Ulong Belati

Ulong Belati
Berpacu Dengan Waktu


__ADS_3


Selat Malaka, dua hari kemudian di tengah hari.


Beberapa penduduk desa tiba dengan menggunakan perahu, mereka membawa seorang pria lain bersama mereka.


Rustam memperhatikan orang-orang yang datang lalu membantu mereka naik ke atas kapal.


"Ada apa?", tanya Rustam. Saat itu hanya ada dia, Ulong dan Laksmi di dek.


Pria yang dibawa penduduk desa itu berusia empat puluhan bertubuh pendek kekar, berkulit gelap terbakar sinar matahari. Dia menyalami Rustam, Ulong, dan Laksmi.


"Ada yang perlu saya sampaikan pada kalian, tapi terlebih dahulu izinkan saya perkenalkan diri, namaku Saleh, aku tinggal di desa nelayan di sebelah timur kota Belawan. Saya memiliki beberapa keluarga di desa tempat pakcik Rustam ini tinggal, salah satunya Midun", ujarnya.


Midun penduduk desa berusia dua puluhan yang bersamanya mengangguk membenarkan, "saya ponakan Pakcik ini, dia tadi mampir dari Belawan karena ada urusan keluarga dan dia memiliki cerita yang sepertinya harus kalian dengar", jelas Midun.


"Ooh", ujar Rustam lalu tersenyum, pantas dia merasa tidak asing dengan wajah pria yang dibawa si Midun ini.


Awang dan Angku Razak keluar dari ruang komando dan berdiri di depan pintu, lalu Putra muncul di belakangnya.


"Aah maafkan ketidak sopanan kami, ada baiknya kita duduk di dalam agar lebih enak bagi kita berbicara", ujar Ulong.


Ulong pun membawa Saleh ke dalam ruang komando.


Sementara itu Rustam meminta penduduk desa untuk turun ke geladak membuatkan kopi untuk tamu mereka.


Tak lama di dalam ruangan, segelas kopi telah dihidangkan untuk tamu mereka, Saleh.


Awang, Ulong, Laksmi dan beberapa laskar yang lain sudah berada di dalam ruang komando menunggu Saleh memulai ceritanya.


"Ada beberapa hal yang patik ingin sampaikan", ulang saleh setelah menyeruput kopinya.


"Yang pertama adalah kabar yang patik dengar tentang keributan antar sesama serdadu kompeni di jalanan Belawan", ujarnya.


Dia menceritakan kalau dia mendengar dari penduduk Belawan terjadi tembak menembak di jalanan kota itu pada siang tiga hari yang lalu, antara pasukan Heidrich dan Suma, namun karena kalah jumlah Suma melarikan diri.


"Tengah hari? Berarti kejadian tersebut disaksikan orang banyak?", tanya Ulong.


"Iya demikian adanya, tapi tidak ada seorang pun penduduk atau tentara kompeni di Belawan yang tahu kemana Suma pergi setelah kejadian itu, penduduk kota hanya melihat dia memacu kudanya ke arah Klambir Lima dikejar oleh Letnan Heidrich dan pasukannya, seperti itu yang patik dengar", jawab Saleh.


"Ada hal menarik yang diceritakan orang-orang disana, bahwa seluruh prajurit Suma tewas tertembak, dan Suma sendiri berkali-kali terkena tembakan tapi dia tidak apa-apa", sambungnya.


Para pendengar kaget mendengar cerita Saleh.


"Dia kebal, begitu?", tanya Awang.


"Dia tidak kebal, menurut cerita orang-orang yang menyaksikan banyak peluru mengenai tubuh hingga pakaian dan tubuhnya kelihatan terluka disana-sini, tapi dia seperti tidak merasakan apa-apa dan masih bisa memacu kudanya pergi", jawab Saleh kembali.


Ulong mengangguk-angguk berpikir, Awang meliriknya, tapi Ulong hanya mengangkat bahunya tanpa bicara apa-apa.


"Nah kini patik hendak ceritakan hal lain yang patik saksikan sendiri, dan berhubungan dengan cerita sebelumnya", sambung Saleh.


Dan Saleh pun bercerita bahwa satu hari sesudah kejadian bentrokan di Belawan dia melihat beberapa prajurit kompeni di teluk kecil dekat tempat tinggalnya di luar kota Belawan. Saat itu dia sedang memperbaiki jaring bersama temannya Muin.


Karena penasaran, sambil memperbaiki jaring mereka memperhatikan dari jauh apa yang mereka kerjakan.


Mereka melihat para prajurit kompeni mengangkat peti kayu seukuran satu setengah meter persegi dan menaikkannya ke perahu kecil lalu pergi berlayar bersama peti tersebut.


"Perahu kami bersamaan melaut, kami bahkan mengikuti mereka sebentar dari kejauhan, siapa tahu mereka membawa harta karun", ujar Saleh tertawa.

__ADS_1


"Kearah mana mereka pergi?", tanya Rustam, sebagai seorang pelaut juga nelayan dia mengenal hampir seluruh pelosok selat Malaka ini, bahkan dulu dimasa mudanya dia sudah berkali-kali berlayar sampai ke Kerajaan Melaka (Malaysia), ke Selebes (Sulawesi), hingga pulau Borneo (Kalimantan).


"Mereka pergi kearah antara Utara dan Timur Laut. Walau kami tidak terus mengikuti tapi bisa perkirakan kemungkinan mereka pergi ke kumpulan pulau-pulau di arah tersebut", sambungnya.


Ulong melirik Rustam.


Rustam mengangguk penuh arti, dia bisa memperkirakan kemana para prajurit kompeni tersebut pergi.


"Lalu kami pun menebar jaring untuk menangkap ikan. Sampai lewat tengah hari saat kami memutuskan untuk kembali ke teluk, para prajurit kompeni tersebut belum juga terlihat kembali" ujar Saleh kembali.


"Apa kira-kira isi kotak yang dibawa mereka?", tanya Mat Kecik.


Saleh menatap Mat Kecik lalu melanjutkan bercerita,


"Nah ada penjelasan tentang itu. Jadi sekembali kami dari laut aku diberi kabar kalau pamanku yang tinggal di Belawan yaitu kakek si Midun yang mengantarku kesini tadi, sedang sakit keras. Maka akupun segera menuju Ke Belawan dengan berjalan kaki, saat itu sudah hampir Maghrib. Tak lama para prajurit kompeni yang membawa kotak kelaut ternyata telah kembali dan juga menuju ke Belawan, kami bertemu di perjalanan dan mereka mengajakku menumpang di pedati mereka", sambungnya.


Setelah itu Saleh melanjutkan bercerita bagaimana akhirnya pasukan kompeni yang membawanya diserang Ni Gaok dan para pengawalnya di pinggir kota Belawan.


Rustam, Awang dan teman-teman terlihat kaget mendengar hal tersebut.


Ulong menatap mereka dengan penuh tanda tanya.


Rustam yang mengerti arti tatapan Ulong menjelaskan, "Ni Gaok ini adalah legenda ilmu hitam di kawasan pesisir".


Awang dan teman-teman mengangguk membenarkan.


"Aku bahkan tidak menyangka kalau kisah turun temurun itu benar", ujar Awang.


"Aku dulu sewaktu kecil kalau masih bermain diluar rumah dimalam hari sering di takuti emakku soal Ni Gaok", ujar Mat Kecik.


"Aah kayak pernah kecil aja kau", goda Arman. Mat Kecik cuma nyengir menatap ke Arman.


"Silah lanjutkan Pakcik", pinta Awang.


Saleh pun menjelaskan secara rinci apa yang dia lihat dan dengar, tentang kotak yang ternyata berisi potongan tubuh Suma. Dan juga tentang bagaimana Ni Gaok mengakui bahwa dia dan para pengawalnya membantai seratusan pasukan kompeni.


Dan kembali seluruh orang yang berada di ruangan tersebut terkaget mendengar cerita tersebut.


"Seperti apa tampang Ni Gaok tersebut?", tanya Tama penasaran, karena dia, Samsul dan tiga orang lainnya menyaksikan saat Ni Gaok membantai pasukan kompeni di pinggir sungai di Hamparan Perak. Tama dan ke empat teman Awang lainnya sedang berdiri di pintu saat ini, karena di dalam kabin sudah penuh orang.


"Dia terlihat muda dan lumayan cantik, berpakaian serba hitam. Ada lima pengawal pria bersamanya, juga berpakaian serba hitam, dan pada tangan para pengawal sebatas pergelangan ada sarung tangan sepertinya dari besi", jelas Saleh.


"Iya, sepertinya dia yang membantai pasukan kompeni di hamparan perak", ujar Saleh mengangguk membenarkan.


"Bukan sepertinya, tapi memang dia", ujar Tama meluruskan.


"Lantas apa hubungan Ni Gaok dengan Suma?", tanya Angku Razak.


"Ni Gaok mengatakan kalau Suma itu muridnya", jawab Saleh.


Dan hadirin terkaget untuk yang kesekian kalinya.


"Sial", ujar Awang.


Saleh melanjutkan ceritanya tentang dua orang prajurit kompeni yang tadinya duduk di atas pedati lalu melarikan diri, namun tak lama kemudian seorang diantaranya berhasil kembali. Dia juga bercerita saat para serdadu sibuk mengerumuni temannya yang berhasil melarikan diri itu, dia pelan-pelan menyelinap ke kegelapan dan pergi.


Ulong berpikir sebentar lalu berkata,


"Sepertinya kita harus menghentikan Ni Gaok untuk menemukan tubuh Suma yang dibuang, tapi kita harus pikirkan cara menghadapinya, karena penyihir ini sepertinya jauh berbeda dengan Ki Bayu".

__ADS_1


"Aku juga ragu, entah bagaimana caranya mengalahkan penyihir tersebut", ujar Awang. Dia menoleh ke Mat Kecik dan Arman, kedua temannya itu hanya mengangkat bahu, bingung. Dia menoleh ke Tama dan keempat orang lainnya yang berada diluar ruangan, mereka begitu ditatap awang segera bergerak ke samping pintu agar tidak terlihat dari dalam ruangan.


"Aku agak ragu, bukan berarti aku tak mau. Karena memang hal ini sangat penting untuk dilakukan, Suma adalah murid Ni Gaok sedangkan Suma sendiri adalah musuh kita, para laskar", ujar Awang sambil menghela napas berat.


⚜️⚜️⚜️


Pada saat hampir bersamaan, di ruangan Heidrich di Klambir Lima.


Jabatan Heidrich sudah dikembalikan segera setelah pihak militer mengetahui dia ternyata masih hidup, dan mereka juga tidak menyalahkan dia atas insiden yang terjadi dengan Suma dan orang-orangnya. Begitupun Heidrich tahu alasan sebenarnya mereka tidak mempermasalahkan insiden tersebut adalah karena dia telah mengantongi surat dari maskapai perkebunan.


Kini dia duduk berhadapan dengan satu-satunya prajurit yang selamat dari serangan Ni Gaok.


Mereka duduk berhadapan di batasi meja kerja Heidrich. Sementara Jhon seperti biasa berdiri disebelahnya.


Prajurit itu menceritakan secara lengkap kejadian demi kejadian semenjak mereka di dermaga kecil di teluk, mengubur kotak lalu kembali ke kota Belawan dan berakhirnya perjalanan mereka di pinggiran kota.


"Berarti mereka hendak menyelamatkan Suma ya? Memang orang itu hanya membawa masalah saja", ujar Heidrich geram.


"Iya komandan", jawab si prajurit.


"Dan ternyata iblis betina itu yang menyerang kami di perkemahan tempo hari", lanjut Heidrich.


"Demikian yang diucapkannya komandan", ujar si prajurit membenarkan.


"Kemungkinan juga temanmu sudah diculik Ni Gaok, dan tentu tidak sulit bagi penyihir tersebut untuk membuatnya buka mulut", ujar Heidrich lagi.


"Komandan, kalau boleh saya menambahkan, Ni Gaok itu adalah legenda yang sudah lama ceritanya beredar di daerah ini", ujar si prajurit.


"Legenda ya? kenapa dia harus menunggu kalian, bukannya mengejar kalian ke laut? itu membuktikan bahwa dia juga masih manusia. Mungkin dia memang sakti, tapi tetap saja manusia", ujar Heidrich tersenyum sinis.


Si prajurit ternganga, dia menyadari kebenaran ucapan komandannya. Jhon mengangguk membenarkan.


Heidrich sudah lama bertugas di negeri ini, walaupun baru beberapa bulan saja tiba di pulau Sumatera. Dan tempat ini tidaklah berbeda jauh dengan tempat-tempat lain yang pernah dia datangi. Dia berpengalaman dengan berbagai cerita seperti itu yang bergulir dari mulut ke mulut dan berubah menjadi dongeng. Kisah tentang kesaktian Ulong dan teman-temannya yang pada faktanya di lapangan dia temui mereka adalah jagoan yang sangat cerdik bukan sakti, (Heidrich bahkan tidak tahu kalau laskar yang sempat menawan lalu membebaskannya adalah Ulong dan teman-temannya), atau tentang Ki Bayu yang dia saksikan sendiri kesaktiannya dan malah tewas begitu saja di tangan para prajuritnya.


"Jadi sesakti apapun, selama mereka masih manusia mereka pasti mempunyai kelemahan dan saat kelemahan tersebut berhasil ditemukan maka mereka bisa dikalahkan", ujar Heidrich menambahkan.


"Begitupun kita tidak bisa abaikan bahwa perempuan itu dan para pengawalnya sanggup membantai seratus orang pasukan kita. Dan kalau dia adalah guru dari Suma, maka kemampuannya kemungkinan sama seperti Suma yang tidak mati setelah dipotong-potong, tapi tetap saja bisa dipotong", lanjut Heidrich menegaskan.


"Dan sepertinya kita harus bergerak cepat untuk menghentikan perempuan itu menemukan peti yang kalian kubur", sambungnya.


Heidrich terdiam sejenak, berpikir. Sepertinya Ni Gaok juga akan memerlukan perahu untuk mencapai tempat peti tersebut disembunyikan, karena perempuan itu adalah pertapa bukan pelaut. Dia pasti belum punya perahu untuk berangkat mencari tubuh Suma.


Ada hal lain yang mengkhawatirkannya saat ini, yaitu sekitar seratus prajurit Suma meninggalkan kesatuan semenjak kemarin dan tidak diketahui keberadaannya. Sepertinya mereka memutuskan untuk meninggalkan pasukan karena mendengar kabar bentrokan sesama prajurit kompeni di kota Belawan.


Heidrich menatap Jhon,


"Kumpulkan prajurit, malam ini kita bergerak ke laut, kita harus lebih dulu tiba di tempat kotak berisi tubuh Suma dan bersiap sebelum Ni Gaok tiba", ujar Heidrich.


⚜️⚜️⚜️


Pada waktu bersamaan juga di kawasan hamparan perak.


Di sebuah padang ilalang luas.


Sekelompok serdadu kompeni pribumi duduk diatas kuda-kuda mereka dalam diam dan hening. Mereka adalah bawahan Suma yang masih setia pada atasannya. Bersama mereka terlihat juga Ni Gaok dan para pengawalnya diatas kuda-kuda mereka.


Lalu terlihat juga seorang prajurit kompeni Belanda duduk terikat diatas kuda dengan pakaian sobek disana sini dan tubuh banyak luka dan memar.


Angin berputar-putar disekitar mereka, meniup dedaunan dan ilalang kering, melambungkan lalu menjatuhkannya kembali.

__ADS_1


Ni Gaok sedang duduk tertunduk diatas kudanya dengan kedua tangan di rentangkan ke kanan dan kiri. Dia sedang melepas gagaknya memeriksa wilayah sekitar mencari perahu ataupun kapal untuk mereka pergunakan berlayar.


__ADS_2