Ulong Belati

Ulong Belati
Pelarian


__ADS_3

"Sepertinya untuk sementara kita tidak bisa kembali ke orang-orang kita" ujar Ulong kepada Putra.


Awang yang berkuda tak jauh dari mereka mendengar dan menyahuti "kalian ikut kami saja dulu, sampai keadaan aman".


Seorang serdadu mengejar mereka dengan menghunus pedang, Arman yang berkuda di samping Awang sengaja menunggunya agak dekat, lalu begitu serdadu tersebut hendak tebaskan pedang, Arman dorongkan tombaknya sejauh-jauhnya.


Si serdadu kena telak di perutnya, tertusuk dan terpelanting dari kuda yang ditunggangi.


"Datanglah bertamu ke tempat kami Long" ujar Mat Kecik tertawa, saat itu dia sedang menghadapi seorang pengejar lain di kanannya, dia pelankan laju hingga kuda merapat ke sisi musuh, lalu saat musuh bacokkan pedang dia menunduk dan menebas kaki kuda musuh, kuda dan penunggangnya langsung terguling.


"Kita ikuti saja Awang untuk sementara ini", kata Ulong ke Laksmi dan Putra yang berkendara di samping mereka.


Laksmi mengangguk sambil masih memanah. Seorang musuh yang mengejar Awang tertembus panahnya dan terjatuh.


"Kalian juga, untuk sementara ini kita ikuti Awang sampai keadaan aman", ujar Ulong ke laskar lain yang bersama mereka.


"Kami akan berikan sambutan terbaik untuk kalian", ujar Awang tertawa lalu mempercepat laju kudanya.


Ulong dan laksmi menunggang satu kuda berdua sehingga mereka sedikit tertinggal, beberapa serdadu kompeni yang membuntuti dari belakang menjadikan mereka sebagai sasaran.


Seorang pengejar memepet kuda Ulong dengan nekad, berusaha menjatuhkan dengan menabrakkan kudanya dari samping.


Ulong mencabut sebuah anak panah dari sarung panah di punggung Laksmi, lalu melemparkan anak panah tersebut ke leher si serdadu. Tepat mengena, si serdadu beserta kudanya jatuh berguling di samping Ulong.


Seorang lagi berusaha menjepit dari kiri tapi Laksmi berhasil memanahnya tepat di matanya.


Di tempat yang banyak penghalang seperti ini adalah satu kesalahan bagi tentara kompeni mengejar laskar, apalagi dalam keadaan berkuda.


Bedil mereka yang tadi sudah di tembakkan tak mungkin di isi lagi sambil mengejar musuh.


Satu persatu pengejar justru berjatuhan di hajar laskar yang menggunakan busur dan tombak.


Ulong melihat putra berhasil menebas jatuh seorang serdadu di kirinya. Lalu laskar yang lain melemparkan tombak hingga menancap ke tanah, sehingga kuda musuh di belakang berikut pengendaranya terjatuh menabrak tombak tersebut.


Beberapa ratus meter didepan Awang dan tiga temannya berhenti untuk menunggu yang lain.


"Belok kiri, ikuti jalan setapak ini", ujar Awang memberi aba-aba.


Mereka melihat memang ada jalan setapak disitu di antara pohon-pohon jati.


Mereka disuruh berbelok ke kiri untuk menghindari jalan umum hingga beberapa kilometer, dari sana awang rencananya akan membawa rombongan menelusuri jalan hutan menuju persembunyian mereka di daerah Hamparan Perak.


Ada tiga orang lagi musuh tersisa, mungkin mereka tak sadar kalau tinggal mereka bertiga yang mengejar, Awang terkekeh melihatnya.


Dia memberi isyarat pada kedua temannya.


Mat Kecik dan Arman mengikuti Awang maju mengarah ke penyerang.


"Kamu orang cari penyakit ya" ujar Awang menirukan cara berbicara kompeni. Dilemparkannya tombaknya tepat ke dada seorang musuh, musuh itu roboh seketika.


Arman juga melemparkan tombaknya, lemparan Arman kena tepat ke mulut musuh yang lain, musuh ini pun langsung terjatuh tak bernyawa.


"Hah, lihat bidikanku lebih tepat" ujar Arman tertawa puas.


Mat Kecik melajukan kuda sebelum keduluan dua temannya. Musuh yang di tuju kaget melihat kedua temannya tewas secepat itu, dia lantas sabetkan pedang ke leher Mat Kecik, namun Mat Kecik miringkan tubuh dan tebas perut musuh. Musuh terjatuh bersimbah darah.


Tanpa turun dari kuda Awang dan Arman mencabut tombak mereka dari tubuh musuh, lalu bergerak ke arah Ulong dan laskar yang lain pergi.


Mat Kecik menatap ke belakang, memastikan tidak ada musuh yang lain. Setelah dia pastikan aman, di raihnya tali kekang kuda-kuda musuh yang tewas lalu bawa bersamanya.


⚜️⚜️⚜️


Sementara itu di tempat lain Siti memacu kuda sambil menuntun tali kekang kuda Paijo agar mengikutinya.


Mereka terpisah dari kelompok sewaktu tadi para serdadu kompeni menembaki laskar dari samping.


Di saat itu Siti menarik kuda Paijo berbelok ke kiri demi menghindari bertabrakan dengan laskar dan kuda-kuda yang terjatuh.


Keadaan benar-benar tidak menguntungkan saat ini.

__ADS_1


Paijo tidak mahir menunggang kuda sehingga mau tak mau dia harus menarik tali kekang kuda Paijo untuk menuntunnya.


Hal ini mengakibatkan dia tidak bisa melepaskan anak panah ke musuh.


Siti menoleh kebelakang lalu menoleh sekeliling.


Tidak ada satupun temannya atau laskar lain terlihat, padahal saat itu ada lima orang musuh yang berkuda mengejar mereka.


Siti memacu kuda, melompati onak dan duri.


Hanya saja karena musuh berkuda lebih cepat tak lama mereka pun tersusul.


Salah seorang sudah begitu dekat dengan Paijo, "Awas bang" Siti berteriak panik, musuh menyabetkan pedang ke punggung Paijo.


Paijo menoleh, refleks dia mencabut golok dari pinggang lalu tangkis sabetan pedang lawan dengan golok di tangan sambil memejamkan mata.


"Tring" bunga api berpijar dari senjata yang beradu, Paijo memang berhasil menangkis serangan, tapi dia jadi limbung dan terjatuh dari kuda.


Siti hentikan laju kudanya, lalu dengan cepat mulai memanah. Musuh yang barusan menyerang Paijo berhasil dilumpuhkan, berikutnya seorang lagi yang datang menyusul juga berhasil dia jatuhkan.


Namun ada tiga lagi yang menyusul hampir bersamaan dan sudah terlalu dekat, Siti tak sempat lagi untuk memanah mereka.


Keringat dingin membasahi tubuh Paijo. Kaki kuda musuh sudah hampir menabraknya. Sambil duduk ditanah dia silangkan pedang di depan dada dan pejamkan mata.


"Gusti Allah tolong saya, Gusti Allah tolong saya" bisiknya gemetar.


Dalam keadaan gawat seperti itu tiba-tiba terdengar suara raungan harimau, keras sekali suaranya hingga terasa seperti menggetarkan tempat itu, lalu bersamaan dengan suara raungan sesosok bayangan putih menabrak kuda-kuda pengejar dari samping. Ketiga musuh dan kuda-kudanya yang melaju hampir sejajar jadi terjatuh kesamping bertabrakan.


Paijo beranikan diri membuka mata, seekor harimau dengan bulu berwarna putih berbelang hitam berdiri di antara dia dan musuh. Tubuh harimau itu hampir setinggi lembu dewasa.


Hewan ini lah yang barusan menjatuhkan musuh-musuh mereka.


Tampak Datuk Awan Putih duduk menunggang harimau tersebut.


Dia menatap Paijo yang duduk di sebelah harimau yang ditungganginya.


Siti dan Paijo yang kaget karena kejadian barusan sesaat tidak bisa berkata apa-apa.


"Te..terima kasih Datuk" ujar Siti begitu tersadar dari keterkejutan lalu membungkuk hormat.


Dia turun dari kuda lalu membantu Paijo naik ke kudanya.


Setelah itu dia ikat tali kekang Paijo ke pelana kudanya, agar tangannya bisa menggunakan senjata sambil tetap memandu kuda Paijo.


Mereka melanjutkan berkuda ke arah Utara tanpa berani melihat lagi ke belakang.


Benar-benar apes nasib musuh yang mengejar mereka.


Mereka dapat mendengar jelas raungan harimau disusul jeritan-jeritan kesakitan mereka yang di mangsanya.


Setelah memacu kuda beberapa ratus meter ke depan, Siti berhenti sebentar menatap arah sinar matahari.


Menurut perkiraannya, kini mereka harus berbelok ke barat beberapa kilometer lagi untuk keluar dari daerah ini, lalu berbalik ke selatan menuju perkampungan mereka.


"Ada tanda-tanda musuh yang mengejar bang?" tanya Siti pada Paijo yang berada di belakang.


Paijo menoleh ke belakang lalu melihat sekeliling sebelum menjawab "Sepertinya aman neng".


Siti menarik napas lega lalu kembali memacu kudanya.


Mereka pun memasuki hutan lebat dan berkuda tanpa henti hingga beberapa kilometer lagi.


Setelah merasa benar-benar aman mereka berhenti di sebuah sungai kecil di tengah hutan.


Tak terasa hampir dua jam mereka berkendara melarikan diri dari kepungan kompeni.


"Kita berhenti sebentar agar kuda-kuda bisa beristirahat bang" ujar Siti lalu melompat turun.


Paijo mengikuti turun lalu menambatkan kuda-kuda mereka di tepi sungai.

__ADS_1


Siti dan Paijo duduk di atas sebatang pohon tumbang di tepi sungai. Memperhatikan kuda-kuda yang tengah minum.


Sejenak mereka sama-sama terdiam mengingat kejadian yang barusan mereka lalui.


Kini rasanya bagai terlepas dari maut, tak sengaja Siti dan Paijo menarik napas lega bersamaan. Mendengar helaan napas mereka yang bersamaan mereka jadi saling menoleh, lalu tertawa.


"Seram sekali tadi neng" ujar Paijo lalu tertawa mengingat betapa ketakutannya dirinya.


"Iya bang, Siti pikir abang tadi kena di tebas pedang kompeni", ujarnya.


Paijo mengangguk, "Iya kupikir pun begitu" jawabnya.


"Siti bersyukur abang nggak apa-apa" ujar Siti dengan lirih.


Paijo cuma senyum dan garuk kepala.


"Mmm.. makasih ya neng sudah selamatkan saya" ujar Paijo tulus.


Siti tersenyum, manis sekali.


Lalu seperti teringat sesuatu Paijo berjalan ke kuda mereka, di ambilnya buntalan kain yang terikat di atas pelana.


"Ini, siapa tahu neng lapar" ujarnya.


Siti melihat isi buntalan Paijo lalu tersenyum geli, ada beberapa potong ubi rebus, juga ikan bakar sama seperti yang mereka makan sewaktu sarapan tadi pagi.


"Si abang sempat-sempatnya mikirin makan" batinnya. Tapi gak apalah memang kebetulan tadi mereka belum sempat makan siang.


"Mak bedah yang titip ini, dia bilang Jo nanti anak-anak itu ingatkan jangan sampai lupa makan" ujar Paijo lugu. Siti tersenyum mendengar alasan Paijo.


Ikan bakarnya ada tiga ekor, Paijo meminta Siti mengambil seekor ikan lalu membelahnya jadi dua.


"Kok dibagi dua bang, kan ikannya ada tiga ekor?" tanya Siti heran.


"Yang satu untuk den Ulong dan neng Laksmi, satunya lagi untuk den Putra", ujar Paijo dengan polosnya.


Ya sudah pikir Siti sambil mesem-mesem, dia membagi ikan jadi dua potong lalu mereka pun makan dengan alas daun pisang yang telah disiapkan bersama bekal.


"Bagaimana nasib Ulong dan yang lain ya, aku khawatir neng" ujar Paijo sambil mengunyah.


"Kalau melihat situasi tadi sepertinya mereka berhasil melarikan diri bang, kan kita yang paling belakang" ujar Siti.


"Iya juga sih, gara-gara saya neng Siti jadi tertinggal" ujar Paijo malu.


"Gak apa abang, kalau untuk abang Siti ikhlas kok" ujar Siti tulus.


Melambung rasanya Paijo mendengar ucapan Siti. Dia terbatuk, kebetulan dia sedang mengunyah kepala ikan.


Salah dia sendiri, tadi setelah ikan dibagi dua dia minta bagian kepala untuknya.


"Neng ngomong gitu bikin saya kaget" ujar Paijo masih terbatuk.


Siti buru-buru mengambil kantong minumannya, dia guncang-guncang, ternyata sudah kosong.


Dia bergegas ke sungai menciduk air dengan kantong. Paijo masih terbatuk-batuk.


Air disitu jernih sekali, Siti mengisi kantongan dengan air sampai penuh.


Saat hendak beranjak dari sungai, dia merasa ada yang tidak beres, rasanya seperti ada yang mengawasi mereka.


Dia perhatikan kuda-kuda mereka juga terlihat gelisah.


Siti cepat-cepat memberi kantong air minum ke Paijo.


Paijo langsung menyambut dengan tangan dan meminumnya.


Selesai makan Siti langsung mengajak Paijo untuk kembali naik ke kuda dan segera memacunya.


"Udah hampir gelap bang, aku harap kita dapat segera tiba di kampung", ujar Siti memberi alasan pada Paijo yang terlihat heran.

__ADS_1


__ADS_2