
Belawan, tengah hari.
Jhon memasuki gedung tempat para pejabat maskapai biasanya berkumpul. Saat itu dia datang dengan dikawal dua orang prajurit Belanda.
Dia telah membuat perjanjian dua hari lalu dengan para petinggi maskapai untuk bertemu disini.
Sementara itu di sebuah rumah, tepat di seberang jalan dari gedung yang dimasuki Jhon, puluhan prajurit kompeni bersembunyi di dalam sebuah rumah besar merunduk dan bersiap dengan senapan-senapan berisi peluru.
Jhon menapaki tangga lalu berjalan menuju sebuah ruangan di lantai dua bangunan, seorang pelayan yang berdiri disana membukakan pintu untuknya.
Dia tidak terburu-buru untuk memasuki ruangan, dilihatnya terlebih dahulu kedalam, untuk memastikan empat orang yang diharapkan untuk ditemui telah berada disana, terutama Pieter.
Setelah memastikan siapa yang berada di dalam bangunan, Jhon berpaling pada kedua pengawalnya dan mengangguk.
Kedua prajurit bersiap memberi hormat, lalu keluar dari bangunan. Setibanya di luar, seorang dari mereka naikkan tangan tinggi-tinggi lalu lambaikan tangannya tersebut kekanan dan kiri.
Serentak prajurit yang bersembunyi di rumah besar di seberang keluar, lalu mengelilingi bangunan dimana Jhon berada di dalamnya.
Orang-orang yang kebetulan melintas kaget melihat hal ini dan buru-buru menyelamatkan diri memasuki bangunan-bangunan terdekat. Dan jalanan tiba-tiba menjadi lengang.
Setelah seluruh prajurit yang kesemuanya Belanda berada di posisi, Heidrich keluar dengan pakaian lengkapnya dari bangunan di mana para prajuritnya tadi bersembunyi.
Heidrich melangkah tegap memasuki bangunan dimana Jhon sedang berada didalamnya, lalu lima orang dari prajuritnya mengikuti memasuki bangunan.
Di dalam ruangan di lantai dua.
Jhon duduk di single sofa yang kosong menghadap ke empat pria Belanda klimis.
"Ada apa kira-kira sehingga anda mendesak kami untuk melakukan pertemuan ini?", tanya Pieter yang berambut dan berkumis pirang. Saat ini Pieter mengenakan Jas hitam rapi dengan sebuah dasi kupu-kupu menghias leher.
Jhon mencabut pistol dan mengokangnya lalu diletakkan di atas meja. "Aku akan menangkap kalian dengan tuduhan berkomplot merencanakan pembunuhan terhadap perwira kompeni", ujar Jhon menyeringai.
Serentak ke empat orang ini kaget, seorang dari mereka yang sedang menghisap cerutu langsung terbatuk.
"Lelucon apa ini?", tanya Pieter lagi.
__ADS_1
"Jhon katakanlah kau bergurau kan?", tanyanya lagi.
Jhon menyeringai lagi, "kita lihat saja", jawabnya.
Tak lama terdengar derap kaki bergerak menaiki tangga di luar, lalu derap beberapa kaki itu semakin mendekat. Dan terjadi hal yang benar-benar mengagetkan mereka, Letnan Heidrich yang sekitar dua minggu ini menghilang tiba-tiba muncul memasuki ruangan diikuti lima orang serdadu Belanda lainnya. Para prajurit ini begitu memasuki ruangan segera mengacungkan senapan ke arah mereka di dalam ruangan.
"Hei turunkan senjata kalian, apa kalian tidak tahu kami siapa?", ujar Pieter geram.
"Aku tahu kalian siapa, tapi beberapa detik lagi kalian bukan siapa-siapa", ujar Heidrich.
Seorang pria Belanda yang mengenakan kemeja putih tanpa jas berkata, "sebentar, tahan sebentar, apakah tidak bisa hal ini kita bicarakan?".
"Tentu saja bisa dibicarakan, tapi yang berbicara dan harus didengar adalah aku, kalian hanya mengikuti apa yang kukatakan", ujar Heidrich.
"Aku ingin kalian membuat surat pernyataan resmi bahwa terjadi kesalahan, sehingga kalian menyetujui permintaan Suma lalu mengeluarkan surat permintaan penangkapan Ki Bayu, itu surat pertama", ujarnya lagi.
"Kedua, aku ingin kalian juga membuat surat permintaan dari kalian ditujukan padaku untuk menangkap Suma atas dasar surat pertama tadi", sambungnya.
Sambil berbicara dia berjalan pelan ke sebuah lemari buku di dalam ruangan, untuk menemukan peralatan menulis. Diambilnya peralatan tersebut lalu letakkan di atas meja.
"Aku sudah membayarnya dengan seratus orang prajuritku yang tewas karena kebodohan kalian", ujar Heidrich geram.
"Pilihan kalian hanyalah menuliskan surat seperti yang kuminta, atau kalian ku tembak mati sekarang dengan tuduhan bersekongkol untuk membunuh prajurit kompeni, dan percayalah andai itu terjadi kalian tidak akan lagi bisa mendebatku", ancam Heidrich.
"Sekarang tulis!!", perintahnya.
Pieter menatap ketiga temannya, ke empat pria Belanda itu saling bertatapan sesaat, keringat dingin mengalir membasahi wajah-wajah mereka, lalu satu persatu mereka mengangguk kepada Pieter.
Dengan geram Pieter mengambil kertas di meja dan mencelupkan pena kedalam tinta dan mulai menulis dua surat dengan didiktekan oleh Heidrich.
Setelah surat selesai ditulis, Pieter mencampakkan pena begitu saja di atas meja dengan kesal, lalu dia duduk sambil letakkan tangan di dahi.
Heidrich tersenyum puas, di bacanya surat tersebut yang sudah di tanda tangani Pieter. Setelah itu dia mencairkan lilin di kotak besi dengan pemantik yang dibawanya.
Setelah lilin mencair, Heidrich menatap Pieter.
__ADS_1
Pieter melihat dan mengangguk ke seorang pria Belanda berambut hitam. Si pria yang di beri anggukan mengeluarkan stempel dari kantongnya dan letakkan di atas meja. Heidrich ambil stempel tersebut. Dia tuangkan lilin berwarna coklat kemerahan di atas surat tepat di bawah tanda tangan Pieter lalu tekankan stempel disana, dan stempel pun memberi cap pada lilin tersebut. Kini kedua surat sudah di tandatangani oleh Pieter dan sudah di beri stempel resmi.
"Aah, senang bekerja sama dengan kalian", ujar Heidrich. Dia segera bergerak keluar ruangan diikuti seluruh orangnya, termasuk Jhon.
"Benar kan Jhon, terkadang kita perlu bermain kasar", ujar Heidrich di perjalanan menuruni tangga. Jhon mengangguk membenarkan dan tersenyum.
Ini semua ide Heidrich, "kita terpaksa harus menggunakan ancaman dan kalau perlu kekerasan untuk memutus konspirasi ini", ujar Heidrich beberapa hari lalu di gubuk tepi laut.
Baru saja Heidrich hendak keluar dari bangunan, terdengar keributan di luar. Ternyata Suma baru tiba dengan lima orang anggotanya, dia mendengar dari pihak maskapai bahwa Jhon meminta mereka untuk bertemu sehingga dia segera kesini dan kini dia kaget begitu melihat Heidrich, atasannya berdiri di depan pintu.
Suma tidak turun dari kudanya, dia bingung hendak melakukan apa.
Heidrich menyeringai lalu mengeluarkan surat yang barusan saja dibuat lalu membacanya keras-keras.
"Dengan alasan keamanan, kami pihak maskapai perkebunan meminta kepada Letnan Heidrich Hugo Vos untuk menangkap sersan Kesuma hidup atau mati, tertanda Pieter". Heidrich hanya membaca satu surat saja yaitu surat perintah penangkapan Suma.
Suma menggeletar karena kaget, bingung, dan takut. Seluruh prajurit Belanda disitu segera mengokang senapan dan mengarahkan kepadanya. Sedangkan prajurit pribumi yang bersamanya juga mengokang senjata untuk melindunginya.
Kedua kelompok kini sama-sama mengacungkan senjata berhadapan hanya beberapa meter jaraknya.
"Ada apa ini komandan? Ini pasti salah paham!!", ujar Suma panik.
Heidrich mengangguk pada Jhon.
"Tembak!!", teriak Jhon.
"Duar..Duar..Duar!!".
Suasana siang itu pun di penuhi suara rentetan tembakan dan asap mesiu.
Kelima pengawal Suma langsung tumbang tertembak dan jatuh dari kuda-kuda mereka bersamaan dengan beberapa prajurit kompeni Belanda yang juga roboh tertembak.
Beberapa peluru terlihat menembus tubuh Suma menimbulkan luka yang berasap. Tapi Suma tidak roboh, dia malah mencabut pedangnya.
"Tangkap!!", perintah Jhon, para prajurit mencabut pedang dan sebagian menyerang dengan bayonet.
__ADS_1
"Kurang ajar kalian", ujar Suma marah lalu sabet-sabetkan pedang kesana kemari dan memacu kudanya meninggalkan lokasi bentrokan.