagian dada.


Jhon mengisi pistolnya kembali secepat yang dia bisa. Saat sedang mengisi pistol, seorang musuh lain melompat menusukkan bayonet ke arahnya, beruntungnya pada saat yang sama seorang dari prajuritnya sedang melintas dihadapan. Dan tikaman yang ditujukan pada Jhon mengenai perut prajurit yang melintas tersebut. Prajurit itu menahan senapan lawan yang bayonetnya menusuk perut, agar jangan sampai dicabut lalu ditusukkan lagi. Dia saling berkutat dengan lawan, pada saat itu Jhon telah selesai mengisi pistol dan langsung tembakkan ke kepala penyerang, tepat kena di kening. Prajurit itu pun roboh dengan senapan masih dipegang lawan.


Tak jauh dari situ, terlihat seorang prajurit lain yang menjadi bawahan Jhon juga menusukkan bayonet pada musuh, namun musuh berhasil mengelak menyamping. Bayonet yang ditusukkan lewat di depan dada lawan, lalu lawannya membalas gunakan popor senapan menghantam dagu, bawahan Jhon itu tumbang, entah tewas atau cuma pingsan.


Dua prajurit lagi terlihat saling beradu pedang dan bayonet beberapa kali menimbulkan suara berdentingan. Karena serangan tidak ada yang mengena mereka pun saling memutari menyiapkan serangan tanpa sadar posisi berdiri mereka jadi membelakangi kelompok lawan, dua orang musuh terdekat segera menikam keduanya dari belakang.


Teriakan-teriakan terdengar riuh rendah, dan dentingan senjata yang berlaga terdengar dimana-mana, diseling raungan dan bentakan. Para prajurit bertempur sekuat tenaga untuk saling menghabisi. Tubuh-tubuh jatuh bergelimpangan disana-sini, mandi darah. Beberapa prajurit terlihat terpleset karena darah yang begitu banyak membuat becek arena pertempuran. Beberapa prajurit lainnya tersandung tubuh-tubuh yang bergelimpangan lalu terjerembab ke tanah dan dihabisi musuh.


Ni Gaok agak kesulitan menyabetkan cemeti karena banyak prajurit dipihaknya berada di disekitar, dia terpaksa menyerang dengan menyentilkan ujung cemeti dalam jurus sembilu pembelah jantung berkali-kali. Dan cara itu memakan waktu, karena dia harus memilih-milih lawan yang hendak diserang, sementara mereka yang disitu saling serang berdekatan dan bergerak kesana kemari dengan cepat.

__ADS_1


Sementara itu tiga puluh orang prajurit Jhon sebelumnya telah diperintahkan untuk kembali mengisi peluru disaat yang lain bertarung di jarak dekat. Mereka bertugas menghabisi Ni Gaok, dan kini mereka mengambil kesempatan itu. Para prajurit tersebut membidik Ni Gaok yang sedang membantu orang-orangnya pada jarak sekitar dua puluh meter di depan.


"Tembak!!" ujar pemimpin regu, Duar!! Dar!! Dar!! Dar!! rentetan tiga puluh tembakan bersahutan memekakkan telinga.


Sesakti dan secepat apapun Ni Gaok, tetap saja dia tidak dapat menghindari kecepatan peluru. Dia terkaget mendengar tembakan yang menyalak hampir bersamaan, dan detik berikutnya dia menyadari tubuhnya penuh luka. Pakaian dan daging tercabik kemana-mana. Bahkan tangan yang memegang cemeti hampir putus terkulai karena dua peluru mematahkan tulang disitu.


"Sial, mereka memperdayaku!!", batinnya geram, cemetinya terlepas jatuh dari tangan yang tak lagi bisa dipergunakan.


Pertempuran terus berlanjut, para prajurit saling serang, menubruk lawan dengan senjata dan tubuh. Segala macam benda yang memiliki berat begitu berguna disaat ini. Apapun yang bisa dipukulkan dan dilemparkan segera dipergunakan. Batu, potongan kayu, tanah, dan lain-lain.


Terlihat dua orang prajurit sama-sama tusukkan bayonet, sama-sama mengena dan sama-sama roboh.


Jhon sendiri entah sudah berapa kali menebas musuh, pakaian dan wajahnya sudah basah dengan keringat bercampur tanah, dan darah, dari lawan juga kawan.


Diatas bukit karang, Heidrich bersama lima puluh orang prajuritnya, sepuluh orang diantaranya adalah penembak jitu, mengawasi jalannya pertempuran dan menembaki siapa saja lawan yang dapat mereka habisi.


Heidrich melihat ke bawah ke arah tiga pengawal yang sedang merayap di tanah tak jauh dari tebing karang dimana dia dan pasukannya berada, dia segera memerintahkan para prajurit selain para penembak jitu untuk menembaki para pengawal ini. Dan berondongan tembakan mengarah para pengawal Ni Gaok tanpa bisa dihindari, tubuh para mayat hidup itu tercabik-cabik oleh peluru yang datang.


Tak terasa pertempuran sudah berlangsung hampir setengah jam. Pasukan rombongan Ni Gaok hanya tinggal belasan jumlahnya, mereka bergerak mundur ke arah pantai dan sebagian segera melarikan diri.


Ni Gaok sendiri saat ini berusaha merangkak mundur menjauh dari pertempuran, kedua pahanya terluka parah dan hampir tidak bisa di gerakkan. Walau dia tidak merasakan sakit sama sekali, tidak seperti saat burung-burung gagaknya di tembak, tapi luka-luka yang begitu banyak memutus otot ditubuhnya, bahkan ada yang mematahkan tulangnya di beberapa tempat.

__ADS_1


"Sial, benar-benar sial, aku harus memulihkan diri", geramnya dalam hati. Dia melirik kesana kemari mencari tempat yang aman untuk bermeditasi merapal mantera. Sayangnya hal itu sudah terlambat untuk di lakukan, karena pihaknya telah kalah, dan tempat itu telah sepenuhnya dikuasai musuh.


Tak lama pertempuran pun usai, sorak sorai kemenangan diteriakkan oleh prajurit dipihak Heidrich.


Sisa belasan orang prajurit Suma melarikan diri meninggalkan pertempuran, melompat ke laut untuk berenang menuju pulau-pulau terdekat.


Suara tembakan masih terdengar beberapa kali dilepaskan prajurit Heidrich ke arah musuh yang berenang menyelamatkan diri.


Ketiga pengawal Ni Gaok yang masih berusaha bergerak segera disiram minyak dan di bakar oleh mereka, dan sepertinya itu berhasil. Tubuh ketiga pengawal itu langsung berkobar dibakar dan menghangus lalu menjadi debu, hanya menyisakan belulang kering, putih bersih.


Kini Ni Gaok berusaha melarikan diri ke tepi laut, itu satu-satunya tempat teraman dari kelompok Heidrich saat ini. Belum pernah dia merasakan kekalahan seperti ini selama ratusan tahun.


Dia berhasil mencapai tepi pantai tapi Heidrich yang telah menuruni bukit karang, dan orang-orangnya segera menyusul dan mengepung dengan senapan-senapan siap di tembakkan.


"Kelihatannya Ni Gaok dan orang-orangnya telah kalah, apa yang harus kita lakukan?", tanya Rustam yang saat itu mengawasi dengan teropong.


"Memangnya kita bisa melakukan apa Pakcik?", Arman balik bertanya.


"Kita bisa berdoa semoga mereka tenang di alam sana", ujar Rustam tanpa maksud bergurau.


Arman cuma nyengir lalu garuk kepala.

__ADS_1


"Sepertinya ini akhir perjalanan penyihir legenda ini", ujar Ulong.


Awang ikut menatap berdiri di pinggir pagar dek, Mardiani dan Salhah sudah sepenuhnya pulih dan kini bersandar di bahu kanan kirinya. Kali ini Awang tidak berusaha menghindar, dia sadar diapun mencintai kedua gadis ini, dan dia telah memutuskan untuk segera menikahi keduanya.


__ADS_2