
Dua tentara kompeni berdiri mengawasi jalan di dekat pos mereka yang terletak di sisi sebuah jembatan di Sungai Bedera.
Tak jauh dari situ, beberapa meter di sebelah kanan mereka, ada beberapa serdadu pribumi sedang duduk bersembunyi dibawah pohon besar, mengintai dalam gelap.
Selain mereka yang sudah disebutkan, ada dua orang lagi serdadu yang juga pribumi, mereka berdiri diatas jembatan yang terbuat dari kayu.
Mereka berdua mengawasi sisi kiri dan kanan jembatan.
Mereka pada hari itu mendapat perintah untuk mengawasi jalur ini dengan lebih ketat dari biasanya.
Hal itu terkait pengepungan para laskar yang berkumpul di sebelah selatan Sunggal.
Lima orang serdadu pribumi juga telah diperbantukan pada mereka, sebagai langkah tambahan pengamanan jembatan.
Sehingga biasanya mereka yang berjaga disitu hanya berlima kini menjadi bersepuluh.
Saat itu sekitar pukul delapan, terdengar suara derap beberapa kuda berlari mendekat.
Dalam terang cahaya obor dua serdadu kompeni yang berjaga di jalan melihat tiga orang berkuda menuju ke arah mereka.
"BERHENTI!!!" ujar salah seorang serdadu.
Ketiga penunggang kuda memelankan laju kuda mereka dan berhenti beberapa meter dihadapan para serdadu kompeni.
Setelah mereka berhenti kedua serdadu kompeni menghampiri dua penunggang kuda terdepan, yaitu Ulong dan Laksmi.
Dibelakang mereka berdua terlihat Awang duduk diatas kuda dalam posisi tangan terikat ke belakang.
Ulong dan Laksmi turun dari kuda.
"Siapa kalian dan hendak kemana?" seorang dari serdadu itu bertanya.
"Kami di perintahkan mengantar tawanan ini ke pos di Klambir Lima tuan" ujar Ulong, Laksmi mengangguk membenarkan.
"Tunggu disini sebentar" ujar si serdadu lalu berlari ke pos mereka di tepi jembatan untuk melapor pada komandannya berjaga.
Selagi temannya menuju pos, serdadu yang lain berdiri bersiaga dengan senapan di tangan.
Dia menatap ke arah Ulong dan Laksmi dengan penuh waspada.
Tak lama komandan mereka keluar dari Pos yang berukuran empat kali empat meter tersebut dan menghampiri, "siapa yang menyuruh tuan dan puan mengantar tawanan ke Klambir Lima?" tanyanya.
Dengan tenang Ulong menjawab "Suma yang mengutus kami tuan, tawanan yang barusan berhasil kami tangkap ini adalah salah seorang laskar yang melarikan diri dari pertemuan mereka di Sunggal" ujar Ulong.
Dari kegelapan di bawah pohon sebelah kanan terdengar suara beberapa langkah kaki, lalu perlahan lima orang serdadu pribumi yang bersembunyi disana keluar dan datang menghampiri.
Sejak awal mereka berbisik-bisik melihat kemunculan Laksmi dan akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri gadis jelita itu dengan alasan melihat-lihat situasi.
Ulong dan Laksmi menatap para serdadu pribumi yang muncul, tepat seperti perkiraan Awang, disini pun ada tambahan pasukan.
"Semoga tidak ada lagi yang lain" batin Ulong berharap.
Awalnya mereka tertarik melihat kecantikan Laksmi, tapi begitu mendekat seorang dari serdadu pribumi tiba-tiba kaget dan berkata, "si Awang rupanya". Serdadu pribumi itu mengenali Awang.
Para serdadu dan komandannya disitu serentak mendatangi Awang.
Awang yang dikerumuni justru terkekeh, ternyata aku begitu tenar pikirnya.
"Ini dia si Awang, dia yang selama ini menyerang dan membunuhi serdadu kompeni dari sini hingga ke hamparan perak" ujar si serdadu menunjuk-nunjuk.
"Aku selama ini cuma mendengar namanya, ternyata ini orangnya" ujar komandan pos jaga menatap tajam ke Awang.
Awang ditatap seperti itu mengejek dengan pura-pura membungkuk hormat pada si komandan.
"Akhirnya tertangkap juga kau sialan" ujar serdadu pribumi yang mengenalinya lalu meludah ke tanah.
Serdadu pribumi yang lain menarik turun Awang dari kudanya, "turun kau" ujarnya, lalu setelah Awang turun dia tarik kerah baju Awang dan benturkan kepalanya ke kepala Awang.
Awang justru tertawa terbahak-bahak mendapat perlakuan itu.
"Ah kau berlagak jagoan karena tanganku terikat", ujar Awang mengejek.
Benturan adu kepala tadi sudah pasti bukan apa-apa bagi Awang, karena dia berlatih silat semenjak berusia lima tahun, sehingga cedera dan luka sudah sangat akrab baginya.
Ulong dan Laksmi memperhatikan dengan tatapan khawatir, yang dikhawatirkan malah begitu santai dan tertawa.
Mardiani dan Salhah yang bersembunyi di balik pepohonan besar juga memperhatikan dengan cemas.
Mereka saat itu sedang mengawasi dari kegelapan di belakang pepohonan, yaitu tempat para serdadu kompeni pribumi berkumpul sebelumnya.
"Semoga Putra dan yang lain dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat waktu" batin Ulong, dia khawatir Awang emosi karena kelakuan para serdadu ini dan melawan sehingga merusak rencana mereka.
Atau yang lebih gawat jika para serdadu kompeni ini memutuskan untuk membunuh Awang disitu, karena menganggapnya sangat berbahaya jika dibiarkan hidup.
Putra, Arman dan Mat kecik ditugaskan untuk membakar padang ilalang beberapa ratus meter dari situ di tempat dimana serdadu yang lebih banyak jumlahnya bersembunyi.
Kebakaran itu juga akan menjadi isyarat bagi mereka yang berada disini untuk memulai penyerangan.
__ADS_1
Ulong dan Laksmi saling berpandangan, Ulong melihat ada dua lagi serdadu kompeni yang tak bergeming berjaga di atas jembatan sedang menatap ke arah mereka.
Posisi mereka sangat bagus saat ini pikir Ulong, para serdadu kecuali dua yang berada di jembatan sedang mengerumuni Awang, membelakangi mereka.
Begitu pun mereka belum bisa memulai menyerang sebelum kobaran api muncul dari arah barat.
Lalu Ulong melirik ke arah timur, kedua gadis Angku Razak harusnya saat ini sudah berada di sekitar pohon-pohon besar di sana.
Ulong hampir bisa pastikan itu, karena mereka tadi berkumpul terlebih dahulu di simpang tiga sebelum berpencar.
Simpang tiga itu ke timur mengarah ke kota Medan, ke barat ke arah Aceh dan ke Utara yaitu yang mengarah ke jalan ini, bisa membawa mereka menuju ke ke Hamparan Perak atau ke Belawan.
Ulong dan teman-temannya sengaja menuju pos dari arah timur agar mereka terhindar dari pertemuan dengan dua lusin serdadu kompeni yang menunggu di sebelah barat simpang tiga.
Setelah tiba di persimpangan, sebelum memasuki jalan yang menuju ke jembatan ini mereka berpencar.
Anak dan ponakan Angku Razak berjalan kaki dari persimpangan menyusuri pepohonan lebat di sebelah timur jalan, lalu mereka akan mengepung jembatan dengan bersenjatakan busur dan anak panah.
Sedangkan Ulong, Laksmi dan Awang berkuda melalui jalanan umum menuju jembatan.
Sementara Angku Razak mereka tinggalkan sendirian di persimpangan, disisi jalan diantara pepohonan, untuk menjaga kuda-kuda mereka sekaligus menunggu Putra dan kawan-kawan yang bertugas membakar padang ilalang di sebelah barat persimpangan.
Ulong menatap Laksmi lalu memberi isyarat dengan mata melirik ke arah Awang.
Mereka bersamaan mendekati para serdadu yang mengerumuni Awang sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, karena serdadu pribumi tadi yang mengantukkan kepala ke Awang terlihat sudah menghunus pedang.
"Hei, sudah berhenti, cukup" ujar si komandan.
Para serdadu menatap komandannya dan terdiam.
"Dia juga bakal dihukum mati mengingat banyaknya kejahatan yang sudah dilakukannya tuan, aku cuma hendak menggoresnya sedikit" ujar si serdadu pribumi sambil menyeringai, tangannya sudah menghunus pedang.
Si komandan akhirnya terdiam dan memperhatikan.
Sesaat sebelum pedang di tangan si serdadu ditorehkan ke wajah Awang, tiba-tiba beberapa serdadu kompeni yang berdiri menghadap ke barat berteriak "api, api" sambil menunjuk ke arah api yang berkobar di padang ilalang sebelah barat.
Serentak para serdadu kompeni disitu menoleh ke arah kebakaran.
"Ini saatnya", ujar Ulong dalam hati.
Dia menoleh ke arah dua orang serdadu yang ada di jembatan.
Bersamaan dengan berkobarnya api, Mardiani dan Salhah lesatkan dua anak panah ke arah dua serdadu di atas jembatan, kedua serdadu yang sedang menatap kobaran api itu serentak roboh tertembus panah tepat di tengkuk, dan jatuh ke sungai di bawahnya.
"Berhasil", batin Ulong.
Setelah dua serdadu di jembatan roboh, Laksmi segera raih busur yang disandang di bahu dan dengan cepat memanahi musuh yang mengerumuni Awang, sedangkan Ulong membantu melemparkan belatinya dengan sangat cepat ke arah para serdadu yang tidak terjangkau oleh serangan jarak dekat.
Segera lima orang roboh di terjang anak panah Laksmi dan belati-belati Ulong.
Awang terkekeh melihat keadaan kini berbalik, jarak dia sangat dekat dengan tiga serdadu kompeni yang tersisa.
Mereka tidak sempat menggunakan bedil di jarak sedekat itu, kecuali komandan mereka, pria itu mencabut pistol di pinggang begitu melihat orang-orangnya diserang.
Awang dengan cepat dan sangat kuat menendang dada si komandan hingga pria itu jatuh terduduk dan pistolnya terjatuh.
Serdadu yang lain menusukkan bayonet yang terpasang di senjatanya tapi Awang berhasil berkelit menghindar, bayonet serdadu itu menusuk hanya berjarak beberapa centi dari pinggang Awang, mengenai tempat kosong.
Ulong berlari mendekat dengan dua belati lagi di kedua tangan.
"Jangan yang itu, dia milikku" ujar Awang menunjuk dengan dagunya ke arah serdadu pribumi yang tadi mengadu kepala dengannya.
Ulong mengangguk lalu menikamkan belatinya ke leher komandan kompeni yang jatuh terduduk.
Sedangkan seorang serdadu pribumi yang barusan di elakkan Awang serangan bayonetnya, berhasil di tembus anak panah Mardiani dan Salhah bersamaan dari belakang.
Tinggal seorang serdadu pribumi yang tersisa, yaitu orang yang mengadu kepalanya dengan kepala Awang, dia juga yang barusan hendak menyayat wajahnya.
Awang menyeringai kejam, serdadu pribumi itu mundur ketakutan.
"Hah, ketat kali si Arman mengikat tali ini, apa sengaja dia biar aku terbunuh" gerutu Awang.
Tali yang tadi cuma di belitkan ke tangannya berhasil terlepas.
Lalu Awang menatap serdadu pribumi yang tersisa.
"Mana keberanian dan kegagahanmu tadi pengkhianat?" Ujar Awang.
Serdadu itu mundur hingga keluar dari badan jalan, dia tidak berani menggunakan pedang yang sudah di tangan, karena Laksmi sudah sedari tadi mengarahkan busur dan anak panah kepadanya.
Mardiani dan Salhah pun sudah muncul dari kegelapan, keduanya juga mengarahkan busur ke arah si serdadu.
"Begini saja, karena kami perlu pergi buru-buru dan bukan kau saja yang harus kami urus, coba kau lawan aku satu lawan satu dengan pedangmu. Kalau kau berhasil menang, maka pergilah kau dengan selamat", ujar Awang.
Serdadu itu menatap berkeliling, lalu pasang kuda-kuda dengan memegang pedang di tangan.
"Nah gitu lah semangat, suka aku melihatnya", ujar Awang.
__ADS_1
Serdadu itu menyabetkan pedang menebas ke arah perut Awang.
Awang melompat mundur "Oi, mana boleh seperti itu, aku kan belum pegang senjata" teriaknya.
Mat Kecik, Arman, Putra, dan Angku Razak muncul dari jalan yang gelap sambil membawa kuda-kuda.
Mereka menghentikan kuda lalu memperhatikan Awang yang sedang berhadapan dengan musuh.
Arman melemparkan sebuah golok yang disambut Awang dengan tangannya.
"Kalian ambil semua yang bisa di bawa, biar ku gores dulu pengkhianat ini" ujar Awang membalikkan ucapan si serdadu tadi padanya.
Arman dan Mat Kecik tertawa lalu turun dari atas kuda mereka, "pandai-pandai lah kau menjaga diri ya" ujar Mat Kecik pada si serdadu yang sudah berkeringat dingin. Kemudian mereka berjalan sambil menuntun kuda menghampiri Ulong dan yang lain.
Tidak ada pilihan lain pikir si serdadu, dia lantas menusukkan pedangnya ke Awang, yang diserang justru terkekeh berkelit menyamping, lalu dari samping berputar tebaskan golok dengan sangat cepat.
Serdadu yang menyerang terhuyung maju karena gerakannya tidak mengenai sasaran.
Sementara itu di saat dia terhuyung golok Awang berhasil menyabet punggungnya meninggalkan luka cukup dalam.
Si serdadu menatap Awang dengan geram, sakit sekali luka yang ditorehkan Awang di punggungnya.
Dalam keadaan terluka dan tidak bisa menyerang dengan maksimal dia sabetkan pedang, kali ini ke leher Awang.
Awang menunduk, pedang si serdadu lewat di atas kepalanya, menimbulkan angin cukup kuat "Wuzz".
Setelah berhasil mengelakkan tebasan pedang ke leher dia tusuk serdadu itu pada bagian perut dengan golok.
"crapp.." Goloknya menancap lebih dari separuh di perut si serdadu kompeni.
Si serdadu mengaduh dan jatuh bersimpuh memegangi perut begitu Awang mencabut goloknya.
Awang bergerak meninggalkan lawan yang sudah tak berdaya.
"Bunuh aku", ujar serdadu kompeni itu tak sanggup menahan sakit dari perutnya yang robek.
"Aku pejuang, bukan pembunuh", ujar Awang menyeringai sembari berlalu.
⚜️⚜️⚜️
Ulong dan teman-teman mengambil apapun yang dapat mereka bawa, senjata, makanan, bahkan pakaian kompeni mereka lucuti.
Sebagian bawaan mereka letakkan di pelana dua kuda yang tidak ditunggangi, yaitu dua dari tiga kuda yang di rampas Mat Kecik siang tadi.
Cuma dua dari tiga kuda tanpa penunggang, karena yang satunya ditunggangi Laksmi yang kehilangan kuda pada penyergapan.
Setelah mereka rasa urusan mereka selesai disitu, mereka membakar jembatan dengan minyak tanah yang diambil dari pos jaga.
Hal inj mereka lakukan agar bala bantuan pasukan kompeni dari Medan kesulitan untuk mengejar mereka.
Dan mengulur waktu bagi mereka untuk menyelamatkan para tawanan nanti.
Dengan cepat jembatan yang terbuat dari kayu itu di lalap api, Ulong melihat beberapa potong kayunya yang terbakar berderak patah lalu jatuh ke sungai.
Terdengar suara langkah beberapa orang berlari di seberang jembatan. Awang menatap Arman dan Mat Kecik.
Mat Kecik mengangkat bahu "mereka banyak Wang, mana mungkin semua terbakar" ujarnya nyengir.
"Iya Wang, paling juga tersisa sekitar dua atau tiga orang" sambung Arman berdalih.
Para serdadu kompeni di seberang terdengar memaki dalam bahasa Belanda lalu terlihat dalam cahaya obor dua orang memeriksa mayat mayat serdadu yang terbunuh.
Para serdadu kompeni ini adalah yang selamat dari pembakaran Padang ilalang di sebelah barat jembatan.
Ulong, Awang, dan yang lain dapat melihat cukup jelas dari sini, karena jarak mereka ke seberang hanya sekitar lima belas meter.
Selain dua orang yang memeriksa mayat para serdadu kompeni, terlihat dua lagi memeriksa pos, lalu ada lima orang lagi berlari-lari datang menyusul dari jalanan gelap.
Awang menatap lagi ke arah Mat Kecik dan Arman.
Salah tingkah Arman melihat-lihat kukunya, satu hal yang tidak mungkin karena mereka berada di kegelapan.
Sedangkan Mat Kecik cuma garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Laksmi memberi isyarat pada Mardiani dan Salhah.
Mereka lalu mengambil busur yang di sandang di bahu masing-masing.
Sambil duduk di atas kuda tiga batang anak panah mereka lesatkan.
Tiga serdadu musuh yang paling dekat jaraknya ke tepi sungai roboh.
Serdadu yang lain kaget lalu bersembunyi menyelamatkan diri begitu melihat tiga temannya roboh.
Setelah Laksmi dan dua gadis lainnya melesatkan anak panah, Ulong dan rombongan bergegas memacu kuda menjauh.
Tepat seperti perkiraan mereka tak lama terdengar tembakan senapan dari seberang sungai, dilepaskan serdadu kompeni yang tersisa.
__ADS_1