
Lima hari sesudah luluh lantaknya pos kompeni di perkebunan Klambir Lima.
Para pekerja terlihat disana-sini memperbaiki dan membangun ulang.
Sementara itu tenda-tenda militer telah didirikan disana diantara hutan jati sebagai markas darurat semenjak lima hari lalu, dan semakin bertambah jumlahnya dengan berjalannya waktu.
Ratusan tentara kompeni baik Belanda maupun pribumi bermarkas sementara disitu dan setiap hari prajurit kompeni berlalu lalang datang dan pergi dengan berbagai urusan.
Letnan Heidrich memimpin langsung operasi ini.
Itu terpaksa dilakukannya karena satu hari setelah para gerilyawan memporak porandakan pasukannya disini, ia mendapat teguran keras dari penguasa lokal dan pejabat maskapai perkebunan. Mereka benar-benar marah dan menyebut gerombolan laskar yang menghancurkan pos militer disini sebagai yang paling berbahaya dan harus diburu.
Sebagai langkah awal dari tugasnya disini Heidrich telah mengirim mata-mata dan patroli untuk menyebar menjelajahi daerah sekitar pos hingga berkilo-kilo meter jauhnya, untuk menutup rute pelarian dan mencari tahu keberadaan para gerilyawan.
Sejauh ini dari mata-mata dia mendapat informasi bahwa kabar tentang serangan para laskar yang berhasil memporak porandakan pertahanan serdadu kompeni telah tersebar, dan jadi perbincangan hangat diantara masyarakat pribumi.
Menurut mata-mata mereka juga, penduduk pribumi mendengar kisah itu dari beberapa tahanan yang berhasil dibebaskan kelompok gerilyawan tersebut.
Nama mereka yang disebut sebagai pimpinan gerilyawan yaitu Ulong, Awang, dan Laksmi menjadi begitu populer diantara penduduk lokal.
Dan seperti halnya kisah yang diceritakan dari mulut kemulut, setiap yang bercerita menambahkan bumbu sendiri, sehingga perlahan cerita itu membesar dan berubah menjadi kisah ajaib hanya dalam beberapa hari saja.
Ada yang mengatakan kalau Laksmi berhasil memanah kompeni tiga orang sekaligus dari jarak satu kilometer.
Atau ada penduduk yang dengan begitu semangatnya bercerita bahwa Ulong berjalan menembus tembok saat menyerang pos kompeni.
Ada lagi yang mengatakan Awang dan dua orang kepercayaannya dapat merubah wujud menjadi serdadu kompeni dan tidak ada seorangpun yang dapat mengenalinya.
Demikianlah kisah-kisah itu bergulir dengan anehnya dan tidak ada satupun penduduk yang perduli dengan kebenarannya. Yang penting bagi mereka yang letih karena terlalu lama tertindas, kisah-kisah ajaib itu begitu menghibur dan memberi semangat.
Sedangkan Letnan Heidrich, dia cuma dapat tersenyum kecut menerima laporan informannya tentang hal tersebut.
⚜️⚜️⚜️
Sore ini Letnan Heidrich sedang mengatur strategi di sebuah tenda yang dijadikan pusat komando.
Sersan Jhon dan sersan Bill (pimpinan di pos ini sebelumnya) menemaninya disitu.
"Kalian perintahkan para prajurit untuk bergantian menyisir daerah di Utara, lalu suruh prajurit pribumi menyamar menjadi pengumpul kayu di hutan, petani, pengungsi, apapun, untuk mengetahui keberadaan Ulong dan kawan-kawan", ujar Heidrich kepada kedua sersannya.
"Setelah itu..", ucapannya terhenti karena tiba-tiba pintu tenda terkuak.
Suma muncul memasuki tenda komando.
Saat ini dia sudah berpakaian lengkap ala serdadu kompeni dengan pangkat sersan.
"Lapor komandan, saya sudah tiba dengan pasukan berjumlah dua ratus orang" ujarnya.
"Sudah jadi sersan pula orang ini, cepat sekali karirnya", batin Jhon terheran.
"Ah kebetulan kau sudah hadir disini, ada hal yang hendak ku bahas denganmu", ujar Heidrich mempersilahkan Suma bergabung.
Suma mendekat, dia melihat peta di meja, peta daerah Medan - Deli Serdang - Langkat.
"Bagaimana, kapan dia bisa kita temui?" tanya Heidrich membuka percakapan begitu Suma sudah mendekat.
"Orangku sudah menyampaikan pesan anda padanya lima hari lalu".
"Tapi waktu itu dia katakan beberapa hari lagi baru dia akan hadir menemui anda komandan, waktu itu dia beralasan tengah memburu beberapa laskar yang melarikan diri ke bahorok" jawab Suma.
"Berarti seharusnya malam ini sudah bisa kita temui... " ujar Suma lalu berhenti, dan menatap Heidrich.
Heidrich menatap Suma, sepertinya ada hal lain yang hendak dia sampaikan
"dan?.." tanya Heidrich.
"Begini komandan, saya membawa dua ratus orang prajurit, kenapa tidak serahkan pada saya saja urusan pengejaran ini" ujar Suma.
"Tidak ada diantara prajurit anda yang lebih memahami situasi disini melebihi ku dan orang-orangku".
"Kami bisa menyamar dan membaur, dan seandainya terjadi sesuatu yang buruk dalam proses pengejaran kalian tidak akan terlihat bersalah" sambungnya.
Heidrich menatap Suma lalu terdiam sebentar, berpikir. Kalimat terakhir yang diucapkan Suma membuatnya khawatir.
"Ambisi orang ini mengerikan. Setelah meraih jabatan dengan mengkhianati majikannya, kini dia ingin mendapatkan kendali atas operasi ini. Tidak terbayangkan kekejian apa yang kelak akan dilakukannya pada penduduk lokal demi ambisinya untuk mencari para gerilyawan".
Heidrich menarik napas berat.
"Tidak biarkan saja dia yang bergerak, nanti malam kalian temani aku untuk bertemu dengannya", ujar Heidrich.
⚜️⚜️⚜️
Tengah malam, Letnan Heidrich mengendarai kuda dengan dikawal Jhon, Suma, beserta dua serdadu kompeni bergerak ke arah selatan.
Mereka berjalan melintasi jalan di tengah perkebunan tebu yang sangat luas milik maskapai perkebunan Belanda.
__ADS_1
Begitu luasnya kebun tersebut sehingga perlu lima belas menit untuk berkuda melintasinya.
Setelah keluar dari perkebunan tebu mereka berkuda lagi beberapa ratus meter lalu berhenti di sebuah padang rumput di pinggir hutan.
"Disinikah tempatnya?" tanya Heidrich.
"Ya komandan", jawab Suma.
"Panggil dia", perintah Letnan Heidrich.
Suma mengeluarkan sebuah peluit dari bambu.
Peluit itu diberikan Letnan Heidrich padanya dua Minggu lalu.
Suma meletakkan peluit itu di bibir dan meniupnya.
Peluit itu bernada sangat tinggi melengking, memekakkan telinga.
"Tolong maju sedikit membunyikannya", pinta Jhon karena melihat ekspresi Letnan Heidrich yang seperti terganggu dengan suara melengking tersebut.
Suma melirik Jhon dengan tatapan tidak senang, bagaimanapun pangkat mereka setara dan dia jauh lebih berjasa dari pada orang ini pikirnya.
Begitupun Suma menurut dan majukan kudanya hingga beberapa meter ke depan.
Disitu dia tiup kembali peluit itu dengan panjang dan keras.
Tidak ada yang serta merta terjadi setelah ditiupnya peluit.
Mereka yang berada disitu menunggu dalam diam, duduk di atas kuda masing-masing.
Suasana begitu tenang malam ini, hanya terdengar suara angin menerpa ilalang berkesiuran, diselingi suara jangkrik dan serangga malam.
Mereka berjumlah lima orang saat itu duduk di atas kuda di tengah padang rumput dan ilalang luas, bermandi sinar bulan hari ke tujuh belas.
Hampir sepuluh menit dalam diam, lalu Letnan Heidrich memberi isyarat kerlingkan mata pada sersan Jhon.
Jhon maju berkuda mendekati Suma.
Suma mendengar langkah kaki kuda Jhon mendekat dari kirinya.
Begitu Jhon disampingnya, dengan pura-pura tidak menyadari dia tiup sambil arahkan peluit ke kiri.
"Suuuiiiiittttttttttttt....".
"Eh..maaf, ku pikir tidak ada orang", ujar Suma terkekeh.
Setelah menyeimbangkan duduknya di pelana Jhon bermaksud hendak memaki, namun tiba-tiba sayup-sayup terdengar lolongan serigala di kejauhan.
Mereka yang ada disitu mendengar suara tersebut.
Hening kembali setelah lolongan sebentar tadi.
Mereka memasang telinga baik-baik, lalu suara lolongan itu terdengar kembali, kali ini suaranya makin dekat.
Kuda-kuda meringkik gelisah, mereka yang ada disitu berusaha menenangkan kuda-kuda mereka.
"Ssshh..ssshh.." Letnan Heidrich menepuk-nepuk pelan leher kuda yang di tungganginya.
Terdengar suara krosak krosak di semak-semak di hadapan mereka di kejauhan, suara itu bergerak cepat mendekat, gerakan sesuatu yang cukup besar bila di dengar dari suaranya.
"Sraaaakkk.." sesosok serigala raksasa berwarna hitam sebesar kerbau melompat menerobos sesemakan tinggi, lalu berdiri beberapa meter di hadapan Heidrich dan kawan-kawan.
Serigala itu menggeram memamerkan gigi-gigi runcing, air liur menetes dari mulutnya.
Mereka semua yang ada disitu kecuali Letnan Heidrich dan Suma kaget dan hendak kabur.
Diatas punggung serigala raksasa, duduk seorang tua berpakaian serba hitam mengenakan mantel kulit harimau putih di sampirkan di pundak.
Orang tua ini Ki Bayu Ireng, yang lima hari lalu berhasil di kalahkan Bahar dan kawan-kawan.
Saat itu Ki Bayu Ireng duduk diatas serigala sambil memangku seorang gadis belia, pakaian si gadis terlihat robek di sana sini, gadis itu dalam keadaan pingsan dan kedua tangan terikat ke belakang.
"Pantas kau begitu lama hadir, ternyata sedang asyik mengumbar syahwat", ujar Suma.
"Jaga bahasamu anak muda" ujar Ki Bayu tersinggung.
"Aku ada disini karena diutus oleh maskapai, aku bebas melakukan apapun sepanjang tindakanku tidak mengganggu kepentingan maskapai perkebunan", jawabnya marah.
"Ooh begitu? apa kau tidak tahu kalau maskapai saat ini sedang membutuhkan bantuanmu?".
"Itulah sebabnya peluit ini dibunyikan, dan seharusnya kau berlari datang saat mendengar suaranya, bukan membuat kami menunggu kau menyalurkan lebih dahulu nafsumu", jawab Suma menantang.
"Cukup", ujar Letnan Heidrich menengahi.
Dia juga tidak setuju dengan kegilaan Ki Bayu.
__ADS_1
Sebagai seorang prajurit yang memegang prinsip kesatria, dia adalah salah seorang yang menentang banyak kebijakan maskapai.
Dan dia juga tadinya menentang dikirimkannya Ki Bayu kesini. Karena orang ini punya banyak cerita miring yang dia dengar soal sepak terjangnya di pulau Jawa.
Heidrich menganggap maskapai hanya pedulikan keuntungan saja tanpa perduli efek tindakan mereka akan menyengsarakan banyak orang, baik pribumi maupun orang-orang sebangsanya.
Jadi dalam hal ini, suka atau tidak, dia mendukung Suma.
"Anda bebas melakukan apapun seperti perjanjian anda dengan maskapai, tapi ingat anda punya tugas disini yang harus anda lakukan", ujar Heidrich geram. Dia tidak sampai hati melihat gadis yang berada di pangkuan Ki Bayu tersebut.
"Sekarang lepaskan gadis tersebut, anda mengganggu anak gadis orang, hal itu sama saja menimbulkan kebencian dan membangkitkan perlawanan terhadap maskapai" ujar Heidrich lagi.
Ki Bayu terkekeh, "baiklah", ujarnya lalu dilemparkannya gadis di pangkuannya turun.
Begitu gadis itu terjatuh hampir menyentuh tanah, sesosok bayangan lain muncul dari belukar lalu menyambar.
Ternyata itu adalah serigala jadi-jadian satunya yang berdiri tegak di atas ke dua kaki.
Mereka yang ada disitu tersentak kaget melihat kejadian itu, begitu si serigala jadi-jadian menerkam si gadis, Ki Bayu melompat turun dari punggung serigala raksasa.
Serigala jadi-jadian dan serigala raksasa berebut mencabik-cabik tubuh gadis malang tersebut.
"Pergi bawa mangsa kalian jauh-jauh" ujar Ki Bayu.
"Aku tak mau tuan-tuan besar ini terkencing ketakutan" sambungnya tertawa terbahak-bahak.
Kedua serigala membawa gadis tersebut berlari menjauh ke semak-semak di belakang mereka.
Di kejauhan Heidrich dan rombongan mendengar jerit memilukan dari gadis yang tersadar dari pingsannya saat kedua serigala memangsanya.
"Jadi katakan apa yang hamba bisa lakukan", ujar Ki Bayu membungkuk hormat sambil menyeringai seram.
Jhon dan dua serdadu Belanda yang lain pucat pasi dan tanpa sadar mengucurkan keringat dingin melihat kejadian itu.
Sedangkan Heidrich tak dapat menahan diri lagi, baginya itu sudah terlalu jauh melanggar kemanusiaan, dengan marah dicabutnya pistol lalu tembakkan ke kepala Ki Bayu.
"Mati kau orang gila!!!" ujarnya.
"Duarr!!!"
Sebagai seorang prajurit terlatih Heidrich merasa tembakannya kena telak di dahi Ki Bayu, tapi anehnya Ki Bayu masih tertawa dengan kerasnya.
Dua prajurit lain dan Jhon mengikuti komandannya turut menembakkan senjata, tapi sama saja Ki Bayu tetap tertawa terbahak-bahak, malahan tertawanya jadi semakin keras.
"Apakah sudah cukup kalian menyia-nyiakan peluru?"
"Kalau sudah, mari kita bicara", ujar Ki Bayu sambil masih tertawa.
Sementara itu Suma hanya diam memperhatikan. Matanya yang awas jelas melihat barusan saat turun dari serigalanya kaki Ki Bayu sebelah kanan telah disangga kayu yang diikatkan ke betis.
Padahal sebelumnya saat dia dan Letnan Heidrich menemui orang ini pertama kali mendarat di pesisir Belawan kakinya tidak seperti itu.
Mata Suma berkilat-kilat lalu dia menyeringai.
⚜️⚜️⚜️
Sementara itu di suatu tempat di wilayah hamparan perak.
Arman dan Mat kecik menuntun kuda mereka berjalan mendekati rombongan Awang dan Ulong yang tengah duduk dibawah kumpulan pohon besar menunggu.
"Bagaimana bang?" tanya Ulong pada Arman dan Mat Kecik.
"Ada patroli dimana-mana" ujar Mat Kecik.
Arman mengangguk membenarkan.
Mereka berdua baru saja kembali dari melakukan tugas pengintaian.
Awang memberi kantung kulit tempat air minum kepada mereka.
Arman dan Mat Kecik bergantian meminum dari situ.
"Untuk kuda, bukan untuk kalian", ujar Awang lalu terkekeh.
Mat Kecik dan Arman cuma nyengir mendengar gurauan Awang.
"Di jalan ke arah persembunyian kita, aku melihat banyak serdadu kompeni bersembunyi disana sini" ujar Mat Kecik.
"Di perkampungan-perkampungan juga, prajurit pribumi menyamar dan berbaur dengan penduduk lokal", sambung Arman.
Ulong menatap Awang meminta saran.
Awang menjawab, "sudah lima hari kita tertahan disini. Diluar perkiraan kita, musuh tidak hanya datang dari Medan dan Sunggal, tapi juga dari pelabuhan Belawan".
"Kita bisa saja menghindari mereka dengan berjalan ke arah pesisir pantai menuju Langkat, tapi tujuan kita adalah tempat persembunyian, dan teman-teman di persembunyian, aku khawatir akan keselamatan mereka" ujarnya.
__ADS_1